
Keberhasilan yang diraih oleh Zheyan, Asgar dan Lilian dalam kesuksesan kedai mereka membawa dampak yang begitu besar bagi mereka maupun kerajaan Apollonia.
Keberhasilan yang mereka raih berhasil memberikan keuntungan untuk mereka sendiri maupun kerajaan. Keuntungan yang mereka dapatkan dapat membantu popularitas keluarga mereka masing-masing dan dengan keahlian mereka dalam menemukan banyak hal dapat membantu perekonomian kerajaan Apollonia meningkat.
Dengan secepat kilat permintaan mendapatkan coklat, kopi dan mebel lainnya meningkat sangat cepat. Permintaan-permintaan itu datang dari dalam kerajaan maupun dari kerajaan luar tetangga yang penasaran.
Akibat melonjaknya permintaan-permintaan juga berdampak buruk bagi keluarga bangsawan lain terutama keluarga bangsawan dari Marquis Gaustark dan keluarga dari Viscount Wilson Pavel yang sebelumnya selalu memenangkan acara festival tiap tahunnya.
Kedua keluarga sudah mempersiapkan banyak hal untuk festival tahun ini namun usaha mereka seakan sia-sia saat para pengunjung sedari awal sibuk mengantri untuk mendapatkan kue maupun minuman di kedai milik Duke Marven dan Baron Avalon.
"Padahal saya sudah mempersiapkan bahan-bahan terbaik untuk festival tahun ini namun gagal hanya karena satu kedai saja." Ucap Marquis Gaustark sambil memijit keningnya.
Viscount Wilson membuang napas kasar. "Lagi-lagi gadis itu selalu menjadi kendala dalam segala rencana kita, saya heran padahal gadis itu kehilangan ingatannya namun kenapa kecerdasan yang gadis itu miliki tidak hilang bersamaan dengan ingatan lainnya." Ucapnya kesal.
"Anda benar...gadis kecil itu tidak bisa kita anggap remeh, memang sedari kecil kemampuan yang gadis itu miliki diluar nalar...gadis itu terlalu cerdas untuk ukuran umurnya yang bisa dikatakan masih belia...saya pikir karena dia terlahir sebagai seorang wanita maka tidak akan masalah untuk posisi kita namun melihat kemampuannya sekarang gadis itu perlu kita waspadai." Ucap Marquis Gaustark.
"Ya...gadis itu mulai menunjukkan taringnya, dari dulu saya begitu heran mengapa gadis ini dan keluarga bangsawan Duke Marven terlalu tenang mendengar rumor buruk yang kita ciptakan untuk putrinya namun hari ini saya baru memahami kalau mereka diam karena sedang merencanakan sesuatu...sekali diam maka boom seperti sekarang." Ucap Viscount Wilson kesal.
Marquis Gaustark tersenyum sinis. "Kau lihat ekspresi Ayahnya saat membanggakan putrinya itu ? Cihhh...dia bahkan tak berhenti mengangkat kepalanya saat putrinya dengan sangat lancar menjelaskan manfaat pohon itu." Ucapnya sambil membayangkan wajah bahagia Duke Marven.
"Anda benar...bahkan Yang Mulia Raja menatap gadis itu dengan penuh kekaguman...saya begitu penasaran kapan gadis itu mulai mengetahui jenis pohon itu...tidak bisa saya pungkiri rasa dari kue dan minuman yang dihidangkan memang sangat enak...berbeda dengan kue-kue dan minuman lain yang pernah saya coba." Ucap Viscount Wilson.
"Pergerakan gadis itu memang tidak mudah kita baca...apakah anda tau waktu gadis itu baru saja sembuh dari kecelakaan yang mengakibatkan hilang ingatan, apa yang ia lakukan?" Tanya Marquis Gaustark.
Viscount Wilson menggeleng. "Apa yang gadis itu lakukan?" Tanyanya kembali.
"Saat jamuan teh para putri bangsawan diadakan di istana...hari itu bertepatan dengan hari latih tanding para putra penerus keluarga bangsawan bersama dengan Putra Mahkota, beberapa putri bangsawan mengusulkan melihat langsung mereka yang sedang berlatih dan saat mereka sampai gadis itu terlihat mendekati Kakaknya dan Putra dari Baron Avalon...mereka terlihat berbincang sebentar namun beberapa saat kemudian gadis itu memegang sebuah busur dan melesatkan anak panahnya ke papan panah...gadis itu hampir mendapatkan nilai sempurna." Jelas Marquis Gaustark.
