Bukan Dunia Novel

Bukan Dunia Novel
75. Langkah Awal


__ADS_3

Begitu sampai dikediamannya Lilian langsung berlari tergesa-gesa menuju kamarnya dan mengabaikan semua sapaan dari para pelayan. Setelah memutar bola kristal, pintu perpustakaan pribadi Lilian muncul.


Lilian menarik napas pelan sambil menggenggam sebuah gulungan surat ditangannya. Mata Lilian terpejam dan menghirup kuat aroma yang ada pada surat tersebut.


"Benar, ini cuka apel." Batin Lilian sambil memandang serius ke arah surat tersebut.


"Ada apa?" Tanya Seint sambil memperhatikan seisi ruangan. "Ini ruangan pribadi mu?" Tanyanya lagi.


"Iya." Jawab Lilian singkat.


"Aku baru menyadarinya, ternyata kamu juga memiliki perpustakaan seperti ini." Ucap Seint.


"Sekarang bukan ruangan ini yang penting." Ucap Lilian serius.


Seint mengangkat sebelah alisnya. "Lalu?" Tanyanya.


"Ini." Ucap Lilian sambil menunjukan gulungan surat ditangannya.


"Ada apa dengan surat itu?" Tanya Seint.


"Kita akan memulai penyelidikan kita dimulai dari surat ini. Rosa bilang sebelumnya aku pernah pergi ke daerah terlarang karena surat ini." Ucap Lilian.


Seint mengambil surat ditangan Lilian dan membukanya. Seint mengerutkan keningnya saat membaca isi dari surat itu.


Temui aku di daerah terlarang, aku akan memberi informasi yang sedang kau cari. Datanglah sendiri dan jangan mengajak orang lain agar ikut bersama mu, jika kamu tidak bisa menepatinya maka aku tidak akan menunjukkan diri.


"Siapa yang mengirimkan mu surat ini?" Tanya Seint menatap Lilian serius.


"Entahlah... Aku tidak tahu." Ucap Lilian.


Dari arah pintu masuk ruan perpustakaan, Rosa muncul bersama Artem dibelakangnya.


"Ada apa Tuan Putri? mengapa Anda begitu tergesa-gesa?" Tanya Rosa khawatir.


"Jelaskan kepada Pangeran Seint, bagaimana aku bisa mendapatkan surat ini!" Ucap Lilian pada Rosa.


Rosa mengangguk bingung. "Dulu saat Tuan Putri sedang duduk bersantai dihalaman utama, seseorang menembakkan anak panah beserta surat ini di dekatnya. Setelah membaca surat itu, Tuan Putri langsung tergesa-gesa ingin memasuki daerah terlarang." Jelas Rosa.


"Lalu apakah dia menemui orang yang mengirimkan surat itu?" Tanya Artem.

__ADS_1


Rosa mengangguk cepat. "Saya sudah berusaha menahan Tuan Putri Tuan, namun Tuan Putri saat itu sangat keras kepala dan memasuki daerah terlarang sendirian." Jelas Rosa.


"Apakah kamu melihat wajah orang yang bertemu dengannya?" Tanya Seint datar.


Rosa menggeleng cepat. "Tidak Yang Mulia. Tuan Putri memasuki daerah itu sendirian. Setelah kembali Tuan Putri membawa sebuah buntelan kain." Jelas Rosa serius.


"Apa isinya?" Tanya Seint.


Rosa menunduk takut. "Ampun Yang Mulia, hamba tidak tahu. Tuan Putri tidak pernah membahasnya dan menyimpan buntelan kain itu sendiri." Jelas Rosa.


Seint beralih menatap Lilian. "Dimana kamu menyimpan buntelan itu." Tanyanya.


Lilian menggeleng lemah. "Tidak tahu. Tapi mungkin saja ada di sana." Tunjuk Lilian ke arah laci paling bawah mejanya.


Seint berjalan mendekati laci tersebut namun tidak bisa terbuka. "Laci ini terkunci, dimana kuncinya?" Tanya Seint lagi.


Lilian menghela napas pelan. "Itu masalahnya. Aku juga tidak tahu dimana aku menyimpan kunci itu. Namun Rosa bilang kalau kunci itu memiliki gantungan burung poenix yang diberikan oleh Kak Asgar, mungkin aku harus menanyakan hal itu pada Kak Asgar setelah ia kembali nanti." Jelas Lilian.


"Kenapa harus bertanya padanya?" Tanya Artem bingung.


Lilian mengingat kembali ucapan dirinya pada masa lalu jika Asgar tahu bagaimana cara menemukan kunci itu. "Kak Asgar memberiku gantungan, siapa tahu dia memiliki cara untuk menemukan kunci itu." Ucapnya.


"Tuan Asgar keluar kota untuk menangani bisnisnya, kemungkinan akan sangat lama untuknya kembali kesini." Jelas Artem.


