Bukan Dunia Novel

Bukan Dunia Novel
56. Lilian II


__ADS_3

Lilian kembali membuka kedua matanya di tempat yang dulu pernah ia datangi. Sama seperti sebelumnya, semua terasa gelap tanpa ada sedikitpun cahaya.


Berbeda dengan sebelumnya, terakhir kali Lilian datang ia sangat panik namun untuk sekarang Lilian jauh lebih tenang menunggu suara seperti yang terakhir kali memanggilnya.


"LILIAN" Panggil seseorang.


"Suara itu lagi." Batin Lilian, "Di mana? Di mana aku bisa menemui ?" Teriak Lilian.


"Terus berjalan ke depan." Ucap Suara itu.


Lilian terus berjalan ke depan hingga lama kelamaan dia menemukan sedikit cahaya. Semakin lama Lilian berjalan, cahaya itu semakin terang dan pada akhirnya Lilian kembali ke tempat yang sebelumnya pernah ia datangi.


Tempat itu masih sama seperti terakhir kali saat ia datangi, masih memiliki udara yang sejuk dan terasa nyaman.


"Lilian." Panggil seorang gadis di belakangnya.


Lilian berbalik dan menyipitkan kedua matanya saat sebuah sinar menghalangi jarak pandangnya terhadap gadis yang berada di depannya. Berbeda dengan yang terakhir kali, sebelumnya Lilian tidak bisa melihat wajah dari gadis yang berada di depannya namun kali ini sinar yang membuat pandangan mata Lilian silau kini lama kelamaan meredup hingga muncullah seorang gadis yang memiliki wajah yang sangat mirip dengannya.


"Kau..." Ucap Lilian sambil menunjuk ke arah gadis tersebut.


Gadis tersebut tersenyum hangat kepada Lilian. "Aku adalah dirimu." Ucapnya.


"Ba...bagaimana mungkin?" Tanya Lilian tidak percaya.


Gadis tersebut tersenyum. "Pasti mungkin, aku telah melakukan banyak hal untuk menarik mu kembali ke masa lalu...jadi jangan kecewa kan aku." Ucapnya menatap Lilian serius.


Lilian mengerutkan kening bingung. "Tapi mengapa? Mengapa kamu menarik ku kembali ke masa lalu?" Tanya Lilian penasaran.


"Karena pikiran ku masih terlalu naif...sedangkan dirimu terlahir kembali dengan pikiran yang sudah matang...aku tidak bisa menyelesaikan misi ini namun aku memiliki sebuah pilihan untuk bisa menarik mu kembali ke masa lalu." Ucapnya serius.


"Misi...misi apa?" Tanya Lilian bingung.


"Aku tidak bisa mengatakannya...jika aku memberi tahu mu maka perjanjian ku dengannya akan menjadi sia-sia." Jelas gadis itu.


"Siapa? Kepada siapa kau berjanji?" Tanya Lilian tidak sabaran.


"Kepada seseorang yang membantu ku untuk menarik mu kembali kesini." Ucap gadis itu.


"Lalu dimana roh mu sekarang? dan bagaimana dengan ragaku?" Tanya Lilian.


"Aku berada di dalam ragamu...selama ini aku menjaga raga mu...kita adalah satu orang yang sama jika kau terluka dimasa ini maka tubuh mu dimasa depan juga akan terluka." Jelasnya.


"Kita bertukar kehidupan?" Tanya Lilian.


Gadis itu menghela napas pelan. "Tidak...aku hanya bisa berada terus dalam raga mu tetapi tidak bisa seperti dirimu yang bisa mengendalikan ragaku...semua yang engkau alami dimasa ini maka aku akan merasakannya pula dimasa depan...untuk itu kamu harus tetap bisa menjaga dirimu dan emosi mu." Jelasnya.


"Apakah misi ini akan sangat berbahaya?" Tanya Lilian sambil menelan ludah susah payah.


"Iya...makanya aku mengambil pilihan untuk menarik mu kembali kesini...perbaiki masa lalu kita maka masa depan kita juga akan bahagia." Ucapnya berbinar.


"Apakah semua yang kita lakukan dimasa sekarang akan berdampak dimasa depan?" Tanya Lilian penasaran.

__ADS_1


"Iya...kau terlahir kembali sebagai seorang gadis yang sangat pintar, semua tindakan yang akan kamu ambil pasti akan kau pikirkan matang-matang dahulu...perbaiki masa lalu kita maka kita akan mendapat masa depan yang baik pula." Ucap gadis itu ceria.


