CAHAYA BINTANG SURGA

CAHAYA BINTANG SURGA
PART 138


__ADS_3

Zalynda mengerjapkan mata saat merasakan mobil Ray berhenti.


"Sudah bangun, cantik?" Tanya Ray lembut sambil mengusap kepala Zalynda


"Hu'um.." Zalynda menegakkan duduknya dan melihat ke sekeliling. Mobil Ray berhenti di halaman sebuah rumah bercat putih


"Ray, kita dimana? Ini rumah siapa?" Tanya Zalynda sambil mengamati rumah di depannya. Zalynda berdecak kagum melihat rumah indah di depan matanya. Ray tersenyum kecil menanggapi pertanyaan Zalynda


"Ayo turun." Ajak Ray. Entah kapan penuda itu turun dari mobil dan sudah membukakan pintu untuk Zalynda


"Eh?"


Zalynda segera mengeluarkan bedaknya untuk bercermin. Mengecek siapa tahu ada bekas liur yang menempel saat dirinya tidur. Akan sangat memalukan bertamu ke rumah orang dengan keadaan baru bangun tidur


Tidak ada, Zalynda bernafas lega. Berlanjut gadis itu merapikan kerudungnya yang sedikit bergeser karena dirinya tertidur. Memasuki bulan ke tujuh ini Zalynda merasakan sering mengantuk dan cepat lelah


Ray terkekeh melihat tingkah istrinya yang sibuk membenahi penampilan


"Ayo Za, nggak usah cantik-cantik amat." Kata Ray sambil mengulurkan tangannya.


Zalynda sedikit tersipu. Gadis itu menyambut uluran tangan Ray dan keluar dari mobil. Terasa tangan Ray melindungi kepalanya saat keluar dari mobil


"Ray, ini rumah siapa?" Tanya Zalynda lagi


Ray tersenyum sambil menggandeng tangan Zalynda memasuki rumah bercat putih itu. Zalynda sedikit bingung karena Ray memiliki kunci rumah itu


"Assalamu'alaykum.." Salam Ray sambil memasuki rumah


Zalynda mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Rumah yang sangat indah dengan cat semua dinding dinding berwarna putih, namun masih terlihat kosong. Tidak ada perabotan di dalamnya


"Ray.."


Ray menggandeng Zalynda melintasi ruangan. Lalu Ray membentangkan tangannya lebar-lebar


"Selamat datang di istana kita, Ratuku.."


Mata Zalynda membola. Pekikan kecilnya tertahan dengan kedua tangannya


"Kamu..beli rumah?" Tanya Zalynda tidak percaya


Ray mendekati Zalynda sambil memeluk pinggang gadis itu mesra

__ADS_1


"Sebentar lagi kita akan memiliki keluarga kecil, Za. Aku rasa lingkungan apartemen kurang cocok dengan tumbuh kembang anak-anak kita. Jadi, aku memutuskan untuk membeli rumah ini karena pertama lingkungannya dan kedua rumah ini berada di tengah-tengah rumah kakek Wijaya dan rumah Ayah bunda."


Zalynda kembali mengedarkan pandangannya sambil berjalan ke tengah ruangan dan berbalik menatap Ray


"Tapi..masih kosong."


"Sengaja aku cat putih semua supaya gampang di timpa dengan cat warna lain. Aku ingin kamu yang memilihkan cat serta perabotan yang ingin kamu gunakan. Karena kau adalah ratu di rumah ini kelak yang akan mengatur semuanya." Kata Ray


Mata Zalynda terlihat berkaca-kaca. Ray menghampiri Zalynda dan memeluk gadis itu erat. Zalynda mulai terisak dalam dekapan Ray


"Kenapa nangis? Kamu nggak suka?" Tanya Ray sambil mengangkat dagu Zalynda untuk menatapnya


Zalynda menggeleng


"Justru aku sangat menyukainya. Aku nggak nyangka kamu beli rumah dan mempercayakan aku untuk memilih warna serta perabotannya.."


"Aku percaya kemampuanmu, Za. Buktinya proyek di Semarang sekarang sedang menggarap lahan ke dua setelah semua rumah habis terjual." Kata Ray


"Tapi..apa tidak berlebihan?" Tanya Zalynda lagi


"Tidak ada yang berlebihan dari pemberian seorang suami pada istri dan keluarganya. Ini juga sebagai tanda syukurku pada Allah karena sudah memilihkan dirimu sebagai tulang rusukku yang harus selalu aku jaga dan aku sayangi." Ray mengecup kening Zalynda membuat Zalynda kembali memeluk Ray erat-erat


Ray mengeluarkan kotak dari sakunya dan membukanya. Sebuah kalung emas dengan bandul permata berwarna biru.


