Bukan Dunia Novel

Bukan Dunia Novel
105. Penyerangan


__ADS_3

Setelah memberi buah-buahan kepada Lilian, Seint berjalan mendekati Zheyan, Asgar dan Artem berada. Ketiganya sedang berbincang dengan raut wajah serius.


Saat sampai dihadapan ketiganya Seint langsung mengarahkan pandangannya tepat kearah para pengintai namun Seint juga sangat ahli dengan berpura-pura tidak melihat keberadaan mereka.


"Sepertinya malam ini kita harus bergadang." Ujar Seint cuek.


"Sepertinya mereka sedang menunggu saat kita lengah Yang Mulia." Ucap Artem serius.


"Tentu saja. Mereka telah mengikuti kita sampai sini ... Hanya menunggu waktu tepat untuk mereka menyerang kita." Ucap Seint datar.


"Lalu apa yang harus kita lakukan Yang Mulia? Apakah kita hanya akan menunggu mereka menyerang?" Tanya Artem.


"Kita hanya perlu berpura-pura tidak menyadari keberadaan mereka. Sebelum mereka menyerang, kita harus memastikan berapa banyak jumlah dari mereka. Kita sekarang sedang membawa Putri Mahkota, jangan sampai ia tahu situasi saat ini." Jelas Seint panjang.


"Apakah kita perlu mengirim beberapa orang untuk melihat berapa jumlah mereka?" Tanya Asgar.


"Ya. Namun sebelumnya kita harus membuat rencana terlebih dahulu. Mereka sedang dalam posisi siaga, jika kita salah bergerak sedikitpun maka rencana kita akan gagal." Jelas Seint.


"Apakah Yang Mulia sudah mempunyai rencana?" Tanya Zheyan.


Seint memandang serius ke arah Zheyan. "Apakah Tuan punya usulan?" Bukannya menjawab, Seint malah berbalik bertanya.


Zheyan Mengangguk ragu. "Saya punya usulan namun jika hanya Yang Mulia mau mendengarnya." Ucapnya.


"Untuk sekarang usulan dari kalian sangat penting. Putri Mahkota sedang bersama kita sekarang, kita harus punya rencana yang tidak akan membahayakannya. Silahkan jelaskan usulannya Tuan!!" Tegas Seint.


Zheyan mengangguk cepat. "Untuk mengetahui jumlah musuh kita sekarang, saya mengusulkan jika kita pura-pura berburu hewan didekat sini." Jelasnya.


Seint mengangguk pelan. "Setuju Tuan, Kita hanya membawa sayuran untuk persediaan makanan kita. Kita jadikan alasan berburu untuk mendapatkan daging, kita hanya berpura-pura agar terus tidak menyadari kehadiran mereka. Kita harus tetap waspada, disela-sela berburu kita harus bisa menyelundup untuk mengetahui jumlah mereka." Tebak Seint.


Zheyan mengangguk cepat. "Iya Yang Mulia. Namun kita juga harus bisa melindungi Lilian disini." Ucapnya ragu.


"Citto sedang bersamanya, hewan itu pasti akan terus melindunginya." Ujar Artem.


"Kita tetap harus melindunginya, meski Citto selalu bersamanya namun untuk saat ini kita tidak bisa menebak pergerakan musuh. Untuk menjaga keamanannya, Tuan Asgar tetaplah disini bersama beberapa pengawal dan jagalah Putri Mahkota selama kami pergi." Jelas Seint.


"Baik Yang Mulia." Tegas Asgar.

__ADS_1


"Jaga Adikku baik-baik." Ucap Zheyan.


"Dia juga adalah Adikku ... Kemanan-nya adalah yang terpenting untuk ku saat ini." Ucap Asgar menenangkan kekhawatiran Zheyan.


Setelah memberi arahan kepada beberapa pengawal. Seint, Zheyan, Artem dan beberapa pengawal mulai menjalankan aksinya. Dengan tetap waspada, Seint dan yang lainnya mulai memasuki area persembunyian para musuh.


Seint membidik beberapa kelinci menggunakan panahnya. Setelah mendapat kesempatan, Seint, Zheyan dan Artem mulai menyelidiki jumlah para musuh tersebut.


Seint dapat melihat jumlah musuh yang ada didepannya saat ini lumayan banyak. Orang-orang itu membawa banyak sekali senjata tajam dan sedang memantau dimana tenda Seint didirikan.


Setelah berhasil menyelidiki jumlah musuh, Seint dan yang lainnya memutuskan untuk kembali ke tenda dengan membawa hewan buruan mereka.


°°°


Hari sudah gelap, cahaya matahari yang bersinar terang sebelumnya telah digantikan dengan cahaya bulan separuh. Tercium aroma daging bakar memenuhi tempat tenda Seint berada.


Sambil menunggu daging buruan matang, Seint memutuskan untuk membicarakan tentang rencana mereka selanjutnya.


"Setelah Putri Mahkota menghabiskan hidangannya, saya akan menyuruhnya untuk beristirahat. Sebelumnya saat telah memberi Citto perintah agar ia tidak akan mengijinkan Lilian untuk meninggalkan tendanya jika gadis itu mendengar keributan dari luar." Jelas Lilian.


"Benar Yang Mulia ... Para pengawal telah menjalankan rencana Yang Mulia agar terlihat kelelahan. Setelah menghabiskan makanan, saya telah memberi mereka intrupsi untuk berpura-pura tertidur lelap." Lapor Artem.


