CAHAYA BINTANG SURGA

CAHAYA BINTANG SURGA
PART 32


__ADS_3

"Lela?"


Nama itu terus berputar-putar di benak Daniel. Kembali pria itu mengingat-ingat, tetapi memang tidak ada teman Farah dulu yang bernama Lela.


"S**t!" Daniel memukul setir mobilnya. Dimana dia bisa menemukan Farah kalau begitu.


Tanpa Daniel rencanakan, mobil Daniel terus melaju hingga terparkir tepat di depan sebuah rumah. Rumah keluarga Wijaya.


Daniel menurunkan kacamata hitamnya dan menatap rumah itu dari seberang. Tidak ada yang berubah. Persis sama seperti dahulu, hanya saja sekarang dindingnya lebih kusam dan pagarnya terlihat mengelupas


Daniel mendesah. Teringat kata suster penjaga kalau keluarga Wijaya menunggak 6 bulan pembayaran rumah sakit.


"Apa mungkin om Wijaya sedang kesulitan keuangan?" Bathin Daniel sambil menatap rumah keluarga Wijaya


Tak lama sebuah mobil hitam memasuki gerbang rumah keluarga Wijaya. Daniel hafal betul mobil itu, karena mobil itu milik Farah


Daniel segera turun dan mengendap-endap ke arah rumah keluarga Wijaya. Daniel mengintip ke dalam gerbang. Tampak seorang lelaki, wanita dan gadis muda keluar dari mobil. Dahi Daniel berkenyit.


"Siapa mereka?" Gumam Daniel


***


Yono, Anggun dan Diva bergegas memasuki rumah keluarga Wijaya dengan membawa banyak tentengan belanja


"Papa, makasih ya udah dibeliin macem-macem." Kata Diva sambil memeluk Yono erat


Yono hanya mesem-mesem. Biasanya putrinya ini hanya baik bila ada maunya atau sudah dipenuhi berbagai macam permintaannya.


"Ijaah!" Teriak Anggun mencari pelayan tuan Wijaya


"Ijaaaah!" Panggil Anggun lagi karena Ijah tidak kunjung datang.


"Ma, jangan teriak-teriak terus. Coba lihat ke kamar Om Wijaya. Mungkin si Ijah lagi ngurusin Om." Kata Yono yang merasa risih mendengar teriakan istrinya


Anggun mendengus kesal. Segera Anggun pergi ke kamar tuan Wijaya.


BRAAK


Anggun membuka pintu dengan kasar. Terlihat Ijah sedang membersihkan bekas makanan tuan Wijaya yang berceceran. Anggun mengenyit jijik


"Maaf nyonya, tuan belum makan dari pagi. Jadi saya suapi dulu." Kata Ijah sambil menunduk


"Trus ini kenapa bisa tumpah-tumpah gini?!" Bentak Anggun sambil menatap tajam ke arah tuan Wijaya


"Tuan kaget dengar teriakan nyonya. Tadi tuan hendak melatih tangannya untuk makan sendiri.."


"Alaah, sok sok melatih tangan. Kalau lumpuh, lumpuh aja deh om!" Bentak Anggun


"Ma! Jaga bicaramu." Kata Yono yang sudah berada di belakang Anggun. Anggun mendengkus kesal


"Kita masih butuh om Wijaya, untuk menandatangani setiap uang yang keluar dari perusahaan." Kata Yono dengan seringai liciknya

__ADS_1


Kata-kata Yono disambut dengan tawa Anggun


"Iya sih Pa. Tapi kalau bisa cepet deh urus pemindahkuasaan perusahaan ke tangan Papa." Kata Anggun sambil bergelayut manja di bahu Yono


Yono terkekeh lalu membawa Anggun keluar dari kamar tuan Wijaya. Tuan Wijaya hanya mengamati keduanya dengan perasaan marah dan sedih


Sepertinya Tuhan masih ingin menghukumnya atas dosa-dosanya di masa lalu.


24 tahun lalu, tuan Wijaya kehilangan Farah. Empat tahun lalu, tuan Wijaya kehilangan Zalynda. Setahun lalu tuan Wijaya mendapat berita Farah dibawa oleh seseorang dari Rumah Sakit Jiwa. Perusahaannya pun sedang mengalami jatuh bangun


Dua hari yang lalu tiba-tiba tangan dan kaki kirinya tidak bisa digerakkan. Mulutnya pun miring ke kiri sehingga ia tidak bisa bicara sempurna. Dokter mengatakan stroke yang dialami tuan Wijaya karena stres berkepanjangan


Bukan hanya stres. Mungkin juga rasa bersalah yang menghantuinya karena memisahkan seorang anak dari ibunya


Air mata tuan Wijaya meluruh di pipinya yang keriput. Ijah, pelayan tuan Wijaya yang sudah lama mengikuti tuan Wijaya hanya bisa memandangi tuannya dengan sedih.


