
Sayup-sayup terdengar gema adzan shubuh nun jauh di sana. Ray mengerjapkan matanya memaksakan diri untuk bangun dari tidurnya. Tubuhnya terasa sedikit pegal karena tertidur di kursi ruang tunggu ICU. Ray merentangkan tangannya untuk merenggangkan otot-otot tubuhnya yang terasa penat.
Ray terduduk sebentar untuk benar-benar terbangun, lalu segera melangkahkan kaki menuju musholla rumah sakit yang terletak di lantai bawah.
Setelah sholat shubuh tertunaikan, Ray mencoba menenangkan hatinya membaca beberapa lembar Al Quran yang ada di mushola rumah sakit.
Saat ini Ray berusaha merayu Allah, Rabb Semesta Alam untuk memberikan keselamatan dan kesembuhan pada Zalynda. Permintaan yang sangat sederhana..
Hati Ray terasa tenang setelah membaca beberapa lembar Al Quran. Ray yakin, Allah akan mengabulkan doa-doanya. Ray melirik jam, sudah hampir setengah ensm pagi. Ray segera kembali ke ruang tunggu ICU setelah sebelumnya membeli kopi dan roti di kafetaria yang buka 24 jam
Kembali Ray melihat ke dalam ruangan ICU dari balik kaca. Kondisi Zalynda masih tetap sama. Wajah gadis itu terlihat tenang seperti tertidur pulas. Hanya beberapa alat terpasang di tubuhnya yang menandakan gadis itu tidak baik-baik saja. Ray menempelkan telapak tangannya di kaca seolah sedang membelai Zalynda
"Shubuh, Za.. Bangun, nanti telat." Bisik Ray sambil tersenyum sedih.
Drrrt..drrrt…. Handphone Ray bergetar. Ray melihat nama Marvin di layar
"Halo,Vin."
"Ray, elo udah lihat link yang gue kirim?" Tanya Marvin di seberang sana
"Link apa? Gue belum buka hp." Kata Ray
"Elo lihat ya. Ntar gue telepon lagi."
Marvin mematikan sambungan teleponnya. Ray segera mengecek beberapa pesan yang dikirimkan Marvin semalam. Beberapa link yang menghubungkan dengan berita online
Kening Ray berkerut melihat beberapa tajuk berita yang terbaca
"Hot news! Rayhan Putra Farobi telah menikah siri dengan seorang gadis club XX."
"Preety Woman abad Milenial : Gadis Club XX dipinang Pangeran kerajaan bisnis Frederick Groups Company."
"Dikira Cupu Ternyata Suhu! Rayhan Putra Farobi sering hang out di Club XX."
"Menentang Restu, Nyonya Al Farobi jatuh sakit."
Ray menghela nafas geram. Beberapa pembuat berita itu bahkan tidak pernah menanyakan kebenaran yang mereka tulis. Mereka hanya bersumber dari cerita-cerita orang saja
Drrrt..drrt.. handphone Ray kembali bergetar. Ray segera mengangkatnya
"Ya Vin, gue baru baca."
"Gimana? Elo mau konferensi pers untuk meluruskan berita ini? Ntar gue atur.."
"Gue nggak peduli untuk saat ini Vin. Elo bisa atur nggak supaya ayah bunda nggak lihat berita itu?"
"Ntar gue sortir koran dan majalah yang masuk ke kantor. Kalau berita online gue coba minimalisir supaya om Ardhi nggak usah buka-buka internet dulu.."
"Ok, thanks bro."
Keduanya terdiam
"Elo baik-baik aja kan bro?" Tanya Marvin khawatir.
Ray mendesah pelan "Gue lagi nggak baik-baik aja Vin. Zalynda kecelakaan, sekarang dia lagi di ICU."
"Ya Tuhan! Gue ke sana sekarang. Share lock ya bro."
Marvin mematikan sambungan teleponnya. Ray memejamkan mata sambil memijat keningnya. Ray tidak mempedulikan berita-berita yang menyerang dirinya. Ray lebih khawatir berita itu terbaca oleh ayah bundanya.
Drrrt..Drrt.. kembali handphonenya bergetar. Kening Ray berkerut melihat nama yang tertera memanggilnya
__ADS_1
"Assalamu'alaykum, ayah."
"Wa'alaykumussalam, bang. Kamu dimana?"
Ray menghela nafas. Ardhi pasti mengecek kamarnya setelah tahu dirinya tidak ikut sholat berjamaah di mesjid seperti biasa
"Abang di rumah sakit, ayah."
"Apa? Kamu kenapa di rumah sakit?" Terdengar nada khawatir dari Ardhi
"Zalynda kecelakaan.."
***
Ardhi sudah bersiap untuk pergi ke masjid menunaikan sholat shubuh berjamaah saat melihat Ian dan Endra sudah berada di ruang keluarga
"Bang Ray mana?" Tanya Ardhi
"Tadi Ian ketok kamarnya, tapi nggak ada jawaban Yah."
Ardhi menghela nafas. "Ya sudah, mungkin masih di kamar mandi. Biar nanti bang Ray nyusul. Kita berangkat sekarang."
Ketiganya segera berangkat menunaikan kewajiban shubuhnya di masjid.
