
Suara auman dari Citto memenuhi seluruh tempat pertempuran. Setelah membakar ular hijau menggunakan api hitam, Citto melilitkan tubuhnya pada ular hijau tersebut dan tidak lama kemudian ular hijau tersebut tidak bergerak lagi. Ular hijau itu mati dengan kondisi yang sangat mengenaskan, selain luka bakar yang ia terima, ular hijau tersebut juga mendapatkan luka goresan dari cakar milik Citto.
Ditempat yang tidak jauh dari Citto, Seint dan Zheyan kembali menyerang Pangeran Igor setelah ia melepas Lilian dari dekapannya. Sedangkan Lilian sendiri sedang menangis dan menutup luka Rosa agar tidak mengeluarkan banyak darah.
Setelah Pangeran Igor melepaskannya, Lilian langsung berbalik dan melihat Rosa sedang berbaring di tanah dengan luka yang mulai mengeluarkan banyak darah. Melihat Rosa terluka, Lilian tidak lagi memperhatikan sekitarnya dan langsung berlari memeluk Rosa.
"Yang Mu ... Mulia ti ... tidak apa-apa?" Tanya Rosa sambil menatap Lilian sendu.
Lilian menangis histeris melihat luka Rosa yang semakin mengeluarkan banyak darah. "Apakah kamu bodoh? Mengapa kau menanyakan keadaan ku disaat kondisi mu seperti ini!" Ucapnya.
Rosa tersenyum kecil. "Sepertinya An ... da ba ... baik-baik sa ... ja." Ucap Rosa terbata sambil batuk darah.
Lilian tambah menangis histeris. "Ku mohon Rosa jangan berbicara dulu. Siapapun tolong selamatkan Rosa!!" Teriaknya.
Rosa memegang erat tangan Lilian. "Saya Rasa wak ... tu ... saya su ... dah tidak banyak la ... gi. Terima ka ...sih te ... lah menganggap sa ... ya seba ... gai keluarga." Ucapnya sambil batuk darah.
Lilian masih menangis histeris. "Ku mohon Rosa bertahanlah. Ayah dan Artem sedang mencarikan mu tabib, aku yakin kamu pasti bisa bertahan." Ucapnya.
Rosa kembali tersenyum pelan. "Saya sa ... ngat se ... nang bisa mene ... mani Anda dari ke ... cil sam ... pai sekarang. Jika sa ...ya terlahir kem ... bali saya ha ... rap saya terlahir sebagai Kakak mu." Ucap Rosa terbata.
"Ku mohon Rosa jangan berbicara lagi. Bertahanlah Ayah sebentar lagi akan datang." Tangis Lilian.
Rosa hanya tersenyum kecil, tidak lama kemudian ia semakin melemah dan akhirnya menutup kedua matanya.
"Rosa ... Rosa ... Jangan membuatku takut! Bukalah matamu dan lihatlah aku! Rosa kamu mendengarkan aku kan?" Ucap Lilian sambil menepuk pelan pipi Rosa.
Rosa tidak bergerak maupun merespon ucapan maupun panggilan dari Lilian.
"Rosa aku perintahkan kau untuk membuka mata mu! Lihat aku dan jangan pernah menutup mata mu!" Teriak Lilian.
Rosa tidak bergerak sedikitpun, sesaat kemudian Duke Marven dan Artem datang membawa seorang tabib setelah lama mencari di kerumunan banyak orang. Tabib tersebut langsung memeriksa kondisi Rosa kemudian ia menatap sendu ke arah Lilian yang masih menangisi kondisi Rosa.
"Kenapa Anda menatap ku dengan tatapan seperti itu? Katakan padaku bahwa Rosa bisa diselamatkan dan akan segera membaik!!" Ucap Lilian.
__ADS_1
Tabib tersebut menghela napas pelan. "Maafkan saya Yang Mulia, gadis ini sudah tidak bisa diselamatkan. Lukanya terlalu dalam dan mengenai jantungnya, darahnya-pun keluar sangat banyak sehingga memperburuk kondisinya. Meski saya datang lebih awal namun saya tetap tidak akan bisa menyelamatkannya." Jelasnya.
Lilian menangis histeris sambil memanggil nama Rosa. "Kenapa Anda menjadi Tabib jika tidak bisa menyelamatkan hidupnya?" Tanyanya.
