
Rasanya baru saja Ray memejamkan mata. Sepertinya memejamkan mata sebentar cukup efektif. Ray menggeliat lalu merentangkan tangannya
"Tunggu..ini tempat tidur?"
Pikiran Ray dengan cepat kembali ke alam nyata. Mata pemuda itu terbuka lebar. Segera syaraf-syaraf otaknya terhubung memindai tempatnya berada. Ray menyadari dirinya ada di sebuah kamar. Kamar hotelnya
Perlahan mata Ray mengerjap mengumpulkan memorinya. Seingat Ray, dirinya sedang makan bersama Agus dan Alin. Lalu rasa kantuk menyerangnya. Perlahan pemuda itu mencoba duduk sambil mengusap-usap wajahnya
"Apa yang.. Astaghfirullah!!"
Ray terkejut saat mendapati dirinya seperti bayi yang baru lahir. Tidak ada pakaian yang menempel di tubuhnya. Pantas rasanya dingin tadi. Ray mengeratkan selimut yang membungkus tubuh bagian bawah nya
"Ray.."
Suara itu bagaikan suara petir yang mengagetkan Ray. Pemuda itu terkesiap dengan wajah pucat. Perlahan Ray menoleh ke sampingnya.
Mata Ray membola melihat seorang gadis dengan keadaan yang kira-kira sama dengan dirinya. Gadis itu bangkit sambil membalutkan selimut ke tubuhnya hingga hanya terlihat kulit bahunya
"Kamu sudah bangun?"
Meski suara gadis itu lembut namun bagi Ray serupa suara kehancuran. Bibirnya yang tersenyum manis seakan begitu menakutkan untuk Ray
"Ada apa?" Tanya gadis itu sambil berusaha menyentuh pipi Ray. Ray berkelit hingga tangan gadis itu menggapai angin
"Sedang apa kau disini, Alin?!" Tanya Ray dingin
Mata Alin menyipit mendengar pertanyaan Ray
"Sedang apa? Kamu lupa apa yang kita lakukan semalam?" Tanya Alin dengan suara bergetar
Ray menatap horor Alin sambil menggeleng kuat-kuat. Dirinya hanya ingat berada di restoran, terserang kantuk dan tiba-tiba sudah berada di kamar hotelnya
Air mata Alin tumpah melihat Ray yang menolaknya. Gadis itu menatap gusar
"Semalam kau meminta diantar ke hotel karena kau mengantuk saat Agus pergi ke kamar mandi! Aku pun mengantarmu, setelah sampai di kamar tiba-tiba kau menarikku dan.." Alin menutup wajahnya sambil terisak-isak
Rahang Ray mengetat. Dirinya sama sekali tidak mengingat apapun seperti perkataan Alin. Gadis itu pasti berbohong!
"Walau aku bukan pria religius, namun aku dibesarkan dalam tatanan norma dan agama. Dalam sadarku, aku tidak akan menyentuh wanita yang tidak halal untukku!"
Alin mengangkat wajahnya yang sudah berurai air mata. Mata itu menyorot tajam
__ADS_1
"Ya, kau tidak sadar! Kau menyeretku ke tempat tidur, bahkan menggauliku berkali-kali!" Jerit Alin
"Bohong!!"
Aku membuka selimutnya menampakkan tubuh atasnya yang terbuka. Ray langsung membuang wajahnya ke samping
"Lihatlah! Apa mungkin aku mencium tubuhku sendiri?! Siapa pelaku yang bisa memberikan tanda-tanda seperti ini kalau bukan kau?!" Kata Alin keras sambil menunjukkan beberapa tanda merah di kulit leher dan sekitar dadanya
Ray mengepalkan tangannya. Dirinya yakin kalau tidak melakukan apa yang Alin tuduhkan, tetapi Ray tidak memiliki bukti apapun. Otaknya pun serasa beku tidak dapat berfikir
Pemuda itu berbalik dan meraih baju serta celananya yang berserak di dekat ranjang kemudian memakainya cepat. Ray mengambil baju ganti dan berjalan menuju kamar mandi tanpa memperdulikan Alin yang memanggilnya. Ray butuh mandi untuk membersihkan dirinya
Di dalam guyuran shower, Ray menangis. Selama hidup tidak pernah dirinya merasa sehina ini, melakukan zina. Ray segera mandi untuk menjawab panggilan Tuhan Semesta Alam
Alin menoleh saat melihat Ray keluar dari kamar mandi dengan kaos serta celana panjang. Tubuh Ray yang terbalut kaos dengan otot-otot lengan yang menyembul di lengannya membuat Alin menelan saliva
Ray tidak menggubris keberadaan Alin. Segera di rentangkan sajadahnya dan melaksanakan sholat isya terlebih dahulu karena Ray ingat belum melakukan sholat isya semalam. Setelah beres barulah Ray melanjutkan menunaikan kewajiban shubuhnya
Dalam untaian doa yang dipanjatkan, Ray bermohon ampunan atas segala dosa dan kelalaiannya menjaga diri. Ray juga memohon agar Allah membukakan pintu kebenaran untuk dirinya
Selesai sholat, Ray menghampiri Alin dan berkata dengan nada dingin
"Segera pakai pakaianmu dan pulanglah!"
