
Semua orang menatap Lilian dengan raut wajah serius, ada banyak hal yang mereka pikirkan. Sebenarnya Zheyan selama ini selalu bingung dengan setiap langkah yang Lilian ambil. Sejak lama Lilian selalu menyembunyikan bakatnya namun sejak kecelakaan itu, Lilian secara terang-terangan memperlihatkan bakatnya. Hal itu masih bisa dimaklumi oleh Zheyan dikarenakan Lilian kehilangan ingatannya dan bisa saja Lilian secara tidak sadar menunjukkan bakatnya.
Zheyan mulai curiga saat Lilian bisa memahami sesuatu yang terasa asing untuk semua orang, namun Zheyan masih tetap meyakini jika Lilian masih tetap adiknya dikarenakan semua sikap yang Lilian tujukan masih sama dengan Lilian yang selama ia kenal.
Tidak beda jauh dari pemikiran Zheyan, Seint juga merasakan hal yang sama. Seint merasakan Lilian masih sama dengan Lilian yang dulu namun ada saatnya Seint melihat tatapan asing dari mata Lilian. Ada beberapa hal yang dulu Lilian lakukan saat bersama Seint namun tidak dilakukan oleh Lilian yang sekarang.
Seint juga selalu menangkap ucapan-ucapan Lilian yang tidak bisa ia mengerti. Seint masih ingat saat Lilian jatuh tidak sadarkan diri melihat lukisan wajah yang mirip dengannya namun dengan warna rambut dan mata yang berbeda. Sejak saat itu Seint mulai menaruh curiga kepada Lilian dan mencoba berpura-pura tidak mengetahui apapun agar tidak menyinggung gadis itu.
"Sejak lama Lilian selalu menatap ku dengan raut wajah manja jikalau ia menginginkan sesuatu. Ia selalu pelit memberikan senyumannya dan sekalinya ia memberikan senyuman itu adalah senyum sinis." Ucap Asgar.
"Kakak tidak percaya kepada ku?" Ucap Lilian sesak.
"Aku selalu berusaha percaya padamu dengan tidak mengatakan apapun kepada mu. Lilian ku adalah gadis yang cuek dan sombong, ia selalu mengangkat wajah angkuhnya jika sedang tidak senang terhadap orang lain namun Lilian ku yang sekarang adalah gadis yang mengutamakan kesabaran di atas segalanya. Kamu tidak pernah berubah namun hati kecil ku selalu mengatakan kau berbeda." Ucap Asgar dengan raut wajah sendu.
Lilian menatap ke empatnya dengan sendu, tiba-tiba cairan bening mulai jatuh dari pipinya. Semakin lama cairan itu semakin membasahi wajah cantiknya.
Semua orang menatap terkejut ke arah Lilian. "Maafkan Kakak Lilian, bukan maksud ku tidak mempercayai mu." Ucap Asgar merasa bersalah.
"Maafkan Kakak Lilian, Kau akan tetap menjadi adik ku. Dulu, sekarang ataupun sampai kapanpun. Maafkan Kakak karena telah meragukan mu." Ucap Zheyan sambil memeluk erat tubuh Lilian.
Lilian semakin merasa bersalah karena selama ini terus membohongi semua orang yang telah menyayanginya dengan sangat tulus.
"Maafkan aku juga Lilia, aku sempat meragukan mu juga." Ucap Seint merasa bersalah.
Lilian melepas pelukannya pada Zheyan dan menatapnya dengan intens kemudian ia menatap Seint, Asgar dan Artem bergantian. "Aku adalah Lilian." Ucapnya sambil sesegukan.
"Iya kamu adalah Lilian." Ucap Asgar.
Lilian mengambil napas pelan dan membuangnya perlahan. "Aku adalah Lilian." Ucapnya sambil mengepal erat kedua tangannya.
"Iya kami tahu kau adalah Lilian, maafkan kami karena sebelumnya telah mencurigai mu." Ucap Seint lembut sambil tersenyum lembut dan mengusap pelan rambut Lilian.
__ADS_1
Lilian meneguk ludah susah. "Aku adalah Lilian dari masa depan." Ucapnya mantap sambil menatap serius ke arah Seint.
Semua orang menatap Lilian dengan raut wajah terkejut mendengar ucapan dari Lillian. "Sepertinya kau sedang lelah." Ucap Zheyan.
"Aku adalah Lilian dari masa depan!!!" Ucap Lilian lagi.
Seint menghela napas pelan. "Kau berbicara apa? sepertinya kamu memang sedang lelah dan butuh istirahat." Ucapnya.
"AKU ADALAH LILIAN DARI MASA DEPAN!!!" Ucapnya Lilian kesal.
Semua orang menatap Lilian dengan raut wajah bingung. "Apa yang kamu katakan Lilian?" Tanya Asgar.
