CAHAYA BINTANG SURGA

CAHAYA BINTANG SURGA
PART 144


__ADS_3

"Bagaimana keadaan istri dan anak-anak saya dokter? Persalinannya berjalan lancar kan?" Tanya Ray yang langsung memberondong dokter Wilda dengan pertanyaan


Dokter Wilda tidak segera menjawab. Wanita itu memperlihatkan Ray dengan tatapan yang membuat Ray merasakan dingin di sekujur tubuhnya. Lidah Ray terasa kelu untuk memastikan sesuatu yang berlarian di kepalanya


"Dokter.. katakan ada apa?"


Dokter Wilda menghela nafas, berusaha memikirkan kalimat terbaik yang akan diucapkannya


"Begini pak, ada masalah pada kandungan ibu Zalynda akibat beberapa benturan dan sempat menelan obat penggugur kandungan.."


Kalimat dokter Wilda bagaikan pedang yang mengoyak hati Ray. Tubuh pemuda itu membeku.


"Kondisi ibu Zalynda juga tidak begitu baik sehingga persalinannya mengalami hambatan, jadi kami harus melakukan tindakan operasi.."


"Aaaargh!!"


Dokter Wilda terkejut karena Ray tiba-tiba berteriak dan memukul dinding. Ray sedang menyalurkan amarahnya. Akalnya masih berfungsi untuk tidak mencekik dokter Wilda yang memberikan kabar itu karena biar bagaimanapun dokter Wilda yang akan menangani Zalynda


"Abang!" Ardhi dan Ian dengan sigap memeluk Ray dari belakang, menahan laju tangan Ray yang terus memukuli dinding


Aya dan Farah sudah berderai air mata saat mendengar kabar dari dokter Wilda


"Apa maksud anda berbicara begitu dokter?" Tanya Daniel sambil mendekati dokter Wilda


Terlihat Ray sudah sedikit tenang walau nafasnya masih tersengal. Ray pun menatap ke arah dokter Wilda


"Saya harus memastikan. Jika persalinannya tidak berjalan sesuai harapan, mana yang harus kami selamatkan?" Tanya dokter Wilda lagi


Mata Ray sontak membelalak. Ray menghentak tangan Ardhi untuk melepaskan dirinya dan mendekati dokter Wilda


"Tidak ada yang harus saya pilih dokter karena istri dan anak-anak saya harus keluar dengan selamat!" Ucap Ray penuh penekanan


"Kami pasti mengusahakan yang terbaik pak. Tetapi kami juga harus memikirkan kemungkinan terburuknya karena prediksi kami, hanya satu yang bisa kami selamatkan dari tiga pasien itu!"


"Kalau kalian mengusahakan yang terbaik seharusnya tidak usah memikirkan kemungkinan terburuk! Selamatkan semuanya!" Kata Ray tajam. Pemuda itu frustrasi. Ray terduduk sambil meremas rambutnya


Ardhi hanya bisa melihat putranya dengan pandangan kasihan. Pasti berat ketika berada di posisi Ray saat ini. Aya pun tidak bisa berkata apa-apa. Wanita itu hanya bisa terisak dalam dekapan Ardhi


Dokter Wilda berjongkok mendekati Ray. Dokter Wilda juga faham dengan keadaan Ray, pasti sangat berat untuk memutuskan sesuatu


"Pak, tolonglah..Saya butuh konfirmasi. Waktu terus berjalan. Jangan sampai kami kehilangan ketiga nya.." kata dokter Wilda sedikit melunak


Ray menatap dokter Wilda. Pandangan Ray melunak. Hatinya seakan tercabik-cabik saat mengingat pesan terakhir Zalynda di mobil


"Zalynda meminta Ray untuk menyelamatkan anak-anak mereka." Ucap Sagara tiba-tiba

__ADS_1


Ray sontak memandang tajam ke arah Sagara "Diam kau!"


Sagara menghela nafasnya perlahan "Itu yang dia katakan dimobil tadi, kan Ray?"


Ray menggeretakkan rahangnya sambil memejamkan matanya. Ray tidak bisa mengatakan pada dokter Wilda untuk menyelamatkan anak-anak nya karena hal itu akan membuat dirinya kehilangan Zalynda selamanya. Namun apabila dia memilih menyelamatkan Zalynda, kemungkinan Zalynda akan membencinya seumur hidup dan Ray tidak akan tahan dengan hal itu


"Pak.." panggil dokter Wilda


Ray membuka matanya dan berkata pelan "Selamatkan bayinya.."


Dokter Wilda dengan cepat mengangguk lalu berdiri dan berkata pada seorang suster


"Siapkan ruangan operasi segera! Panggil dokter anestesi."


