
Ray tersenyum-senyum sendirian di atas ranjangnya setelah mendapatkan telepon dari Zalynda. Perasaannya berbunga-bunga saat Zalynda menanyakan beberapa hal-hal remeh-temeh padanya dan mereka mengobrol ke sana-kemari sebelum akhirnya menutup dengan kata-kata romantis
Ray memeluk gulingnya dan membayangkan sedang memeluk Zalynda walau pada kenyataannya tubuh Zalynda lebih berlekuk dan padat dibanding guling yang dipeluknya sekarang
Drrrt.. Drrt
Handphone Ray kembali bergetar, Ray kembali tersenyum saat mengira Zalynda kembali meneleponnya. Segera Ray meraih handphonenya. Senyum Ray memudar melihat nama yang tertera di sana. Ray kembali meletakkan gawainya, membiarkannya bergetar hingga terputus dengan sendirinya
Tring.. Sebuah pesan masuk ke dalam gawainya. Dari orang yang sama yang baru saja meneleponnya. Alin
"Kamu udah tidur belum Ray? Kalau belum, nyusul ke sini. Agus agak mabuk sepertinya, nggak bisa jalan."
Ray berdecak kesal. Agus, pria flamboyan yang selalu senang nongkrong di cafe atau club sembari berdansa dengan dalih menghilangkan penat, sangat berbeda 180 derajat dengan Ray.
"Untung aja Ina sama Andre. Bisa kurus Ina kalau sama Agus." Rutuk Ray dalam hati
Tetapi Ray sedikit curiga karena sejauh dirinya berteman dengan Agus, pria ini tidak pernah minum hingga kehilangan kesadarannya
Namun biar bagaimanapun, Agus adalah sahabatnya. Ray tidak akan membiarkan Agus tertidur di meja bar hingga pagi atau membiarkan Agus melakukan hal-hal yang dapat membahayakan jiwanya
"Sharelock. Gue on the way." Balas Ray
Ray segera memesan taksi online dan bergegas menuju tempat yang telah di tunjukkan Alin
***
Musik berdentum memekakkan telinga Ray. Bagi orang seperti Ray, datang ke tempat seperti ini sedikit banyak menyiksanya. Tempat itu terlihat ramai dengan orang-orang yang sedang menikmati musik di lantai dansa sambil menggoyangkan tubuhnya seirama dengan dentuman musik
"Awas aja lo Gus! Gue potong komisi elo." Bathin Ray sambil memfokuskan pandangannya. Cukup sulit karena lampu-lampu di Club itu menyorot cukup tajam menemani para tamu berjingkrak di lantai dansa
Ray segera mengirim pesan ke Alin karena tidak memungkinkan untuk menelepon di tengah hingar-bingar seperti ini
"Dimana kalian?" Tanya Ray. Tak berapa lama pesan Alin masuk
"Di meja VIP dekat bar." Balas Alin
Ray bergegas membelah kerumunan orang-orang di lantai dansa dan mencari meja VIP. Meja VIP berada di area yang lebih sepi dibandingkan meja reguler biasa
Terlihat dari jauh Agus nampak bersandar di sofa dengan Alin berada di sampingnya. Alin melambaikan tangannya. Gadis itu mengenakan gaun off shoulder ketat berwarna merah menyala.
__ADS_1
Sebagai pria normal Ray sedikit terusik dengan pemandangan yang disuguhkan Alin. Bergegas Ray mengalihkan pandangannya ke arah Agus yang sedang memejamkan matanya
"Woy,Gus." Kata Ray sambil menepuk pipi sahabatnya. Agus mengerjap memicingkan mata menatap Ray heran
"Elo di sini juga bro?" Kata Agus sambil nyengir
"Mabok lo?" Tanya Ray, tidak menjawab pertanyaan Agus
"Nggak lah. Cuma minum begini masa mabok." Kata Agus mencoba berdiri, namun pemuda itu sedikit terhuyung kehilangan keseimbangan. Untung Ray dengan cepat menahan tubuh Agus
"Tuh kan gimana dia bisa pulang kalo gini." Kata Alin sambil ikut menahan tubuh Agus. Entah sengaja atau tidak, dada gadis itu menggesek lengan Ray. Untungnya Ray tidak serta merta melepaskan Agus karena terkejut
"Lin, elo tadi kesini sama siapa?" Ray berusaha mengalihkan perhatiannya
"Bareng Agus naik taksi."
