Bukan Dunia Novel

Bukan Dunia Novel
63. Kucing ?


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul tengah malam namun Lilian belum juga sadarkan diri. Seharian gadis itu hanya berbaring dan tidak bergerak sedikitpun.


Semua orang merasa khawatir dengan keadaan Lilian tetapi mereka juga tidak ingin mengganggu istirahat gadis itu. Hingga akhirnya mereka memutuskan menunggu Lilian membuka matanya sendiri.


"Sebaiknya kalian kembali ke tenda masing-masing. Jika seandainya Lilian nanti sadar, kami akan segera mengabari kalian berdua." Ucap Zheyan sambil menatap ke arah Fania dan Violet.


"Bisakah kami bermalam disini?" Tanya Violet dengan tatapan sendu.


"Iya. Kami sangat ingin mengetahui kondisi Lilian, tolong biarkan kami untuk tetap di sini." Mohon Fania.


Zheyan menghembuskan napas pelan. "Kalian sudah berada disini sejak pagi. Aku tahu kalian khawatir dengan kondisi Lilian, namun kalian juga harus memikirkan kondisi kalian sendiri." Ucap Zheyan.


"Zheyan benar. Sebaiknya kalian kembali ke tenda masing-masing, bukan hanya Lilian yang butuh istirahat namun kalian juga membutuhkan istirahat." Ucap Asgar.


Fania menghembuskan napas pelan. "Baiklah. Tetapi jika nanti Lilian sadar, tolong Kakak kabari kami secepatnya." Ucap Fania sendu.


"Tentu saja." Ucap Zheyan.


"Sebaiknya biar Kakak sendiri saja yang akan mengantarkan kalian." Ucap Asgar sambil berdiri dari duduknya.


Fania dan Violet ikut berdiri. "Kalau begitu kami pergi dulu, jika seandainya ada perkembangan dari Lilian, tolong beritahu kami." Ucap Violet.


Zheyan mengangguk singkat. "Ya."


Asgar-pun berjalan keluar tenda yang diikuti oleh Fania dan Violet. Setelah kepergian ketiganya, Zheyan kemudian menatap ke arah Seint yang sedari tadi masih menatap Lilian dengan diam.


"Sebaiknya Yang Mulia dan Tuan Artem juga beristirahat." Ucap Zheyan sopan.


"Saya akan tetap disini menunggu Lilian sadar." Ucap Seint dingin.


Zheyan kembali menghembuskan napas pelan. "Sejak tadi Yang Mulia selalu menjaga Lilian dan tidak pernah meninggalkannya sedikitpun. Yang Mulia bahkan belum makan apapun sejak tadi." Ucap Zheyan.


"Saya sedang tidak lapar." Lalu Seint menatap ke arah Artem. "Kau boleh kembali ke tenda." Ucapnya dingin.


"Jika Yang Mulia tetap tinggal disini maka saya juga akan tetap disini." Ucap Artem sopan dan tegas.


"Terserah kau saja." Ucap Seint dan kembali menatap Zheyan. "Saya akan tetap disini." Lanjutnya.


Zheyan hanya menghembuskan napas pasrah, memaksa Pangeran Seint kembali ke tendanya adalah kegiatan yang sia-sia saja. Zheyan memutuskan untuk tetap membiarkannya berada di tenda Lilian.


°°°


Malam semakin larut, cuaca diluar tenda semakin dingin, Zheyan tertidur di kursinya dengan posisi menopang dagu menggunakan tangan. Seint sendiri tertidur dengan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi sambil memeluk kedua tangannya. Asgar dan Artem tertidur dengan menggunakan tangannya sebagai bantal di atas meja.


Terdengar suara cicitan dari jauh, semakin lama suara cicitan itu semakin dekat.


Ciittt...Ciitt... Citt...Citt...

__ADS_1


Lilian akhirnya membuka kedua matanya karena mendengar suara cicitan. Lilian merasa sakit di sekujur tubuhnya, ia bahkan tidak bisa menggerakkan kedua tangan dan kakinya.


Lilian dengan hati-hati menggerakkan kepalanya dan melihat keempat lelaki yang membohonginya tertidur dengan raut wajah lelah.


"Sepertinya mereka sedang menjaga ku." Batin Lilian.


Tenggorakan Lilian terasa sangat kering, ingin sekali ia memanggil Zheyan namun karena rasa sakit di pipinya membuat Lilian kesulitan untuk memanggilnya.


Ciitt...Citt...Citt...Ciitt...


Suara cicitan itu kembali terdengar, Lilian mengarahkan pandangannya ke segala arah namun tidak melihat sumber dari suara cicitan itu.


Selang beberapa waktu, dari arah pintu masuk tenda terdengar suara cicitan itu kembali. Semakin lama Lilian dibuat semakin penasaran oleh suara itu.


Hingga muncullah seekor hewan yang memiliki bulu berwarna putih bersih dari pintu masuk tenda. Lilian menajamkan penglihatannya untuk melihat hewan apa yang memasuki tenda.


Hewan itu berjalan mendekati tempat tidur Lilian dan melompat naik. Jantung Lilian seakan mau copot dari tempatnya melihat gigi tajam dari hewan tersebut.


"Nyawa ku baru saja tertolong akibat cakaran harimau... Sekarang hewan apa lagi ini?" Batin Lilian takut.


Lilian menatap langsung kearah mata hewan itu. "Matanya sangat cantik berwana abu-abu, hewan ini memiliki bulu yang panjang. Apakah hewan ini sejenis kucing?" Batin Lilian kembali.


