
"Niel!"
Bu Reema menepuk keras punggung Daniel membuat pria itu mengaduh
"Mama, sakit."
"Kamu ngapain melototin Zalynda kayak begitu?" Tanya bu Reema dengan suara sedikit berbisik. Khawatir Zalynda mendengarnya dari dapur
Bu Reema dengan cepat duduk di sebelah Daniel yang masih memperhatikan Zalynda. Bu Reema menjentikkan jarinya di depan wajah Daniel sehingga pria itu sedikit terkejut
"Apa sih ma?" Gerutu Daniel
"Kamu ngapain ngeliatin Zalynda sampe kayak mau copot matanya? Naksir?!" Tanya bu Reema
Daniel dengan cepat menoleh ke bu Reema dengan pandangan horor "Mama, gadis itu terlalu muda untuk Daniel!"
Bu Reema menghela nafas lega. Jemarinya mengelus pundak Daniel "Syukurlah. Mama sudah khawatir kamu naksir Zalynda. Dia lebih cocok jadi anak kamu ketimbang istri kamu."
Daniel tersenyum kecut "Jangan ngawur ma. Nanti orangtuanya nggak terima lho."
Daniel teringat penemuan Okky dua hari yang lalu. Hatinya kembali berdenyut sakit membayangkan Farah memiliki anak dari lelaki lain
Bu Reema ikut melihat Zalynda yang terlihat cekatan menata hasil masakannya di piring saji. Bu Reema tersenyum saat Zalynda datang menyajikan masakannya
"Sini, ikut duduk disini Za." Kata bu Reema
"Ng, Za masih harus membersihkan peralatan masak bu." Tolak Zalynda. Mata Zalynda melirik ke arah Daniel. Zalynda tahu sejak tadi pria itu melihat dirinya, membuat Zalynda sedikit tidak nyaman
"Ah itu biar bi Mimin yang ngerjain. Kamu duduk disini." Bu Reema sedikit memaksa.
Mau tak mau Zalynda ikut duduk berhadapan dengan Daniel. Zalynda menundukkan wajahnya menghindari tatapan Daniel. Bu Reema yang melihatnya gemas terhadap Daniel. Segera dilayangkan cubitan di lengan pria itu
"Aduuh! Ma, kok nyubit?" Kata Daniel sambil meringis melihat lengannya yang memerah bekas cubitan bu Reema
"Makanya, mata itu biasa aja!" Bisik bu Reema gemas. Daniel hanya menggeleng-gelengkan kepalanya
Bu Reema menyendokkan nasi dan mengambilkan lauk untuk Daniel dan Zalynda, membuat gadis itu menjadi tidak enak dilayani oleh seseorang yang notabene adalah boss nya
"Bu, saya.."
"Jangan menolak rezeki, Za. Ayo kita makan sama-sama." Kata bu Reema. Wanita itupun menyendokkan nasi untuk dirinya dan mengambil lauk di meja.
Ketiganya makan dengan tenang
"Tumben belum berangkat. Biasanya pagi-pagi sudah sibuk." Tanya bu Reema
"Hari ini Jum'at ma. Niel bisa santai sedikit. Bisa memantau dari rumah, kecuali kalau ada panggilan penting baru Niel ke kantor." Kata Daniel sambil melihat lagi ke arah Zalynda yang fokus ke arah piring di depannya
"Wajah saya jelek ya Za?" Tanya Daniel tiba-tiba. Zalynda spontan mendongak menatap Daniel
"Bapak bertanya pada saya?" Tanya Zalynda polos
__ADS_1
Daniel tersenyum "Kamu dari tadi menunduk terus. Nggak mau ngelihat wajah saya karena saya jelek?"
Mata Zalynda membola. Dengan cepat gadis itu menggerakkan tangannya
"Bukan pak, hanya saja.."
"Kamu juga sih Niel ngeliatin Zalynda kayak gimana gitu. Takut deh dia." Gurau bu Reema mencoba mencairkan suasana
Daniel terkekeh, sementara Zalynda hanya mesem-mesem mendengar ucapan bu Reema. Benar, Zalynda merasa tidak enak diperhatikan terus oleh Daniel
"Apa saya sudah bilang kalau kamu mirip dengan seseorang, Za?" Tanya Daniel
"Ya, bapak pernah menyinggungnya awal kita bertemu." Kata Zalynda
"Kalian terlalu mirip. Bahkan sangat wajar ketika orang-orang menganggap kalian ada hubungan darah." Kata Daniel pelan
"Siapa sih Niel?" Tanya bu Reema penasaran
Daniel tersenyum jail ke arah bu Reema "Mau tahu apa mau tahu banget,ma?"
Bu Reema langsung mencubit lengan Daniel "Kamu ih ngerjain orang tua."
Zalynda tertawa kecil melihat bu Reema yang sebal karena dipermainkan oleh Daniel. Daniel pun hanya tertawa saat bu Reema mencubitnya. Bu Reema melihat tawa keduanya, lalu tersenyum
"Kalian kalau tertawa juga mirip kok."
