
Setelah beberapa hari sibuk menyiapkan segala persiapan untuk acara panen. Di sinilah Lilian berada, sejak pagi Lilian sibuk memberi arahan kepada para Pelayan untuk mendekorasi tempat yang akan di adakan acara tersebut.
"Yang Mulia beristirahatlah sebentar ... Sejak pagi Anda belum makan apapun dan hanya minum saja." Rayu Rosa.
"Aku sedang sibuk Rosa ... beberapa jam lagi kegiatan ini akan dilaksanakan. Aku tidak ingin ada sedikitpun kesalahan yang nanti akan timbul." Ucapnya sambil berjalan melihat pekerjaan para Pelayan.
"Saya tahu Yang Mulia ... Namun kesehatan Anda juga sangat penting. Saya yakin kegiatan ini akan berjalan sesuai keinginan Yang Mulia ... Untuk itu beristirahatlah walau hanya sebentar." Rayu Rosa lagi.
"Kamu ini sangat cerewet Rosa!! Pergilah!! biarkan aku melihat pekerjaan para Pelayan!" Usir Lilian.
Rosa hanya menghela napas pelan mendengar ucapan Lilian. Tidak lama kemudian, Seint datang bersama Artem dan berhenti didepan Rosa.
"Kemana Lilian?" Tanya Seint datar.
Rosa mengangkat kepalanya dan kembali menundukkan kepalanya kembali setelah melihat orang yang berbicara kepadanya. "Ampun Yang Mulia ... Putri Mahkota sedang memeriksa pekerjaan para Pelayan." Jawabnya dengan nada sedih.
"Mmm ... " Gumam Seint.
"Sepertinya kau terlihat sangat murung. Kenapa?" Tanya Artem melihat raut wajah sedih dari Rosa.
"Maaf sebelumnya Tuan ... Saya hanya khawatir dengan Putri Mahkota." Jawab Rosa.
"Khawatir kenapa?" Tanya Seint cepat.
"Sejak dari pagi Putri Mahkota bekerja tanpa istirahat dan makan ... saya khawatir akan membuatnya jatuh sakit. Sedari tadi saya mencoba merayunya untuk beristirahat namun Putri Mahkota tidak mau mendengarkan." Jelas Rosa.
Seint menghela napas kasar. "Siapkan makanannya!!" Ucap Seint dan berjalan mencari keberadaan Lilian.
Tidak lama mencari, Seint akhirnya menemukan keberadaan Lilian yang sedang memeriksa pekerjaan para Pelayan. Setelah sampai di samping Lilian, Seint langsung menarik tangan Lilian agar berjalan mengikutinya.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Lilian terkejut saat Seint menarik tangannya secara tiba-tiba.
"Ikut saja!" Ucap Seint datar.
Lilian menarik paksa tangannya namun tidak bisa terlepas dari genggaman Seint yang terlalu kuat. "Lepaskan!! Pekerjaanku masih banyak!!" Kesal Lilian.
"Aku tahu." Ucap Seint datar.
__ADS_1
Lilian menghela napas pelan. "Jika kau tahu maka lepaskan tanganku!!" Kesal Lilian.
Seint tidak mendengar ucapan Lilian dan terus menarik tangan Lilian sampai disebuah tempat yang didirikan khusus untuknya beristirahat.
"Duduk!!" Ucap Seint datar.
Lilian kembali menghela napas namun menuruti ucapan Seint. Seint kemudian mengambil makanan yang di sudah Rosa siapkan dan berniat menyuapkannya pada Lilian.
"Aku sedang tidak lapar. Biarkan aku menyelesaikan tugas ku sekarang!" Ucap Lilian.
"Kamu membutuhkan energi lebih untuk beraktifitas ... Jika kamu tidak mau makan maka energi dari mana yang kamu dapatkan!!" Ucap Seint.
"Pekerjaanku masih banyak." Nada suara Lilian mulai menurun.
"Aku tahu kamu memiliki banyak pekerjaan namun tidak benar jika kamu bekerja sampai lupa untuk makan." Ucap Seint sambil mengarahkan makanan pada mulut Lilian.
Lilian hanya bisa pasrah karena percuma berdebat dengan Seint, pada akhirnya lelaki itu akan selalu menang dengan argumennya. Setelah Seint memasukan beberapa suap ke dalam mulut Lilian, ia akhirnya mulai membahas keberangkatannya.
"Makan yang banyak!! Setelah acara ini selesai kita akan melakukan perjalanan jauh." Ucap Seint sambil menyuapi Lilian.
Lilian mengerutkan kening bingung dan segera menelan makanannya. "Kita akan kemana?"
"Untuk apa?" Tanya Lilian penasaran.
