CAHAYA BINTANG SURGA

CAHAYA BINTANG SURGA
PART 139


__ADS_3

Yono gusar.


Semenjak berita dirinya melarikan diri tersebar, Yono harus ekstra hati-hati. Dirinya sudah sejauh ini, tidak mungkin kembali. Yono sudah mengosongkan ATM nya berhari-hari lalu untuk berjaga-jaga. Saat ini keuangannya pun mulai menipis


Kini Yono tinggal di kamar sewa di pinggiran ibukota untuk menghindari polisi atau orang-orang yang berpotensi mengenalinya


Yono menatap bungkusan yang dibelinya beberapa hari lalu di apotek. Tangannya yang besar meraih dan menggenggam erat bungkusan itu


"Aku harus bergerak cepat.." desis Yono sambil menatap tajam bungkusan di tangannya


Yono bergegas pergi dari kamar sewanya. Ia harus mengintai pergerakan Zalynda dan menemukan celah bagaimana Yono bisa membawa paksa Zalynda. Jangan sampai kesempatannya menghilang lagi


Yono yakin hari ini adalah hari keberuntungannya


***


Ardhi mengetuk-ngetuk meja melihat Ray masih santai dengan MacBook nya. Mata Ardhi melihat ke arah jam besar yang berada di sudut ruangannya.


"Bang.." panggil Ardhi


"Ya ayah?" Jawab Ray tanpa mengalihkan pandangannya dari pekerjaannya


"Kamu sudah dapat berita terbaru tentang Yono?"


Ray menggeleng "Belum. Tapi tenang aja, abang udah kirim beberapa bodyguard untuk jagain Zalynda dan kakek Wijaya. Mereka orang-orang yang di rekomendasikan uncle Leo."


"Abang kasih tahu Zalynda tentang Yono?"


Kembali Ray menggeleng


"Abang nggak mau bikin Za cemas. Pernah satu kali dia cemas karena pesanan kuenya tidak berjalan lacar, perutnya langsung tegang."


Ardhi menghela nafas. Ardhi tahu hal ini adalah salah satu bentuk ikhtiar Ray untuk menjaga keluarganya. Tetapi, tetap saja rasa khawatir menggelayut di dada Ardhi. Pria itu bangkit sambil menatap padatnya kota Jakarta dari jendela ruangannya


"Setidaknya Za harus tahu agar dirinya waspada." Kata Ardhi


Ray terdiam sejenak. Walaupun Zalynda beberapa kali bertanya tentang para bodyguard yang mengelilinginya, Zalynda tetap mematuhi Ray untuk tidak keluar dari penjagaan para bodyguard nya. Zalynda termasuk wanita yang penurut. Tetapi ucapan Ardhi pun ada benarnya


"Abang akan beritahu pelan-pelan nanti."


"Kamu harus tetap waspada, bang. Entah kenapa ayah merasa Yono itu selain licik sebenarnya dia cukup cerdas. Sayang kecerdasannya digunakan untuk berbuat jahat."


Ray menghentikan pekerjaannya dan menatap ke arah punggung Ardhi. Ardhi berbalik menatap ke arah Ray.


"Pergilah temui Za, bang. Sebentar lagi waktu makan siang."


Ray melihat ke arah jam besar di sudut ruangan. Ardhi benar, sebentar lagi jam makan siang. Ray segera menutup MacBook nya dan merapikan kertas-kertas yang berserakan di meja


"Ayah mau ikut makan bersama?" Tanya Ray


"Ayah sudah janji ngajak bunda makan siang." Jawab Ardhi


Ray tersenyum. Ardhi dan Aya memang selalu menyempatkan untuk nge date seperti ini ditengah-tengah kesibukan mereka. Mereka adalah role mode untuk Ray


Mereka berpisah di lift saat Arion mencegat Ardhi karena ada beberapa berkas yang harus Ardhi tanda tangani segera


Kotak besi itu perlahan membawa Ray turun ke lantai dasar. Beberapa pegawai yang melihat Ray langsung menyapa dan mengangguk hormat pada Ray. Ray hanya mengangguk kecil untuk membalas sapaan para pegawai


Drrt..drrt


HP Ray bergetar. Segera Ray mengangkatnya

__ADS_1


"Hallo.."


Sedetik kemudian mata Ray melotot


***


Zalynda menghela nafas saat keluar dari ruangannya. Terlihat tiga orang berpakaian hitam-hitam berdiri menyebar di pojok ruangan. Wajah dan penampilan mereka sangat tidak ramah, sehingga membuat beberapa konsumen Zalynda menjadi sedikit tidak nyaman


Zalynda menghampiri seseorang yang paling dekat dengan tempatnya berdiri


"Kalian nggak sambil duduk saja?" Tanya Zalynda


Pria itu menggeleng "Terima kasih, nyonya. Kami ditugaskan untuk berjaga di sini "


Zalynda menghela nafas. Gadis itu berjalan menuju ke arah toilet. Sebetulnya di kantornya pun ada toilet, namun Zalynda sekalian ingin mengecek pekerjaan para pegawainya


Zalynda berdecak kesal saat mendengar langkah mengikutinya. Gadis itu berbalik sambil melotot


"Kamu mau ngintip ya?" Tanya Zalynda


"Maaf nyonya, tolong jangan tersinggung. Ini sudah tugas kami." Kata pria itu sambil menggeleng cepat


"Ih nyebelin." Bisik Zalynda. Segera gadis itu masuk ke dalam toilet untuk menunaikan hajatnya.


