
Setelah beristirahat beberapa waktu, Lilian berniat kembali melanjutkan kegiatan yang sebelumnya sempat tertunda. Awalnya Lilian hanya ingin mencuci muka dan beristirahat sebentar, namun saat sampai di kamarnya Seint, lelaki itu menyuruh para pelayan istana untuk memberi perawatan lebih untuknya. Setelah Lilian mengganti baju dan di hias tipis seperti keinginannya, Lilian kembali ke tempat lukisan yang akan di buat.
Seint tersenyum saat melihat Lilian datang kembali dengan raut wajah yang cerah. "Apakah kamu sudah siap dilukis?" Tanya Seint sambil menatap Lilian lembut.
Lilian tersenyum ke arah Seint dan mengangguk pelan. "Iya." Ucap Lilian.
Seint kemudian mengarahkan pandangannya kepada pelukis yang akan melukis mereka berdua. "Kami siap di lukis." Ucap Seint dengan raut wajah datarnya.
Pelukis tersebut kemudian tersenyum ke arah Seint dan mengangguk semangat. "Baik Yang Mulia, silahkan Yang Mulia dan Nona agar sekiranya mengambil tempat." Ucap Pelukis.
Seint dan Lilian kemudian duduk di kursi yang sama namun terlihat sedikit ada jarak di tengah keduanya.
"Mohon maaf sebelumnya Nona, saya ingin memperkenalkan diri dulu agar Nona merasa nyaman, perkenalkan nama saya Syahreza." Ucap pelukis tersebut sambil membungkuk hormat.
"Iya paman Syahreza." Ucap Lilian sambil tersenyum tipis.
Syahreza kemudian mengarahkan Seint dan Lilian untuk duduk lebih berdekatan. "Mohon maaf sebelumnya Yang Mulia, bisakah Yang Mulia dan Nona duduknya agar lebih dekat lagi." Ucap Syahreza.
"Kenapa?" Tanya Seint sambil menatap tajam kearah Syahreza.
"Ampun Yang Mulia, Yang Mulia dan Nona adalah sepasang kekasih jadi akan jauh lebih baik agar Yang Mulia duduknya tidak memiliki jarak." Ucap Syahreza.
Seint dan Lilian hanya saling menatap satu sama lain, tidak ada antara keduanya yang mau bergerak mendekat. Artem yang tidak tahan melihat keduanya pun maju dan memberi mereka arahan.
"Kau ini akan di lukis sebagai pasangan Lilian, kalau ditengah kalian memiliki jarak maka orang akan menganggap kalian pasangan yang tidak saling mencintai." Bisik Artem ke telinga Seint.
Seint mendengus pelan ke arah Artem. "Lalu seharusnya bagaimana?" Tanya Seint.
"Nona Lilian sebelumnya maafkan saya, tapi memang seharusnya kalian berdua harus duduk berdekatan." Ucap Artem sopan.
Lilian berdehem sebentar kemudian menatap ke arah Seint. Keduanya bergerak saling berdekatan, tubuh Lilian menegang saat tangannya menyentuh tangan Seint di sampingnya.
"Apakah seperti ini?" Tanya Artem kepada Syahreza.
"Ya Tuan namun bisakah Nona agar sedikit tersenyum dan tidak terlihat canggung? Nona cukup membayangkan hal-hal yang membuat Nona bahagia saja." Ucap Syahreza.
Lilian berdehem pelan untuk menghilangkan kecanggungan nya kemudian ia menatap kearah Seint yang terlihat santai. "Lelaki ini benar-benar bisa mengendalikan raut wajahnya." Batin Lilian.
Setelah mengikuti beberapa arahan dari Syahreza, keduanya langsung di lukis. Entah sudah berapa lama Seint dan Lilian dilukis namun Lilian mulai merasa pegal diwajahnya karena terus tersenyum, punggungnya pun sudah terasa sangat lelah.
"Apakah lukisannya masih belum selesai? Punggung ku lelah sekali dan wajah ku terasa pegal karena terus tersenyum." Ucap Lilian pelan.
Seint kemudian menggenggam tangan Lilian. "Sabarlah sedikit lagi." Ucapnya sambil terus menatap ke arah pelukis.