Tabib tersebut menunduk hormat. "Maafkan saya Yang Mulia namun ini sudah menjadi takdir dari langit." Ucapnya.
Lilian kembali menangis histeris dan terus saja memanggil nama Rosa. Lilian sudah tidak lagi mendengarkan ucapan orang-orang disekitarnya, hatinya begitu hancur melihat Rosa terluka karenanya dan mati didepan matanya sendiri.
"Tenanglah Lilian! Rosa mengorbankan dirinya untuk keselamatan mu." Ucap Duke Marven menenangkan Lilian.
"Tidak! Aku tidak butuh ia selamatkan, seharusnya Rosa masih tetap hidup dan dia berada ditempat yang aman namun mengapa ia harus kesini dan menyelamatkan ku." Ucap Lilian sambil menangis.
"Lilian! Rosa melakukan pengorbanan untuk mu. Itu adalah bentuk kasih sayangnya kepada mu, Rosa tidak ingin kamu terluka dan memilih mengorbankan diri untuk mu." Ucap Duke Marven.
Lilian menggeleng cepat. "Tidak Ayah! Rosa akan selalu menemaniku di manapun dan kapan-pun aku butuhkan. Dia akan selalu ada di sampingku. Aku tidak mengijinkannya untuk meninggalkan ku." Ucapnya.
Duke Marven memeluk Lilian dengan erat demi untuk menenangkan Putrinya. Sedangkan Citto kembali mengaum dengan keras mengikuti suasana hati yang Lilian rasakan saat ini.
Ditempat lain Seint dan Zheyan berhasil melumpuhkan pergerakan dari Pangeran Igor. Seint memberikan luka yang sangat dalam pada Pangeran Igor dan ia mengucapkan mantra agar Pangeran Igor tidak dapat bergerak lagi. Di atas tanah yang sedari tadi bergetar karena Citto, Pangeran Igor menatap kearah Lilian yang sedang menangis histeris karena kehilangan Citto.
Di saat terakhirnya, Pangeran Igor hanya berharap dapat melihat Lilian sampai ia menutup kedua matanya untuk selama-lamanya. Tidak lama ia menatap Lilian, Pangeran Igor menutup matanya dan menghembuskan napas terakhirnya.
Seint menatap sendu kearah Pangeran Igor, meski mereka tidak dekat sebagai saudara namun Pangeran Igor tetaplah adiknya Seint. Seint tidak menginginkan hal ini terjadi namun keadaan memaksa mereka untuk saling menyerang satu sama lain.
Seint dan Zheyan berjalan menuju tempat Lilian berada namun sebelum sampai, Zheyan tidak sengaja melihat seorang gadis yang mengarahkan anak panah kearah Lilian. Dengan cepat Zheyan mengambil busur dan anak panah yang berada di tanah milik prajurit yang jatuh dan mengarahkan ke gadis tersebut.
Sebelum anak panah yang gadis itu lepaskan melesat kearah Lilian, anak panah milik Zheyan terlebih dahulu mengenai jantung gadis tersebut dan akhirnya gadis itupun jatuh ketanah.
Gadis itu adalah Raina, ia menyaksikan semua orang di pihaknya gugur satu persatu membuatnya sangat marah. Melihat kondisi Lilian sedang tidak baik-baik saja membuat gadis tersebut mengambil kesempatan untuk melukai Lilian. Namun sebelum rencananya berhasil ia laksanakan, panah lain malah menusuk tepat kearah jantungnya.
Melihat Raina jatuh karena anak panah mengenai jantungnya. Perasaan Lilian kembali kacau dan terus saja menyalahkan dirinya atas semua yang terjadi. Karena perasaan Lilian sedang kacau, perasaan Citto-pun memburuk mengikuti perasaan Tuannya.
Meski Lilian sudah ditenangkan banyak orang namun tidak ada yang bisa membuat Lilian kembali tenang. Citto mengaum dengan sangat keras membuat tempat pertarungan kembali bergetar dan Citto mengeluarkan api dalam mulutnya ke sembarang arah.
__ADS_1
Seint dan Raja Reinal berlari kearah Citto untuk menenangkannya namun naga itu tidak bisa dikendalikan lagi dan menyerang orang-orang dengan sembarang. Kondisi Lilian-pun tidak jauh beda, karena perasaan kehilangan membuatnya hanyut dalam pikiran-pikiran anehnya.
