
Beberapa hari telah berlalu, aktifitas kembali berjalan normal seperti sebelum pertempuran. Raja Reinal mengerahkan semua prajurit yang masih sehat untuk segera membereskan sisa pertempuran. Tanah retak, bangunan roboh, serta kekacauan lainya mulai kembali dibereskan dan tata seperti sebelumnya.
Kondisi prajurit serta orang-orang yang terluka dalam pertempuran kini mulai membaik dan bisa kembali beraktifitas seperti sedia kala. Tidak jauh beda dengan kondisi mental Lilian yang sebelumnya merasa terpuruk akan kehilangan Rosa kini Lilian sudah bisa menerima kepergiannya.
Meski dalam hati Lilian masih merasa kehilangan namun ia berusaha agar mengikhlaskan kepergian Rosa. Lilian bahkan belum terbiasa tanpa kehadiran Rosa yang selalu membantunya saat dikediaman. Terlebih lagi Lilian harus merasakan sepi tanpa kehadiran Citto yang selama ini selalu menemani harinya. Naga itu selalu bertingkah lucu dan selalu ingin ikut kemanapun Lilian pergi.
Berbeda dengan kondisi yang Lilian rasakan, setelah pertempuran yang memakan banyak korban, Seint dan yang lainnya turun tangan langsung dalam membantu prajurit membereskan sisa pertempuran setelah mereka mendapatkan istirahat yang cukup.
Setelah semua perbaikan dilakukan kini saatnya bagi Raja Reinal untuk menjatuhkan hukuman kepada para penghianat. Sebelumnya Raja Reinal telah memberikan pengumuman bagi rakyat yang ingin menyaksikan hukuman bagi para penghianat agar datang ketempat khusus yang telah ditentukan sebelumnya.
Setelah pengumuman itu keluar, banyak Rakyat yang ingin menyaksikan secara langsung detik-detik hukuman dijatuhkan kepada para penghianat itu. Sebelum gerbang Istana dibuka untuk umum, terlihat banyak sekali Rakyat yang sudah menunggu diluar gerbang.
Tidak lama menunggu, akhirnya gerbang Istana dibuka oleh banyak Prajurit. Melihat gerbang sudah terbuka lebar, para Rakyat akhirnya langsung berebut masuk dan mencari tempat duduk masing-masing. Setelah para Rakyat duduk dengan tertib, seorang Prajurit langsung memberitahukan tentang kehadiran Raja Reinal, Pangeran Seint serta para Petinggi lainnya akan memasuki tempat hukuman.
"Yang Mulia Raja Reinal, Pangeran Seint berserta para Petinggi kerajaan telah tiba." Teriak salah seorang Prajurit.
Semua orang serentak membungkukkan badannya untuk memberikan penghormatan kepada mereka. Setelah Raja Reinal, Pangeran Seint dan para Petinggi lainnya menduduki kursi masing-masing semua Rakyat kembali memberikan penghormatan kepada Raja Reinal dan yang lainya.
Setelah acara penghormatan, seorang petinggi kerajaan bangun dari kursinya dan berjalan ke depan semua orang untuk membacakan keputusan Raja Reinal.
"Beberapa hari yang lalu telah terjadi penyerangan terhadap kerajaan Apollonia. Pelaku penyerang itu tidak lain berasal dari kerajaan kita sendiri dengan dibantu oleh kerajaan Elmore. Sebelum mengeluarkan keputusan ini, kerajaan Apollonia telah mengkonfirmasi kepada kerajaan Elmore bahwa penyerangan terhadap kerajaan Apollonia ada campur tangan dari salah satu Pangeran dari kerajaan Elmore. Pihak kerajaan Apollonia kemarin mendapat surat balasan dari kerajaan Elmore yang isinya memberikan hak penuh kepada kerajaan Apollonia untuk memberikan hukuman kepada para pelaku sesuai dengan perbuatan yang mereka lakukan." Jelas Petinggi kerajaan tersebut dengan suara lantang.
__ADS_1
Petinggi tersebut kemudian menerima sebuah gulungan kertas pada yang dibawa oleh pelayan lalu membukanya. "Setelah melakukan pertemuan dengan para petinggi kerajaan, dimana pertemuan itu membahas hukuman apa yang akan dijatuhkan kepada para penghianat maka para petinggi kerajaan memberikan beberapa masukan terkait hukuman yang akan dijatuhkan kepada mereka. Setelah melaksanakan pertemuan panjang Yang Mulia Raja telah memutuskan untuk memberikan hukuman mati kepada para penghianat dengan cara meminum racun. Hukuman itu akan dilaksanakan setelah pembacaan hukuman ini telah dibacakan." Petinggi kerajaan tersebut selesai membaca isi gulungan surat kemudian kembali memberikannya kepada pelayan dan ia kembali ke kursinya.
Suara riuh terdengar dari kursi duduk para Rakyat mendengar keputusan Sang Raja. Bagi mereka itu hukuman yang pantas mereka dapatkan setelah mencoba berkhianat kepada kerajaan Apollonia. Sebagian Rakyat menyayangkan keputusan Sang Raja yang memberikan hukuman mati dengan meminum racun, mereka menginginkan jika para penghianat itu membayar kejahatannya dengan dihukum pancung. Sedangkan Raja Reinal memberikan hukuman itu setelah mendengar beberapa masukan dari para petinggi, ada banyak yang meski Raja Reinal pertimbangkan dalam menjatuhkan keputusan. Bagi Raja Reinal tidak pantas rasanya jika Rakyat bersorak melihat seseorang melakukan hukuman itu selain itu Raja Reinal mempertimbangkan kinerja mereka selama dalam mengurus kerajaan Apollonia. Meski para penghianat itu merencanakan pemberontakan namun mereka juga telah banyak memberikan yang terbaik untuk kerajaan Apollonia.
