Bukan Dunia Novel

Bukan Dunia Novel
34. Permintaan Pertama


__ADS_3

"Sedang apa kalian di sini?" Tanya orang itu kembali.


Seint dan Lilian terbangun dari posisi rebahannya dan menatap ke arah orang tersebut.


"Kenapa kalian tak menjawab ku?" Ucapnya mulai kesal. "Aku tanya apa yang kalian lakukan berduaan di sini?" Tanyanya sudah sangat kesal lantaran Lilian dan Seint tak ada dari mereka berdua yang mau menjawab pertanyaan orang tersebut.


Lilian mendengus kesal ke arah tersebut. "Ada apa dengannya?" Batin Lilian kemudian menatap ke arah Seint. "Memang kita sedang apa?" Tanya Lilian pada Seint.


Seint mengedikan bahunya. "Entah." Ucap Seint.


"Apa ada yang bisa menjawab ku sedang apa kami di sini?" Teriak Lilian ke sembarang arah.


Seint tersenyum tipis melihat tingkah aneh Lilian. "Coba tanyakan pada pohon apel!" Ucap Seint asal.


"Pohon apa kau tau sedang apa kami di sini?" Tanya Lilian yang menuruti ucapan Seint.


Seint menahan senyum agar Lilian tak menyadarinya. "Coba tanyakan pada danau." Ucap Seint kembali.


"Danau apa kau tau kami sedari tadi sedang apa?" Ucap Lilian polos.


Seint mulai tak tahan melihat tingkah lucu Lilian. "Coba tanyakan pada rumput." Ucap Seint sambil tersenyum lebar.


"Rumput apa kau tau apa yang kami lakukan di sini?" Bisik Lilian namun masih bisa di dengar oleh orang lain.


"Kalau masih tak ada jawaban...coba tanyakan pada langit..." Ucap Seint berusaha menahan tawanya.


"Haissssss kenapa bukan kau saja yang bertanya." Ucap Lilian kesal.


Seint sudah tidak bisa lagi menahan tawanya melihat tingkah aneh Lilian, entah gadis itu sengaja atau tidak melakukannya namun bagi Seint kelakuan gadis itu sangat lucu dan membuatnya tak berhenti tertawa.


"Apakah selucu itu?" Tanya Lilian tersenyum polos.


"Tentu saja." Ucap Seint sambil tertawa memegang perutnya yang mulai sakit.


"Coba kau tanyakan pada langit!" Ucap Lilian.


"Tidak mau...kau saja yang terlalu bodoh mau mengikuti ucapan ku." Ucap Seint masih dengan tawanya.


"Haisss kau curang...ini tidak bisa dibiarkan." Ucap Lilian sambil memukul Seint yang masih tertawa.


Merasa di abaikan oleh Seint dan Lilian, orang tersebut kembali berteriak.


"Apakah aku seperti bahan lelucon bagi kalian berdua?" Tanya Raina.


Ya...orang yang sedari tadi menyaksikan interaksi Seint dan Lilian adalah Raina. Selepas meninggalkan kediamannya karena dimarahi oleh Ayahnya, Raina bermaksud mencari udara segar dan menyegarkan pikirannya, ditengah kekalutannya ia memutuskan agar menyendiri di dekat danau buatan yanga ada di ujung kota.


Saat ia sampai di dekat danau, ia melihat ada dua orang yang sedang berbaring di atas rumput dengan posisi yang sangat dekat. Awalnya ia mau mengabaikan kedua orang itu namun saat ia ingin berbalik pergi, ia baru menyadari jikalau kedua orang yang berbaring tersebut tak lain adalah Seint dan Lilian gadis yang membuatnya di marahi hari ini.


Dengan kesal Raina mendekati tempat Seint dan Lilian berbaring, saat sampai bukannya mereka menjawab pertanyaan yang di berikan oleh Raina, mereka malah memamerkan kemesraan dihadapan Raina dan membuat gadis itu tambah kesal.


