
Sudah beberapa hari berlalu sejak Lilian menjalani latihannya dengan sungguh-sungguh. Setiap harinya Lilian selalu bangun lebih awal untuk melakukan latihan penguatan fisik sebelum ia diajari untuk menggunakan pedang.
Sehari yang lalu Zheyan dan Asgar telah mengajarinya banyak tehnik khusus untuk bertahan dari serangan musuh. Keduanya sangat mengagumi kemampuan Lilian yang cepat memahami sesuatu yang mereka ajarkan. Hari ini Zheyan dan Asgar bermaksud untuk mengajari Lilian cara untuk menggunakan pedang.
"Lilian karena kamu cepat memahami sesuatu yang kami ajarkan maka kami memutuskan untuk mengajari mu untuk menggunakan pedang hari ini." Ucap Zheyan.
Lilian hanya mengangguk singkat mendengar ucapan dari Zheyan.
"Sekarang kamu pilih salah satu pedang yang ingin kamu gunakan untuk berlatih." Ucap Asgar sambil menunjuk beberapa pedang yang berjejer di atas meja taman.
"Kalau aku menggunakan pedan ini...boleh?" Tanya Lilian sambil menunjuk ke arah sebuah pedang.
Zheyan mengangguk singkat kemudian mengangkat pedang yang Lilian tunjuk dan memberikannya pada Lilian.
"Kakak pedang ini sangat berat." Ucap Lilian sambil meringis.
"Awalnya kamu pasti merasa pedang itu berat Lilian namun lama kelamaan kamu pasti terbiasa menggunakan pedang." Ucap Asgar.
"Apakah semua pedang yang orang-orang gunakan seberat ini?" Tanya Lilian.
"Iya...pedang itu memiliki beberapa kualitas tergantung bagaimana cara pembuatannya...pedang yang kau pegang sekarang memiliki kualitas yang sangat bagus untuk seorang wanita...beratnya juga sudah dikondisikan dengan tenaga perempuan." Jelas Asgar.
"Apakah ada pedang yang jauh lebih berat dari pedang ini?" Tanya Lilian lagi.
"Ada...semuanya tergantung dari pemakai...jika pemakai merasa nyaman menggunakan pedang yang lebih berat jadi itu tidak akan menjadi masalah...sebenarnya menurut Kakak meskipun sebuah pedang memiliki kualitas yang rendah namun jika si pemakai memiliki keahlian dalam berpedang maka jangankan sesuatu yang tajam...ranting pohon pun akan berubah tajam jika si pemakai terampil." Jelas Asgar.
Lilian mengangguk singkat. "Jadi intinya jika kita bisa menguasai tehnik berpedang maka tidak masalah jika tidak menggunakan pedang...sesuatu yang bisa menggantikan pedang bisa kita gunakan?" Tanya Lilian.
"Iya...Ayahmu adalah seorang panglima perang...dalam berperang pasti akan ada saatnya dimana pedang yang ia gunakan akan terasa tumpul jika sering digunakan, maka untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan ia harus mencari cara untuk menggunakan pedang yang ada...disitu satu-satunya yang bisa ia gunakan adalah tehniknya sendiri." Jelas Asgar.
Lilian mengangguk mengerti. " Ya...sekarang aku sudah mengerti." Ucap Lilian.
Zheyan dan Asgar kemudian mengajarkan Lilian dasar-dasar dalam menggunakan pedang. Setelah belajar cukup lama akhirnya Lilian bisa memahami dasar-dasar ilmu pedang yang diajarkan oleh Zheyan dan Asgar.
"Apakah setelah ini aku bisa menantang seseorang untuk bertarung?" Tanya Lilian penasaran.
Zheyan tertawa pelan mendengar ucapan Lilian. "Kamu baru saja belajar dasar-dasar dalam ilmu pedang namun kamu langsung ingin menantang seseorang?" Tanya Zheyan kembali.
Lilian mengangguk antusias. "Ya tentu saja." Ucapnya.
Zheyan menghela napas pelan. "Kalau kamu menantangnya sekarang...kamu pasti akan langsung kalah." Ucapnya.
"Loh kenapa? bukannya aku sudah belajar?" Tanya Lilian bingung.
__ADS_1
"Kamu baru belajar dasarnya...ibaratnya seperti seorang anak yang lagi belajar berjalan...posisi kamu sekarang seperti seorang anak yang sedang belajar merangkak." Ucap Asgar.
Lilian membuka mulutnya tidak percaya. "Sia-sia selama ini aku belajar kalau aku tidak bisa menantangnya." Ucap Lilian kesal.
"Siapa bilang sia-sia? dasar-dasar ilmu pedang itu juga sangat penting kalau kita tidak mengetahui dasarnya lalu bagaimana kita mengerti cara menggunakan pedang? kalau kamu ingin mahir dalam menggunakan pedang maka kamu perlu belajar dengan sungguh-sungguh dan giat...tidak ada pekerjaan yang sia-sia Lilian." Ucap Zheyan.
"Lalu aku membutuhkan waktu berapa lama untuk mahir menggunakan pedang?" Tanya Lilian penasaran.
"Ya...tergantung kemampuan mu...kalau kau cepat memahaminya maka akan cepat pula kamu bisa mahir menggunakannya." Ucap Zheyan kembali.
"Memangnya kamu ingin menantang siapa?" Tanya Asgar penasaran.
"Aku ingin menantang Pangeran Seint." Ucap Lilian serius.