Setelah keputusan selesai dibacakan, terlihat Prajurit menyeret banyak orang dan membawanya ke tengah tempat hukuman. Para penghianat itu diatur agar duduk berjejer sampai memenuhi tempat tersebut. Terlihat Marquis Gaustark dan Visount Wilson dan petinggi kerajaan lainnya dalam kondisi yang sangat buruk.
Setelah pertempuran usai, mereka semua ditangkap dan dimasukan kedalam penjara bawah tanah tanpa diberikan pengobatan. Mereka dibiarkan merasakan semua rasa sakit akibat dari perbuatan mereka sendiri.
Para penghianat itu menatap kearah Raja Reinal duduk dan meminta hukuman mereka diringankan lagi. Namun nasi sudah menjadi bubur, keputusan telah dibacakan dan waktunya mereka menjalankan hukuman terakhir mereka.
"Bunuh para penghianat itu!!" Teriak para Rakyat
"Mereka tidak pantas hidup setelah melakukan penghianatan!!" Teriak Rakyat lagi.
Semangkuk racun telah disiapkan didepan para penghianat, tinggal tunggu aba-aba dari Raja Reinal agar mereka meminum racun tersebut. Raja Reinal berdiri dari kursi kebesarannya kemudian berjalan maju sambil menatap ke semua para penghianat.
"Kalian telah melakukan penghianat pada kerajaan Apollonia. Karena keserakahan kalian banyak korban dan banyak hal yang dirugikan dalam peperangan malam itu. Untuk menebus semua kesalahan yang kalian lakukan maka minumlah racun didepan kalian dan ucapkan selamat tinggal pada semua orang." Ucap Raja Reinal Tegas.
Semua para penghianat tertegun mendengar ucapan tegas dari Raja Reinal. Mereka akhinya menyerah dan mengambil mangkuk yang berisi racun didepannya. Mereka mengingat kembali hal-hal apa saja yang mereka lakukan sebelnya hingga mereka harus mendapatkan kematian seperti sekarang.
Dengan perlahan satu persatu dari para penghianat terjatuh ke tanah setelah meminum racun tersebut. Mereka mati dengan kondisi yang mengenaskan, sebelum mati mereka memegang leher mereka karena racun tersebut seakan membakar tenggorakan mereka. Tidak lama kemudian Viscount Wilson terjatuh saat racun tersebut mulai bereaksi dalam tubuhnya.
__ADS_1
Marquis Gaustark mengepalkan tangannya kuat karena merasa tidak adil dengan kehidupannya. Kehidupan yang selalu membuatnya merasakan kenyamanan harus berakhir dengan meminum racun. Marquis Gaustark mengencangkan pegangannya pada mangkuk tersebut kemudian meminum racun tersebut dengan beberapa kali teguk.
Tidak lama kemudian racun tersebut bereaksi dalam tubuh Marquis Gaustark dan ia akhirnya menghembuskan napas terakhirnya. Setelah semua penghianat tidak lagi bergerak, Prajurit kembali datang dan memasukan mayat-mayat tersebut ke gerobak dan akan segera dimakamkan agar tidak membawa wabah jika dibiarkan terlalu lama.
Mayat-mayat itu rencananya akan dibawa ketempat para penghianat yang sebelumnya dimakamkan. Setelah semua acara selesai Raja Reinal, Pangeran Seint dan para petinggi lainnya meninggalkan tempat hukuman itu.
Para Rakyat juga pulang dengan teratur setelah puas menyaksikan hukuman bagi para penghianat kerajaan.
Setelah keluar dari tempat hukuman, Seint meminta ijin kepada Raja Reinal untuk pergi menemui Lilian. Seint berangkat bersama Artem setelah mendapat ijin dari Raja Reinal.
Seint dan Artem menunggangi kuda ke kediaman Duke Marven. Setelah sampai beberapa pengawal membukakan gerbang dan mengantarnya memasuki kediaman Duke Marven.
Saat berjalan memasuki kediaman tersebut, Seint melihat banyak pelayan berlari dengan panik. Melihat raut wajah bingung dari Seint, pengawal tersebut langsung menghentikan langkah salah satu pelayan.
"Apa yang terjadi? Mengapa semua orang terlihat panik?" Tanya pengawal tersebut.
"Yang Mulia Putri Mahkota kembali jatuh tidak sadarkan diri lagi. Kami harus secepatnya menyiapkan beberapa bahan untuk dijadikan oleh tabib sebagai obat." Jawab pelayan tersebut.
"Kalau begitu maaf telah menghalangi pekerjaan mu." Ucap pengawal tersebut merasa bersalah.
Pelayan itu hanya mengangguk kemudian secepatnya berjalan pergi. Seint dan Artem langsung berjalan meninggalkan pengawal tersebut setelah mendengar ucapan pelayan tadi.
__ADS_1
°°°