"Kita juga akan melakukan hal yang sama untuk mengecoh mereka." Jelas Seint datar.


Seorang pengawal berjalan mendekati keempatnya lalu menunduk hormat ke arah Seint. "Lapor Yang Mulia ... Hidangannya sudah siap, Putri Mahkota juga telah menunggu di sana." Lapor pengawal tersebut.


Seint mengangguk pelan kemudian berdiri dari posisi duduknya dan berjalan menuju tepat Lilian berada yang diikuti oleh Zheyan, Asgar dan Artem dibelakangnya.


Terlihat Lilian sedang menunggu kedatangan Seint dan yang lainnya. Setelah memastikan semua orang telah hadir, mereka akhirnya mulai memakan hidangan yang tersedia.


Setelah beberapa waktu, Lilian akhirnya telah menghabiskan makanannya dan begitupun dengan yang lain.


"Istirahatlah secepatnya!! Kita akan berangkat sebelum matahari terbit, pastikan kondisi mu tetap segar agar kita bisa secepatnya sampai di Ibukota." Ucap Seint lembut.


Lilian mengangguk pelan. "Kalian juga beristirahatlah! Pasti lelah telah melakukan perjalanan panjang, belum lagi kalian harus berburu dan menyiapkan makanan." Ucapnya.


Semua orang mengangguk mendengar ucapan Lilian. Lilian mengerutkan kening melihat tatapan aneh yang Seint arahkan kepada Citto namun ia tidak mempertanyakan hal itu pada Seint dan berjalan menuju tendanya.

__ADS_1


Setelah memastikan Lilian sudah memasuki tendanya, Seint memberi kode kepada semua orang agar segera menjalankan rencana mereka.


Seint dan yang lainnya berpura-pura sudah terlelap dan menyisakan beberapa orang untuk berjaga. Setelah lama menunggu, orang-orang yang sedari tadi bersembunyi keluar dan menyerang kearah tenda Seint dan yang lainnya.


Setelah orang-orang itu sudah memasuki daerah tenda didirikan, Seint dan yang lainnya langsung terbangun dari pembaringannya dan menatap tajam ke arah orang-orang itu.


Orang-orang itu terkejut melihat Seint dan yang lainnya terbangun dari tidurnya. Mereka tidak ada yang menyadari telah masuk dalam jebakan Seint.


"Rupanya kalian hanya berpura-pura tidur. Tidak masalah ... Jumlah kalian terlalu sedikit untuk melawan kami. Jadi percuma kalian melawa!" Ucap salah satu musuh Seint.


Seint memandang orang itu dengan tatapan tajam. "Kami bukanlah sekumpulan pengecut seperti kalian yang mengandalkan jumlah. Percuma memiliki banyak jumlah kalau kemampuan kalian hanya besar di mulut saja." Sinisnya.


Orang yang diyakini sebagai pemimpin tersebut menggeram kesal. "Kalau begitu lawan kami!!" Teriak orang itu lalu memberi kode kepada teman-temanya untuk melawan Seint dan yang lainnya.


Seint mengayunkan pedangnya kearah beberapa orang. Seint bergerak sangat lincah menghindari serangan beberapa musuh yang mengepungnya.


Mata Seint menajam saat melihat salah satu musuhnya berlari kearah tenda Lilian. Dengan wajah suramnya, Seint berhasil mengalahkan beberapa orang yang telah menghalangi jalannya mengejar orang tersebut.


Saat orang itu berniat membuka tenda Lilian, Seint dengan cepat menebas tangan orang itu menggunakan pedangnya. Terdengar suara kesakitan dari orang itu namun Seint tidak memperdulikannya dan malah menebas orang itu menggunakan pedangnya sampai tidak bernyawa.


Beberapa orang berlari menyerang ke arah Seint, namun tidak satupun yang berhasil menaklukannya. Setelah berhasil membunuh beberapa orang, Seint kembali berlari menuju ke arah Artem.


Sibuk melawan musuhnya, Artem tidak menyadari bahwa pemimpin musuh mereka berniat menebas punggungnya. Saat pedang pemimpin musuh itu hampir melukai Artem, Seint datang dan menepis pedang orang itu.


TRANGGGG


Bunyi benturan kedua pedang terdengar, pedang musuh itu secara tidak sengaja melukai tangan Seint sehingga terlihat luka goresan pada tangan Seint.


Melihat tangan Seint terluka, Artem menjadi murka dan menyerang pemimpin itu secara membabi buta. Sekian lama bertarung akhirnya Artem berhasil mengalahkan pemimpin musuh itu. Begitupun dengan musuh lainnya yang berhasil mereka kalahkan.


Artem, Zheyan dan Asgar berlari kearah Seint yang memegang tangannya. Tangan Seint terkena racun dari pedang pemimpin musuh itu sehingga terlihat warna biru pada lukanya.


"Maafkan saya Yang Mulia. Bukannya melindungi mu ... Saya malah membuat mu terluka." Ucap Artem bersalah.


"Tangan Pangeran Mahkota terkena racun biarkan saya memeriksanya. Saya memiliki sedikit kemapuan dalam hal racun." Jelas Asgar.


"Silahkan." Ucap Seint sambil menunjukkan tangannya.

__ADS_1


°°°


__ADS_2