Ray mendengkus. Pemuda itu melirik jamnya. Sudah hampir jam 10 malam. Ray tidak mungkin membiarkan Alin pulang sendirian
"Ya udah, kita pulang bareng. Gue anterin elo dulu baru pulang ke hotel bareng Agus."
"Ya udah, aku pesenin dulu ya sambil jalan keluar." Kata Alin sambil memesan taksi online via aplikasi
Perjalanan memakan waktu sekitar 45 menit. Mereka sampai di rumah bercat putih dengan taman yang asri di depannya. Ray yang duduk di depan refleks turun dan membukakan pintu untuk Alin
Pelajaran dari tuan Erik yang selalu diturunkan pada anak, menantu dan cucunya mengenai manner saat berkendara
Alin tersenyum senang saat Ray membukakan pintu mobilnya. Tindakan Ray sedikit membuat Alin GR, berbeda dengan Ray yang merasa biasa saja
"Makasih ya Ray." Kata Alin sambil tersenyum manis
Ray hanya menarik ujung bibirnya dan membiarkan Alin melangkah. Namun sepertinya gadis itu tersandung akibat sepatu heels nya yang tinggi
"Aduduuh.." Tubuh Alin limbung menabrak dada Ray.
Ray dengan sigap memegang pinggang Alin sementara Alin refleks memegang bahu Ray. Sedetik keduanya berpandangan. Alin merasakan mata elang Ray hingga sampai ke hatinya. Tanpa sadar Alin melingkarkan lengannya di leher Ray membuat pemuda itu sedikit jengah
"Lin, lepas."
"Hah?" Alin mengerutkan keningnya
__ADS_1
"Pelukannya di lepas, udah nggak akan jatuh." Kata Ray
"Oh maaf.." Alin segera melepaskan pelukannya dan meletakkan tangannya di bahu Ray. Gadis itu dengan sengaja menelusurkan tangannya dari bahu hingga dada Ray. Walau masih menggunakan kemeja, Alin tahu beberapa otot indah yang tersembunyi di sana berbekal telusuran tangannya
Ray sedikit terkejut. Pemuda itu langsung melepaskan tangannya dari pinggang Alin dan mundur.
"Udah malem. Sana masuk. Gue mau pulang." Kata Ray
Alin mengangguk menuruti perkataan Ray. Gadis itu segera masuk ke gerbang rumahnya setelah sebelumnya melambaikan tangan ke Ray. Ray hanya mengangguk membalas lambaian Alin
Ray bergegas naik ke dalam taksi online dan mereka segera pergi menuju destinasi selanjutnya. Hotel tempat Ray dan Agus menginap
***
Jakarta
Seberkas cahaya lampu berlomba-lomba memasuki retina mata Farah yang mulai terbuka membiasakan diri dengan keadaan sekeliling
Wajah yang pertama kali terlihat adalah wajah cemas Zalynda. Gadis itu tersenyum sambil menangis. Farah ikut tersenyum sambil membelai pipi Zalynda sayang
"Alhamdulillah, aku masih bisa melihat Zalynda ku.." Bathin Farah
"Mam..mau jeruk, Tante?" Zalynda berusaha mengalihkan ucapannya.
Farah menggeleng pelan. Lalu matanya menangkap ternyata ada juga tuan Wijaya yang menatap Farah cemas.
"Ada apa Fa, dirimu berteriak kencang sekali tadi."
Farah menatap wajah tuan Wijaya. Wajahnya sudah lebih tua,namun sisa-sisa ketampanannya masih tergambar jelas
Farah ingin sekali menceritakan tentang mimpinya. Farah pun ingin sekali memeluk tuan Wijaya sambil mengatakan kalau dirimu sudah bisa mengingat masa lalunya. Namun bayangan mata penuh emosi milik Ardhi masih terus melintas dalam pikirannya.
Perhatian Farah segera beralih ke Zalynda yang tersenyum di dekatnya. Farah membelai rambut Zalynda dengan perasaan tidak menentu
Kalau ia mengatakan sudah ingat semua, mungkin Ardhi dan Aya akan memusuhinya. Hal itu bisa saja membahayakan pernikahan Zalynda dan Ray akibat pertikaian kedua orangtuanya. Sebaiknya Farah mengunci mulutnya rapat-rapat mengenai ingatannya yang sudah kembali muncul
Farah menarik nafas panjang
"Saya baik-baik saja om. Sepertinya saya bermimpi buruk dan berteriak cukup nyaring. Maaf kalau sudah mengganggu waktu istirahat anda.."
__ADS_1