Setelah selesai, Zalynda mengecek kondisi toilet. Toilet itu cukup bersih dan terawat. Para pegawainya menjalankan tugasnya dengan baik. Zalynda tersenyum sambil mengangguk senang


Senyumnya pudar saat melihat pria berbaju hitam itu masih di depan toilet menunggunya


"Astaghfirullah.." desis Zalynda. Dengan cepat gadis itu pergi menuju ruangannya


"Hey, bu boss."


Zalynda menoleh mendengar suara yang familiar di telinganya. Sagara tersenyum sambil mendekat ke arahnya


"Ray over protective banget.." kata Sagara sambil tertawa pelan


"Jangan tertawa, Gara. Nggak lucu." Kata Zalynda


Sagara melihat ke arah jam. Sebentar lagi jam istirahat dan jam bubar kampus. Trotoar akan sedikit ramai


"Mau ngerjain mereka nggak?" Tanya Sagara pelan


Kening Zalynda berkerut "Maksudnya?"


Sagara mendekat ke arah Zalynda sambil berbisik pelan. Mata Zalynda terbelalak


"Nggak ah, nanti Ray marah.." kata Zalynda pelan


Sagara tertawa "Nggak bakal. Kita cuma mengecoh mereka sebentar. Terus kita putar balik ke sini. Itung-itung ngerjain mereka."


Zalynda menimbang-nimbang sesaat. Kemudian mengangguk pelan.


"Aku ambil tas dulu." Pamit Zalynda


Sagara mengangguk. Pria itu duduk menanti Zalynda sambil tersenyum geli membayangkan wajah-wajah pucat para bodyguard dan Ray. Entah sejak kapan Sagara senang sekali melihat wajah kesal Ray


Tak lama Zalynda datang. Zalynda berbicara dengan pegawainya kalau dirinya akan keluar sebentar


"Siap?" Tanya Sagara


"Ng, sebenarnya.."

__ADS_1


"Ck, come on Za. Kamu nggak mau bales kekesalan kamu emangnya?" Tanya Sagara


Zalynda melirik ke para pria berbaju hitam itu. Mereka menatap Zalynda seolah-olah tidak ingin melepaskan gadis itu. Zalynda mendengkus


"Ayo pergi, Gara."


***


Zalynda dan Sagara berjalan santai keluar dari toko. Ketiga pria berbaju hitam itu mengikuti mereka


"Mereka ikut?" Tanya Sagara


"Pastilah. Capek banget diikutin. Nggak bebas." Kata Zalynda merengut


Sagara tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepalanya "Susah juga ya punya suami over protective."


"Jangan bilang begitu. Ray itu sempurna." Kata Zalynda


"Walau kadang menyebalkan kayak gini." Sambung Zalynda dalam hati


"Iya deh yang di belain." Sagara mengangkat tangannya


Keduanya berjalan pelan di trotoar. Sesuai perkiraan Sagara, trotoar mulai terlihat ramai. Banyak orang-orang berpakaian kantoran atau casual layaknya mahasiswa lalu lalang


"Siap Za?" Tanya Sagara


"Hah?"


"Ayo!"


Sagara menarik tangan Zalynda dan mulai berjalan cepat membaur dengan para pejalan kaki yang lain. Ketiga pria itu dengan cepat mengikuti Zalynda.


Mereka agak kesulitan karena disaat jam istirahat seperti ini, banyak sekali orang-orang yang berjalan di trotoar. Apalagi para pekerja kantoran yang memiliki waktu istirahat mepet. Seakan semua orang tumpah ke jalan


Sagara masih menarik tangan Zalynda membawa gadis itu menelusup ke tengah-tengah kerumunan lalu berjalan cepat berbelok ke sebuah gang.


Sagara menempelkan telunjuknya dan menyuruh Zalynda merunduk. Terlihat ketiga pria berbaju hitam itu sedikit berlari menembus orang-orang, melewati gang tempat Zalynda dan Sagara bersembunyi


"Wah panik nggak? Paniklah, masa nggak." Sagara terkekeh melihat tiga orang berbaju hitam itu makin menjauh


Zalynda masih ngos-ngosan mengatur nafasnya. Namun tak urung gadis itu tertawa.


"Nah, gang ini nanti nembus ke jalan kecil di sebelah sana. Terus kita bisa jalan sendiri dan berputar untuk sampai ke toko kue." Kata Sagara menjelaskan


"Kok kamu tahu jalan ini?" Tanya Zalynda


"Kan aku pernah syuting di daerah ini. Sedikit banyak hafal lah." Kata Sagara. Zalynda mengangguk-angguk


"Tapi, apa nggak sebaiknya aku menghubungi Ray ya? Kasihan kalau mereka dimarahi.." tanya Zalynda sambil melihat ke arah tiga pria berbaju hitam yang makin menjauh menerobos para pejalan kaki


"Ck nggak apa-apa, asal kita segera kembali ke toko. Ayo." Ajak Sagara


DUAAK


"Aargh.."


Tiba-tiba Sagara terjatuh seiring dengan suara pukulan yang cukup keras


"Gara!" Jerit Zalynda saat melihat Sagara tersungkur


Mata Zalynda membola melihat seseorang memegang kayu sambil menyeringai. Tubuh Zalynda langsung bergetar

__ADS_1


"Halo, cantik."


__ADS_2