Bukan Dunia Novel

Bukan Dunia Novel
97. Tempat Ritual


__ADS_3

Setelah menutup kembali ruangan rahasia dalam gua, Seint dan yang lain memutuskan untuk kembali menemui para penduduk. Saat mereka menampakkan diri pada mulut gua, serentak para penduduk bergegas menuju ke arah Seint, Lilian, Artem dan Citto.


"Apakah Yang Mulia baik-baik saja?" Tanya Tuan Asadel khawatir.


Seint mengangguk pelan. "Kami baik-baik saja." Ucapnya datar.


"Tidak ada hal-hal aneh didalam gua ... Hanya ada beberapa benda peninggalan orang-orang terdahulu, sebaiknya Tuan-Tuan secara rutin merawat tempat ini dan jangan biarkan orang dari luar daerah sini memasuki gua." Jelas Artem.


Tuan Asadel dan para penduduk lainnya mengerutkan kening bingung. "Memangnya mengapa Tuan?"


Artem menatap ke arah Seint yang menganggukkan kepala pelan. "Didalam ada beberapa barang bersejarah ... Meski tidak memiliki nilai jual mahal namun benda-benda itu memiliki jejak peninggalan masa lalu. Mulai sekarang tugas kalian adalah menjaga dan membersihkan tempat ini. Jika ada orang yang mau mengunjungi tempat ini boleh saja namun jangan biarkan mereka masuk terlalu dalam." Jelasnya.


Semua penduduk menganggukkan kepala. "Baik Tuan ... Mulai sekarang dan seterusnya kami akan menjaga tempat ini agar tetap bersih." Ucap Tuan Asadel.


"Baiklah kalau begitu ... Sebaiknya kita pergi ke tempat selanjutnya!" Tegas Seint.


Setelah menatap lama mulut Gua, Seint akhirnya kembali menaiki kudanya bersama Lilian yang membekap erat Citto dalam dekapannya.


°°°


Tempat selanjutnya yang akan Seint dan yang lainnya kunjungi adalah tempat dimana terakhir kali ritual pemanggilan naga diadakan.


Sebelumnya Seint dan Artem pernah mengunjungi tempat itu setelah acara berburu selesai diadakan. Sepulang dari kegiatan berburu Raja Thanos memerintahkan Seint secara langsung untuk segera menuju barat untuk memastikan ritual itu tidak akan lagi dilakukan.


Saat pertama kali menginjakan kakinya di tempat itu, Lilian mengerutkan kening bingung melihat kondisi tempat tersebut.


"Ada apa dengan tempat ini?" Tanya Lilian heran sambil mengedarkan pandangannya ke semua arah.


"Di hari yang sama saat harimau menyerang mu, tempat ini dikepung oleh Istana dikarenakan ada beberapa orang yang tidak bertanggung jawab telah melakukan ritual pemanggilan naga." Jawab Seint.


Lilian mengangguk. "Apakah para pelakunya sudah tertangkap?" Tanyanya.


"Kami menangkap beberapa orang yang telah ikut menjalankan ritual itu namun sampai sekarang orang-orang itu tidak dapat memberikan informasi untuk kami." Ucap Seint.


Lilian mengerutkan kening. "Kenapa?"


"Karena orang-orang itu meski masih bernapas namun mereka tidak bisa menjawab atau merespon pertanyaan kami. Sepertinya mereka masih dibawah pengaruh sihir." Jelas Seint serius.

__ADS_1


"Sihir? di dunia ini masih berlaku ilmu sihir?" Tanya Lilian penasaran.


"Ya. Bukankah buku tadi menjelaskan ada kaum penyihir? Meski tidak terlihat keberadaannya namun kami mempercayai keberadaanya." Jelas Artem tiba-tiba.


Lilian menggaruk kepala pelan. "Dunia ini semakin aneh ... ada-ada saja yang selalu muncul, tidak adakah dunia yang jauh lebih normal dan bisa diterima akal sehat?" Tanya Lilian tidak habis pikir.


"Memangnya dunia yang seperti apa?" Tanya Seint datar.


"Dunia yang tidak ada sihir dan hal mistis lainnya. Di dunia ku tidak ada hal-hal seperti itu, orang-orang akan menggunakan kemampuannya sendiri untuk menjadi orang penting." Jelas Lilian.


"Menguasai ilmu sihir juga termasuk kemampuan." Ucap Seint datar.


"Tetap saja ilmu sihir itu adalah sesuatu yang tidak masuk akal ... Ah sudahlah sebaiknya kita cari sesuatu yang bisa memberi kita petunjuk." Jelas Lilian kemudian berjalan mengelilingi tempat itu.


Tidak jauh beda dengan hal yang dilakukan oleh Lilian, semua orang yang ikut bersama mereka ke tempat tersebut juga ikut membantu mencari sesuatu untuk dijadikan petunjuk.