Viscount Wilson tampak diam sejenak dan memandang serius ke arah Marquis Gaustark. "Ayahnya adalah seorang panglima perang karena itu gelar Duke tertinggi berhasil ia kantongi, sedangkan Zheyan Putranya adalah calon panglima berikutnya...tak ada yang bisa memungkiri kehebatan putranya dalam berperang...oh iya jangan lupakan Ibunya...terlihat lemah lembut namun ia berasal dari keluarga Samantha ahli dalam strategi perang dan sekarang Putrinya yang kemampuannya mungkin tak bisa orang ketahui dengan mudah." Ucapnya panjang.
"Keluarga itu memang memiliki gen yang baik namun kita harus punya cara untuk bisa menekan keluarga itu." Ucap Marquis Gaustark.
"Kau benar...lalu apa yang harus kita lakukan?" Tanya Viscount Wilson.
Marquis Gaustark terdiam sebentar lalu menyuruh seorang pelayan untuk memanggil Raina untuk menemuinya. Saat Raina terlihat di depan pintu ruangan ia kemudian masuk dan memberi hormat kepada keduanya.
"Hormat Ayah...Tuan Viscount Wilson..." Lalu Raina melirik sebentar ke arah Ayahnya lalu kembali menunduk melihat tatapan tajam Ayahnya arahkan untuknya. "Ada apa sekiranya Ayah memanggil saya untuk menghadap?" Tanya Raina pelan.
__ADS_1
"Kau masih bertanya hal apa yang membuat datang kesini?" Ucap Marquis Gaustark.
Raina menggeleng dengan posisi masih menundukkan wajahnya. "Ampun ayah...saya tidak tau...namun sekiranya Ayah berbaik hatilah untuk memberitahukan saya." Ucap Raina sopan agar tidak memancing kemarahan Ayahnya.
Marquis Gaustark membuang napas kasar. "Apa saja yang kau lakukan selama ini dalam menekan Lilian? Kau tak lihat bagaimana lihainya gadis itu menjelaskan sesuatu yang tak orang lain ketahui? Apa yang kau lakukan ? Kau malah membuat masalah dengannya dan menyebabkan keluarga kita tidak bisa bergerak dalam menjalankan bisinis untuk sementara waktu, tiap tahun keluarga kita selalu unggul dalam festival namun lihatlah kali ini...berapa banyak kerugian yang kita alami?" Ucapnya marah.
"Maafkan saya ayah..." Ucap Raina takut.
"Jangan minta maaf padaku tapi lakukan sesuatu yang membuat dirimu bermanfaat di keluarga kita...ada banyak diluar sana orang yang mau ada diposisi mu...sekarang pergi dan pikirkan cara agar kau bisa bermanfaat...keluar." Ucap Marquis Gaustark.
Sebelum Raina benar-benar keluar dari pintu ruangan, gadis itu mendengar ucapan ayahnya yang membuatnya merasakan sakit hati. "Kenapa harus gadis bodoh seperti itu yang lahir di keluarga ku...tak bisakah ia menjadi seperti Lilian yang jenius dalam berpikir." Ucap sang Ayah.
Raina kemudian keluar dengan mengepalkan kedua tangannya. "Ini semua gara-gara gadis itu." Lalu berjalan meninggalkan ruangan tersebut.
Kedua orang yang masih berada dalam ruangan menatap kearah kepergian Raina.
"Sepertinya tidak cukup jikalau kita hanya mengandalkan putri mu." Ucap Viscount Wilson.
"Ya...Anda benar...kita harus mencari cara lain untuk bisa membuat gadis itu kembali terdiam seperti sebelumnya." Ucap Marquis Gaustark.
Mereka kemudian melanjutkan perbincangan mereka kembali.
°°°
Lilian begitu menyukai tempat itu, bukan hanya pemandangannya yang indah namun tempatnya sangat sejuk dan udaranya sangat membuat Lilian betah berada berlama-lama di sana.
Lilian jatuh cinta pada pandangan pertama saat pertama kali mengunjungi tempat itu bersama Rosa saat awal-awal ia mulai menerima dirinya terjebak di dunia yang sekarang ia tempati.
Saat Lilian sedang asik menikmati rebahannya, ia merasakan rumput disebelahnya bergerak kemudian Lilian membuka kedua matanya dan menengok kearah samping.
