Bukan Dunia Novel

Bukan Dunia Novel
72. Kabur


__ADS_3

Rosa berlari keluar dari ruang perpustakaan pribadi milik Lilian dan menutup pintu kamar, setelahnya ia kembali dan berdiri didepan Lilian dengan napas ngos-ngosan.


Lilian menatap bingung ke arah Rosa. "Kau kenapa?" Tanyanya.


"Se... seben..tar Nona." Ucap Rosa terputus sambil ngos-ngosan.


Lilian menghela napas pelan dan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. "Ambil kursi dan duduklah." Ucap Lilian sambil menunjuk kursi yang berada disampingnya.


Rosa mengangguk kemudian berjalan mengambil kursi yang ditunjuk oleh Lilian dan membawanya ke depan Lilian. Setelah duduk di kursinya, Rosa kemudian menatap Lilian Serius. "Dulu Nona secara tidak sengaja merusak bahan-bahan peledak yang dikirim oleh orang luar kerajaan kesini." Ucap Rosa serius.


"Apa? Ceritakan lebih jelasnya!" Ucap Lilian tegas.


"Dulu waktu Nona ingin pergi berlatih memanah denganku di hutan pinggir kota, kita tidak sengaja berpapasan dengan gerobak yang membawa bahan peledak, karena gerobak itu berjalan tidak seimbang karena bebannya terlalu banyak maka beberapa orang yang menarik gerobak tersebut berhenti dan memeriksa gerobaknya." Jelas Rosa.


"Lalu?" Tanya Lilian penasaran.


"Karena merasa kasihan dengan pembawa gerobak itu Nona berniat membantunya namun setelah mendekati gerobaknya, Nona mencium bau yang aneh dari arah gerobak tersebut. Nona merasa curiga dan sangat ingin memeriksa isi gerobak, namun para pembawa gerobak tersebut merasa panik dan menarik gerobaknya secara paksa." Jelas Rosa.


"Lanjutkan! Kenapa harus berhenti sih!!" Kesal Lilian.


Rosa mengangguk cepat. "Karena sedari awal beban gerobak itu terlalu banyak, saat ditarik paksa gerobak itu melaju dengan cepat dan para penarik gerobak tidak bisa menyeimbangkan lajunya sehingga gerobak itu melaju dengan bebas menuju sungai kecil dan masuk terperosok." Jelas Rosa menjeda sebentar.


"Karena kasihan semua orang berniat membantu namun mereka sangat terkejut saat mereka melihat isi dari gerobak tersebut. Para penarik gerobak menjadi panik dan kabur. Semua orang yang melihat mereka kabur langsung mengejarnya. Setelah kejadian itu dilaporkan ke pihak istana, Pangeran Igor langsung turun tangan untuk menindak lanjuti kasusnya." Jelas Rosa.


"Lalu bagaimana kelanjutannya?" Tanya Lilia. penasaran.


"Entahlah. Setelah hari itu, kita sudah tidak lagi mendengar kelanjutannya, mungkin pihak istana harus merahasiakannya agar tidak akan lagi menimbulkan masalah." Ucap Rosa.


Lilian mengangguk pelan. "Aneh." Ucap Lilian.


"Setelah hari itu Nona selalu mendapat banyak masalah, meski memang sebelumnya Nona yang selalu mencari masalah namun masalah yang Nona buat dan yang Nona alami itu berbeda." Jelas Rosa sambil mengingat kembali masa lalu.


"Apa bedanya?" Tanya Lilian.


"Bedanya Nona membuat masalah untuk menutupi jati diri Nona yang sebenarnya namun setelah hari itu Nona selalu mendapat masalah yang berbahaya." Ucap Rosa dengan wajah serius.


Lilian mengangguk pelan. "Sepertinya memang ada yang berusaha mencelakai ku. Mulai sekarang kita harus lebih berhati-hati lagi, tetaplah terus menguping pembicaraan Ayah dan Kakak. Aku yakin mereka pasti mengetahui sesuatu namun mereka tidak ingin memberitahu ku." Ucap Lilian.


"Baik Nona." Ucap Rosa.

__ADS_1


"Lebih baik kita keluar sekarang dan mulai mencari tahu sesuatu." Ucap Lilian yang langsung di angguki oleh Rosa.


°°°


Setelah meminta ijin kepada Ayahnya, Lilian berjalan menuju pasar dikawal oleh beberapa pengawal khusus dari istana.


"Kita sebentar lagi akan sampai di pasar, saya mau kalian berjalan sedikit lebih jauh dari saya." Ucap Lilian


"Maafkan hamba Yang Mulia, sesuai perintah dari istana, kami tidak bisa berada jauh dari Yang Mulia Putri." Ucap salah satu Pengawal.


"Kalian akan tetap bisa mengawal ku namun agak sedikit jauh. Saya ke pasar ingin membeli sesuatu kalau kalian selalu berada dekat dengan saya, maka saya akan merasa tertekan." Ucap Lilian kesal.


"Tapi Yang Mulia..." Ucap pengawal tersebut.