"Ada hal aneh yang terjadi di wilayah sana. Karena kamu berasal dari masa depan maka ada kemungkinan kamu memiliki pengetahuan tentang daerah itu." Jelas Seint.
"Jika aku tidak mengetahuinya?" Tanya Lilian cepat.
"Maka akan menjadi tugas ku untuk mencari tahu solusinya." Ucap Seint.
"Memangnya bagaimana kondisi di sana?" Tanya Lilian sambil mengunyah makanannya.
"Di daerah sana sangat sulit ditanami tanaman sehingga rakyat di sana kesusahan untuk bertani. Ada banyak mata air di sana namun anehnya, wilayah itu sangat sulit untuk ditanami tanaman. Banyak rakyat yang memilih meninggalkan tempat itu karena susahnya mendapat pekerjaan di sana. Jarak Wilayah itu sangat jauh dari Ibukota sehingga membuat pasokan bahan makanan kesulitan mencapai wilayah itu." Jelas Seint panjang sambil menyuapi Lilian.
"Wi ... inmyi adhalah khota teerrpanjhang yonnng akhhu mdenngar" Ucap tidak jelas.
"Makan dulu yang benar. baru ngomong!" Ucap Seint sambil menyerahkan segelas air.
__ADS_1
Lilian meminum air yang diberikan oleh Seint sampai setengah. "Kamu yang mengajak berbicara ... Aku perlu mencatat hari ini sebagai hari bersejarah." Ucap Lilian.
"Hari bersejarah?" Tanya Seint sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Iya. Hari ini aku mendengar ucapan terpanjang keluar dari mulut mu ... Tentu saja harus aku jadikan sejarah." Ucap Lilian antusias.
Seint mendengus pelan. "Makan!!" Kesalnya sambil menyuapi Lilian.
Lilian menggeleng pelan. "Aku sudah kenyang."
Seint kemudian menyimpan sisa makanan dari Lilian dan mengupas beberapa buah yang berada di sampingnya.
"Kapan kita akan berangkat?" Tanya Lilian sambil memakan buah yang dikupas oleh Seint.
"Katanya kenyang." Ucap Seint sambil tersenyum kecil.
"Aku kenyang makan nasi!! Aku harus punya banyak energi agar kondisi ku tetap stabil. Kamu sendiri yang bilang kita akan berangkat ke wilayah barat, tempat itu memerlukan banyak waktu agar sampai. Maka dari itu aku harus makan banyak agar tidak merepotkan mu dijalan." Jelas Lilian panjang.
"Baguslah kalau kamu mengerti." Ujar Seint sambil memberikan buah yang dikupasnya.
"Lalu kapan kita akan berangkat?" Tanya Lilian lagi.
"Setelah acara ini dilaksanakan. Tentu saja jika kondisi mu memungkinkan." Jawab Seint datar.
"Jangan khawatir ... Kondisiku baik-baik saja. Kita bisa berangkat secepatnya jika persiapan menuju wilayah barat selesai." Ucap Lilian.
Setelah berbincang lama, Seint kembali menuju Istana untuk mulai mempersiapkan kebutuhannya menuju wilayah barat sedangkan Lilian kembali memantau pekerjaan para Pelayan untuk mengurus persiapan yang akan dilaksanakan beberapa jam lagi.
Setelah selesai dengan semua persiapannya, Lilian memerintahkan para Prajurit terbaik pilihannya menjaga tempat itu dengan ketat. Lilian tidak ingin terjadi masalah saat acara berlangsung terlebih seperti acara-acara sebelumnya yang selalu membuatnya selalu berada dalam bahaya.
Setelah memastikan keamanan tempat itu, Lilian segera kembali ke kediamannya untuk menyiapkan diri. Ia membutuhkan sedikit banyak waktu untuk berendam agar rasa lelahnya sedikit menghilang.
Ada banyak hal yang Lilian pikirkan untuk sekarang. Ada banyak misteri yang sampai sekarang belum bisa ia pecahkan. Lilian berharap akan menemukan petunjuk di wilayah barat nanti.
Lilian mulai berpikir jika semua yang terjadi kepadanya pasti selalu berhubungan dengan wilayah barat. "Aku dimasa lalu pasti memiliki alasan yang sangat kuat sehingga menginginkan jiwa masa depanku berada di sini. Aku sangat ingin mengetahui rencana apa yang telah di susun oleh orang-orang yang sengaja melukai ku. Jika mereka telah melukai ku pada masa lalu maka aku tidak akan pernah memaafkan mereka yang telah berusaha menyakiti ku." Batin Lilian sambil memejamkan mata.
Setelah lama berendam, Lilian akhirnya keluar dan segera bersiap untuk acara panen.
__ADS_1
°°°