
Yono menghentikan taksi curiannya di depan sebuah rumah komplek perumahan di daerah Bogor. Yono melirik Zalynda yang masih terpejam. Komplek perumahan ini masih baru. Belum banyak tetangga yang ada. Yono sengaja membelinya untuk Diva nanti, sebagai kejutan untuk putri semata wayangnya.
Diva…
Hati Yono seakan gerimis mengingat anak dan istrinya. Yono menatap tajam ke arah Zalynda
"Ini semua gara-gara kamu, gadis sialan!" Desis Yono
Dengan cepat Yono menutup gerbang dan membuka pintu rumah. Segera Yono menurunkan Zalynda dan menggendongnya masuk ke dalam rumah.
Yono menurunkan Zalynda di dalam kamar dan mengunci gadis itu setelah memastikan semua jendela terkunci rapat. Lagipula dengan perut besar, sepertinya Zalynda tidak akan lolos melewati jendela dengan mudah
Yono pun keluar setelah menutup dan mengunci pintu rumah. Yono butuh makan. Akan memerlukan banyak energi untuk menyiksa Zalynda, pikir Yono
Pria itu bersiul-siul sambil memacu taksi curiannya.
***
"Apa?" Desis Sagara
"Kau dengar aku. Nyawa Zalynda sedang dalam bahaya. Sekarang dia hilang dan itu gara-gara kau!" Kata Ray keras sembari menghempaskan Sagara
Ray mengusap kasar wajahnya dan terduduk di sofa tunggal. Tangannya meremas rambut kelamnya. Terlihat dari wajahnya Ray seperti sedang berfikir keras
"Dimana aku bisa menemukan Za, ayah.." desis Ray pelan
Ardhi menghela nafas. Pria itu mendekati Ray dan meremas pundak putra sulungnya. Sejujurnya Ardhi pun bingung karena tidak ada satu petunjukpun yang mengarahkan kemana Zalynda pergi
Tok tok..
Ardhi dan Ray langsung melihat ke arah pintu. Seorang polisi berseragam tampak berada di ambang pintu
"Bagaimana pak? Sudah ada titik temu tentang menantu saya?" Tanya Ardhi
Polisi itu menatap sejenak ke arah Ardhi dan Ray. Kemudian menggeleng. Ray menghembuskan nafasnya kasar sembari memejamkan mata. Harapannya kembali pupus
"Kami hanya menerima laporan dari seorang supir taksi yang mengatakan bahwa taksinya direbut paksa oleh seorang pria." Kata petugas itu sambil menatap Ardhi dan Ray bergantian
Pria itu membawa wanita hamil yang sedang pingsan.." Lanjut petugas itu. Ray langsung mendongak mendengar ucapan petugas polisi itu. Dengan cepat Ray berdiri
"Lalu?" Tanya Ray tidak sabaran. Ardhi memegang pundak Ray seakan menyuruh pemuda itu sedikit bersabar
"Tim kami sedang menyisir dan mencari nomor taksi yang disebutkan tadi." Kata petugas polisi itu
__ADS_1
Ray mendengkus. Pemuda itu kembali duduk sambil membuka handphonenya. Pemuda itu menatap aplikasi pelacak yang terdapat pada kalung Zalynda. Tidak ada pergerakan di sana. Ardhi menatap tidak enak hati pada petugas polisi tadi karena sikap acuh Ray
"Terima kasih pak. Segera hubungi kami kalau sudah ada berita terbaru." Kata Ardhi
Polisi itu mengangguk. Dirinya pun memaklumi sikap Ray. Pemuda itu sedang kalut karena istrinya diculik seseorang yang kemungkinan besar akan membahayakan keselamatan istrinya. Terlebih istrinya sedang dalam kondisi hamil
"Ya Allah..tolong tunjukkan dimana Zalynda. Please…" bisik Ray pasrah
Tiiit..tiiit
Tiba-tiba aplikasi itu menyala. Ray terkejut sekaligus terlonjak bahagia
"Alhamdulillah. Ayah, lihat."
Ardhi mengangguk senang dan ikut memperhatikan titik merah itu bergerak dan berhenti pada suatu lokasi
"Bogor.. Zalynda ada di Bogor." Desis Ray
Segera pemuda itu menyambar kunci mobilnya dan berlari menuju parkiran. Ardhi dan petugas polisi itu langsung mengikuti Ray. Begitu juga dengan para bodyguard Ray yang langsung sigap menuju mobil masing-masing
"Apa yang kau lakukan?!" Tanya Ray keras saat melihat Sagara ikut masuk kedalam mobilnya
"Please, ini salahku. Biarkan aku ikut menolong Za." Bujuk Sagara
" Jangan buat repot di sana!" Kata Ray. Sagara hanya tersenyum menanggapi ucapan pedas Ray. Yang penting dirinya diijinkan ikut untuk menyelamatkan Zalynda. Setidaknya itu akan mengurangi rasa bersalah dalam hati Sagara
***
"Nggh.."