"Sudahlah tidak perlu tapi-tapian anggap saja ini adalah perintah dariku!!" Tegas Lilian.


Pengawal tersebut hanya bisa menghela napas pelan dan mengajak teman-temannya agak sedikit menjauh dari Lilian dan Rosa. Lilian kemudian mengeluarkan sebuah kain tipis dari kantong yang dibawanya dan menutup setengah wajahnya menggunakan kain itu.


"Menurut mu aku akan dikenali oleh orang lain jika begini?" Tanya Lilian pada Rosa.


"Saya rasa tidak Nona." Ucap Rosa.


"Baguslah. Akan sangat merepotkan jika ada orang lain yang akan mengenalku, dipanggil Nona muda saja aku masih merasa risih apalagi aku harus dipanggil Tuan Putri. Yang benar saja!" Ucap Lilian sambil tersenyum sinis.


Lilian menatap kesal ke arah Rosa. "Baru saja dibilangin kau malah melakukannya." Kesalnya.


"Ini memang tidak benar Nona. Jika saya ketahuan maka saya yang akan dihukum." Ucapnya khawatir.


"Terserah kau saja!! Mau memanggil ku dengan Nona atau apalah itu." Ucap Lilian kesal.


"Baiklah Tuan Putri." Ucap Rosa.


Lilian mendengus kesal dan berjalan meninggalkan Rosa sambil menghentakkan kakinya.


Setelah sampai di pasar, Lilian menengok ke arah kiri dan kanan. "Rosa, dimana kita akan mendapatkan informasi tentang bahan peledak itu?" Tanya Lilian.


"Saya dengar diujung pasar sana kita bisa menemukan seseorang yang menjual informasi." Bisik Rosa.


"Cari cara agar kita bisa pergi tanpa sepengetahuan para pengawal itu." Bisik Lilian sambil melirik ke arah para pengawal.

__ADS_1


"Sebaiknya kita pura-pura beli beberapa barang saja Tuan Putri. pasar ini besar dan sangat ramai, saat mereka sedikit lengah kita langsung kabur saja." Usul Rosa yang langsung disetujui oleh Lilian.


Lilian sesekali memilih barang yang ia temui sepanjang jalan sambil mencuri pandang kearah Pengawalnya. Lilian berhenti disalah satu Penjual jajanan pasar yang memiliki banyak pengunjung. Lilian dan Rosa berpura-pura mengantri untuk membeli jajanan tersebut, setelah memastikan para Pengawalnya lengah keduanya langsung kabur tanpa sepengetahuan para Pengawalnya.


Lilian memegang dadanya yang sesak karena berlari kabur dari Pengawalnya. "Tidak mudah berlari menggunakan baju seperti ini." Ucap Lilian sambil mengangkat kedua tangannya.


"Benar Tuan Putri, sangat merepotkan." Ucap Rosa ngos-ngosan.


"Dimana tempatnya Rosa?" Tanya Lilian.


"Kita harus berjalan lurus kearah sana Nona." Ucap Rosa sambil menunjuk sebuah gang sempit.


Lilian dan Rosa berjalan menelusuri gang sempit itu, semakin lama mereka berjalan suasana disekitarnya semakin sepi. "Benar ini jalannya Rosa?" Tanya Lilian sambil menengok kanan dan kiri.


"Benar Nona, kita hanya perlu jalan lurus sedikit lagi." Ucap Rosa yakin.


Setelah berjalan cukup jauh, Lilian dan Rosa menemukan sebuah gubuk kecil. Setelah Rosa memastikan ada orang didalamnya, Rosa memanggil Lilian dan membawanya masuk.


Lilian menatap ragu melihat barang-barang yang berada dalam gubuk tersebut.


"Kalian membutuhkan sesuatu?" Terdengar suara seorang wanita.


Jantung Lilian seakan mau copot saking kagetnya mendengar suara wanita tersebut. Lilian menatap lekat kearah seorang Wanita paruh bayah didepannya.


"Silahkan duduk!" Ucap wanita tersebut kemudian duduk disalah satu kursi.


Lilian dan Rosa langsung mengambil tempat duduk berdekatan lalu menatap Wanita itu serius.


"Kami ingin bertanya sesuatu." Ucap Lilian sambil menatap serius Wanita itu.


"Apakah kalian sudah tahu persyaratannya?" Tanya Wanita itu.


"Apa syaratnya?" Tanya Lilian sambil mengerutkan keningnya.


Wanita itu tersenyum sinis. "Semakin penting informasi yang akan saya berikan maka semakin besar pula bayaran yang harus saya terima." Ucapnya.


"Anda tidak perlu khawatir soal itu, jika saya puas dengan informasi yang Anda berikan maka harga tidak masalah buat saya." Ucap Lilian serius sambil menatap tajam ke arah wanita itu.


°°°

__ADS_1


Maaf baru UP ya... Ngajar dua sekolah bikin kepala puyeng sendiri... apalagi kalau lagi UAS gini, ampunnnn sibuk banget ngurus soal...


Selamat membaca...


__ADS_2