Bukan Dunia Novel

Bukan Dunia Novel
53. Perkara Ciuman


__ADS_3

Lilian di antar kesebuah ruangan yang sangat besar. Pemandangan pertama kali saat Lilian memasuki ruangan tersebut ada banyak buku yang berjejer di sepanjang jalan. Sesampainya ditengah ruangan tersebut, Lilian dapat dipersilahkan untuk menduduki salah satu kursi yang telah disediakan.


Didepan tempat duduk Lilian terdapat sebuah meja panjang yang diatasnya terdapat banyak sekali jenis kudapan dan teh yang disediakan.


"Silahkan Nona dicicipi selagi menunggu." Ucap Pelayan itu sopan sambil menuangkan teh pada gelas Lilian.


"Ahhh terima kasih." Ucap Lilian tersenyum.


Lilian kemudian mengambil salah satu kudapan yang berada didepannya dan memasukannya ke dalam mulut, untuk sesaat Lilian memejamkan matanya menikmati rasa dari kudapan tersebut.


"Apakah kau begitu menyukai kudapan nya? kau sampai memejamkan mata." Ucap Seint sambil tersenyum menggoda.


Lilian membuka kedua matanya dan langsung menatap Seint dengan kesal. "Kau selalu saja merusak memon ku." Ucapnya.


Seint terkekeh melihat raut wajah Lilian. "Selama ini aku begitu heran...kau selalu menyukai hal-hal kecil namun kenapa kau selalu tidak menyukai keberadaan ku?" Tanya Seint penasaran.


"Aku bukan tidak menyukai keberadaan mu namun kau selalu muncul disaat yang tidak tepat dan selalu membuat ku kesal." Ucap Lilian.


"Kapan aku membuatmu kesal?" Tanya Seint menggoda.


"Contohnya seperti sekarang...kau selalu berbicara panjang kalau saat beradu mulut dengan ku...giliran saat yang dibutuhkan kau malah kembali menjadi datar." Ucap Lilian sambil mendengus kesal.


"Kau tidak menyukainya?" Tanya Seint.


"Tentu saja...kau selalu tidak pernah mau mengalah setiap kali beradu mulut dengan ku...selalu bersikap sombong, angkuh, datar dan dingin." Ucap Lilian.


"Seharusnya kau tidak mengatakan itu didepan ku." Ucap Seint sambil terlihat angkuh.


"Memangnya kenapa?" Tanya Lilian sambil mengerutkan keningnya bingung.


"Aku adalah Pangeran Mahkota di kerajaan ini siapapun berani mengatakan kejelekan ku maka orang itu akan dianggap sebagai pemberontak dan orang tersebut harus diberi hukuman." Ucap Seint sambil berjalan mengambil salah satu kursi yang berada di samping Lilian.


Lilian memundurkan tubuhnya dan menyilang kan kedua tangannya didepan dada, "Mau...mau...apa kamu?." Ucap Lilian gugup. "Kenapa aku harus di hukum karena kesalahan yang tidak pernah aku perbuat...tadi kau bertanya dan aku hanya menjawab pertanyaan mu." Lanjutnya.


"Ahhh benarkah?." Ucap Seint sambil terus memajukan tubuhnya kearah Lilian.


Lilian semakin gugup dibuatnya. "Kau...kau berada terlalu dekat denganku. "Ucap Lilian sambil menelan ludah susah payah.

__ADS_1


"Memangnya kenapa? Tanya Seint sambil terus mendekatkan tubuhnya dengan Lilian.


Lilian dapat merasakan hembusan napas Seint semakin dekat dengan wajahnya, secara spontan Lilian menutup kedua matanya.


Seint tersenyum melihat tingkah Lilian. "Kenapa kau memejamkan kedua mata mu dan mengapa kau menyilang kan kedua tangan mu?" Tanya Seint, tangannya meraih kudapan yang berada didepan Lilian.


Lilian membuka matanya dan melihat Seint sedang memakan kudapan. "Ahh ternyata dia hanya mau mengambil kudapan...apasih yang aku pikirkan." Batin Lilian. "Aku kira kau akan melakukan sesuatu jadi refleks aku menutup kedua mata ku." Ucap Lilian gugup.


"Memangnya apa yang kamu pikir akan lakukan." Tanya Seint sambil tersenyum sinis.


"Itu...itu..." Ucap Lilian memikirkan jawaban aoa yang akan ia beri.


"Aahhh aku tau..." Ucap Seint tersenyum menggoda. "Kau pasti berpikir aku akan melakukan hal itu kepada mu." Ucap Seint sambil menekankan kata hal itu pada Lilian.


