
Lilian memasuki kamarnya dengan raut wajah masam. Entah mengapa perasaan Lilian selalu kacau tiap kali melihat Seint yang selalu membuatnya mengingat terus kejadian sebelumnya.
Didalam kamar sudah ada Nora pelayan yang selalu melayani Lilian selama dia di Istana yang sedang menyiapkan baju ganti untuk Lilian.
"Apakah Anda ingin makan atau mandi dulu Yang Mulia?" Tanya Nora sopan.
Lilian menghempaskan tubuhnya keatas ranjang besarnya. "Siapkan kebutuhan mandi ku. Badanku terasa sangat lengket karena perjalanan jauh." Jelasnya.
"Baik ... Ingin saya tambahkan aroma apa terapi apa Yang Mulia?" Tanya Nora lagi.
"Terserah yang penting saya bisa mandi." Ucap Lilian sambil menghela napas pelan.
Terdengar suara langkah kaki memasuki kamar Lilian dan berjalan mendekat kearah Lilian yang terbaring di atas kasurnya.
"Keluarlah!!" Perintah Seint pada Nora.
"Baiklah Yang Mulia." Ucap Nora sambil menunduk sopan dan berjalan keluar kamar Lilian.
Lilian terbangun dari pembaringannya dan duduk didepan meja hiasnya. "Ada urusan apa kamu datang kesini?" Ketusnya.
"Ingin menemui mu." Ucap Seint datar.
"Untuk apa? Aku sedang lelah jadi ..." Ucapan Lilian terjeda karena Seint memeluknya dari belakang.
"Maaf." Ucap Seint dengan nada lembut.
Tubuh Lilian menegang merasakan hembusan napas Seint pada permukaan kulit lehernya. "A ... Apa ya ... yang kamu lakukan di sini?" Tanyanya gugup.
"Maaf karena telah membuat mu kesal." Ucap Seint lagi.
"Kenapa kamu minta maaf? Aku yang terlalu mengkhawatirkan seseorang yang tidak ingin dikhawatirkan!!" Ketus Lilian.
"Maaf! Aku tidak pandai merangkai kata-kata yang akan membuat mu merasa tenang sebelumnya. Aku hanya ingin kamu tidak merasa sedih dengan keadaan ku, bukannya membuatmu mengerti aku malah menjelaskan sesuatu yang membuat mu salah paham. Aku tahu kamu khawatir karena sayang padaku. Maaf karena aku bodoh tidak bisa mengerti hal itu namun sekarang aku sadar kalau kamu khawatir karena kamu peduli kepadaku." Jelas Seint panjang.
Lilian tidak bisa berkata apa-apa lagi mendengar permintaan maaf dari Seint, ia tidak menyangka Seint akan meminta maaf kepadanya dengan nada lembut.
"Lalu?" Tanya Lilian.
"Maafkan aku! Lain kali aku akan lebih mengerti tentang perasaan kamu." Ucap Seint lembut.
"Baiklah ... Aku memaafkan mu." Ucap Lilian.
Seint tambah mengeratkan pelukannya pada Lilian, Seint bahkan menyembunyikan wajahnya pada ceruk leher Lilian.
"Lepaskan aku Seint." Ucap Lilian sambil melepas pelukan Seint.
"Tidak!!" Ucap Seint datar.
__ADS_1
"A ... Aku belum mandi." Gugup Lilian.
"Aroma mu sangat menenangkan." Ucap Seint datar.
"Tapi aku bau ... Lepaskan aku!! Aku harus mandi." Kesal Lilian.
Seint akhirnya melepaskan Lilian kemudian memutar tubuh gadis itu untuk menghadap kearahnya.
"Ya sudah ... Setelah itu makan dan beristirahatlah!!" Ucap Seint sambil mengusap pelan kepala Lilian.
Wajah Lilian memerah menatap wajah Seint dari jarak sangat dekat.
"Apakah kamu sakit? Wajah mu memerah." Ucap Seint sambil mengelus pelan pipi Lilian.
"A ... Aku tidak apa-apa. Pergilah!! Aku harus secepatnya membersihkan diriku." Gugup Lilian.
"Baiklah." Ucap Seint sambil mendekatkan wajahnya lebih dekat lagi pada Lilian.
Lilian spontan menutup kedua matanya dan meremas kuat gaunnya. Seint tersenyum lebar melihat kelakuan Lilian. "Cepatlah bersihkan dirimu. Aroma tubuh mu sangat asam." Ucapnya kemudian berjalan cepat menuju pintu keluar meninggalkan Lilian.
Lilian menatap sengit kearah punggung Seint yang berjalan keluar kamarnya. "Dasar laki-laki brengsek!!" Teriak Lilian kesal.
Tidak lama Seint keluar, Nora kembali masuk ke kamar Lilian dengan senyum mengembang diwajahnya.
"Kenapa kamu tertawa? Siapkan keperluan mandi ku. Cepat!!" Ketus Lilia.
"Baik Yang Mulia." Ucap Nora kemudian berjalan menuju kamar mandi Lilian.
°°°°
Setelah membersihkan diri dan memakan sarapannya. Lilian diarahkan ke sebuah ruangan yang merancang baju khusus untuknya dengan Seint.