Lilian mengedipkan mata berkali-kali. "Aku masih tidak percaya dengan semua ini." Ucap Lilian.


"Tentu saja...kamu terlahir kembali sebagai seorang gadis yang memiliki pikiran yang logis...kamu tidak mempercayai mistis dan semua hal yang diluar nalar namun sekarang kamu sedang mengalaminya jadi jangan kecewakan aku." Ucap gadis itu.


Lilian menatap malas ke arah gadis itu. "Bukankah jika kamu kecewa aku juga akan merasa kecewa?" Tanya Lilian.


"Tentu saja...kamu bahkan kecewa saat mengetahui Pangeran Seint mencium ku duluan...sangat kekanakan padahal aku adalah kamu, kalau dia mencium ku sama saja dia mencium mu." Ucap gadis itu.


"Siapa bilang aku kecewa?" Tanya Lilian tidak terima.


Gadis itu mendengus pelan. "Aku adalah dirimu jadi semua yang kamu rasakan aku juga dapat merasakannya." Ucap gadis itu kesal.


"Bukankah ini tidak adil? Kamu bisa merasakan semua yang aku rasakan namun aku tidak bisa merasakan sesuatu yang kamu rasakan." Ucap Lilian kesal.


"Bagaimana kamu bisa merasakan sesuatu yang aku rasakan...raga mu masih terbaring tidak sadarkan diri." Ucap gadis itu santai.


Lilian membuka mulut tidak percaya. "Aku koma?" Tanya Lilian terkejut.


Gadis itu mengedikan bahu cuek. "Entahlah, tapi kamu tenang saja...raga mu masih tetap baik-baik saja selama kamu menjaga dirimu dengan baik di sini." Ucapnya santai.


Lilian menghembuskan napas pelan. "Kapan aku bisa kembali?" Tanya Lilian serius.


"Jika kamu dapat menyelesaikan misi dengan cepat maka akan cepat pula kamu untuk kembali." Ucap gadis itu serius.


"Lalu bagaimana jika aku berhasil menyelesaikan misi itu? Apakah kamu akan kembali ke masa lalu dan mengambil alih kembali tubuh ini?" Tanya Lilian penasaran.


"Jika aku menyelesaikan misi ini dengan baik lalu bagaimana dengan kehidupan ku yang sekarang? Jujur saja aku sudah merasa nyaman dengan kehidupan ku yang sekarang...ada banyak orang yang menyayangi ku namun aku juga merindukan kehidupan lama ku." Ucap Lilian sedih.


"Wajar kamu merasakannya Lilian, kehidupan yang kamu jalani sekarang adalah kehidupan yang pernah kamu jalani sebelumnya." Ucap gadis tersebut.


"Lalu apa yang harus ku lakukan sekarang?" Tanya Lilian.


"Perlihatkan semua bakat mu Lilian, kesalahan terbesar ku sebelumnya adalah menyembunyikan semua bakat ku, kita akan lihat hal apa yang akan semua orang lakukan jika kamu mengeluarkan semua bakat itu." Jelas gadis itu.


"Bakat apa? Aku merasa tidak memiliki bakat apapun." Ucap Lilian bingung.


"Lilian...aku adalah dirimu di masa lalu...jika masa lalu mu di penuhi dengan bakat maka dimasa depan mu juga memiliki bakat yang sama." Ucap gadis tersebut.


"Aku semakin bingung saja...bagaimana bisa aku berbicara dengan diriku di masa lalu seperti ini." Ucap Lilian bingung.


Gadis tersebut tersenyum lembut. "Maka hal itu ku serahkan kepada mu untuk mencari tahunya. Waktu ku tidak banyak lagi Lilian, aku harus segera pergi...ingat baik-baik pesan ku, jangan mudah percaya dengan orang yang baru kamu kenal dan jangan lupakan gantungan burung poenix." Ucap gadis tersebut kemudian mendorong pelan bahu Lilian.


Lilian merasa tubuhnya ditarik secara paksa ke arah satu titik. Semakin lama tarikan itu semakin kencang, membuat Lilian sulit untuk bernafas hingga akhirnya ia tidak sadarkan diri.


°°°


Samar-samar Lilian mendengar banyak suara yang menyerukan namanya. Lilian sangat ingin membuka kedua matanya namun entah mengapa matanya terasa sangat berat dan sangat sulit ia buka.


