CAHAYA BINTANG SURGA

CAHAYA BINTANG SURGA
PART 135


__ADS_3

...Haii.. Maaf ya lama nggak update. Banyak kegiatan di real life. Aku juga sedang berada dalam masa jenuh, nggak tahu harus merangkai kata darimana dan bagaimana karena aku merasa ceritaku tidak semenarik cerita-cerita lainnya...


...Tapi saat melihat favorit Cahaya Bintang Surga bertambah, aku seperti diingatkan. Ada beberapa orang yang setia menanti kehaluanku ☺️☺️ apalagi sedang dalam masa isoman dan hiburannya adalah baca novel...


...Jadii.. setelah berjuang melawan rasa malas, jadilah part 135 ini...


...Terima kasih untuk yang terus setia membaca kehaluanku ❤️❤️❤️ Lope sekebon ❤️❤️❤️...


Part 135


Zalynda mendesah pelan. Semenjak di rumah keluarga Wijaya.. Bukan, semenjak Ray terlihat berbicara dengan Daniel di taman samping rumah keluarga Wijaya, Zalynda melihat kedua lelakinya tidak pernah lepas dari earpod dan handphonenya. Entah ada pekerjaan apa lagi yang melibatkan Ray dan Daniel


Kini saat mereka tiba di apartemen pun, Ray masih sibuk dengan handphone nya. Zalynda melirik Ray yang langsung duduk di ruang tamu dengan masih menatap layar pipih dalam genggamannya


"Kamu mau makan, Ray?" Tanya Zalynda basa-basi. Sudah lewat jam makan malam, tetapi tidak ada salahnya menawarkan makanan kembali


Ray menatap ke arah Zalynda lalu melihat jam yang terpasang di dinding


"Nggak cantik. Sini, duduk." Kata Ray sambil menepuk-nepuk sofa di sebelahnya


Zalynda menurut, gadis itu duduk di sofa di sebelah Ray. Beberapa menit mereka terdiam. Zalynda memperhatikan Ray masih sibuk dengan gawai di tangannya. Biasanya Ray langsung mematikan gawai dan memeluknya, tetapi kali ini gawai Ray berhasil membuat Zalynda cemburu. Gadis itu mulai mengerucutkan bibirnya namun Ray tidak menyadarinya


"Kamu masih lama pegang handphone nya? Kalau masih lama, aku mau ke kamar istirahat ya." Kata Zalynda. 


Tanpa menunggu persetujuan Ray, Zalynda melangkah menuju kamar. Zalynda menghela nafas saat tahu Ray tidak menyusulnya ke kamar


Zalynda segera mengganti bajunya dan melakukan rutinitas malam sebelum beranjak tidur. Setelah selesai rutinitas malam, sebelum menuju ke ranjang Zalynda menyempatkan mengingatkan Ray. Sudah terlalu malam untuk memegang handphone, apapun aktivitasnya


Gerakan Zalynda terhenti di pintu yang sedikit terbuka saat mendengar suara Ray bercakap-cakap dengan seseorang di telepon


"Jangan sampai Zalynda mengetahuinya. Aku tidak mau membuatnya cemas berlebihan."


Kening Zalynda berkerut sambil membathin. "Apa yang Ray sembunyikan dari diriku? Apa yang membuatku cemas berlebihan? Apa berkaitan dengan kehamilan?" 


Perlahan Zalynda refleks memeluk perutnya


Terdengar Ray menghela nafas berat.  Zalynda segera naik ke tempat tidur dan berbaring memunggungi pintu saat mendengar suara langkah Ray mendekat. Terdengar Ray memasuki kamar. Zalynda pura-pura memejamkan matanya


Ray memeriksa Zalynda untuk melihat apakah gadis itu sudah tertidur atau belum. Ray menarik ujung bibirnya melihat mata Zalynda bergerak-gerak walau dalam keadaan terpejam.


Ray iseng mengulum bibir Zalynda membuat gadis itu tanpa sadar mendesah pelan. Ray terkekeh geli

__ADS_1


"Belum tidur, cantik?


Zalynda membuka matanya menatap Ray yang tersenyum. "Kamu tadi ngomong sama siapa, Ray?"


Senyum Ray sedikit memudar. "Kamu dengar?"


Zalynda bangun menegakkan duduknya dan bersandar di kepala ranjang


"Ada rahasia apa sih? Perasaan semenjak kamu ngomong sama Papa di taman samping rumah kakek, wajah kalian kelihatan tegang banget. Terus nggak lepas dari handphone."


"Kamu cemburu sama handphone?" Goda Ray. Zalynda mendengkus sambil mengerucutkan bibirnya


Ray menghela nafas. Pemuda itu naik ke atas ranjang di samping Zalynda.


"Tadi ada kabar kalau terjadi keributan di penjara tempat Yono di tahan." Kata Ray.


Zalynda terkejut "Om Yono? Dia baik-baik aja kan?"