"Ray, ini.."


"Kalungmu yang hilang saat kamu kecelakaan dulu. Sudah kuperbaiki dan ku modifikasi agar lebih terlihat cantik dan modern." Kata Ray sambil menyampirkan kerudung Zalynda sehingga leher gadis itu terlihat. Ray memutar ke belakang Zalynda dan memakaikan kalung itu ke Zalynda


Zalynda meraba kalung yang kini melingkar manis di lehernya. Gadis itu terharu dengan perhatian dan kado kejutan dari Ray.


"Jangan dilepas ya.." kata Ray. Zalynda mengangguk lalu memeluk Ray erat


Drrrt..drrt..


Handphone Ray bergetar. Tanpa melepaskan pelukannya, Ray membaca pesan yang dikirimkan seseorang padanya. Wajah Ray sontak menegang saat membaca pesan di hpnya


"Siapa Ray?" Tanya Zalynda


Ray bergegas mematikan handphonenya dan langsung memeluk erat Zalynda


"Jangan pernah jauh-jauh dariku ya Za." Bisik Ray

__ADS_1


Zalynda tertawa kecil. Sepertinya hormon kehamilan masih mempengaruhi Ray sehingga bertindak seposesif ini. Zalynda mengangguk untuk menenangkan Ray yang makin erat memeluknya


Tanpa Zalynda ketahui, Ray masih memikirkan pesan yang baru saja diterimanya dari Beno


"Bang, cek berita. Yono kabur dari penjara."


***


Zalynda menghela nafas saat keluar dari ruang periksa dokter Wilda. Tampak tiga orang berpakaian hitam-hitam langsung mendekati dirinya dan Ray


Zalynda sediki heran dengan perubahan sikap Ray. Sejak dua hari lalu mereka pulang dari rumah yang dibeli oleh Ray, pemuda itu langsung meminta beberapa orang bodyguard untuk berjaga-jaga dan mengikuti Zalynda kemanapun gadis itu pergi.


Awalnya Zalynda pikir mereka datang untuk menjaga Ray karena adanya persaingan bisnis yang melibatkan cara kotor. Ternyata dugaan Zalynda salah. Justru para pria berbaju hitam itu datang untuk menjaga dirinya


Zalynda yang tidak terbiasa dengan hal itu langsung cepat risih. Apalagi saat dirinya hanya turun ke market yang terletak di lantai satu apartemennya, orang-orang itupun mengikuti dirinya


Atau saat Zalynda pergi ke toko kue miliknya. Hal itu juga membuat Sagara tidak bebas untuk menemui Zalynda karena lebih dulu dihalangi oleh pria-pria berbaju hitam itu.


Kali ini pun sama


"Ray.." Zalynda merengek pelan pada Ray saat melihat tatapan beberapa orang di ruang tunggu dokter Wilda


Ray mengkode orang-orang itu agar tidak terlalu dekat dengan dirinya dan Zalynda. Segera Ray merangkul Zalynda dan membawanya untuk mengambil vitamin yang sudah di resepkan oleh dokter Wilda


Zalynda menoleh kebelakang. Tiga orang itu masih mengikutinya. Gadis itu menghela nafas pelan


"Kamu capek sayang?" Tanya Rat saat mendengar gadis itu menghela nafas


"Iya, aku capek." Kata Zalynda


"Mau aku ambilin kursi roda? Kamu duduk dulu." Kata Ray sambil menunjuk satu bangku kosong


"Nggak, aku capek diikutin terus sama mereka. Bikin nggak bebas dan canggung." Kata Zalynda sambil melirik tiga pria yang tak jauh dari mereka


Ray ikut melihat tiga orang itu. Pemuda itu mengusap kepala Zalynda yang terbalut kerudung krem. Sampai sekarang Ray memang tidak memberitahu Zalynda perihal Yono kabur dari penjara. Ray mengkhawatirkan Zalynda akan ketakutan dan membuat gadis itu cemas berlebihan sehingga mempengaruhi kondisi psikis dirinya juga bayi dalam kandungan Zalynda


"Sabar ya cantik. Nggak lama kok." Hibur Ray


Mata Zalynda menyipit melihat Ray


"Ada apa sih Ray? Apa yang kamu sembunyikan?"

__ADS_1


__ADS_2