CAHAYA BINTANG SURGA

CAHAYA BINTANG SURGA
PART 88


__ADS_3

Diva menimang-nimang handphone nya "Apa jadinya jika rekaman tadi ku edit sedikit. Lalu kukirimkan pada media dengan tema, ayah kandung sempat meniduri anak kandungnya sendiri?"


Mata Zalynda terbelalak "Diva, itu fitnah yang sangat mengerikan!! Kau tahu itu tidak benar!"


Diva tertawa, Anggun juga ikut terkekeh melihat raut ketakutan di wajah Zalynda


"Aku punya teman yang jago editing. Hal itu akan sangat terlihat nyata sekali." Diva berdiri sambil memperlihatkan handphone nya


"Dengan sekali tekan, berita ini akan sampai di tangan teman-teman wartawan. Pasti akan lebih panas. Apalagi membayang wajah pak Ardhi dan bu Aya."


Zalynda menggeram "Aku tidak pernah menjahati kalian. Mengapa kalian sejahat ini padaku?"


Diva memicingkan matanya "Tidak jahat?! Kau memasukkan Papa ke penjara, kau membuat kami di usir dari rumah, kau mengambil posisiku sebagai model utama, kau!!"


Zalynda terperangah. Sepertinya syaraf otak Diva ada yang tidak tersambung dengan benar sehingga gadis itu malah menyalahkan Zalynda atas apa yang menimpanya.


"Diva, aku tidak pernah mengincar posisi model utama. Bunda yang memberikannya. Akupun tidak tahu kasus apa sampai kau diusir dari rumah kakek. Mengenai om Yono.."


Kalimat Zalynda sempat terjeda


"Om Yono pantas mendapatkannya.."


"Kau!!" Anggun kembali menyerang Zalynda namun dihalangi oleh Sumi


"Ma, sudahlah.." kata Diva sedikit keras. Anggunpun menghentikan aksinya sambil mendengus


Diva kembali melihat handphonenya


"Entah dosa apa yang dilakukan Ray hingga bertemu denganmu. Karena kau, keluarga Al Farobi dan keluarga Pratama akan kembali jadi santapan para awak media. Kau memang pembawa sial, Linda.."


Zalynda memejamkan matanya. Kata-kata Diva berhasil kembali melukainya. Perlahan Zalynda membuka matanya menatap tatapan yang penuh kebencian dari Anggun dan Diva. Sumi masih setia memeluk Zalynda, berjaga-jaga agar kedua orang itu tidak kembali menyakiti fisik Zalynda


"Apa yang kau mau?" Tanya Zalynda pelan


Diva mendengkus sambil menatap ke arah Zalynda dengan tatapan merendahkan.


"Tarik semua tuntutanmu pada Papa. Bebaskan Papa."


Zalynda mengerjap perlahan. Kemudian gadis itu mengangguk


"Baik, aku akan bilang pada Ray untuk menarik tuntutannya." Kalimat Zalynda terdengar tidak rela


Diva menarik ujung bibirnya "Setelah itu tinggalkan Ray dan keluarga Al Farobi."


Zalynda tersentak mendengar tuntutan gila Diva. Membebaskan Yono mungkin masih bisa dilakukan, tetapi meninggalkan Ray? Zalynda menggeleng


"Tidak, aku tidak bisa.." kata Zalynda sambil menggeleng


"Disini aku yang menentukan, bukan kau. Aku beri waktu tiga hari. Selama tiga hari itu, kau sudah harus membebaskan Papa dan pergi dari kehidupan Ray." Kata Diva sambil tersenyum licik. Diva dan Anggun berjalan pergi. Baru beberapa langkah, Diva berbalik


"Satu lagi.. kalau kudengar kau menceritakan kejadian hari ini pada seseorang, maka aku tidak perlu menunggu tiga hari untuk menyebarkan video ini."


Diva dan Anggun kembali berjalan keluar dari rumah keluarga Al Farobi, meninggalkan Zalynda yang gemetar dalam pelukan Sumi


"Non.." kata Sumi


Zalynda menatap Sumi sambil menggeleng. Mata gadis itu sudah basah oleh air mata


"Tolong jangan beritahu siapapun ya, Sumi."


"Tapi non.."


Ujaran Sumi terhenti saat Zalynda menempelkan telunjuknya di bibir Zalynda yang bergetar


Sumi hanya mengangguk pelan. Asisten rumah tangga itu hanya melihat punggung Zalynda yang menaiki tangga menuju kamar Ray

__ADS_1


Saat pintu kamar Ray tertutup, Sumi mengeluarkan handphone dari saku roknya.


"Hallo.."


***


Ray menatap Zalynda yang terlihat murung. Matanya mengarah ke televisi namun Ray yakin pikiran gadis itu tengah mengembara. Gadis itupun hanya makan sedikit saat makan malam.


Ray menyentuh tangan Zalynda. Gadis itu sedikit tersentak walau sedetik kemudian Zalynda mampu mengembalikan raut wajahnya dan memberikan senyuman termanis untuk Ray


"Ada apa Za?" Tanya Ray


Zalynda menggeleng pelan. "Tidak ada apa-apa, Ray."


Ray menarik dagu Zalynda agar memandang dirinya


"Aku nggak percaya. Cerita Za, ada yang kau pikirkan?"


Zalynda menggigit bibirnya. Semoga Ray mau mendengarkannya "Aku..aku hanya teringat om Yono."


Rahang Ray sedikit mengetat mendengar Zalynda menyebut nama Yono


"Buat apa kau mengingat-ingat orang yang sudah berbuat jahat padamu, Za?!" Tanya Ray


Zalynda segera mengusap lengan Ray untuk menenangkan pemuda itu


"Bukan begitu Ray..aku sedang berfikir, kalau om Yono berada di penjara lalu bagaimana nasib tante Anggun dan Diva."