Lilian terkejut melihat sinar cahaya yang berada didalam mata hewan tersebut. "Apakah aku salah lihat? Hewan ini sangat aneh... Mirip kucing tapi memiliki tanduk kecil seperti rusa." Batin Lilian.


Lilian masih kesulitan untuk mengeluarkan suara dan bergerak. Mata Lilian membulat sempurna saat hewan tersebut berjalan mendekatinya. "Apakah ia berniat menggigit ku?" Batin Lilian was was.


Lilian membuka matanya dan merasakan hewan tersebut menggosokkan moncongnya ke leher Lilian. Lilian tersenyum geli melihat keimutan hewan tersebut. "Sepertinya hewan ini tidak berbahaya." Batin Lilian.


Hewan itu memasuki selimut Lilian dan kembali menggosokkan badannya ke tangan Lilian. "Bulunya sangat halus." Batin Lilian.


Tidak lama Lilian kembali menutup matanya karena elusan lembut dari hewan tersebut membuatnya kembali mengantuk.


°°°


Lilian bergerak kecil dari tidurnya karena mendengar banyak suara. Perlahan ia membuka kedua matanya dan melihat ada banyak orang menatapnya dengan tatapan khawatir.


"Kamu sudah sadar? Bagian mana yang membuat mu kesakitan?" Tanya Duke Marven khawatir.


"A..air." Ucap Lilian serak.


Zheyan langsung mengambil air yang terletak di atas meja dan membantu Lilian meminumnya. Karena dari semalam Lilian merasa haus, akhirnya ia meminum air itu sampai kandas.


"Apa yang kamu rasakan sekarang?" Tanya Zheyan khawatir.


Lilian menatap lembut ke arah Zheyan. "Aku baik-baik saja tapi perut ku terasa sangat lapar." Ucapnya lemah.


"Siapkan makanan untuk Lilian cepat!" Ucap Duke Marven yang langsung di angguki cepat oleh salah satu pelayan.

__ADS_1


Mereka semua kembali fokus menatap ke arah Lilian. "Maafkan kami Lilian, semua ini salah kami...kalau bukan kami yang memaksa mu ikut ke acara jamuan teh itu, kondisi mu pasti tidak seperti sekarang." Ucap Fania dengan raut wajah bersalah.


"Bukan salah kalian." Ucap Lilian serak.


"Dari kemarin mereka menangis karena merasa bersalah kepada mu. Lihat saja kedua kantong mata mereka yang sangat menghitam itu." Ucap Asgar sambil menunjuk Fania dan Violet.


Lilian tersenyum hangat kearah keduanya. "Bukan salah kalian." Ucap Lilian.


"Bagaimana perasaan mu sekarang? Kemarin kami sangat khawatir melihat kondisi mu." Ucap Seint khawatir.


Lilian menatap ke arah Seint. Melihat wajah Seint mengingatkan Lilian tentang rencana kebohingan mereka kepadanya.


"Jangan berbicara kepada ku." Ucap Lilian ketus.


Seint dan yang lain terkejut melihat perubahan dari Lilian. "Apakah kamu masih marah kepada ku?" Tanya Seint lembut.


Lilian membuang muka tidak mau menatap Seint. "Aku tidak akan berbicara kepada kalian." Batinnya kesal.


Tiba-tiba beberapa pelayan masuk membawakan nampan yang berisi makanan.


"Makanan Nona sudah siap." Ucap Rosa.


Zheyan berjalan mendekat ke arah Lilian berniat membantunya. "Apakah kamu mau Kakak bantu?" Tanyanya.


"Kak Zheyan, Kak Asgar, Artem, dan kau." Ucap Lilian sambil menatap tajam kearah Seint. "Jangan berbicara kepadaku." Ucapnya kesal.


"Kalau begitu biar Ayah saja yang membantu mu." Ucap Duke Marven.


"Ayah juga tidak boleh berbicara padaku." Ketus Lilian. "Kalian semua mundur dan jangan terlalu dekat dengan ku." Sinis Lilian.


Semua orang menghela napas kasar mendengar ucapan Lilian. Kalau Lilian sudah begini maka akan sangat sulit untuk membujuknya.


"Tangan mu lagi sakit, kamu membutuhkan seseorang orang membantu untuk makan." Ucap Seint lembut.


"Biarkan Fania dan Violet yang membantu ku." Ucapnya ketus.


Fania dan Violet tersenyum cerah mendengar ucapan Lilian. Keduanya kemudian mengambil nampan makanan dari pelayan dan membawanya mendekati Lilian.


Belum sampai Fania dan Violet menduduki kursi yang berada didekat Lilian. Selimut Lilian bergerak dan munculah seekor hewan berbulu putih.


Semua mata membulat sempurna melihat hewan tersebut. Fania dan Violet bahkan bergerak mundur sedangkan Seint, Zheyan, Asgar dan Artem refleks menarik pedangnya masing-masing dan berniat menebas hewan tersebut.


"JANGAN!" Teriak Lilian.


Secara tidak sadar Lilian terbangun dari pembaringannya dan memeluk erat hewan tersebut. "Aku baru menyadari kalau tubuh ku sedari tadi tidak merasakan sakit, padahal tadi malam tubuh ku sangat susah digerakkan." Batin Lilian yang masih membekap erat hewan tersebut.


°°°

__ADS_1


Selamat membaca....


__ADS_2