
Zalynda menatap sisi ranjangnya yang kosong. Bantalnya terasa dingin dan rapi. Malam ini Ray tidak tidur di kamarnya. Tangannya membelai perlahan bantal yang berada di sampingnya
"Kamu marah banget sama aku Ray.." bisik Zalynda dalam hati.
Gadis itu mendesah pelan. Segera Zalynda beranjak pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri bersiap menyambut panggilan cinta Sang Pencipta
Setelah sholat shubuh, Zalynda segera ke dapur untuk membuat minum dan sarapan. Tak berapa lama, Ray pulang dari masjid yang berdiri tidak jauh dari apartemen Gading.
"Assalamu'alaykum.." Sapa Ray saat memasuki apartemen
"Wa'alaykumussalam." Balas Zalynda
Keduanya sejenak saling menatap. Ray segera mengalihkan pandangannya dan pergi ke kamarnya. Zalynda menghela nafasnya. Tak lama Ray keluar membawa pakaian kotornya menuju ruang cuci baju
"Ray, biar ku cucikan sekalian." Tawar Zalynda sambil mengambil pakaian kotor dari tangan Ray dan membawanya ke ruang cuci baju
Ray tidak menolaknya. Kembali pemuda itu kembali ke kamarnya menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda
Blam.. pintu kamar Ray tertutup cukup keras
Zalynda menggigit bibirnya. Ray mengacuhkannya. Airmata dengan cepat berkumpul di matanya. Segera Zalynda menyeka airmatanya dan bergegas membuatkan sarapan untuk Ray, setelah itu bersiap pergi ke rumah bu Reema. Zalynda tidak ingin terlalu lama berada di apartemen dengan situasi cukup canggung
Sarapan sudah tertata di atas meja, Zalynda pun sudah rapi bersiap ke bu Reema. Zalynda pergi ke kamar Ray dan mengetuk pintunya
"Ray, sarapan sudah ada di meja. Aku berangkat ke bu Reema ya."
Tidak ada jawaban dari dalam. Mungkin Ray tertidur. Zalynda segera meninggalkan catatan di meja makan. Setelah itu bergegas pergi
***
Sementara di dalam kamar, Ray sibuk mengumpulkan informasi tentang masa lalu Zalynda. Ray berencana menemui tuan Wijaya dalam waktu dekat ini
"Mengapa tuan Wijaya menyembunyikan kehamilan Farah? Berarti ada kesengajaan dari tuan Wijaya memisahkan Za dari ibu kandungnya." Bisik Ray pelan
Ray kembali melihat tulisan dalam dokumen yang diberikan Ima. Ray membulatkan nama dengan inisial DP di sana
"Za, kamu sudah lama menderita. Sekarang saatnya mengembalikan posisi dan harga dirimu, sayang. Sabar ya." Bathin Ray
Tiba-tiba terdengar suara dari luar pintu kamarnya
"Ray, sarapan sudah ada di meja. Aku berangkat ke bu Reema ya."
Suara Zalynda.
Ray hanya terdiam tanpa niatan membalas ucapan Zalynda. Tidak berapa lama terdengar pintu depan terbuka dan tertutup. Zalynda sudah berangkat. Ray segera menelepon seseorang
"Halo boss." Terdengar suara di seberang
"Halo Sep. Kamu dimana?"
"Asep sudah standby di basement, boss."
Asep adalah supir di Frederick Groups Company dan salah satu orang kepercayaan Ray
"Bagus. Za sudah turun. Kau ikuti Za tanpa ketahuan dia ya. Kalau ada seseorang yang mencurigakan, segera bawa Za pergi." Perintah Ray
"Siap boss." Kata Asep
Ray menutup teleponnya. Walau Ray masih jengkel dengan Zalynda, bukan berarti Ray berhenti memberikan perhatian dan perlindungan untuk Zalynda
Ray beranjak keluar kamar. Di meja makan tersedia tiga tangkup roti tawar dengan isian daging, tomat, selada dan mayones. Kopi kremernya pun lengkap menemani.
Ray melihat tulisan Zalynda di dekat sarapannya
"Maafkan aku, suami ku." Tulis Zalynda di catatan kecilnya.
__ADS_1
Ray menyunggingkan senyumnya
***
Daniel melihat ke bawah dari jendela kamarnya. Zalynda, asisten pribadi bu Reema sudah datang. Gadis itu datang cukup pagi, mungkin di suruh oleh bu Reema
Daniel sedang bersiap untuk pergi ke kantor. Beberapa dokumen dan laptop di bawanya di dalam tasnya
Setelah siap, Daniel segera turun ke lantai bawah. Terdengar suara riang bu Reema bercanda dengan Zalynda. Daniel tersenyum. Setidaknya bu Reema tidak kesepian saat Daniel tidak di rumah
Tercium bau masakan yang sangat menggelitik indra penciuman dan perut Daniel. Pria itu melangkahkan kaki ke ruang makan yang bersebelahan dengan dapur
"Mama.." panggil Daniel
Tampak bu Reema menghampiri putra semata wayangnya
"Kamu sudah rapi. Berangkat pagi hari ini Niel?" Tanya bu Reema sambil menuangkan minuman teh hangat untuk Daniel
"Ya ma. Kemacetan Jakarta bikin stress. Niel ingin tidak terlambat sampai di kantor."