Daniel memudarkan tawanya sementara Zalynda masih tertawa sambil menatap ke arah bu Reema
"Siapa ma?" Tanya Daniel
"Ketawa kalian mirip, mata kalian mirip. Kayak ayah sama anak aja." Ujar bu Reema
Zalynda hanya tersenyum menanggapi omongan bu Reema. Walau ia tidak mengenal sosok ayah sedari kecil, tetapi Zalynda cukup tahu diri untuk tidak memimpikan seorang Daniel Pratama sebagai ayahnya
Lain halnya dengan Daniel merespon ucapan bu Reema. Pria itu kembali menatap Zalynda seksama
"Kapan Farah melahirkan? Apa ada tanggalnya? Bukankah sebelumnya aku selalu menghabiskan waktuku bersama Farah?"
"Za.." panggil Daniel
"Ya pak?" Zalynda mendongakkan kepalanya menatap Daniel
"Berapa usiamu?"
"Usia Za 24 tahun, pak." Kata Zalynda
Dada Daniel bergemuruh, oksigen di sekitarnya tiba-tiba seakan menipis
***
Hari ini Daniel menemukan fakta baru yang entah dirinya harus senang atau sedih.
__ADS_1
Kemungkinan besar, Farah hamil dan melahirkan anaknya bertahun-tahun lalu. Sekarang anak itu berada di hadapannya, sedang bercengkrama dengan bu Reema.
Daniel menghela nafas sambil menutup laptopnya. Okky baru saja memberikan berita kalau Farah memang melahirkan 24 tahun yang lalu. Pas dengan umur Zalynda saat ini
Namun keraguan masih bergelayut di hati Daniel. Setidaknya dirinya harus melakukan tes DNA bersama Zalynda untuk membuktikan bahwa Zalynda adalah putrinya bersama Farah
Daniel kembali menatap Zalynda yang sedang menemani bu Reema merajut sambil bercerita. Senyum Daniel terbit melihat kedekatan keduanya. Tanoa sadar Daniel berjalan mendekati keduanya
"Ngobrolin apa sih seru banget?" Tanya Daniel sambil duduk di dekat bu Reema
"Ini lho Niel, mama nanya tentang suami Za. Dia bilang dulu teman kampusnya." Kata bu Reema terkekeh
"Kamu pernah kuliah?" Tanya Daniel
Zalynda mengangguk pelan
"Selesai?"
Zalynda menggeleng "Tidak pak."
"Kenapa? Apa kamu kekurangan biaya?" Tanya Daniel
Zalynda terdiam. Ia tidak mungkin menceritakan kisah hidupnya pada seseorang yang belum ia kenal betul
"Jangan diungkit masa lalu, Niel. Yang jelas, takdir membawa Zalynda bertemu ibu. Ibu sangat bersyukur akan hal itu." Kata bu Reema bijak sambil menggenggam tangan Zalynda. Zalynda tersenyum hangat
Hati Daniel menghangat melihat senyum Zalynda
"Ngomong-ngomong saya belum pernah ketemu sama suami kamu, Za." Kata Daniel
"Nanti kalau dia jemput, akan Za kenalkan pak."
"Apa dia baik?" Tanya Daniel
Zalynda menoleh ke arah Daniel dengan wajah bertanya
"Suamimu, apa dia baik?" Ulang Daniel
"Dia baik sekali pak." Kata Zalynda tersenyum. Ya, Ray memang selalu baik pada Zalynda. Apalagi semenjak Zalynda menjadi istri Rayhan
"Mama pernah ketemu dengam suami Za. Terlihat banget kok kalau Ehan sayang banget ke Za." Kata bu Reema
"Ehan? Nggak ada nama yang bagus apa ma?" Kata Daniel sambil mengerutkan keningnya. Nama Ehan terdengar cukup aneh di pendengarannya
"Namanya Rayhan, pak." Ucap Zalynda
"Tapi kan dulu dia bilang namanya Ehan. Jadi mama ingetnya nama itu saja. Lagipula apalah arti sebuah nama. Biar namanya aneh, orangnya ganteng. Betul Za?" Goda bu Reema
Zalynda tertawa kecil menanggapi ucapan bu Reema
"Asal dia bisa jadi imam yang baik, sayang pada Za dan bertanggungjawab.. Itu sudah cukup." Kata Daniel ikut tersenyum
__ADS_1
Zalynda menatap Daniel. Bibir gadis itu tersenyum. Zalynda mengangguk pertanda menyetujui ucapan Daniel.
Sepertinya Daniel terpengaruh dengan ucapan bu Reema. Daniel seperti menemukan kesamaan antara dirinya dengan Zalynda. Daniel pun memutar otak bagaimana dirinya bisa segera membuktikan apakah Zalynda benar darah dagingnya atau bukan