"Kau...sedang apa kau disini?" Tanya Lilian kepada Seint yang sudah berbaring disebelahnya.
Bukannya menjawab Seint malah berbalik bertanya kepada Lilian. "Sepertinya kau sangat menyukai tempat ini?"
Masih diposisi berbaringnya Lilian menjawab pertanyaan Seint. "Tentu saja...tempat ini sangat sejuk dan nyaman, sudah hampir sebulan aku berkerja keras sekarang saatnya aku memanjakan otak ku dan heiiiiiiii kau belum menjawab pertanyaan ku." Ucap Lilian kesal.
"Sama seperti mu." Ucap Seint datar kemudian menutup kedua matanya.
__ADS_1
Lilian mengangguk sebentar masih dengan posisi rebahannya ia menengok ke kiri dan ke kanan. "Kemana Artem?" Tanya Lilian.
Seint membuka matanya dan menatap tajam ke arah Lilian. "Bisakah saat bersamaku kau tak bertanya lelaki lain?"
"Memangnya kenapa? Aku bertanya karena penasaran saja...biasanya kalian selalu bersama seperti pasangan kekasih." Ucap Lilian asal.
Seint membuka matanya lebar-lebar mendengar ucapan Lilian. "Apa itu yang kau pikirkan selama ini?" Tanya Seint memastikan.
"Tentu saja...kemana-mana kalian selalu berdua, saat kau merajuk dengan sigap Artem selalu bisa dan cepat membujuk mu." Ucap Lilian.
Seint menyentil kening Lilian pelan, merasa kesal dengan apa yang Lilian pikirkan selama ini. "Bodoh." Ucapnya singkat.
"Awwww...ini sakit tau...memang kenyataannya seperti itu seharusnya kau tak perlu kesal." Ucap Lilian meninggi.
Seint membuang napas pelan. "Artem itu selain sahabat ku dia adalah pengawal pribadiku, jadi wajar saja dia mengikuti ku kemana saja." Jelas Seint.
"Memangnya kau ini anak kecil perlu dikawal? kau kan sudah besar dan katanya kau sangat ahli dalam pedang seharusnya kau bisa melindungi dirimu sendiri kenapa perlu dikawal lagi?" Ucap Lilian.
"Itu karena aku adalah Pangeran Mahkota, sebagai ahli waris aku harus wajib memiliki satu pengawal pribadi....Oh iya..." Ucap Seint terjeda dan tersenyum ke arah Lilian. "Kau bilang tadi aku ahli pedang, dari mana kau tau?" Ucap Seint sambil mengubah posisi tidurnya menjadi menyamping ke arah Lilian.
"Senyum ini lagi...dia ini kenapa sih." Batin Lilian. "Ka...ka...kau sendiri yang bilang kalau kau adalah Pangeran Mahkota jadi rumor tentang mu akan banyak di bicarakan oleh orang-orang." Ucap Lilian gugup.
"Oh ya...berarti kau juga ikut mendengarkan rumor itu?" Ucap Seint sambil memainkan ujung rambut Lilian dan tersenyum cerah ke arahnya.
"SENYUMNYA...ASTAGAAAA...jantung aku mohon berdamailah." Batin Lilian, kemudian ia meneguk ludahnya gugup. "Mereka membicarakan tentang mu tepat di depan ku jadi aku secara tidak sengaja mendengarnya." Ucap Lilian gugup.
"Lalu setelah kau mendengarnya kenapa kau tak bertanya padaku dan memastikannya agar kau yakin rumor itu benar atau salah?" Tanya Seint
"I...it..itu... Karena..." Lilian menelan ludahnya gugup, "bi...bisakah kau mudur sedikit? Jarak kita berdua terlalu dekat." Ucap Lilian gugup.
"Kenapa? Ku rasa jarak kita berdua tidak akan bisa membuat mu segugup inikan?" Tanya Seint senang.
"Si..siapa bilang aku gugup...aku..." Sebelum Lilian menyelesaikan ucapannya seseorang tiba-tiba datang.
"Apa yang kalian berdua lakukan?" Ucap seseorang tersebut.
Seint dan Lilian sama-sama melirik ke arah orang tersebut, Seint menatap malas ke arah orang tersebut. "Mengganggu suasana saja." Batin Seint.
__ADS_1
°°°
Halooooooooo semua semoga kalian suka part yang ini ☺️☺️☺️☺️