Mata Ray memicing. Bisa-bisanya Zalynda mengkhawatirkan keadaan Yono. Zalynda menyadari pandangan mata Ray, gadis itu menghela nafasnya


"Ray, biar bagaimanapun om Yono itu masih keluarga.."


"Kalian tidak ada hubungan keluarga. Ingat, dia sudah berbuat jahat sama kamu." Kata Ray. 


"Terus?" Tanya Zalynda memecahkan keheningan


"Yaa itu, polisi sedang mendata siapa-siapa saja yang terluka. Nanti dikabari pada keluarganya." Kata Ray


"Ng, tadi aku dengar kamu bilang pas telepon kalau aku nggak boleh tahu berita ini. Memangnya kenapa?" Tanya Zalynda


Ray menatap Zalynda. Ray sendiri belum tahu pasti kebenaran berita yang diterimanya. Mungkin saja pekerja binatu itu sedang naas sehingga terlibat perkelahian di penjara, mungkin saja pekerja binatu itu meninggal mendadak saat bekerja..


"Ray.." panggil Zalynda


Ray terhenyak. Dipandanginya mata bulat Zalynda yang menantikan jawabannya


"Belum ada kabar lagi. Ayo tidur, sudah malam." Kata Ray


Zalynda merasa sedikit janggal dengan pernyataan Ray. Baru saja hendak membuka suaranya, terlihat Ray langsung berbaring dan memejamkan mata. Zalynda akhirnya urung bertanya. Gadis itu ikut berbaring di samping Ray. Zalynda tidak serta merta memejamkan matanya. Gadis itu menatap ke arah Ray. Terdengar suara nafas Ray yang teratur


"Ih nyebelin udah tidur duluan." Bisik Zalynda.

__ADS_1


Gadis itu segera berbalik memunggungi Ray. Tak lama terdengar dengkuran halus dari Zalynda


Ray membuka matanya. Perlahan pemuda itu menoleh memandangi punggung Zalynda. Teringat kecemasan Zalynda saat tadi siang mengatakan ada yang memperhatikan mereka


"Semoga kecurigaanku salah.." bathin Ray


***


Siang yang cukup sejuk. Zalynda menyempatkan diri untuk keluar sebentar dari toko kuenya menuju ke supermarket yang tidak jauh dari tokonya. Pelanggan juga tidak terlalu ramai untuk jam-jam seperti saat ini


Dikarenakan hari itu cukup sejuk, Zalynda memutuskan untuk berjalan kaki menuju supermarket. Teringat pesan dokter Wilda tentang manfaat berjalan kaki bagi ibu hamil, dan Zalynda sedang mencoba menerapkannya di sela-sela kesibukannya di toko


Lagipula Zalynda tidak perlu khawatir dengan mobil yang lalu lalang karena trotoar di daerah ini cukup ramah bagi para pejalan kaki


Sesampainya di supermarket Zalynda segera mendorong troly belanjanya dan membeli beberapa benda yang di butuhkan.


Tanpa Zalynda sadari, aktivitas Zalynda dipantau oleh sepasang mata yang terus saja melihat ke arah dirinya


Merasa diperhatikan, Zalynda menoleh ke belakang. Kening Zalynda berkerut saat tidak menemukan orang yang sedang memperhatikannya


"Apa karena hormon kehamilan aku jadi parno begini?" Bisik Zalynda


Gadis itu meneruskan belanjanya. Sesekali berhenti dan menoleh karena merasa seseorang sedang memperhatikan dirinya. Rasa tidak nyaman mulai menyelimuti hati Zalynda


Zalynda merogoh tasnya. Mata gadis itu terpejam saat menyadari benda yang dicarinya tidak ada


"Duuh handphone ku ketinggalan di kantor.."


Zalynda mempercepat kegiatan belanjanya dan segera pergi ke kasir untuk membayar.


Setelah beres Zalynda segera menenteng kantong belanjanya dan bergegas pulang ke toko kue. Jalanan trotoar nampak tidak begitu ramai karena jam ini adalah jam kuliah dan jam kantor sehingga tidak banyak orang yang berada di luar. Zalynda terus berjalan.


Sepasang mata itu terus melihat gerak-gerik Zalynda. Kaki orang itu bergerak mengikuti Zalynda keluar dari supermarket


Merasa seseorang mengikutinya, Zalynda kembali membalikkan badannya. Namun tidak ditemui siapapun. Zalynda menghembuskan nafas kesal, lalu kembali berjalan, kali ini lebih cepat


Orang itu menyeringai melihat kepanikan Zalynda. Kembali orang itu mengikuti langkah kaki Zalynda


Merasa diikuti, Zalynda mulai berlari kecil. Kakinya sedikit sakit, otot kakinya menegang namun Zalynda terus memaksakan untuk berlari kecil


Tiba-tiba sebuah tangan mencekal lengannya membuat gadis itu terkejut dan menjatuhkan kantong belanjanya

__ADS_1


"Aah.." jerit Zalynda


__ADS_2