Tidak lama kemudian pelukis tersenyum cerah ke arah Seint dan Lilian. "Selesai...Yang Mulia dan Nona memang pasangan yang sangat serasi." Ujarnya senang.
Lilian menghembuskan napasnya pelan dan tanpa sadar ia menyenderkan kepalanya di bahu Seint. "Wajah ku terasa lelah sekali karena terus tersenyum." Ucapnya.
__ADS_1
Seint tersenyum tipis mendengar ucapan dari Lilian kemudian ia menatap ke arah pelukis tersebut. "Bawakan lukisannya kemari." Ucap Seint.
Syahreza kemudian membawa lukisan tersebut dengan raut wajah ceria, ia sangat merasa bahagia karena bisa di beri kesempatan untuk melukis keduanya.
Seint tersenyum tipis melihat hasil lukisan keduanya, terlihat di sana Seint duduk dengan gagahnya dengan di temani Lilian yang tersenyum cantik di sampingnya dan yang membuat Seint takjub dengan lukisan tersebut adalah pelukisnya juga melukis tangan Seint yang sedang menggenggam tangan Lilian.
"Bagus sekali." Ucap Seint.
Syahreza tampak sangat senang karena di puji oleh Seint, karena ada sedikit banyak orang yang bisa mendapatkan pujian dari Pangeran Mahkota.
Seint melirik ke arah Lilian yang masih nyaman dengan posisinya. "Kamu tidak ingin melihat hasilnya?" Tanya Seint.
Lilian menegakkan kepalanya dan menatap kerah sampingnya. "Boleh?" Tanyanya.
Seint tersenyum hangat ke arah Lilian dan menyerahkan hasil lukisannya. "Lihatlah." Ucap Seint.
Lilian menerima lukisan tersebut dan menatap lama ke arah lukisan wajahnya. Lilian mengerutkan keningnya dan mendekatkan lukisan itu lebih dekat lagi dengan wajahnya.
"Kenapa? Apakah kau tidak menyukainya?" Tanya Seint yang melihat raut wajah bingung dari Lilian.
"Tidak, lukisan ini sangat bagus...hanya saja..." Ucap Lilian terjeda dan melihat ke arah pelukis. "Apakah lukisan ini adalah wajah ku?" Tunjuk Lilian ke arah lukisan wajahnya
Syahreza tersenyum cerah mendengar ucapan Lilian, awalnya ia merasa khawatir jikalau Lilian tidak menyukai lukisannya. "Tentu saja Nona." Ucapnya.
Lilian kembali menatap serius ke arah lukisan wajahnya. "Aku baru menyadari kalau wajah ini tidak asing bagiku." Batin Lilian.
"Tidak aku hanya ingin memastikan sesuatu." Ucap Lilian tanpa melihat ke arah Seint.
"Memastikan apa? Kamu masih belum percaya itu adalah wajah mu? Lilian kamu memang sangat cantik namun bukankah aneh jika kamu tidak menyadarinya selama ini!" Ucap Seint.
"Iya...kamu benar mengapa selam ini aku tidak menyadarinya." Ucap Lilian serius menatap Lukisan itu.
Lilian menatap serius ke arah lukisan wajahnya. "Apakah aku yang salah? Tapi wajah ini sepertinya aku sering melihatnya di dunia lama ku." Batin Lilian.
"Kamu baik-baik saja kan?" Tanya Seint karena melihat raut wajah serius Lilian.
Lilian menatap ke arah Seint serius kemudian menatap ke arah pelukis tersebut. "Paman bisakah Anda melukis wajah ku sekali lagi namun saya ingin ada sedikit perubahan." Ucap Lilian serius.
Syahreza terlihat gugup mendengar ucapan dari Lilian. "Mohon maaf Nona, apakah Nona tidak menyukai lukisannya?" Ucap Syahreza sambil meneguk susah ludahnya.
Lilian menggeleng cepat. "Lukisan mu sangat bagus Paman, berkat Lukisan mu saya baru menyadari sesuatu...bisakah paman melukis wajah ku sendiri sekali saja?" Tanya Lilian berharap.
