
TOK...TOK...TOK...
Suara ketukan pintu kembali terdengar. Raja Reinal dan Duke Marven saling memandang satu sama lain.
"Apakah tadi saat kau kesini ada yang melihat mu?" Tanya Raja Reinal.
Duke Marven kembali mengingat kejadian sebelum ia datang menemui Raja Reinal. "Sepertinya Yang Mulia Pangeran." Ucap Duke Marven ragu.
TOK...TOK...TOK...
Ketukan pada pintu semakin lama semakin keras. "Ayah, ini hamba...Pangeran Seint." Ucapnya kemudian.
Raja Reinal menghembuskan napas lega. "Masuklah!" Ucapnya.
Setelah dipersilahkan masuk, Seint muncul dengan sebuah buku dalam genggamannya. "Hormat hamba Yang Mulia." Ucap Seint sopan.
"Kau membuat ku kaget saja." Ucap Raja Reinal.
Seint mengangkat sebelah alisnya. "Ada Apa?" Tanyanya dingin.
"Tidak ada apa-apa Yang Mulia, kami hanya sedang membahas tentang Lilian tadi." Ucap Duke Marven.
"Lalu apakah ada solusi?" Tanya Seint.
Raja Reinal menghembuskan napas kasar. "Itulah yang sekarang sedang kami bicarakan. Entah mengapa semuanya menjadi semakin rumit." Ucap Raja Reinal sambil memijat kening.
Seint mengangguk pelan. "Ayah...Sebelum kesini saya tadi mengunjungi ruang perpustakaan lama, di sana saya menemukan buku yang membahas tentang naga." Ucap Seint.
Raja Reinal mengerutkan kening. "Sejak kapan anak ini bisa bicara sesantai ini kepadaku? Terlebih ada Duke Marven." Batinnya. "Lalu kamu menemukan apa?" Tanyanya.
Seint menatap buku yang sedang ia pegang. "Buku ini menjelaskan jika naga bisa muncul apabila ada sekelompok orang yang memanggilnya dengan cara mengadakan ritual. Jika naga berhasil terpanggil, maka naga akan muncul ditempat yang tidak diketahui jelas namun..." Ucap Seint sambil menatap buku itu dengan lekat.
"Namun apa?" Tanya Raja Reinal.
"Jika seseorang menemukan keberadaanya belum tentu naga itu jinak kepadanya, meskipun dia adalah orang pertama yang berhasil menemukannya." Ucap Seint.
"Apalagi yang buku itu jelaskan?" Tanya Raja Reinal penasaran.
"Naga hanya akan jinak kepada seseorang yang memiliki jiwa yang berbeda." Ucap Seint.
Raja Reinal menelan ludah sebentar. "Berbeda bagaimana?" Tanyanya penasaran.
"Entahlah...Naga hanya akan tertarik kepada jiwa yang dianggap berbeda. Mungkinkah Lilian memiliki jiwa yang berbeda?" Tanya Seint.
Duke Marven menahan napas sebentar. "Saya tidak yakin namun mungkin saja jiwa yang berbeda maksudnya itu adalah jiwa yang spesial." Ucanya.
__ADS_1
Raja Thanos mengangguk cepat. "Ya betul. Sejak kecil Lilian memiliki kemampuan yang berbeda dengan anak lain, mungkin saja saat ritual itu diadakan naga bisa merasakan keberadaan Lilian." Jelas Raja Reinal.
"Siapa yang sudah melakukan ritual pemanggilan naga?" Tanya Seint serius.
"Entahlah...di wilayah barat telah dilakukan sebuah ritual namun Ayah belum bisa memastikan itu ritual untuk apa!" Ujarnya.
Seint mengerutkan kening. "Wilayah barat?" Tanyanya.
Raja Reinal mengangguk. "Sejak kerajaan Elmore mengirim utusannya kesini, Ayah langsung menyelidiki wilayah itu. Tidak banyak informasi yang Ayah dapatkan namun Ayah masih mencurigai wilayah itu. Hingga kemarin utusan Ayah memberi formasi tentang akan persembahan ritual di sana." Jelas Raja Reinal.
"Jika memang ritual itu untuk memanggil naga...maka apakah tujuan mereka menggunakan naga tersebut?" Tanya Duke Marven mulai menyambungkan potongan-potongan kejadian.
Raja Reinal memandang serius ke arah Duke Marven. "Tidak ada tujuan lain jika seseorang memanggil naga. Tujuannya pasti orang itu ingin menguasai banyak wilayah." Ucapnya dengan raut wajah yang sangat serius.
"Lalu...mungkinkah kerajaan Elmore terlibat? Sebelumnya mereka sangat ingin mendirikan markas di wilayah sana." Ucap Duke Marven.