Setelah cukup lama berkeliling, Lilian akhirnya memutuskan untuk duduk di salah satu batu besar. Ia merasa letih karena sedari tadi berkeliling dan tidak menemukan apapun.


Setelah merasa cukup untuk beristirahat, Lilian kembali mencari sesuatu yang dapat ia jadikan petunjuk. Saat sedang serius mencari, Citto tiba-tiba bereaksi secara berlebihan dan menggigit gaun panjang milik Lilian.


"Ada apa Citto?" Tanya Lilian.


"Kamu menemukan sesuatu? Dimana?" Tanya Lilian beruntun.


Citto hanya menggigit gaun panjang Lilian menuju ke suatu tempat. Melihat Citto yang sedang menggigit gaun Lilian, Seint bersama para penduduk lainnya mengikuti kemana Citto membawanya.


Citto terus saja menggigit gaun Lilian ke suatu tempat yang banyak ditumbuhi oleh banyak daun pandan yang tingginya beberapa meter.


Lilian mengerutkan kening bingung dan mendekati tanaman itu. Setelah beberapa kali memeriksa, Lilian akhirnya menatap serius ke arah Citto.


"Kamu ingin aku menemukan tempat ini?" Tanya Lilian yang di angguki oleh Citto.


Seint datang bersama yang lainnya dan berjalan mendekat ke arah Lilian.


"Ada apa?" Tanya Seint.


Lilian menunjuk tanaman pandan tersebut. "Citto ingin aku menemukan tempat ini." Jawab Lilian.

__ADS_1


Seint menatap Citto sebentar dan kembali menatap ke arah Lilian kembali. "Ada apa memangnya dengan tempat ini? Apakah ada yang bisa kita jadikan petunjuk?" Tanyanya.


"Menambah kekayaan kerajaan ini tepatnya." Ucap Lilian yang membuat semua orang terkejut.


"Maksud Yang Mulia?" Tanya Artem penasaran.


"Tanaman ini." Tunjuk Lilian pada tanaman pandan. "Setahu ku tumbuhan ini sebagai penanda dimana letak kekayaan alam yang berlimpah jikalau dilihat dari jauh-nya tanaman ini tumbuh." Jelas Lilian.


"Tanaman ini adalah pandan ... Tanaman ini banyak kita temui di banyak tempat." Ucap Seint.


Lilian mengangguk pelan. "Tanaman yang seperti ini memang banyak kita jumpai di banyak tempat. Namun tanaman pandan memiliki beberapa jenis, misalnya seperti tanaman pandan jenis ini tumbuh tidak sembarang tempat." Jelasnya.


"Saya masih belum mengerti Yang Mulia." Ucap Artem bingung.


"Tanaman ini hanya akan tumbuh ditempat yang gersang ... Terlihat sederhana namun sebenarnya tanaman ini menyimpan hal besar." Jelas Lilian.


"Hal apa?" Tanya Artem penasaran.


Lilian menghela napas pelan. "Kita akan mengetahuinya setelah memastikannya. Saya hanya membaca singkat tentang tanaman ini namun belum pernah melihatnya langsung. Untuk membuktikan bacaan saya benar maka langsung saja singkirkan beberapa tanaman itu dan gali tepat dibawah akarnya." Jelas Lilian.


"Tapi Yang Mulia tanaman ini memiliki akar yang merambat. Kita akan kesusahan untuk menggalinya." Ucap salah satu penduduk.


"Karena sesuatu yang berharga didapatkan dengan cara yang tidak mudah." Ucap Lilian.


Mendengar ucapan Lilian, para penduduk akhirnya melaksanakan perintah Lilian yang sebelumnya.


Setelah beberapa penduduk berhasil menyingkirkan tanama pandan. Penduduk lainnya mulai menggali tanah yang tadinya ditumbuhi oleh tanaman pandan.


Para penduduk menemukan beberapa kendala saat menggali tanaman tersebut. Selain tidak memiliki peralatan dan menggunakan alat seadanya, para penduduk juga kesusahan menggali tanah tersebut dikarenakan tanahnya memiliki banyak sekali batu besar.


Setelah menggali tanah yang lumayan dalam, Lilian mulai memberi arahan lagi kepada para penduduk.


"Keluarkan batu itu dari dalam tanah dan pecahkan baru itu menjadi dua atau beberapa bagian. Terserah ... yang terpenting batu itu pecah!!" Jelas Lilian.


Setelah mengeluarkan batu tersebut, para penduduk mulai memukul batu dan memukulnya beberapa kali. Setelah batu tersebut pecah menjadi beberapa bagian, semua orang yang ada ditempat itu termasuk Lilian sendiri membulatkan mata sempurna.


"Batu berlian!" Pekik semua orang.

__ADS_1


°°°


__ADS_2