Zheyan dan Asgar membuka mulut tidak percaya mendengar ucapan Lilian. "Kau ingin menantang Pangeran Mahkota?" Tanya Asgar.
"Iya...aku sangat ingin menantangnya." Ucap Lilian sombong.
Asgar menghela napasnya. "Sudahlah Lilian...kau memilih lawan yang salah." Ucapnya.
"Apanya yang salah?" Tanya Lilian bingung.
"Kamu memilih orang yang salah...Pangeran Mahkota sangat terampil menggunakan pedangnya...Pangeran memiliki guru yang secara khusus mengajarinya untuk berpedang." Ucap Asgar.
"Apakah dia sehebat itu?" Tanya Lilian.
"Tentu saja...Pangeran Mahkota bahkan sering turun tangan sendiri dalam menyelesaikan masalah dalam kerajaan, contohnya seperti terakhir kali kamu kesasar pas di pasar...waktu itu Pangeran sedang memberantas para bandit yang selalu meresahkan rakyatnya." Jelas Asgar.
"Mana yang lebih hebat Kakak sama dia?" Tanya Lilian menatap serius ke arah Zheyan.
Zheyan mengerjapkan mata beberapa kali. "Entahlah...Pangeran Mahkota jauh lebih unggul dariku." Ucapnya.
Lilian menatap sinis ke arah Zheyan. "Katanya Kakak sangat hebat dalam menggunakan pedang...banyak orang yang mengatakan kalau Kakak calon Panglima berikutnya menggantikan Ayah namun jika mendengar cerita kalian kayaknya kemampuan mu tidak ada apa-apanya." Ucap Lilian.
"Hei...kalau mereka mengatakan hal begitu berarti itu benar...selama ini Kakak tidak pernah gagal dalam menjalankan tugas Kakak." Ucapnya sombong.
"Lalu kenapa Kakak mengatakan kalau kemampuan mu jauh dibawahnya?" Tanya Lilian ketus.
"Ya bisa saja begitu...selama ini kami belum pernah melakukan duel." Ucap Zheyan.
"Lah...bukannya kalian sering mengadakan latih tanding?" Tanya Lilian bingung.
"Ya sering namun kami tidak pernah bertemu untuk melakukan duel...saat latih tanding kami harus memilih nomor beberapa kali untuk mencari teman duel kami namun sampai sekarang kami belum pernah bertemu." Ucap Zheyan.
__ADS_1
Lilian tersenyum cerah ke arah Zheyan. "Kalau begitu bertanding lah dengannya untuk mewakili ku." Ucap Lilian senang.
Zheyan dan Asgar saling pandang satu sama lain dengan raut wajah bingung. "Kenapa aku harus bertanding dengannya untuk mu?" Tanya Zheyan.
"Karena jika kau menang maka aku akan meminta sesuatu darinya." Ucap Lilian senang.
"Kau akan meminta apa darinya?" Tanya Asgar.
Lilian tampak berpikir sebentar. "Aku akan meminta dia menjadi bawahan ku selama sehari." Ucapnya sambil tertawa kencang.
"APA?" ucap Zheyan dan Asgar barengan.
Lilian tersenyum lebar. "Pangeran Seint itu sangat sombong, cuek, dingin, datar dan angkuh...dia selalu membuat ku kesal...aku harus selalu mengikuti keinginannya tanpa ada bantahan...keinginan dia adalah perintah mutlak untuk ku jadi aku ingin ia merasakan hal yang aku rasakan." Ucap Lilian.
"Lilian sepertinya kau hari ini salah makan sesuatu." Ucap Asgar sambil tersenyum canggung.
"Tidak...hari ini aku sangat bersemangat...Jika Kakak nanti menang maka aku akan memerintahkan si datar itu menjadi bawahan ku, pasti akan sangat menyenangkan." Ucap Lilian girang.
"Emmm Lilian..." Panggil Zheyan ragu.
"Ada apa? apakah Kakak sudah menyetujui keinginan ku? kalau Kakak setuju maka aku akan sangat senang...membayangkan Pangeran Seint menjadi pelayan ku saja aku sudah sangat bahagia" Ucap Lilian senang sambil menatap Zheyan dan Asgar bergantian. "Kenapa udara di sini terasa dingin ya?" Ucap Lilian sambil memeluk tubuhnya.
"Lilian..." Ucap Asgar sambil memberi Lilian kode untuk berbalik.
"Ada ap...." Ucapan Lilian terhenti saat mendengar sebuah suara di samping telinganya.
"Kau ingin menjadikan ku pelayan mu?" Tanya Seint dingin.
Lilian membalikkan badannya cepat, tubuhnya menegang dan matanya membulat sempurna saat ia melihat Seint sudah berdiri didepannya dengan tatapan tajam miliknya. "Ka...ka...kau...sejak kapan kau di sini?" Ucap Lilian gugup.
Seint tersenyum penuh arti ke arah Lilian. "Sejak kau ingin aku menjadi pelayan mu." Ucap Seint sambil mengangkat tangannya ke kepala Lilian.
"Ma...mau apa kau?" Ucap Lilian menahan nafasnya.
"Permintaan kedua ku adalah...aku ingin kau menjadi pelayan ku selamanya." Ucap Seint.
Lilian membulatkan mata sempurna saat mendengar ucapan dari Seint sedangkan Zheyan, Asgar dan Artem menghela napas pelan mengasihani kemalangan dari Lilian.
°°°
Author UP sore karena lagi malas ngetik 🤭
Maafkan Author.....
__ADS_1
Tunggu satu Part lagi mungkin setelah maghrib 😀