Bukan Dunia Novel

Bukan Dunia Novel
130. Rencana Malam Lentera


__ADS_3

Maaf untuk nama Raja sebelumnya Author ganti menjadi Raja Reinal dikarenakan nama itu memiliki karakter kuat pada sebuah film dan karakternya sama dengan yang Author gambarkan. Tapi beneran nama itu terlintas begitu saja di kepala Author saat pembuatan novel ini. Film itu begitu terkenal dan Author sama sekali nggak tahu kalau salah satu karakternya memiliki nama yang sama. Sehingga harus secepatnya Author ganti jika tidak maka pendapatan Author tidak diberikan dan dicabut hak kontrak, level karya Author sudah tinggi dan berhak mendapatkan penghasilan. itu sebabnya kemarin Author nggak UP karena harus merevisi semua nama Rajanya.


Mudah-mudahan kalian masih bisa membayangkan karakter tokohnya meski diganti nama.


°°°


Setelah kepergian Zheyan dan Asgar. Lilian kembali beristirahat untuk memulihkan kondisi serta menenangkan pikirannya. Lilian sudah bertekad tidak akan lagi terluka agar jiwa masa lalunya tidak lagi menanggung rasa sakit dan yang paling parah adalah kehilangan jiwanya.


Lilian harus melindungi dirinya sendiri agar jiwa masa lalunya tidak berakhir tragis. Setelah memerlukan waktu yang cukup lama untuk menenangkan pikirannya. Lilian bangkit dari ranjangnya dan berniat berjalan keluar kamarnya.


Rosa yang sedari tadi menjaganya bingung melihat Tuannya bangkit dan berniat keluar kamar. "Yang Mulia mau kemana?" Tanya Rosa panik.


Lilian menghentikan langkahnya dan menengok kearah Rosa yang sudah berdiri didekatnya. "Aki ingin menemui Kakak ku." Jawabnya.


Rosa menatap Lilian dengan tatapan memohon. "Maaf Yang Mulia! Namun Tuan Muda bilang agar tidak membiarkan mu kemanapun. Anda harus tetap beristirahat didalam kamar."


Lilian tersenyum lembut dan mengusap bahu Rosa pelan. "Aku sudah mendapatkan energi ku kembali! Kini saatnya Lilian Daisyla Marven kembali beraktifitas!!" Ucapnya riang.


"Tapi ..." Ucap Rosa.


"Ahh sudahlah! Aku mau pergi menemui Kakak dulu." Kata Lilian sambil meneruskan langkahnya yang sempat terhenti.


"Tapi Tuan Muda dam yang lainnya sedang melakukan pertemuan penting Yang Mulia." Kata Rosa.


Lilian kembali menghentikan langkahnya dan berbalik kearah Rosa. "Mengapa aku tidak diberitahu?" Tanyanya dengan raut wajah heran.


"Itu karena Tuan Muda bilang sebaiknya Anda beristirahat saja dulu." Jawab Rosa.


Lilian mengangguk pelan. "Baiklah! Kerena sekarang aku sudah baikan maka lebih baik aku ke sana saja." Ucapnya sambil berjalan keluar kamar menuju aula pertemuan.


Rosa membuang napas pasrah. "Selalu saja begini." Ucapnya lalu ia berjalan menuju ranjang Lilian dan membersihkannya.


Lilian sendiri berjalan dengan wajah riang menuju aula pertemuan. Dari Luar pintu Lilian dapat mendengar samar-samar suara banyak orang didalam aula pertemuan. Sedikit Lilian dengar jikalau Seint dan yang lainya sedang membahas tentang kapan gerhana bulan akan terjadi.


Takut dicap tidak sopan, Lilian mengetuk pintu tiga kali kemudian memasuki aula pertemuan setelah diberi ijin masuk. Semua orang terkejut melihat Lilian yang berdiri didepan pintu dan berjalan mengambil salah satu kursi untuk ia duduki.


"Apa yang kamu lakukan disini." Tanya Seint dengan raut wajah dingin.


Lilian mengerutkan keningnya melihat raut wajah dingin Seint dan menatap wajah semua orang yang juga menatapnya dengan raut wajah yang hampir sama.


