
Saat tangan Zalynda hendak mendorong troli miliknya, tiba-tiba seseorang menahan lengannya sehingga gadis itu menoleh. Mata Zalynda membola, senyuman terbit di bibirnya
"Bi Ijah.." Zalynda segera memeluk wanita setengah baya yang berada di depannya. bi Ijah pun memeluk Zalynda erat.
"Alhamdulillah, non Linda baik-baik saja." Bi Ijah membelai rambut dan wajah Zalynda dengan sayang
"Bibi sama siapa kesini?" Tanya Zalynda, mengingat swalayan ini jauh dari tempat tinggal tuan Wijaya
"Bibi sama nyonya Anggun dan non Diva, non."
Wajah Zalynda seketika menegang. Matanya langsung menebar pandangan ke segala arah. bi Ijah tersenyum
"Mereka lagi pergi ke salon di dekat swalayan ini non. Bibi bosen nungguin, jadi bibi minta ijin untuk ke sini. Nanti kalau sudah selesai bibi di telepon." Kata bi Ijah menjelaskan.
Zalynda menghela nafas lega. "Berarti bibi punya banyak waktu ya. Yuk, kita ngobrol sambil makan di food court depan. Sebentar, aku bayar dulu ya bi."
Bi Ijah mengangguk dan mengikuti langkah Zalynda ke kasir. Setelah selesai membayar belanjaannya, Zalynda mengajak bi Ijah makan di food court di depan swalayan. Mereka memesan bakso dan siomay
"Alhamdulillah bibi senang lihat non Linda sehat dan bahagia.* Kata bi Ijah sambil terus melihat kearah Zalynda dengan mata berkaca-kaca
"Bibi kenapa nangis? Nanti bakso nya asin lho." Goda Zalynda. Bi Ijah tertawa pelan sambil mengusap matanya
"Kenapa non pergi?" Tanya bi Ijah
Zalynda terdiam. Ingin sekali ia menceritakan semuanya ke bi Ijah kalau Yono malam itu hendak berbuat jahat padanya. Namun Zalynda tidak memiliki bukti kuat. Zalynda menunduk menatap piring siomay nya. Terdengar bi Ijah menghela nafas
"Bibi tahu non sudah nggak kuat menghadapi keluarga Om Yono ya. Bibi maklum, tapi harusnya non kasih kabar ke tuan."
Zalynda mengangkat kepalanya menatap bi Ijah sambil tersenyum getir.
"Buat apa bi? Aku sudah membuat malu keluarga kakek saat insiden di Universitas Gemilang dulu. Kakek pasti marah sekali padaku."
Bi Ijah menggeleng "Non salah. Tuan sayang banget sama non."
"Kalau kakek sayang padaku, tentu kakek akan mencariku. Dengan kuasa kakek, aku pikir sangat mudah menemukanku, bi."
Zalynda menunduk sambil berkata pelan "Tapi, siapalah aku ini. Aku hanya keluarga jauhnya."
Bi Ijah menggigit bibirnya. Bi Ijah adalah orang terlama yang ikut bekerja pada tuan Wijaya. Bi Ijah mengetahui betul siapa Zalynda sebenarnya. Ingin rasanya bi Ijah memberitahukan Zalynda, namun ia ingat janjinya pada tuan Wijaya untuk menutup rapat mulutnya
"Non..apa non percaya kalau tuan mencari non?" Tanya bi Ijah
Zalynda mendongak "Jangan membuatku kembali berharap, bi."
"Bibi ngomong bener, non. Tuan menyuruh om Yono untuk mencari non. Bahkan ruan tidak berpikir panjang kalau om Yono meminta uang lebih ke tuan dengan alasan menyewa detektif untuk mencari non."
Zalynda terperanjat. Jadi selama ini kakek Wijaya mencarinya? Tiba-tiba Zalynda merasa geram dengan Yono. Pasti pria itu menggunakan uang yang diberikan tuan Wijaya untuk berfoya-foya tanpa perlu bekerja keras
"Non.." panggil bi Ijah membuyarkan lamunan Zalynda
"Ya bi?"
__ADS_1
"Non pulang yuk ke rumah."
Ucapan bi Ijah membuat Zalynda terpaku. Kelebat bayangan Yono yang selalu hendak memperkosa dan melecehkannya muncul. Zalynda menggenggam tangannya erat-erat
"Kalau nggak mau, sesekali tengok lah tuan Non. Beliau sedang sakit." Kata bi Ijah dengan raut wajah sedih
"Kakek sakit apa, bi?"
Bi Ijah menghela nafas "Tuan kena stroke.."
"Ya Allah.." Zalynda menutup mulutnya.
Bi Ijah tersenyum lalu berkata dengan suara bergetar
"Kalau boleh, tolong bawa tuan bersama non Linda. Daripada harus bersama keluarga om Yono yang tidak pernah mau mengurus tuan. Ini saja bibi gantian dengan pak Udin untuk menjaga tuan dirumah."