Zalynda perlahan membuka matanya. Suasana terlihat gelap. Hanya terlihat cahaya dari luar jendela
"Ini dimana.." bisik Zalynda perlahan
Zalynda tersadar tubuhnya berbaring diatas lantai yang dingin. Tengkuknya sedikit sakit. Perlahan memorinya kembali terkumpul
"Om Yono.." Pekik Zalynda tertahan saat gadis itu mulai mengingat apa yang terjadi tadi siang
Tadi siang, saat jam istirahat pegawai dan bubar kuliah para mahasiswa. Sagara mengajak Zalynda untuk menjahili para bodyguard Ray yang selalu mengikuti Zalynda kemanapun gadis itu pergi
Awalnya Zalynda merasa kesal dengan sikap Ray yang membawakan sejumlah bodyguard untuk dirinya. Zalynda merasa Ray terlalu lebay menjaganya. Namun sekarang Zalynda sedikit menyesal karena sikapnya. Harusnya Zalynda faham alasan Ray membawakan beberapa orang untuk menjaganya, walau Ray tidak mengatakan apa-apa.
"Ray, maaf.." bisik Zalynda pelan
__ADS_1
Perhatian Zalynda tertuju ke arah perutnya yang terasa bergerak. Tangan Zalynda mengusap lembut perutnya
"Maafkan mama sudah menempatkan kalian dalam bahaya."
Setitik airmata jatuh di tangan Zalynda yang sedang mengusap lembut perutnya. Segera di sekanya airmatanya
"Bukan waktunya nangis. Ayo berfikir, Zalynda." Bisik Zalynda menyemangati diri sendiri
Pandangan Zalynda beredar. Terlihat saklar lampu di ujung dekat pintu. Saat Zalynda hendak menyalakan lampu, dirinya berhenti
"Jangan dinyalakan. Kalau dinyalakan, om Yono akan tahu aku sudah bangun.." bisik Zalynda pelan
Zalynda perlahan menyentuh handle pintu dan menggerakkannya. Terkunci!
Zalynda mendesah. Kembali gadis itu melihat ke sekeliling. Ruangan yang kosong, tidak ada satu perabotpun di sana yang bisa digunakan untuk mempertahankan diri kalau Yono muncul tiba-tiba
Pandangan Zalynda beralih ke jendela. Jendela itu terkunci dari dalam. Satu-satunya jalan untuk dirinya melarikan diri
Zalynda membuka jendela itu dan mengukur tubuhnya. Kalau dirinya tidak sedang hamil, dirinya pasti muat melewati jendela itu. Tetapi sekarang perutnya tidak akan muat
Zalynda melihat ke luar jendela. Jarak jendela dan tanah tidak terlalu tinggi. Otak Zalynda berputar.
Gadis itu mencoba memiringkan tubuhnya. Satu kakinya sudah keluar menapaki tanah di luar. Zalynda mencoba mengatur nafasnya
"Ayo anak-anak, kita bekerja sama. Maaf ya akan sempit sedikit." Kata Zalynda pelan
Gadis itu berusaha menahan nafas dan berusaha mengecilkan perutnya. Keningnya berkenyit saat perutnya tidak muat keluar dari jendela
Tidak kehilangan akal, Zalynda mencoba memiringkan tubuhnya dan menjejak di kaki yang sudah keluar dari jendela. Perlahan gadis itu mencoba keluar dengan punggung mengarah ke arah luar.
Ternyata cara itu ampuh. Perutnya memang besar, tetapi secara keseluruhan badan Zalynda tidak ikut membesar
Sedikit lagi.. Zalynda akan terbebas.
Tiba-tiba tubuh Zalynda menegang mendengar deru mobil.
"Om Yono pulang!" Bathin Zalynda panik.
Segera ditarik kakinya yang masih berada di dalam ruangan. Karena tidak hati-hati, badannya limbung dan gadis itu terjatuh di tanah
"Aaw.." Zalynda refleks menutup mulutnya, khawatir terdengar. Badannya sedikit sakit, namun otaknya memerintahkan untuk segera berdiri dan lari dari tempat ini
Zalynda mencoba segera berdiri. Saat Zalynda berdiri sempurna, tepat saat Yono membuka pintu kamar.
__ADS_1
Pandangan keduanya beradu dan sama-sama terkejut