"Nona Lilian apakah kau tak punya rasa malu bermesraan dengan seseorang yang bukan pasangan mu di hadapan orang lain? Dimanakah etika Putri Bangsawan yang terakhir kali kau ucapkan kepada ku?" Tanya Raina kesal.

__ADS_1


"Heiiiiii Nona Raina jaga ucapan mu, apa kami terlihat bermesraan di mata mu?" Ucap Lilian yang mulai kesal mendengar ucapan Raina.


Raina tersenyum sinis ke arah Lilian. "Kau bahkan terlihat seperti wanita penggoda." Ucap Raina merendahkan Lilian.


"Jaga batasan mu Nona Raina." Ucap Seint datar dan menatap tajam ke arahnya.


"Apa yang harus saya jaga Yang Mulia? bukankah gadis yang berada di samping mu itu yang seharusnya menjaga batasannya." Ucap Raina mulai kesal saat Seint mulai membela Lilian.


"Keluarga mu bahkan tidak bisa keluar dari kerajaan untuk sementara waktu gara-gara ulah mu terakhir kali." Ucap Seint dingin.


"Ya...itu semua karena dia...dan sekarang saya sedang berusaha mengingatkan mu Yang Mulia agar tidak tergoda olehnya." Ucap Raina marah.


Seint tersenyum sinis ke arah Raina. "Saya bisa melakukan hal yang paling buruk untuk keluarga mu jika kau terus mengganggu Lilian."


"Kenapa...kenapa...Yang Mulia sangat membela wanita penggoda itu?" Tanya Raina marah.


"Sekali lagi kau merendahkan kekasih ku akan ku buat kau dan keluarga mu menerima akibatnya." Ucap Seint dingin dan datar.


Lilian dan Raina membuka mata mereka dengan lebar mendengar ucapan dari Seint.


"Se...se...sejak kapan Yang Mulia dengan dia..." Ucap Raina terputus.


Seint tersenyum sinis ke arah Raina. "Kau tak terlalu begitu penting untuk ku beritahukan." Ucap Seint datar lalu menarik tangan Lilian pergi meninggalkan Raina sendiri.


Raina mengepalkan tangannya erat melihat ke arah Seint dan Lilian pergi. "Aku berjanji akan membuat kalian berpisah dan menyesal karena telah melakukan hal ini kepada ku." Ucap Raina marah.


°°°


Seint dan Lilian berjalan bersama dengan tangan Lilian masih di genggam erat oleh Seint.


"Lalu kenapa?" Tanya Seint datar.


"Karena orang lain akan melihatnya dan mereka akan salah paham." Ucap Lilian gugup.


"Terus kenapa kalau mereka melihatnya? Kesalah pahaman macam apa yang akan mereka buat untuk kita?" Tanya Seint masih datar.


"Mereka akan menganggap kalau kita mempunyai hubungan spesial kalau kita berjalan seperti ini?" Ucap Lilian.


"Memangnya kenapa? Kita memang mempunyai hubungan spesial." Ucap Seint santai.


Lilian berhenti berjalan dan membuat Seint ikut berhenti karena tangannya menggenggam erat tangan Lilian.


"Ap...ap..apa...maksud mu?" Ucap Lilian gugup, "Kita memang mempunyai hubungan namun itu hanyalah hubungan rekan kerja saja." Lanjutnya.


Seint menatap tajam ke arah Lilian. "Bukankah aku sudah mengatakannya tadi...kalau kau adalah kekasih ku." Ucap Seint menekan kata kekasih dalam ucapannya.


"Heiiii...Se...sejak kapan aku menjadi kekasih mu?" Ucap Lilian gugup.


"Sejak aku mengatakannya." Ucap Seint santai.


"Mana bisa seperti itu, aku belum menyetujui ingin menjadi kekasih mu." Ucap Lilian kesal.

__ADS_1


"Aku tak perlu persetujuan mu." Ucap Seint.


"Heiiiii kau juga harus mendengar pendapat ku." Ucap Lilian.


"Tidak perlu...permintaan pertama ku adalah kau harus menjadi kekasih ku tanpa ada penolakan dan kau masih memiliki hutang sekali kepada ku." Ucap Seint.