"Ada apa? Aku juga ingin menghadiri pertemuan! Bukankah kalian sedang membahas tentang rencana selanjutnya?" Tanya Lilian dengan raut bingung.

__ADS_1


"Ya. kami sedang membahasnya." Jawab Seint masih dengan raut wajah dingin.


"Lalu kenapa kalau aku disini? Apakah aku tidak boleh menghadiri pertemuan ini?" Tanya Lilian masih dengan kebingungannya.


Zheyan menghembuskan napas berat. "Kau sebaiknya beristirahat Lilian. Akhir-akhir ini kondisi mu sedang tidak baik-baik saja. Untuk urusan rencana selanjutnya biar kami saja yang urus."


"Kalian terlalu meremehkan ku! Kondisi ku tidak terlalu buruk. Aku pun sudah berisitirahat dengan baik dan sekarang aku sudah siap beraktifitas lagi." Ucap Lilian semangat.


"Jangan memaksakan tubuh mu agar berkerja keras Lilian. Semua orang pasti memiliki batasan, begitu pula dengan kamu." Ucap Duke Marven lembut.


Lilian tersenyum lembut kearah Ayahnya. "Ayah tidak perlu khawatir. Lilian sekarang sudah baikan." Jawabnya.


"Baiklah. Tapi jika kamu merasa lelah maka jangan memaksa." Ucap Duke Marven yang diangguki oleh Lilian.


Setelah pembahasan mereka sejenak terhenti. Mereka akhirnya melanjutkan kembali pembahasan yang sebelumnya.


"Sampai mana pembahasan kita tadi?" Tanya Baron Avalon.


"Sampai persiapan bulan purnama." Jawab Artem.


Baron Avalon mengangguk singkat. "Sebelum masuk ke rencana, bukankah kita harus mengetahui terlebih dahulu tentang kapan bulan purnama itu akan terjadi?" Tanyanya.


"Benar sekali. Sebelum kesini saya bertemu dengan Yang Mulia Raja Reinal, ia mengatakan jikalau ahli penelitian bintang memprediksi akan terjadi malam bulan purnama untuk beberapa hari ke depan." Jelas Seint.


"Benar. Malam lentera akan dilaksanakan beberapa hari ke depan. Yang Mulia Raja Reinal tidak bisa menghadiri pertemuan ini karena harus mengurus persiapan lentera." Jelas Seint.


"Apakah ada sesuatu yang mendesak sehingga Yang Mulia Raja turun tangan sendiri mengurus festival lentera?" Tanya Duke Marven penasaran.


"Ya. Pada acara festival lentera yang banyak berperan adalah kaum wanita. Yang Mulia Raja khawatir akan terjadi sesuatu dimalam nanti sehingga Yang Mulia harus memastikan sendiri keamanannya." Jawab Seint.


"Bagaimana dengan Prajurit dari Kelompok Kesatria Elang?" Tanya Zheyan.


"Yang Mulia Raja telah mengirim mereka untuk melindungi perbatasan yang sedang kacau. Mereka dipastikan tidak akan kembali dalam waktu yang lama. Jikapun Prajurit-prajurit itu kembali maka mereka tidak akan membantu pihak lawan karena rencana kita memecah belah mereka telah berhasil." Jelas Artem


"Baguslah kalau begitu. Lalu bagaimana dengan kaum wanita jika seandainya malam bulan purnama itu bertepatan dengan malam lentera?" Tanya Zheyan.


"Kita akan melindungi kaum wanita terlebih dahulu. Semua wanita akan hadir di sana, termasuk Yang Mulia Ratu, Putri Mahkota, Selir, Putri dan Putri bangsawan lainnya." Jelas Seint.


"Betul. Putri Mahkota telah diresmikan, pada malam lentera Putri Mahkota-lah yang akan melepas cahaya pertama." Ucap Artem.


"Bukankah Seharusnya Yang Mulia Ratu?" Tanya Asgar.

__ADS_1


"Seharusnya memang Yang Mulia Ratu. Namun jika Putri Mahkota telah diresmikan maka yang melakukan pelepasan pertama adalah Putri Mahkota sebagai lambang penobatan pertamanya." Jawab Duke Marven.