Lilian membutuhkan sedikit waktu untuk membuka paksa kedua matanya hingga akhirnya usaha yang Lilian lakukan membuahkan hasil. Secara samar-samar Lilian dapat melihat ada banyak orang yang menatapnya khawatir.

__ADS_1


Saat Lilian membuka kedua mata secara sempurna, orang pertama yang ia lihat adalah Seint. Lelaki itu menatap Lilian dengan raut wajah khawatir yang tercetak jelas di wajah tampannya.


"Seint..." Panggil Lilian lemah dan serak.


"Ya...Tabib...Tabib...cepat periksa dia." Ucap Seint khawatir.


Tabib yang sedari tadi berdiri memantau keadaan Lilian dari jauh berjalan mendekat dan memeriksa denyut nadi Lilian. "Yang Mulia dan Tuan-Tuan tidak perlu khawatir lagi ... keadaan Nona sudah membaik." Ucapnya.


"Apakah kau yakin?" Tanya Seint curiga.


"Iya Yang Mulia." Ucap Tabib sambil menunduk.


"Lalu kenapa sebelumnya dia bisa tidak sadarkan diri?" Tanya Seint khawatir.


"Ampun Yang Mulia, sepertinya Nona merasa lelah dan sedikit stres ... kondisi daya tahan tubuhnya itu terus menurun hingga akhirnya Nona jatuh tidak sadarkan diri." Ucap Tabib.


"Lalu bagaimana sekarang?" Tanya Seint kembali.


"Kondisi Nona sudah jauh lebih baik...sebaiknya untuk sekarang Nona beristirahat saja dan jangan melakukan aktifitas berat yang akan membuatnya kembali stres. Saya sudah membuatkan ramuan obat untuk meningkatkan daya tahan tubuhnya dan tolong pastikan agar Nona meminumnya secara teratur." Jelas Tabib tersebut.


"Baiklah." Ucap Seint.


"Kalau begitu saya pamit undur diri dulu." Ucap Tabib tersebut dan berjalan keluar.


Semua orang yang ada di ruangan tersebut berjalan mendekat ke arah Lilian.


"Bagaimana perasaan mu? Bagian mana yang kamu rasa sakit?" Tanya Duke Marven khawatir.


Lilian hanya menggeleng pelan, ingin sekali rasanya ia menjawab pertanyaan Ayahnya namun ia merasa kondisi tubuhnya sangat lemah dan tidak bertenaga.


"Ayah sepertinya Lilian butuh istirahat." Ucap Zheyan menatap sedih ke arah Lilian.


"Betul paman, kondisinya begitu lemah...sebaiknya biarkan Lilian agar beristirahat dulu." Ucap Asgar.


Duke Marven menghela napas pelan dan menatap sendu ke arah Lilian. Raja Reinal menepuk pelan pundak Duke Marven yang terlihat menghawatirkan Lilian.


"Tenang saja...Putri mu pasti akan baik-baik saja...untuk sekarang biarkan Putri mu menginap dulu di sini...tidak mungkin kamu akan membawanya pulang menggunakan kereta dengan kondisinya yang lemah seperti ini." Ucap Raja Reinal.


Duke Marven menunduk hormat ke arah Raja Thanos. "Maafkan saya karena telah merepotkan mu Yang Mulia." Ucapnya sopan.


"Kamu tidak perlu sungkan begitu, kita ini akan menjadi satu keluarga." Ucap Raja Reinal sambil tertawa kecil. "Sebaiknya kita keluar untuk makan malam dan biarkan Lilian untuk beristirahat dulu supaya kondisinya cepat membaik." Lanjutnya.


Semuanya mengangguk menyetujui ucapan dari Raja Reinal. Saat semua hampir keluar dari pintu ruangan, Raja Reinal kembali bersuara. "Kenapa kamu masih duduk disitu?" Tanya Raja Reinal menatap Seint curiga.


"Biarkan saya tetap di sini untuk menjaganya." Ucap Seint tegas.


Raja Reinal menatap ke arah Duke Marven untuk meminta persetujuan. Mengerti dengan tatapan Raja Reinal, Duke Marven pun mengangguk singkat tanda menyetujui. Semua orang selain Seint pun keluar dari ruangan tempat Lilian istirahat.


°°°


Author nggak yakin dengan part yang ini, soalnya pas lagi enak-enaknya mikir...Kakak nomor 2 nelpon dan pas selesai nelpon jadi buyar deh pikiran.

__ADS_1


Selamat membaca aja deh...


__ADS_2