Lilian membuka mata lebar-lebar mendengar ucapan Seint. "Kau...kau..kau memanfaatkan kesempatan yang telah ku berikan?" Tanya Lilian.


Seint mengedikan bahu cuek kemudian kembali berjalan menarik tangan Lilian. "Karena kau sekarang adalah kekasih ku mulai sekarang kau tidak boleh terlalu dekat dengan lelaki lain selain aku...kau mengerti?." Ucap Seint menatap ke arah Lilian.


Lilian menatap ke arah Seint dengan tatapan tajam. "Kalau aku tidak mau?" Ucap Lilian menantang.


Seint berhenti berjalan kemudian menatap tajam ke arah Lilian. "Maka kau akan mendapat hukuman dariku." Ucap Seint.


"Apa yang akan kau lakukan kepada ku? Aku ini adalah Putri kesayangan dari Duke Marven kalau kau mencoba menyakiti ku maka akan ada Ayah dan kedua Kakak ku yang akan melindungi ku." Ucap Lilian menantang.


"Kedua Kakak?" Ucap Seint sambil mengangkat sebelah alisnya.


"Kak Zheyan dan Kak Asgar akan menjadi tameng ku." Ucap Lilian sombong.


Seint melepas tangan Lilian dari genggamannya lalu mengetuk dagunya menggunakan telunjuknya tampak berpikir. "Kalau begitu aku akan memberi hukuman termanis untuk mu." Ucap Seint tersenyum senang.


"Hukuman termanis?" Tanya Lilian bingung.


"Ya..." Seint kemudian mendekatkan wajahnya ke telinga Lilian. "Kalau kau mencoba berbuat nakal dibelakang ku maka akan aku beri hukuman termanis untuk mu...mencium mu misalnya." Ucap Seint.


Lilian kemudian mendorong tubuh Seint menjauh darinya. "Dasar pria mesum...jangan dekat-dekat dengan ku." Ucap Lilian kemudian berjalan meninggalkan Seint sambil menghentakkan kakinya.


Seint tersenyum senang melihat tingkah Lilian kemudian berjalan cepat mengikuti langkah kaki kecil Lilian.


"Makanya kau tak boleh nakal kalau tidak mau mendapat hukuman dariku." Ucap Seint sambil memegang tangan Lilian kembali dengan erat.


"Heiiii jangan pegang tangan ku." Ucap Lilian sambil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman tangan Seint.


"Kau sangat berisik...dasar pendek..." Ucap Seint meledek Lilian.


"Heiii...apa aku tak salah dengar? Tinggi ku ini sangat pas untuk ukuran seorang gadis sepertiku...banyak gadis di luar sana menginginkan tinggi proposional seperti ku ini." Ucap Lilian kesal.


"Siapa yang mau memiliki kaki pendek seperti mu itu?" Ucap Seint tersenyum senang melihat raut kesal di wajah Lilian.


"Walaupun aku memiliki kaki pendek namun kau tetap memaksa mu menjadi kekasih mu." Ucap Lilian kesal.


"Itu masalahnya." Ucap Seint.


Sepanjang jalan pun mereka saling mengejek satu sama lain dengan tangan Lilian masih digenggam erat oleh Seint.


Semua orang menatap iri kepada mereka berdua saat mereka berjalan bersama. Mereka tak menyangka Seint yang memiliki ekspresi datar dan dingin dapat tersenyum manis hanya karena senang mengejek seorang gadis yang ia panggil pendek disampingnya.


Ada sebagian orang senang melihat kebersamaan mereka dan tidak sedikit pula yang memandang dengan tatapan tidak suka ke arah Seint dan Lilian.


"Akan aku pastikan kau akan menjadi milik ku, suka ataupun tidak akan aku rebut kau dari tangannya...tunggu dan lihat saja." Ucap seorang lelaki dan berjalan membelah kerumunan warga yang tengah sibuk menatap ke arah Seint dan Lilian.

__ADS_1


°°°


Up kedua untuk hari ini, selamat membaca... jangan lupa komen kalau suka ☺️


__ADS_2