"Kirimkan surat kepadanya dan suruh ia segera kembali. Gunakan stempel kerajaan agar ia secepatnya meninggal pekerjaannya." Ucap Seint tegas.


"Baik Yang Mulia." Ucap Artem.


Lilian mengambil kembali gulungan surat yang ada ditangan Seint dan menatap Rosa serius. "Ambilkan aku lilin Rosa!" Ucap Lilian.


Rosa mengerutkan kening bingung namun menuruti perintah Lilian. "Baik Tuan Putri." Ucapnya kemudian berjalan keluar.


"Untuk Apa?" Tanya Seint.


"Surat ini memiliki aroma cuka apel. Kita bisa mengirimkan sebuah surat rahasia menggunakan cuka apel." Jelas Lilian.


"Maksud mu?" Tanya Seint.


"Jika kita menulis surat menggunakan cuka apel maka tulisannya tidak akan terlihat oleh mata telanjang. Kita membutuhkan penerangan seperti lilin untuk bisa melihat tulisan tersembunyi. Aroma cuka apel pada surat ini sangat mendominasi, aku yakin orang itu pasti menulis sesuatu yang lain pada suratnya." Jelas Lilian.

__ADS_1


Rosa masuk kembali sambil membawa sebuah Lilin ditangannya. "Dimana saya harus menyimpannya Tuan Putri?" Tanyanya.


"Simpan saja di sana." Tunjuk Lilian pada sebuah meja.


Rosa kemudian meletakkan lilin tersebut di atas meja. Lilian mendekatkan surat tersebut didekat Lilian namun ia tidak melihat tulisan apapun di sana selain tulisan yang sebelumnya mereka lihat.


"Apa mungkin dibelakang ya." Batin Lilian kemudian membalik surat tersebut.


Semua mata terbelalak saat melihat sebuah tulisan muncul dibelakang surat yang Lilian pegang. Lilian mengarahkan dengan benar surat tersebut pada lilin agar mereka bisa membacanya dengan jelas.


Beberapa orang di kerajaan Apollonia telah melakukan penghianatan, mereka sudah lama bergerak dan berniat menguasai keajaan Apollonia. Mereka berniat menggulingkan raja yang sekarang dan menggantinya dengan Tuan mereka.


Seint mengepalkan tangannya marah setelah selesai membaca surat tersebut. Matanya menajam dan bahkan rahangnya mengeras. "Siapapun yang telah berani melakukan penghianatan di kerajaan ini tidak pernah aku ampuni." Ucapnya dingin.


Lilian meneguk ludah susah melihat raut wajah dingin dari Lilian. "Aku pernah mencium aroma yang sama pada seseorang." Ucap Lilian.


"Siapa." Tanya Seint datar.


"Tuan Adrian Pavel. Saat itu kami tidak sengaja bertemu di danau buatan, saat aku melewatinya ada aroma yang sama pada surat itu menguar pada tubuhnya namun setelah aku bertemunya kembali aroma itu sudah tidak ada lagi." Jelas Lilian.


"Adrian Pavel?" Tanya Seint sambil mengangkat sebelah alisnya.


"Adrian Pavel Putra dari Tuan Viscount Wilson Pavel?" Tanya Artem memastikan.


Lilian mengangguk cepat. "Iya benar." Ucap Lilian.


"Tuan Viscount Wilson menjalin kerja sama yang baik dengan Tuan Marquis Gaustark. Saya dengar Ia sering keluar kerajaan untuk menjalankan bisnisnya, karena Tuan Marquis Gaustark masih tidak diperbolehkan untuk keluar kerajaan maka semua tugasnya dialihkan pada Tuan Viscount Wilson." Jelas Artem.


"Menurut informasi dari Tuah Ni, Tuan Marquis Gaustark sering melakukan pertemuan di kediamannya, apakah kita harus mengirim seseorang untuk memasuki kediamannya?" Tanya Lilian.


"Ia adalah salah satu Pejabat tinggi di kerajaan kita, akan sangat sulit untuk memasuki kediamannya, Namun kita harus mencobanya. Selain para pengintai dari Tuah Ni kita juga harus mengintai kediaman Viscount Wilson." Ucap Seint.


"Apakah saya harus mengirim beberapa orang untuk mengintai kediaman itu?" Tanya Artem.


"Ya. Kirimkan orang yang berpengalaman ke sana, mulai sekarang kita harus berhati-hati pada orang-orang itu." Jelas Seint.


Semua mengangguk mengiyakan ucapan dari Seint. "Selama menunggu kabar selanjutnya kita harus punya rencana untuk bisa memancing mereka keluar." Ucap Seint datar sambil menatap Lilian. "Sebagai Putri Mahkota kamu memiliki hak untuk mengadakan acara di Istana. Dengarkan rencananya baik-baik... "Ucapya.


Lilian mengangguk patuh dan menatap Seint serius untuk mendengarkan rencananya.

__ADS_1


°°°


__ADS_2