Bu Reema mengangguk "Tapi makan dulu. Za, segera siapkan makanan di meja."
"Ya bu." Terdengar suara Zalynda dsri dapur.
Zalynda datang membawa sepiring beef spaghetti dengan keju parmesan di atasnya
Daniel terpaku tidak percaya melihat Zalynda. Bukan karena penampilan gadis itu, melainkan pada gelang yang melingkar di pergelangan tangan Zalynda
Daniel segera meraih tangan Zalynda dan mendekatkan gelang itu dalam jarak penglihatannya
"Aah, pak." Zalynda terkejut dan berusaha menarik tangannya. Namun tenaga Daniel lebih kuat
"Darimana kau dapat gelang ini?!" Tanya Daniel keras
Daniel tercekat. Ibunya? Ibunya dia bilang?
"Niel!" Kata bu Reema keras. Namun Daniel tidak mendengarnya. Pikirannya berputar ke memori puluhan tahun, sebuah kenangan yang tidak terlupakan bersama Farah
Bagai sebuah film yang diputar, semua kilas memorinya terbayang jelas
"Ini aku buatin gelang. Ada tulisan nama kamu di dalamnya."
"Bagus banget, Daniel."
"Iyalah, nggak ada yang punya. Hadiah kelulusan buat kamu."
"Terima kasih ya."
Masih terbayang dan terngiang jelas suara Farah di telinga Daniel. Bagaimana gadis itu tertawa, menggoda, bahkan tertidur dalam pelukannya
"Daniel, ayo cepat."
"Daniel, kemari."
"Daniel.."
"Daniel.."
"Niel!!"
Suara bu Reema menyadarkan Daniel dari lamunannya.
"Eh, ya mama?"
"Itu, tolong lepasin." Kata bu Reema sambil menunjuk tangan Daniel yang memegang tangan Zalynda
__ADS_1
Terlihat raut ketakutan di wajah Zalynda. Daniel tersadar. Pria itu segera melepaskan genggaman tangannya. Zalynda segera menarik tangannya dan pergi ke dapur
"Tidak mungkin.." bisik Daniel. Pria itu perlahan duduk di kursi
"Kamu kenapa Niel? Kok kelihatan pucat? Kamu sakit?" Tanya bu Reema khawatir. Tangannya menyentuh kening Daniel
"Nggak panas." Gumam bu Reema
Daniel segera melepaskan tangan bu Reema dari dahinya
"Mama, Niel nggak apa-apa kok." Kata Daniel sambil tertawa kecil
"Kamu aneh banget ngeliatin Za tadi. Ada apa?"
Daniel menggeleng. Zalynda kembali datang membawa sepiring spaghetti untuk bu Reema
"Za.." panggil Daniel saat melihat Zalynda bersiap kembali masuk ke dapur
"Ya pak?"
"Duduklah, temani kami makan." Kata Daniel
Raut wajah Zalynda tampak bingung. Gadis itu melirik ke arah bu Reema
"Iya, biasanya kamu nemenin saya makan. Ayo bawa piringmu, kita makan sama-sama pagi ini." Kata bu Reema
Karena didesak terus menerus, Zalynda akhirnya membawa piringnya dan makan bersama bu Reema dan juga Daniel.
Daniel memperhatikan Zalynda yang makan dengan tenang di depannya
"Za.." panggil Daniel. Gadis itu mengangkat wajahnya
"Ya pak?"
"Siapa nama ibu kamu?" Tanya Daniel
Kening Zalynda berkerut. Mengapa banyak orang yang bertanya siapa nama ibunya
"Rina, pak."
Kali ini ganti kening Daniel yang berkerut. "Ayahmu?"
Zalynda menunduk sambil menggeleng. Bu Reema menghela nafas panjang
"Za ini sudah sejak kecil hanya tinggal berdua dengan ibunya. Setelah ibunya meninggal, Za ikut kakeknya, lalu ketemu mama. Akhirnya bekerja di sini." Bu Reema menimpali
Daniel kembali menatap Zalynda.
"Nama ibunya Rina? Kenapa bukan Farah? Kenapa dia bisa pakai gelang Farah?" Bisik Daniel dalam hati
Daniel yakin seyakin-yakinnya kalau gelang bulat bermutiara biru itu adalah hadiah pemberiannya untuk Farah di hari kelulusan SMA. Daniel memesan khusus di toko perhiasan langganan bu Reema
Hanya ada satu cara mengetahuinya
"Boleh saya lihat gelang kamu?" Tanya Daniel
"Gelang saya?" Zalynda membeo. Tatapan gadis itu seperti keberatan
"Iya, jangan takut. Saya nggak akan bawa kabur kok." Kata Daniel sambil tertawa
Zalynda tersenyum kecil. Gadis itu melepaskan gelangnya dan memberikan ke Daniel. Daniel meneliti gelang Zalynda. Persis sama dengan yang ia hadiahkan untuk Farah dulu
Mata Daniel terpaku pads tulisan halus yang berada di dalam gelang tersebut
Farah Afriyani Wijaya
__ADS_1