"Ap...apa..." Ucap Lilian gugup. "Terakhir kali kau mendekati ku dan melakukannya jadi wajar saja aku sekarang curiga dengan mu." Ucap Lilian gugup.


"Itukan sudah berlalu...tapi sepertinya kau selalu teringat akan momen hari itu...apa jangan-jangan kau sangat menginginkannya lagi?" Tanya Seint yang semakin menggoda Lilian.


"Enak saja aku tidak menginginkannya...hal itu selalu ada dipikiran ku karena kau telah mencuri ciuman pertama ku." Ucap Lilian kesal.


"Ada apa dengan mu? apakah hal itu bukan yang pertama bagimu?" Tanya Lilian penasaran.


Seint tampak berpikir sebentar sambil memegang dagunya. "Ummm Sepertinya yang ketiga." Ucap Seint santai.


Lilian membulatkan mata sempurna mendengar ucapan Seint. "Dasar laki-laki brengsek...seenaknya saja mencium seorang gadis sembarangan...Dasar kau playboy cap kuda tengil." Ucap Lilian sambil memberi pukulan yang bertubi-tubi pada Seint.


"Pla...pla..Apa?" Tanta Seint bingung sambil menahan tangan Lilian yang memukulnya.


"Playboy cap kuda tengil." Ucap Lilian sambil terus memukuli Seint.


"Apa artinya?" Tanya Seint bingung.


Lilian bernapas ngos-ngosan setelah puas memukuli Seint. "Lelaki brengsek...apalagi memangnya?" Tanya Lilian kesal.


Seint tersenyun melihat kekesalan Lilian. "Kau kesal karena aku sudah mencium orang sebanyak tiga kali atau kau kesal karena tidak rela aku mencium gadis lain?" Tanya Seint menggoda Lilian.


Lilian semakin kesal mendengar ucapan Seint. "Dasar kau playboy cap badak liar." Ucapnya kesal sambil kembali memukuli Seint.

__ADS_1


Seint tertawa pelan. "Kau seharusnya bertanya siapa saja yang pernah aku cium." Ucap Seint sambil menahan tangan Lilian agar tidak memukulinya terus.


Lilian melepas paksa tangannya dari genggaman tangan Seint dan membuang muka ke arah lain. "Tidak akan pernah." Ketus Lilian.


Seint tersenyum senang melihat kekesalan Lilian. "Aku hanya pernah mencium satu orang gadis saja." Ucap Seint.


Lilian kembali menatap kedua mata Seint serius. "Kau pembohong besar...kau baru sekali mencium ku dan kau bilang kau hanya mencium satu orang gadis saja?" ketus Lilian.


"Siapa bilang hanya sekali?" Tanya Seint santai.


Lilian membulatkan mata sempurna. "Kau...?" Tanya Lilian.


"Sebelum kau kehilangan ingatan aku pernah mencium mu saat kau tertidur di perpustakaan sebanyak dua kali." Ucap Seint santai.


Lilian membulatkan mata. "Dasar kau lelaki mesum...mengambil kesempatan dalam kesempitan saja." Ucap Lilian kesal dan terus memukuli Seint.


"Apa masalahnya? Setidaknya aku hanya mencium saja." Ucap Seint santai.


Lilian semakin kesal mendengar ucapan Seint. "Itu artinya kau sudah mencium dua gadis...dasar brengsek." Batin Lilian.


Seint menatap lama raut wajah Lilian yang tampak kesal. "Sudahlah tidak usah dipikirkan lagi kalau kau mau membalas ciuman ku dulu maka akan aku ijinkan kau menggantinya sekarang." Ucap Seint santai.


"Dasar kau lelaki yang tidak tau malu." Ucap Lilian kesal.


Seint bukannya marah mendengar ucapan Lilian, ia malah semakin senang melihat raut wajah kesal Lilian. "Sudahlah...ayo kita pergi." Ucap Lilian.


"Tidak mau!" Ucap Lilian.


"Aku anggap kau menginginkannya sekarang jika kau tidak bergerak dari tempat duduk mu." Ucap Seint menggoda.


Lilian menatap Seint dengan raut wajah kesal kemudian berdiri dari duduknya dan berjalan sambil menghentakkan kakinya. "Kita akan pergi kemana?" Tanya Lilian yang berhenti didepan pintu ruangan.


Seint tersenyum tipis. "Ikuti aku." Ucap Seint berjalan mendahului Lilian.


Lilian memandang sengit ke arah punggung Seint. "Dasar brengsek." Ucapnya kemudian berjalan mengikuti langkah kaki Seint pergi.


°°°

__ADS_1


__ADS_2