Bayangan kakek Wijaya berkelebat di memori Zalynda. Kakek Wijaya yang selalu menyayanginya, kakek Wijaya yang selalu tersenyum padanya
Tiba-tiba Zalynda merasa sangat rindu dengan tuan Wijaya
***
Ray membuka pintu toko kue bu Edah. Wangi kue yang manis menyeruak di indera penciumannya.
"Selamat datang, kakak ganteng. Ada yang bisa di bantu?" Tanya seorang gadis
Ray hanya menarik ujung bibirnya "Saya mau ketemu bu Edah."
"Oh, silahkan tunggu dulu kakak ganteng. Akan saya panggil bu Edah." Kata gadis itu lagi sembari mempersilahkan Ray duduk
"Aku sedang di toko bu Edah. Mau dibawakan apa?"
Centang abu-abu. Zalynda belum membacanya. Ray menghela nafas panjang dan melihat jam.
"Seharusnya Zalynda sudah tiba di rumah. Mungkin dia tertidur." Bisik Ray dalam hati
Pandangan pemuda itu kembali menatap taman kecil di depan toko bu Edah. Ingatannya kembali ke beberapa waktu sebelumnya
FLASHBACK
Ray menepikan mobilnya di lahan parkir Healing Soul. Pemuda itu bertekad akan menemui Farah untuk melihat kondisinya. Ray berharap Daniel juga ada disana sehingga dapat menjawab beberapa pertanyaan yang Ray lontarkan
"Selamat siang bu." Sapa Ray pada perawat jaga. Perawat itu tersenyum
"Siang, mas. Ada yang bisa dibantu?"
"Saya mau mengunjungi pasien yang bernama Farah Afriyani Wijaya. Masih waktu kunjungan kan bu?"
Perawat jaga itu mengangguk sambil tersenyum. "Baik, sebentar saya lihat dulu ya mas."
Ray melihat-lihat ke sekeliling. Rumah Sakit Jiwa itu terlihat lengang. Mungkin karena tidak banyak orang yang datang seperti pada Rumah Sakit Umum
__ADS_1
"Mm..maaf mas, di sini tidak ada pasien bernama Farah Afriyani Wijaya." Kata petugas jaga itu
Kening Ray berkerut. "Masa' sih? Coba periksa lagi bu."
"Nggak ada mas. Farah Afriyani Wijaya telah keluar dari sini sejak satu tahun yang lalu." Kata petugas itu
"Oh, apakah dia sudah sembuh?" Tanya Ray antusias. Dengan begini akan memudahkan pekerjaannya nanti
Perawat jaga itu menggeleng "Dia sudah dijemput dan dirawat oleh keluarganya. Disini nama penjemputnya adalah Lela."
Mata Ray memicing.
"Kenapa dia membawa Farah?" Bisik Ray dalam hati
Ray tersenyum kecil melihat perawat jaga itu "Ya sudah, terima kasih bu."
Ray bergegas keluar dari sana. Ray tahu dengan jelas kemana dirinya harus pergi
FLASHBACK END
"Mas Rayhan? Waah kehormatan dikunjungi mas Rayhan."
Suara bu Edah membuyarkan lamunan Ray. Segera Ray menoleh dan tersenyum menatap wanita bertubuh subur itu
"Eh, minta kue sama minum buat mas Ray." Perintah bu Edah pada salah satu pegawainya
"Jangan repot-repot bu Edah." Sergah Ray
"Ah nggak repot kok. Mas Ray pasti mau order banyak khan?" Kata bu Edah sambil tersenyum sumringah. Ray terkekeh
Seorang pegawai bu Edah membawakan short cake dan air mineral gelas.
"Ayo diminum dan di cicipi. Ini resep baru."
Ray mengangguk. Untuk menghormati bu Edah, pemuda itu mencicipi sedikit short cake yang tersaji
"Nah, ada perlu apa mas?" Tanya bu Edah
"Saya kesini memang untuk beli kue bu. Za senang sekali dengan cinnamon roll yang ada disini."
Bu Edah tersenyum sumringah "Saya sudah menduga kalian itu ada apa-apanya. Sebentar saya siapkan."
"Satu lagi.." Ucapan Ray mencegah bu Edah untuk berdiri. Wanita itu kembali duduk di kursinya
"Apa anda mengenal seseorang bernama Farah?" Tanya Ray
Wajah bu Edah sedikit terkejut. Namun wanita itu berhasil menguasai perasaannya. Wanita itu tersenyum
"Siapa Farah? Pegawai saya tidak ada yang bernama Farah, mas Ray."
Ray tersenyum "Farah Afriyani Wijaya. Apa anda benar-benar tidak mengenalnya bu Edah?"
__ADS_1
Ray tahu bu Edah menyembunyikan sesuatu. Terlihat dari gerak tubuhnya yang gelisah dan menghindari kontak mata dengan Ray
Ray memajukan tubuhnya "Saya bertanya, bu Layla Zubaedah.. Atau apa harus saya panggil dengan sebutan.. Lela?"