"Sudah aku bilang jikalau aku adalah Lilian dari masa depan, jiwaku terpanggil dan memasuki tubuh masa lalu ku. Benar aku kembali terlahir setelah jatuh dari ketinggian, namun di masa depan aku tertabrak truk saat membeli permen kapas dipinggir jalan." Ucap Lilian sambil mengambil napas.
"Mo ... mobil?" Tanya Artem bingung.
"Ya. Aku sekarang ada dimasa lalu, raga ya g sekarang aku tempati sekarang ini adalah tubuh ku pada masa lalu namun jiwa ku adalah Lilian masa depan." Ucap Lilian.
"Aku sedang menjelaskan sesuatu yang kalian ingin ketahui." Ucap Lilian kesal.
Zheyan mengerutkan kening bingung. "Masa depan?" Tanyanya.
Lilian mengangguk pelan. "Mengapa selama ini aku mengetahui banyak hal itu karena aku dari masa depan. Entah ribuan atau ratusan tahun ke depan aku terlahir kembali dengan nama yang sama, jiwaku tertarik kembali ke masa lalu untuk menyelesaikan sebuah misi besar." Jelas Lilian.
"Misi besar apa?" Tanya Seint tidak percaya.
"Aku tidak tahu namun sekarang misi itu yang sekarang tengah kita cari tahu." Ucap Lilian tegas.
"Bagaimana kami bisa percaya kepada mu?" Tanya Asgar.
Lilian menatap Asgar serius. "Itu terserah kalian, yang jelas aku adalah Lilian masa depan. Nama ku dimasa depan adalah Lilian Caroline, jiwaku pada masa lalu menarik ku agar bisa kesini." Jelasnya.
__ADS_1
"Jiwa masa lalu?" Tanya Zheyan bingung.
"Iya. Aku pada masa lalu menarik jiwa masa depan ku kesini untuk menyelesaikan misi besar." Ucap Lilian.
"Aku semakin bingung." Ucap Zheyan sambil mengusap kasar wajahnya.
Lilian meneguk ludah susah. "Aku tahu kalian sulit percaya, namun inilah yang terjadi." Ucap Lilian.
"Mengapa kamu tidak mengatakan hal ini sejak awal?" Tanya Seint.
"Apa yang harus aku katakan? Aku harus mengatakan jika aku adalah dari masa depan? aku bahkan tahu aku adalah Lilian dari masa depan setelah lama menempati tubuh masa lalu ku. Saat aku terjatuh dari kuda dan tidak sadarkan diri, disitulah aku mengetahui jikalau aku adalah Lilian dari masa depan setelah bertemu dengan jiwa masa lalu ku di alam bawah sadar ku." Jelas Lilian.
"Ini sesuatu di luar akal sehat." Ucap Artem sambil menggelengkan kepalanya.
Seint memijit pelipisnya pelan. "Apa upacara pemanggil roh itu yang membuat mu tertarik kesini?" Ucap Seint mencerna situasi.
"Bisa saja, saat pertama kali aku membuka mata, aku merasa asing dengan tempat ini. Terakhir kali yang aku ingat adalah aku tertabrak truk dan entah bagaimana bisa aku melintasi waktu dan memasuki raga di masa lalu ku." Jelas Lilian kemudian menatap Seint. "Apakah kamu ingat lukisan wajah terakhir kali saat kita membuat lukisan?" Tanya Lilian.
Seint mengangguk pelan. "Iya aku ingat."
"Itu adalah wajahku di masa depan. Yang membedakan hanya warna rambut, mata, tubuh ku sedikit gemuk dan pipi ku sedikit berisi. Di masa depan tidak ada sistem seperti sekarang, semuanya serba canggih. Ada banyak gedung pencakar langit dan dimasa depan ada alat yang bisa menghubungkan kita dengan orang yang jaraknya jauh dari kita. Seperti surat yang membutuhkan waktu agar sampai namun hanya menggunakan alat itu kita bisa melihat seseorang dari jauh hanya dengan menekan tombol kemudian wajah orang yang ingin kita hubungi akan muncul di sana." Jelas Lilian panjang.
Semua orang bingung mendengar penjelasan Lilian. "Benarkah ada hal yang seperti itu?" Ucap Asgar ragu.
Lilian mengangguk cepat. "Di masa depan semua serba ada, jika disini kita akan menggunakan kuda atau kereta kuda sebagai alat transpotasi sedangkan di masa depan ada yang namanya mobil, kita hanya butuh waktu sekitar sepuluh menit untuk sampai di istana." Jelas Lilian.
"Secepat itu?" Tanya Artem.
Lilian mengangguk cepat. "Benar. Di masa depan ada yang namanya pesawat, dia bisa terbang menjelajahi langit. di dalamnya di isi banyak orang, kita bisa menggunakannya untuk berpergian jauh, misalnya jika kita ingin pergi ke kerajaan sebelah jika menggunakan pesawat kita hanya perlu memakan waktu beberapa jam saja." Jelas Lilian.
"Lalu dimana jiwa masa lalu mu?" Ucap Seint akhirnya.
__ADS_1
°°°