Bukan Dunia Novel

Bukan Dunia Novel
135. Malam Lentera 2


__ADS_3

Setelah melihat posisi Lilian dan yang lainnya aman, Seint akhirnya mulai menggerakkan pasukannya untuk menyebar membentuk sebuah formasi yang sebelumnya telah mereka siapkan.


Sebelumnya Seint telah memastikan posisi Ratu, Putri Evilia, Putri Mahkota, Putri Bangsawan lainnya dan semua kaum wanita serta anak-anak kecil lainnya berada pada wilayah yang aman.


Terdengar suara ledakan beberapa kali yang membuat asap hitam mengepul keatas langit dan suasana yang sebelumnya gelap menjadi semakin menggelap. Seint berlari menuju tempat dimana ledakan terus saja terjadi.


Sesampainya Seint ditempat terjadinya ledakan, Artem dan Asgar sudah lebih awal bergerak menyerang para musuh bersama dengan prajurit lain yang berusaha menahan pergerakan dari pihak lawan.


Seint mengeratkan pegangannya pada pedang yang selalu ia bawa kemudian berlari menebas semua musuh yang berada didepannya. Seint telah membuat strategi dimana prajurit yang berada di pihak mereka akan menggunakan pita merah di lengan kiri untuk membedakannya dengan pihak lawan.


Meski semua prajurit memiliki pakaian yang berwarna sama namun Seint dan yang lainnya dapat membedakan pihak lawan dengan melihat lengan kirinya. Jika prajurit memakai pita warna merah di lengan kirinya maka mereka adalah bagian dari mereka.


Ledakan kembali terjadi dikarenakan pihak lawan selalu melepaskan bahan peledak. Zheyan dengan baju pelindungnya melepaskan anak panah lewat udara dan menggunakan api-api kecil diujung panah yang akan ia lepaskan.


Ledakan kembali terdengar karena aksi Zheyan membuat pihak lawan kewalahan karena selalu menghindari api-api dari panah yang Zheyan lepaskan membuat bahan peledak meledak sebelum dilepaskan.


Ditempat yang tidak jauh dari tempat mereka berada, Duke Marven sedang bertarung melawan Marquis Gaustark. Saat pertama ledakan pertama terdengar, Duke Marven langsung berlari ke sumber suara dan menemukan Marquis Gaustark sedang memberantas para prajurit penjaga keamanan.


Dengan langkah cepat Duke Marven langsung mengangkat pedangnya dan berlari menyerang Marquis Gaustark. Sejak tadi pertarungan keduanya sangat seimbang, Duke Marven menggunakan pengalamannya selama berperang sedangkan Marquis Gaustark berusaha menggunakan racun untuk melumpuhkan pergerakan Duke Marven.


"Cuihhh ... Menggunakan racun agar bisa menang adalah cara yang dilakukan oleh pecundang." Sinis Duke Marven.

__ADS_1


Marquis Gaustark tertawa sinis mendengar ucapan Duke Marven. "Semua sah dalam peperangan ... Entah itu menggunakan jalan yang benar atau kotor. Asalkan dapat membawa kita dalam kemenangan maka semua dianggap sah." Sinisnya.


"Manusia hina ..." Teriak Duke Marven lalu maju menyerang Marquis Gaustark.


Sejak sedari tadi Duke Marven selalu menghindari berbagai racun yang dilemparkan oleh Marquis Gaustark. Mengalahkan Marquis Gaustark adalah hal yang mudah bagi Duke Marven namun Marquis Gaustark selalu saja menggunakan kelicikannya dalam bertarung dengan menggunakan berbagai macam racun jika ia sedang dalam kondisi yang terdesak.


Duke Marven tidak mau berputus asa, ia mengerahkan semua pengalamannya selama berperang. Bukan hanya berusaha menyerang namun Duke Marven harus bisa menghindari serangan racun yang selalu diberikan oleh Marquis Gaustark.


Duke Marven memegang erat pedangnya dan dengan langkah cepat ia menebas tangan kiri Marquis Gaustark dengan cepat. Setelah berhasil menghindari serangan Duke Marven menggunakan racunnya, akhirnya Marquis Gaustark mendapatkan luka yang cukup dalam pada lengan kirinya. Merasa lukanya amat dalam, Marquis Gaustark mencoba memasuki kerumunan untuk melarikan diri dan caranya itu sangat tepat.


Duke Marven mencoba mengejar Marquis Gaustark namun musuh-musuh lainnya datang menghadang membuat Marquis Gaustark berhasil meloloskan diri. Meski tidak bisa kabur jauh akan tetapi setidaknya ia punya waktu untuk merawat lukanya sebelum kembali bertarung.