"Sepertinya seseorang sedang merencanakan sesuatu yang besar, kita akan melakukan penyelidikan ini secara diam-diam." Ucap Raja Reinal.
"Lalu bagaimana dengan naga itu?" Tanya Seint.
Raja Thanos menghembuskan napas pelan. "Kita tidak akan bisa menyembunyikan naga itu. Untuk sekarang ukurannya memang kecil namun jika naga itu tersinggung ia akan berubah menjadi monster." Ucapnya.
"Tidak adakah cara lain untuk menangani naga itu sekarang?" Tanya Duke Marven.
Duke Marven mengerutkan kening bingung. "Maksud Yang Mulia?"
"Hanya Lilian yang bisa mengendalikan naga itu. Aku memohon kepada mu agar tetap di pihak ku sampai akhir." Ucap Raja Reinal menatap sendu Duke Marven.
"Yang Mulia... Sampai sejauh ini kita telah melewati banyak masalah bersama. Hamba tidak memiliki sedikitpun niat untuk memiliki kekuasaan yang lebih. Persahabatan kita tidak akan pernah sepadan jika dibandingkan dengan jabatan tinggi." Ucap Duke Marven serius.
"Aku selalu percaya kepada mu. Setelah ini aku yakin pasti akan ada banyak orang yang akan menemui mu." Ucap Raja Reinal sambil menerawang jauh.
"Marga King akan selalu menjadi posisi tertinggi. Hamba hanya yakin kepada mu Yang Mulia." Ucap Duke Marven.
Ketiganya pun melanjutkan pembahasan yang perlu mereka bahas.
°°°
Lilian mengelus pelan kepala naga itu sambil tersenyum. "Bulu mu sangatlah halus." Ucap Lilian.
CITT...CITT...CITT...
Lilian kembali tersenyum mendengar suara naga itu. "Sepertinya kamu setuju dengan ucapan ku." Ucap Lilian.
Naga itu kemudian melompat-lompat didepan Lilian. "Sepertinya mulai sekarang aku harus memberi mu nama. Tapi...kamu ini jantan atau betina?" Tanya Lilian penasaran.
__ADS_1
CITT...CITT...CITT...
"Betina?" Tanya Lilian.
Seakan mengerti ucapan dari Lilian naga kecil itu menggeleng keras.
"Kalau begitu kamu adalah jantan?" Tanya Lilian kembali.
CITT...CITT...CITT...
Suara naga itu sambil melompat girang. "Karena kamu selalu mengeluarkan suara citt...citt... Maka mulai sekarang namu adalah Citto, Apakah kamu suka?" Tanya Lilian lagi.
Citto kemudian melompat senang. Setelah kejadian tadi pagi, hewan itu tidak ingin berada jauh dari Lilian. Zheyan yang berusaha mendekati Lilian pun tidak ia berikan kesempatan.
Mereka hanya bisa menatap Lilian dari jarak sedikit jauh karena Citto selalu bereaksi marah saat mereka berusaha mendekati Lilian. Lilian menggunakan kesempatan itu untuk memberi mereka pelajaran karena telah membohonginya.
Selang beberapa waktu, dari arah tenda muncul dua orang memasuki tenda Lilian. Melihat kedatangan Seint dan Artem, Lilian pun membuang muka tidak suka.
"Fania...Violet..." Panggil Lilian.
"Ya. Apakah kamu butuh sesuatu?" Tanya Fania.
"Tolong suruh keempat orang itu keluar." Ketus Lilian.
Fania dan Violet menatap ragu keempat lelaki itu, bagaimana mereka bisa mengusir keempat orang penting itu sekarang.
Seint maju beberapa langkah. "Kamu masih marah?" Tanya Seint.
Lilian hanya mengelus bulu dan menatap Citto, tidak mau melihat Seint. "Hukuman karena kalian telah membohongi ku." Batin Lilian kesal.
Karena tidak mendapat tanggapan dari Lilian, Seint maju beberapa langkah mendekati Lilian dan menarik Lilian untuk menatapnya. "Katakan saja apa yang kamu inginkan agar bisa memaafkan ku?" Tanya Seint serius.
Lilian menghempaskan tangan Seint. "Aku tidak butuh apa-apa! Sebaiknya kamu keluar saja, aku mau istirahat!" Ketus Lilian.
Seint kembali menarik tangan Lilian yang sebelumnya ingin berbaring. "Lalu apa..." Sebelum Seint melanjutkan ucapannya, sebuah api muncul dan membakar tangannya.
"Ahhh..." Desis Seint tertahan.
Semua orang termasuk Lilian menatap panik ke arah tangan Seint yang memerah karena semburan api dari Citto.
"Yang Mulia..." Teriak semua orang.
°°°
Selamat membaca...
__ADS_1