"Tuan yang sabar ya.." hibur Ijah


***


Zalynda meremas kotak yang dibawanya. Tangannya terasa dingin saat mobil Ray memasuki pekarangan rumah keluarga Al Farobi


Ray melihat kegugupan Zalynda mencoba menenangkan gadis itu dengan meremas tangannya. Zalynda menoleh menatap Ray


"Jangan nervous. Ada aku." Kata Ray sambil tersenyum


Zalynda ikut tersenyum. Ray keluar dari mobilnya dan berjalan mengitari mobil untuk membukakan pintu Zalynda. Dress yang Zalynda kenakan adalah pilihan Ray. Dress printed lace motif bunga-bunga kecil warna pink di bawah lutut dengan potongan pinggang yang pas untuk pinggang ramping Zalynda


"Ray..aku grogi." Bisik Zalynda


Ray tersenyum sambil memeluk pinggang Zalynda.


"Ayo, Za."


Keduanya segera berjalan memasuki rumah keluarga Al Farobi.


"Assalamu'alaykum.." Ray mengucapkan salam saat memasuki rumah.


Terlihat Ian dan Endra sedang bermain video game di TV ruang keluarga. Hari minggu begini, hiburan kedua jomblo itu tidak jauh-jauh dari video game


"Wa'alaykumus..salam.." Ian terperangah melihat Ray datang membawa sosok cantik di sebelahnya


"Napa lu bang? Kayak liat..wooow." Endra pun ikut terpana. Bukan hanya karena kehadiran Zalynda, tetapi lebih kearah takjub karena Ray Eagle si kanebo kering datang menggandeng wanita cantik


"Wa'alaykumussalam. Masuuk bang Ray, kak Za." Sambut Ina yang sudah lebih dulu datang. Ina segera bercipika cipiki dengan Zalynda


"Andre mana Na?" Tanya Ray


"Ada di samping, lagi nyiapin barbeque sama ayah." Kata Ina


"Bunda?" Tanya Ray lagi

__ADS_1


"Abang.."


Suara lembut Aya langsung membuat Ray memalingkan wajahnya mencari sumber suara itu. Senyumnya melebar melihat Aya merentangkan tangan menyambutnya. Ray pun segera memeluk Aya dan mengecup pipinya


"Kamu sibuk banget ya bang sampe jarang pulang ke rumah?" Tanya Aya sambil membelai rambut hitam Ray


"Maaf ya bunda. Ng, kenalin.." Ray menarik Zalynda dengan lembut ke hadapan Aya


Aya menaikkan satu alisnya. Aya kenal betul putra sulungnya yang merupakan duplikat Ardhi. Ray tidak sembarangan memegang seorang wanita, kecuali…


"Ini Zalynda." Kata Ray


Zalynda mengulurkan tangannya ke hadapan Aya. Aya mengamati wajah Zalynda. Rasanya Aya seperti pernah bertemu seseorang yang mirip dengan Zalynda


"Bunda.." panggil Ray saat uluran tangan Zalynda tidak bersambut


"Ah iya. Kamu temannya Ray?" Tanya Aya sambil menyambut uluran tangan Zalynda


"Iya, nyonya.." kata Zalynda sambil tersenyum


"Teman hidup.." sambung Zalynda dalam hati


"Rasanya, saya pernah lihat kamu. Tapi..dimana ya?" Aya terlihat berfikir


"Ng, saya pernah mengantarkan cupcakes kesini nyonya. Waktu saya masih magang di toko bu Edah."


"Ooh iya iya." Aya mengangguk


"Bunda, ini Za bawakan kue buatan Zalynda." Kata Ray sambil menyerahkan kotak yang dibawa Zalynda


Ian dan Endra segera ikut menghampiri.


"Deeh, denger kue aja baru mendekat." Cibir Ina pada dua adiknya


"Kak Ina apaan sih, Endra kan mau kenalan sama kakak cantik ini." Kata Endra sambil mengulurkan tangannya ke arah Zalynda yang langsung disambut Zalynda


Ian langsung mencomot chocolate eclairs yang dibawa Zalynda tanpa malu-malu


"Eh, enak banget. Ini kak Za buat sendiri?" Tanya Ian


Zalynda mengangguk


"Rasanya..mirip kayak di toko bu Edah." Ucap Aya sambil merasakan chocolate eclairs buatan Zalynda


"Jelas mirip bunda. Kan yang buat di toko itu Za." Kata Ray sambil memandang Zalynda bangga. Zalynda tersipu-sipu


Mata Aya berbinar mendengar kalau gadis dihadapannya ternyata pandai membuat kue


"Waah, ayo sini Za ikut saya. Kita ngobrol sambil makan kue." Kata Aya sambil menarik Zalynda menuju taman samping


Zalynda sempat ragu sambil menatap Ray. Ray mengangguk mengkode agar Zalynda mengikuti Aya. Zalynda menurut

__ADS_1


Ray melihat Aya dan Zalynda langsung terlibat obrolan seru. Bibir Ray tersenyum lebar


__ADS_2