°°°


Formasi dibuat untuk menghindari pihak lawan agar memasuki kawasan Ratu dan Putri Bangsawan lainnya berada. Melihat pihak musuh selalu saja ingin merusak formasi itu, Zheyan berlari sambil menebaskan pedangnya kepada pihak lawan.


Zheyan membantu mempertahankan formasi itu agar tidak dirusak oleh pihak lawan. Dengan aura kemarahannya Zheyan berhasil mengurangi jumlah lawan yang ingin merusak formasi. Setelah merasa formasi itu masih tetap aman, Zheyan kembali membentuk formasi yang jauh lebih kuat lagi agar tidak dirusak oleh pihak lawan.


Setelah merasa aman dengan formasi baru, Zheyan kembali berlari menuju tempat lain untuk membantu yang lainnya dalam menekan keberadaan para musuh.


Pihak lawan mulai merasa jikalau rencana yang selama ini mereka susun telah diketahui oleh pihak Istana. Buktinya keamanan malam ini benar-benar sangat ketat. Meski awalnya pihak musuh merasa pertahanan yang dibuat oleh Raja Reinal biasa-biasa saja namun setelah mereka melakukan penyerangan, pertahanan itu berubah menjadi pertahanan yang sangat sulit ditembus.

__ADS_1


Raja Reinal dan Seint bahkan ada dibarisan terdepan melawan para musuh. Duke Marven, Baron Avalon serta petinggi dan pemimpin pasukan perang berada ditempat yang sama.


Pihak lawan baru menyadari jikalau Raja Reinal selama ini menunggu mereka menyerang. Namun pihak lawan tidak merasa keputusan yang meraka ambil salah. Pihak lawan merasa mereka sudah merencanakan hal itu secara matang dan inilah saatnya mereka mengerahkan semua yang telah mereka persiapkan.


Tidak lama mereka semua bertarung, muncul ribuan orang dengan mengangkat tinggi bendera lambang dari kerajaan Elmore membantu pihak lawan. Semua Prajurit dari kerajaan Apollonia harus menunduk dan menggunakan sebuah tameng untuk menghindari serangan panah yang diluncurkan oleh kerajaan Elmore.


Seint dan Raja Reinal saling memandang satu sama lain, melihat banyaknya bantuan dari pihak musuh Seint dan Raja Reinal tidak merasa gentar bahkan takut sama sekali. Keduanya hanya saling mengangguk kemudian menyerang para musuh seperti sebelumnya.


Suasana ditempat malam lentera yang sebelumnya ramai dengan kegembiraan kini berubah menjadi area pertumpahan banyak darah. Sungai yang sebelumnya dipenuhi dengan banyak lilin lentera kini berubah menjadi sungai banyak darah.


Malam yang seharusnya dipenuhi dengan banyak impian dan harapan banyak orang kini berubah menjadi malam penuh dengan darah dan teriakan pilu kesakitan. Malam ini akan menjadi malam kebangkitan atau malam kehancuran bagi semua orang tergantung siapa yang bertahan sampai akhir.


Kedua kubu sama-sama mengerahkan semua kemampuannya. Seint bahkan tidak mau mengalah dan masih tetap berjuang melawan semua musuh yang ada. Dengan pergerakan cepat dari Seint dan Raja Reinal, keduanya berhasil menekan keberadaan musuh dibarisan terdepan.


Tidak jauh beda dengan kondisi yang dialami Seint dan Raja Reinal, posisi barisan tengah yang dikomando oleh Artem dan Asgar juga mengalami peningkatan. Berkat kata-kata penyemangat dari Asgar membuat semangat prajurit dalam mempertahankan kerajaan mereka bertambah.


Zheyan juga ikut membantu mempertahankan barisan tengah dikarenakan barisan belakang sudah dalam posisi aman dan formasi pertahanan yang dibuat tidak mudah dirusak.


Duke Marven dan petinggi lainnya masih memburu keberadaan para penghianat lainnya. Meski posisi mereka seimbang namun Duke Marven dan petinggi lainnya sedang berusaha menekan keberadaan para petinggi yang berkhianat untuk menekan kekuatan pihak lawan.


Tidak lama mereka bertarung kembali terdengar suara riuh, ribuan orang datang mengepung tempat mereka bertarung dengan membawa bendera lambang Kelompok Kesatria Elang. Anehnya kelompok itu bukan membantu Marquis Gaustark dan rekan yang lainnya namun kelompok itu membantu pihak Istana dalam melawan pihak lawan.

__ADS_1


Keterkejutan mereka tidak berhenti disitu, setelah mulai menerima Kelompok Kesatria Elang ada di pihak mereka terdengar suara ledakan yang sangat besar dari arah tempat Lilian dan kaum wanita serta anak lainnya berada.


°°°


__ADS_2