Syahreza menatap gugup ke Lilian kemudian ia menatap ke arah Seint yang mengangguk tanda setuju dengan permintaan Lillian. "Baiklah Nona." Ucapnya.
Pelukis tersebut kembali ke tempatnya untuk melukis kembali wajah Lilian, ia menyiapkan segala keperluan yang di butuhkan untuk melukis Lilian kembali.
Seint menatap heran ke arah Lilian yang tampak dengan raut wajah tidak tenangnya. Entah apa yang membuat gadis itu merasa tidak tenang, Seint pun menggenggam erat tangan Lilian yang bahkan sudah berkeringat untuk menyemangatinya.
__ADS_1
Lilian menatap serius ke arah pelukis yang sudah mulai melukisnya kembali. "Paman bisakah kau melukis wajah ku dengan warna dan mata yang berbeda?" Ucap Lilian gugup.
"Maksud Nona?" Tanya pelukis bingung.
"Tolong lukis wajah ku dengan warna mata berwarna coklat, jangan lukis rambutku sepanjang ini tapi lukis lah rambut ku hanya sampai di bawah bahuku, berikan warna rambut ku dengan warna coklat terang dan lukis lah pipi ku agar sedikit tembem...oh iya lukis lah tubuh ku agar sedikit berisi dan jangan merubah apapun kecuali yang ku sebutkan tadi." Jelas Lilian panjang sambil menggenggam erat tangan Seint.
Syahreza tampak ragu mendengar ucapan Lilian namun Seint memberikan tatapan perintah kepadanya. Syahreza pun mulai melukis sesuai arah dari Lilian.
Setelah beberapa waktu berlalu, Lillian semakin tidak tenang dari duduknya. Seint bahkan merasakan tubuh Lilian menegang dan tampak pucat menanti lukisannya selesai.
"Apakah kau baik-baik saja?" Tanya Seint khawatir.
Lilian menatap Seint dengan banyak keringat mengalir di dahinya. "Iya." Ucapnya serak.
Seint menatap khawatir ke arah Lilian. "Kamu sepertinya sedang tidak baik-baik saja, apakah lebih baik kamu beristirahat saja?" Tanya Seint sambil menyeka keringat Lilian.
Lilian menggeleng cepat. "Ku mohon biarkan aku melihat hasil dari lukisannya dulu." Ucap Lilian.
"Baiklah." Ucap Seint.
Setelah menunggu lama, akhirnya Syahreza mengatakan Lukisan wajah Lilian sudah selesai. Pelukis itu tampak mengerutkan kening melihat hasil lukisannya kemudian ia berjalan mendekati Seint dan Lilian.
"Lukisannya sudah selesai Nona." Ucap Syahreza sambil menyerahkan lukisannya pada Lilian.
Lilian menelan ludah gugup saat menerima lukisan dari Syahreza. Matanya membulat, tubuhnya menegang dan nafas Lilian tercekat melihat hasil lukisannya. "I...ini...kenapa...kenapa selama ini aku tidak menyadarinya." Batin Lilian.
Lilian merasa dadanya semakin sesak, nafasnya bahkan sudah tidak beraturan lagi. "Aku...aku adalah Lilian? Tubuh ini...wajah ini...ada...adalah milik ku sendiri...aku...aku adalah Lilian asli? Ke...kenapa selama ini aku tidak menyadarinya? Mengapa...mengapa aku ada di sini?" Batin Lilian.
"Apakah kamu baik-baik saja?" Tanya Seint panik melihat wajah pucat dari Lilian.
"Seint...ak...aku..." Ucap Lilian sesak kemudian terjatuh pingsan di pelukan Seint.
"LILIAN..." Teriak Seint panik.
"NONA..." Panggil semua orang.
"PANGGILKAN TABIB DAN SURUH DIA KE KAMAR KU SECEPATNYA." Ucap Seint.
"Baik Yang Mulia." Ucap Artem yang langsung berlari.
Seint mengangkat tubuh Lilian dan bergegas secepat mungkin menuju kamarnya. Tubuh Syahreza dan para pelayan yang berada di tempat bergetar ketakutan melihat raut wajah marah dari Seint.
°°°°
Akhirnya Part ini selesai juga...
Selamat membaca.....
__ADS_1