"Penobatan? Bukankah Putri Mahkota akan dinobatkan secara resmi setelah mencapai umur dua puluh tahun dan resmi menikah dengan Pangeran Mahkota?" Tanya Zheyan bingung.


"Putri Mahkota akan dinobatkan pada malam lentera untuk tujuan posisi sah yang ia duduki. Penobatan itu memang dilakukan jikalau Putri Mahkota belum resmi menikah dengan Pangeran Mahkota. Penobatan kedua akan dilaksanakan dihari pernikahannya dengan Putra Mahkota." Jelas Baron Avalon.


Lilian mengangguk pelan mendengar semua penjelasan yang baru ia ketahui. "Apakah malam itu aku harus menggunakan gaun yang ribet?" Tanyanya polos.


Semua orang memandang kearah Lilian dan terdiam sebentar untuk memikirkan sesuatu. "Jika malam itu mereka akan melakukan penyerangan maka bukankah kaum wanita harus diselamatkan terlebih dahulu?" Tanya Asgar.


"Iya betul." Jawab Atem.


"Saya rasa seharusnya kaum wanita akan lebih baik tidak memakai baju yang memiliki bahan yang berat. Mereka akan jauh lebih leluasa bergerak jika gaun yang mereka kenakan biasa saja jika seandainya penyerangan itu terjadi." Usul Asgar.


"Yang Tuan Asgar katakan benar. Akan lebih baik jikalau kaum wanita menggunakan gaun sederhana untuk melindungi mereka jika terjadi sesuatu nantinya." Ucap Artem.


"Pertanyaannya apakah Putri bangsawan lainnya mau menggunakan gaun sederhana pada malam itu? Malam lentera adalah malam yang spesial bagi kaum wanita karena mereka mengambil banyak peran di sana." Ucap Baro. Avalon.


"Mereka tidak akan membantah jika pihak Istana langsung yang memerintahkannya. Saya akan meminta persetujuan kepada Yang Mulia Raja agar dalam surat undangannya nanti dilampirkan dengan keterangan gaun yang harus dipakai oleh kaum wanita pada malam lentera." Jelas Seint.


"Apakah hal itu tidak akan menumbuhkan kecurigaan mereka?" Tanya Zheyan.


"Katakan saja Putri Mahkota sedang dalam kondisi tidak baik jadi harus mengenakan gaun sederhana. Sebagai rakyat mereka harus memakai gaun yang sederhana pula untuk menghormati kondisi Putri Mahkota." Jelas Lilian polos.


Seint sangat ingin tertawa mendengar penjelasan Lilian namun sebisa mungkin ia menahannya agar tidak mengganggu pertemuan. Tidak jauh dari Seint, semua orang yang hadir juga hampir tertawa mendengar penjelasan Lilian namun ide Lilian ada benarnya.


"Ide Putri Mahkota sebenarnya sangat lucu namun ada benarnya. Meskipun mereka Putri Bangsawan namun mereka juga adalah rakyat. Memang seharusnya pakaian Putri Mahkota harus berbeda lebih mewah itu menunjukan kedudukannya." Jelas Artem.


"Kalau begitu jadikan saja itu alasannya." Ucap Lilian cepat.


"Malam itu adalah penobatan mu, apakah kamu yakin akan menggunakan gaun yang sederhana?" Tanya Seint.


Lilian mengangguk pelan. "Tentu saja tidak. Sederhana bukan berarti jelek. Kita hanya perlu meminta penjahit untuk membuatkan gaun yang sederhana namun kualitas terbaik." Jelasnya.


"Ohh ... Kakak mengerti!! Maksud ucapan mu tadi agar Putri Bangsawan menggunakan gaun sederhana namun tetap terlihat mewah. Begitu?" Tanya Zheyan diakhir katanya.


Lilian kembali mengangguk. "Betul. Itu yang aku maksud." Ucapnya antusias.


Setelah menyetujui ide Lilian, mereka akhirnya membahas hal-hal apa saja yang akan mereka persiapkan untuk keamanan pada malam lentera. Pembahasan mereka menghabiskan waktu yang cukup lama agar mereka benar-benar mantap mempersiapkan segala rencananya


Raut wajah mereka terlihat sama semua yaitu serius dan fokus mendengar penjelasan serta ide dari satu sama lain.

__ADS_1


°°°°°


__ADS_2