Citto membakar apapun yang dia lihat dan membuat suasana tambah kacau. Seint bahkan sampai terluka karena berusaha menenangkan Citto. Kondisi Raja Reinal-pun tidak jauh beda dengan Seint, ia mendapatkan banyak luka dikarenakan serangan dari Citto.
Melihat Lilian yang tidak bisa diajak bicara dan Citto yang tidak bisa ditenangkan. Membuat Seint mengeluarkan bola kristal yang ia dapatkan saat dikediaman Duke Marven. Menyadarkan Lilian membutuhkan waktu yang lama dan selama itu Seint tidak dapat menjamin kerajaan Apollonia tidak akan hancur dikarenakan kemarahan Citto.
Seint berada dalam pilihan yang sangat berat. Jika ia harus menyegel Citto maka Lilian akan ikut tertarik bersama Citto namun jika Seint tidak menyegel Citto maka kerajaan Apollonia akan hancur dengan sekejap karena Citto.
Seint mencoba menyadarkan Lilian namun gadis itu kembali menangis histeris dalam pelukan Duke Marven dan tidak mendengarkan kata-kata siapa-pun. Kehilangan Rosa membuatnya sangat terpuruk dan tidak bisa mengendalikan perasaan bersalahnya.
Ditempat lain Citto terus saja menyerang para prajurit yang berusaha menahannya agar tidak menghancurkan tempat itu. Matahari sebentar lagi akan terbit, namun Seint tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Ia harus mengambil sebuah keputusan antara memilih Lilian atau Kerajaan dan rakyatnya.
Saat Seint mulai yakin dengan keputusan yang akan ia ambil, sebuah cahaya muncul didekat Lilian. Muncul sosok seorang gadis yang memakai gaun warna putih panjang dan wajahnya mirip dengan Lilian.
Semua orang menatap ke sosok itu dengan tidak percaya. Ada dua Lilian muncul ditempat yang sama membuat semua orang bingung memilih mana yang asli.
Sosok itu menatap Lilian lama sambil tersenyum lembut. "Terima kasih karena telah berjuang sampai dititik ini. Waktunya giliran ku untuk berkorban, jika aku harus merelakan masa laluku untuk pengorbanan maka tetaplah berjuang untuk masa depanku. Waktu mu tinggal sedikit lagi maka gunakan waktu itu dengan sangat baik." Ucapnya.
Sosok itu menatap kearah Seint. "Ucapkan mantra itu." ucapnya.
Seint menatap dalam pada sosok itu. "Tapi ..." Ucap Seint ragu.
"Jiwa masa depanku tidak akan menghilang, aku telah datang untuk menggantikannya. Ucapkanlah mantra itu sebelum Citto menghancurkan tempat ini." Ucapnya sambil tersenyum lembut.
Seint berjalan mendekati sosok itu dan memeluknya erat. "Maafkan aku karena telah mengorbankan jiwa masa lalu mu."
Sosok itu tersenyum lembut. "Ini takdirku ... Berjanjilah kepadaku untuk membuatku bahagia dimasa mendatang." Ucapnya.
Seint mengangguk pelan dan melepaskan pelukannya. "Aku berjanji." Ucapnya sambil mencium kening sosok itu.
Sosok itu kemudian berjalan kearah Citto dan memeluknya erat. Citto tidak bergerak menyerang lagi saat ia merasakan pelukan hangat milik Lilian memeluknya dengan sangat erat. Seint yang melihat Citto mulai tenang akhirnya membacakan matra sambil memegang bola kristal itu erat.
Seint menatap dalam pada sosok Lilian masa lalu yang semakin menghilang dalam pandangannya. Setelah mantra selesai diucapkan bola kristal tersebut menyala terang dan sesaat kemudian bola-bola cahaya kecil menghiasi tempat itu. Seint menetaskan air matanya saat melihat senyuman terakhir yang Lilian masa lalu berikan.
__ADS_1
Setelah Lilian masa lalu menghilang bersama dengan Citto, matahari-pun perlahan keluar dari peraduannya dan memberikan cahaya baru bagi Seint dan yang lainnya setelah malam yang gelap gulita berhasil mereka lewati.
°°°°