"Kau benar-benar tega, Ray!" Kata Alin lagi, kali ini suara Alin terdengar sedih. Gadis itu kembali terisak
Ray memejamkan matanya. Ucapan Alin kembali'menampar nya seolah diri Ray tak ubahnya seperti pria b******k di luaran sana
"Mandi saja, lalu segera sholat shubuh. Aku akan datang lagi jam enam untuk mengantarmu pulang."
Ray segera menyambar dompet dan handphone nya lalu keluar dari kamar hotelnya. Rasanya sesak berada dalam kamar itu
Kaki Ray melangkah membawa pemuda itu kearah pantai. Angin pantai sejuk penerpa. Langit mulai sedikit terang. Ray terduduk di pasir lalu menyalakan handphone nya
Terlihat beberapa pesan dari Zalynda yang menanyakan kabarnya. Salah satu pesan menampilkan foto gadis itu sambil memeluk bantal dengan tulisan "Amat merindukan suamiku."
Hati Ray perih melihat foto Zalynda. Apa yang harus Ray katakan pada Zalynda. Gadis itu akan sangat kecewa dan sakit hati.
"Maafkan aku, Za.." bisik Ray sambil membelai foto Zalynda
***
__ADS_1
"Aku lapar, Ray.."
Ray tidak menggubris keluhan Alin yang duduk di sebelahnya. Ray menyewa sebuah mobil dari hotel tempatnya menginap untuk mengantarkan Alin pulang
"Kau tidak dengar? Aku lapar Ray. Tenagaku terkuras banyak setelah percintaan kita semal..aaw!"
Ray mendadak menginjak rem sehingga Alin terdorong membentur dashboard. Untung saja saat itu Ray mengendarai mobilnya dengan kecepatan rendah, namun tetap saja Alin merasa sedikit nyut-nyutan
"Raay.." kata Alin sedikit manja
Ray keluar dari mobil tanpa berkata apapun. Pemuda itu memasuki sebuah minimarket yang sudah beroperasi sepagi ini. Tak lama Ray keluar membawakan sebotol air mineral dan roti
"Makanlah." Kata Ray sambil kembali melajukan mobilnya
Alin mengulum senyum melihat perhatian Ray. "Terima kasih.."
"Makan, dan diamlah." Ujar Ray dingin, membuat bunga-bunga yang hendak mekar di hati Alin kembali menguncup
Pemuda itu masih fokus menatap jalan raya. Keduanya tidak berbincang-bincang selama perjalanan. Mereka pun sampai di depan rumah Alin
"Kau mau turun?" Tawar Alin
Ray menggeleng tanpa melihat ke arah Alin. Ray segera turun dan membukakan pintu untuk Alin. Saat itu keduanya saling berpandangan
"Kita akan bertemu lagi?" Tanya Alin berusaha menggenggam tangan Ray namun Ray menepisnya membuat Alin terkejut
"Tidak! Pekerjaan kita selesai sampai di sini. Semua yang kau katakan itu dusta. Aku tidak pernah menyentuh dirimu, dan akan kubuktikan. Kau salah memilih teman bermain, nona Marlina!" Jawab Ray dingin.
Alin menelan salivanya, gugup dengan sorot mata Ray yang terlihat marah. Ray segera masuk ke mobilnya dan pergi dari rumah Alin
Alin memandangi mobil Ray hingga menghilang. Gadis itu memudarkan senyumnya dan berdecih
"Cih, sebelum kau bertindak maka aku akan lebih dulu bertindak. Kita lihat saja, Rayhan Putra Farobi."
Catatan kecil :
Adapun jika ada seseorang yang lupa atau tertidur sehingga tidak bisa melaksanakan shalat, maka ia wajib melaksanakan shalat yang tertinggal yang disebabkan oleh lupa atau tertidur, (yaitu) segera saat ia ingat. Berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
Barang siapa yang lupa mengerjakan satu shalat atau tertidur, maka hendaklah ia mengerjakannya saat ia ingat. Tidak ada denda baginya, kecuali itu.
(HR Imam Muslim dalam kitab shahîhnya, 1/477, dari hadits Anas bin Mâlik radhiallahu’anhu)
__ADS_1
Jika dia terbangun dari tidurnya atau teringat, maka hendaklah bergegas melaksanakan shalat yang tertinggal, kapanpun ia ingat atau terbangun. Dalam kejadian yang ditanyakan di atas, maka ia harus melaksanakan shalat Isyâ‘ terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan dengan shalat yang sesuai dengan waktu saat itu, yaitu shalat Shubuh. Dia tidak boleh melaksanakan shalat Shubuh sebelum shalat Isyâ‘ yang tertinggal, karena berurutan dalam shalat itu wajib.
Al-Muntaqa min Fatâwâ Fadhilatisy-Syaikh Shâlih Fauzân, 4/32.