Ray mendengkus "Kau memikirkan mereka? Apa saat mereka menjahatimu mereka memikirkan perasaanmu?"


"Ray.."


"Asal kau tahu, Za. Kemarin Papa berhasil mengumpulkan bukti-bukti korupsi Yono secara lengkap di perusahaan Wijaya Group. Hal itu akan menambah masa hukumannya beberapa tahun. Bukan cuma itu, kakek sepertinya sudah kembali ke rumah dan menendang keluar Diva juga tante Anggun."


Zalynda menutup mulutnya. Jadi karena itu pagi tadi Anggun histeris? Pikir Zalynda


Ray mengendikkan bahunya "Entah. Tidak usah memikirkan mereka. Toh saat kamu kabur dari rumah keluarga Wijaya, mereka pun tidak memikirkan dirimu kan."


Sebersit rasa kasihan hinggap di hati Zalynda. Gadis itu juga kembali memikirkan ancaman Diva. Zalynda mengambil tangan Ray dan menggenggamnya. Keduanya saling berhadapan


"Ray, aku punya permintaan.. Berjanjilah kau akan mengabulkannya." Kata Zalynda


"Apa itu.."


Zalynda terlihat ragu, namun ancaman Diva kembali hinggap di pikirannya. Gadis itu menarik nafas untuk menguatkan hatinya


"Tolong bebaskan om Yono.."


Refleks Ray menarik tangannya dari Zalynda membuat gadis itu terkejut


"Kau sadar apa yang kau ucapkan itu Za? Kau meminta aku membebaskan Yono? Apa kau sudah g.." Ray menahan dirinya untuk tidak mengeluarkan kata-kata umpatan di depan Zalynda


"Gak jelas!" Kata Ray akhirnya


"Ray, kumohon. Tante Anggun dan Diva tidak pernah hidup susah sedari dulu. Mereka pasti banyak menderita setelah om Yono masuk penjara. Aku tidak mau mereka menyimpan dendam, cukup sudah. Biarkan berhenti di sini.. Lagipula aku yakin om Yono akan berubah.."


Zalynda menggigit bibirnya. Hatinya pun meragukan kalimat terakhir yang Zalynda ucapkan


Ray menatap tajam ke arah Zalynda. Gadis itu merasa ciut saat melihat mata elang Ray yang menatapnya seolah ingin bertanya, apa yang terjadi


"Besok akan ku proses." Jawab Ray akhirnya. Pemuda itu mendengkus kasar dan beranjak dari ranjang


"Mau kemana?" Tanya Za


"Keluar sebentar, cari angin." Jawab Ray singkat.

__ADS_1


Pemuda itu menutup pintu cukup keras sehingga Zalynda terlonjak kaget.


"Astaghfirullah.." desis Zalynda yang langsung mengelus dadanya


Zalynda bersyukur Ray tidak menanyainya macam-macam.


"Apa ini pertanda kalau aku memang harus meninggalkan Ray?" Pikir Zalynda sedih


Tiba-tiba handphone Zalynda berdering, terlihat nama Diva di layar. Zalynda segera mengangkatnya


"Assalamu'alaykum.."


"Gimana? Ray mau ngebebasin Papa?" Tanya Diva di seberang sana


Zalynda menghela nafasnya "Kata Ray, besok akan di proses."


Terdengar tawa Diva di seberang sana


"Bagus, berarti besok kau harus segera pergi dari Ray."


"Div..aku tidak bisa.."


"Kau mau kusebar video ini?"


"Jangan!" Kata Zalynda cepat


"Kalau begitu segera tinggalkan Ray!"


Diva mematikan handphonenya begitu saja. Zalynda menatap nanar handphonenya


"Allah..apa yang harus aku lakukan?" Bisik Zalynda pelan.


Zalynda membenamkan kepalanya di bantal dan berteriak sepuasnya, menyalurkan kekesalan hatinya karena merasa dirinya tidak berdaya melawan Diva


***


Zalynda menatap punggung Ray yang menjadi imamnya saat tahajud tadi. Tampak Ray sedang asyik berdzikir


"Ray.." panggil Zalynda pelan


Ray menoleh. Pemuda itu segera membalikkan badannya dan duduk bersila, berhadapan dengan Zalynda


"Ya?"


"Ng..hari ini kamu jadi kan menarik semua tuntutan kamu ke om Yono?"


Ray menghela nafas berat. Pemuda itu menatap ke arah Zalynda


"Kamu yakin mau bebasin om Yono?"


Ingin rasanya Zalynda menggeleng. Namun teringat ancaman Diva, membuat Zalynda mengangguk lemah


Ray menarik ujung bibirnya sambil membelai kepala Zalynda yang tertutup mukena putih


"Apa aku pernah bilang kalau aku akan menjagamu, melindungimu?"


Zalynda terkekeh pelan "Kau bilang hal itu setiap hari."


Ray ikut tersenyum. "Sebentar lagi shubuh. Aku berangkat ke mesjid ya."


Zalynda menatap punggung Ray yang beranjak pergi. Ada rasa haru yang membuncah di dada, seolah hari ini adalah hari terakhir gadis itu melakukan sholat berjamaah dengan Ray


Setelah pintu tertutup, Zalynda tergugu dalam biru. Hari ini Zalynda bertekad meninggalkan Ray dan semua orang yang menyayanginya


Adzan shubuh berkumandang. Sebait doa tak lupa Zalynda sematkan di sela menanti iqomah.

__ADS_1


"Semoga semua selalu berbahagia dan mendapatkan lindungan Allah.."


__ADS_2