Saat pertama kali melihat Lilian, Seint bukannya meminta maaf namun lelaki itu malah mengejek Lilian dengan mengatakan Lilian sudah tidak bau seperti semalam.
Hal itu benar-benar membuat Lilian bertambah kesal dan selalu melemparkan tatapan tajam kearah Seint yang juga ikut mencoba baju yang akan ia kenakan selama pesta dansa diadakan.
"Yang Mulia bagaimana dengan gaun ini?" Tanya Nora.
"Terserah!!" Ucap Lilian cuek.
Nora tersenyum canggung mendengar ucapan Lilian. "Maaf Yang Mulia jika saya lancang namun Anda harus memilih dan mencoba gaun mu supaya selama pesta Anda merasa nyaman mengenakannya." Jelasnya takut.
Lilian menatap malas kearah Nora. "Berikan saya gaun yang tidak ribet dan berat. Saya tidak mau cepat merasa lelah hanya karena gaunku terlalu berat."
"Baiklah Yang Mulia." Ucap Nora kemudian mencari gaun yang diinginkan oleh Lilian.
Seint yang sedari tadi mencuri pandang kerah Lilian berjalan mendekati gadis itu. Lilian yang melihat Seint mendekat langsung mengalihkan wajahnya kearah lain tidak ingin melihat kearah Seint.
__ADS_1
"Aku tadi malam hanya bercanda." Ucap Seint lembut.
"Tidak lucu!!" Ketus Lilian
"Seint tersenyum cerah melihat kekesalan Lilian. "Aku ingin memberikan mu sesuatu." Ucapnya.
"Tidak perlu!!" Ketus Lilian.
"Benarkah? Aku pikir kamu akan menyukai aroma bunga daisy ini." Ucap Seint sambil memegang botol yang berisi cairan ditangannya.
Mendengar bunga kesukaannya disebut, Lilian cepat-cepat menatap kearah tangan Seint yang memegang botol yang Lilian yakini adalah parfum.
"Aku tidak sengaja melihat orang yang menjual ini saat aku memeriksa barang masuk dari kerajaan lain. Penjualnya mengatakan kalau ini penyedap aroma bau badan aroma bunga daisy." Jelas Seint.
Lilian menatap Seint kesal. "Kamu mau mengatakan aku ini memiliki aroma badan yang bau. Begitu?" Ketus Lilian.
"Kamu jangan marah dulu. Tadi malam aku hanya bercanda, aroma tubuhmu sangat menenangkan. Agar bisa melepaskan kamu aku terpaksa mengatakan hal itu." Jelas Seint lembut.
"Maksud mu?" Ketus Lilian.
"Aku sangat suka dengan aroma tubuh mu. Tercium aroma daisy tiap kali aku berada dekat dengan mu. Aromanya membuatku nyaman sehingga aku sangat sulit melepas mu. Agar aku bisa melepaskan mu,a aku sengaja membuatmu kesal kepadaku sehingga aku mau tidak mau melepaskan mu." Jelas Seint panjang.
"Bohong." Ucap Lilian tidak percaya.
"Aku berkata jujur. Selama perjalanan ke barat aku selalu mencium aroma tubuh mu sehingga aku merasa nyaman dengan aroma itu." Jelas Seint.
Lilian berdehem pelan." Benarkah?" Tanyanya memastikan.
"Benar ... Saat aku melihat orang yang menjual aroma ini aku menjadi mengingatmu dan memutuskan untuk menghadiahkan kamu aroma daisy ini." Ucap Seint sambil memberikan botol itu.
Lilian menerima botol tersebut kemudian membuka tutupan botolnya. Lilian memejamkan matanya saat aroma daisy menyeruak keluar dari dalam botol.
"Karena kamu telah memberiku hadiah yang bagus maka aku memaafkan mu." Ucap Lilian datar.
Seint tersenyum senang mendengarnya. "Sekarang dengarkan baik-baik apa yang ingin aku sampaikan sekarang." Ucapnya sambil menatap Lilian serius.
"Aku sudah mendengarkan mu sedari tadi." Ucap Lilian cuek.
Seint menghela napas. "Baiklah." Ucapnya sambil menatap serius kearah Lilian. "Selama di pesta kamu akan bertemu dengan banyak orang baik itu orang dalam maupun orang luar kerajaan. Sebagai Putri Mahkota kamu memiliki tugas dalam acara tersebut, akan banyak sekali orang yang datang menyapa selama di pesta." jelasnya.
"Lalu?" Tanya Lilian bingung.
"Karena banyak orang maka kamu harus tetap waspada. Selama di barat kita mendapatkan dua kali penyerangan. Kita belum bisa memastikan dengan jelas siapa pelakunya, untuk itu kamu harus tetap menjaga dirimu sendiri." Jelas Seint.
Lilian mengangguk pelan. "Aku paham. Selama di pesta kalian tidak bisa selalu mengawasi ku, untuk itu aku harus bisa menjaga diriku sendiri jika sewaktu-waktu ada orang yang berniat jahat kepada ku. Seperti itukan?" Tanya Lilian.
"Kamu memang pintar." Ucap Seint sambil tersenyum manis.
__ADS_1
"Mungkin sudah waktunya agar aku menunjukkan kemampuan ku yang lain." Ucap Lilian sambil tersenyum penuh arti.
°°°°