***
Grandfather clock di ruang tengah menunjukkan pukul setengah enam pagi. Aya terlihat duduk di bangku taman menikmati udara pagi dan harumnya bunga mawar
"Sayang, kamu masih harus istirahat. Ayo masuk." Kata Ardhi sambil menyentuh pundak Aya dari belakang
Aya menoleh dan tersenyum "Aku sudah lebih sehat, beib. Tidurku semalam pulas."
"Ray! Keluar kamu!!" Terdengar suara ribut-ribut
Aya mengerutkan keningnya sambil memandang Ardhi yang juga terlihat terkejut
"Sayang, kamu di sini saja ya." Kata Ardhi sambil pergi ke ruang depan.
Di ruang tamu terlihat Daniel sedang berteriak marah. Ian dan Endra berusaha menahan Daniel agar tidak membuat keributan
"Hey! Apa kau tidak tahu adab bertamu?!" Teriak Ardhi keras
Daniel menoleh ke arah Ardhi. Dengan sekali hentakan, pegangan Ian dan Endra terlepas. Daniel langsung berjalan ke arah Ardhi
"Kau! Katakan dimana Ray?!"
"Apa urusanmu dengan putraku?" Tanya Ardhi tenang, berusaha tidak terpancing emosi
Daniel menyodorkan handphonenya. Terlihat ada beberapa portal berita yang memuat kejadian semalam. Ardhi membaca semua dengan seksama
"Ray tahu Zalynda wanita baik-baik. Ray tahu kenapa Zalynda berada di club XX. Tetapi kenapa Ray tega membiarkan orang-orang itu menulis hal-hal buruk tentang Zalynda?!" Ucap Daniel keras
"Beib.." Aya sudah berada di belakang Ardhi membuat Ardhi sedikit terkejut
"Sayang, aku sudah bilang kau tunggu di taman." Ardhi sedikit kesal melihat Aya tidak menurutinya
"Daniel Pratama?" Aya langsung mengenali Daniel. Daniel menarik ujung bibirnya
"Maafkan aku tidak berbasa-basi denganmu, nyonya. Aku kemari untuk menemui Ray dan membawa Zalynda bersamaku." Kata Daniel
Kening Ardhi berkerut "Apa hubunganmu dengan Zalynda?"
__ADS_1
"Zalynda adalah putriku Ardhi, dan aku tidak akan biarkan seorangpun menyakitinya. Aku akan membawanya pergi dan akan mengurus perceraian Zalynda dengan Ray secepatnya."
Aya menutup mulutnya. Apa-apaan ini, semuanya serba mendadak dan penuh kejutan. Endra dengan sigap memeluk Aya dan mengajaknya duduk
Ardhi menatap Daniel dalam. Daniel serius tenyata. Ardhi menoleh ke arah Ian
"Yan, panggil abang ke sini."
"Ya, ayah."
Ian segera berlari ke atas. Tak lama pemuda itu turun sambil membawa sebuah kotak dengan pita berwarna merah
"Abang tidak ada dikamar, yah. Ian nemuin ini di kamar abang."
Wajah Ardhi terlihat pias saat melihat isi kotak dan membaca secarik kertas tulisan Zalynda. Segera Ardhi mengambil handphonenya dan menghubungi Ray. Beberapa kali deringan, akhirnya Ray mengangkat telepon Ardhi
"Assalamu'alaykum, ayah." Jawab Ray di seberang sana
"Wa'alaykumussalam, bang. Kamu dimana?"
Terdengar Ray menghela nafas "Abang di rumah sakit, ayah."
"Apa? Kamu kenapa di rumah sakit?"
Aya sontak menatap Ardhi sambil berkata pelan "Ray di rumah sakit?"
"Zalynda kecelakaan.."
"Innalillahi.." Bisik Ardhi pelan, khawatir Aya mendengarnya
"Ayah ke sana. Kirim lokasi alamat rumah sakitnya ya bang. Assalamu'alaykum." Ardhi segera menutup teleponnya dan segera menyambar kunci mobil
Aya langsung berdiri di bantu Endra "Beib, Ray kenapa?"
Ardhi menghentikan langkahnya sembari berbalik menatap Aya. Ardhi menghela nafas berat
"Sayang, kamu tenang ya. Jangan berfikir macam-macam dulu. Aku mau ke rumah sakit.."
"Beib! Jawab, ada apa?!" Desak Aya
Ardhi menghela nafasnya
"Zalynda kecelakaan.."
"Ya Allah.." Aya memekik sambil menutup mulutnya
"Apa?! Dimana?" Tanya Daniel panik
"Ayo ikut aku. Sayang, kamu di rumah ya. Doakan semuanya baik-baik saja. Yan, Endra, tolong jaga bunda." Kata Ardhi sambil menyerahkan kotak hitam dengan pita merah itu ke Aya
"Baik Ayah." Jawab Ian dan Endra kompak
Ardhi dan Daniel segera pergi ke rumah sakit. Aya terduduk di sofa sambil membuka kotak yang diberikan Ardhi tadi
Matanya berkaca-kaca saat melihat hasil testpack dan membaca secarik kertas yang berada di dalamnya.
Teringat tadi malam Aya begitu emosi hingga mendorong Zalynda dan mengeluarkan kata-kata pedas untuk gadis itu. Teringat gadis itu menangis sesenggukan tanpa membantah tiap tuduhan yang diberikan
Air mata Aya mengalir deras seiring dengan penyesalan yang timbul
"Apa yang telah aku lakukan.." bisik Aya pelan
__ADS_1