Perawat itu mengangguk dan bergerak cepat sesuai arahan dokter Wilda. Dokter Wilda meninggalkan Ray yang bersandar dengan tubuh lemas. Ray tidak percaya sudah mengucapkan kalimat yang begitu kejam. Ray mengacak rambutnya frustrasi


Tidak ada yang bisa Ray lakukan selain memohon kepada Rabb Semesta Alam untuk menyelamatkan ketiganya. Dengan cepat Ray berdiri dan berlari menuju musholla rumah sakit


"Abang, mau kemana?" Tanya Endra saat Ray melewatinya. Ray tidak menjawab pertanyaan Endra. Pria itu terus saja melangkah cepat


"Biarkan dia. Dia mau ke mushola." Kata Ardhi mencegah Endra saat pemuda itu hendak menyusul Ray


"Yang bisa kita lakukan sekarang hanyalah berdoa mengharapkan adanya keajaiban dari Allah. Aku juga mau ke mushola. Kau ikut Niel?" Ajak Ardhi. Daniel mengangguk. Keduanya berjalan beriringan menuju mushola


Aya dan Farah pun hanya bisa terdiam sambil berdoa untuk keselamatan Zalynda dan cucu-cucu mereka.


***


Ardhi dan Daniel sudah pergi dari mushola, meninggalkan Ray yang masih duduk, khusyuk meminta keselamatan untuk istri dan anak-anaknya. Tubuh Ray terasa letih, perutnya terasa perih. Teringat belum ada makanan yang masuk ke perutnya sedari siang


Alih-alih mencari makanan, Ray malah membaringkan tubuhnya dan menatap atap mushola. Pikirannya mengembara kemana-mana. Ray menutup matanya menggunakan lengannya. Pemuda itu menghembuskan nafas keras. Belum ada berita dari ruang operasi


Ray tidak berani untuk memastikan berita tentang operasi Zalynda. Ray merasa sudah menjadi orang jahat dengan memutuskan untuk menyelamatkan anak-anaknya dibandingkan menyelamatkan Zalynda. Mata Ray terpejam


***


"Ray.."


Suara lembut milik Zalynda terdengar di telinganya. Ray membuka mata perlahan dan melihat sesosok wajah yang tersenyum lembut ke arahnya. Ray segera bangun dan menegakkan duduknya


"Zalynda.." bisik Ray


Zalynda tersenyum sambil membelai pipi dan rahang Ray lalu mengecupnya lembut. Ray terpejam.


"Jangan menyalahkan dirimu atas apa yang terjadi." Kata Zalynda. Gadis itu masih membelai pipi Ray.

__ADS_1


Mata Ray terbuka dan menatap Zalynda. Sorot mata Zalynda selalu lembut saat menatapnya. Ray balas membelai pipi Zalynda dan menarik pelan tengkuk gadis itu ke arahnya. Bibir mereka bertemu. Rasanya masih sama, lembut dan manis


Ray melerai ciuman mereka dan kembali menatap Zalynda


"Mengapa aku merasa kau akan pergi jauh dariku, Za?" Bisik Ray parau. Dadanya terasa sesak saat mengucapkan kalimat itu


Zalynda tersenyum "Setiap pertemuan juga akan diiringi oleh perpisahan, Ray. Itu adalah keniscayaan.."


Mata Zalynda mengerjap menerangkap manik coklat Ray dalam-dalam


"Tetapi bukan berarti dengan perpisahan, kita akan saling melupakan. Perpisahan memang tidak akan pernah mudah, karena sejatinya sifat manusia adalah ingin memilik, bukan melepaskan.."


Ray terdiam saat tangan Zalynda kembali menyentuh pipinya. Tangan yang selalu hangat itu kini terasa lebih dingin, namun tidak sedikitpun mengurangi kadar cinta Ray untuk Zalynda


"Terima kasih, Ray.. Terima kasih karena telah hadir dalam hidupku dan telah memberikan kebahagiaan untukku. Aku tidak pernah menyesal bertemu denganmu. Aku tidak pernah menyesal jatuh cinta dan menikah denganmu. Bahkan jika kehidupan berulang, aku akan tetap memilih menjadi Zalynda Navulia. Istri Rayhan Putra Farobi.."


Dada Ray terasa sesak. Air matanya mengalir membasahi pipinya. Zalynda tertawa kecil sambil mengusap air mata Ray


"Berhenti menangis, Ray Eagle. Airmata mu akan menyulitkan ku untuk melangkah.." kata Zalynda pelan. Ray menggeleng cepat


"Aku tidak ingin kehilanganmu, Za. Bertahun-tahun lamanya aku kehilangan dirimu. Sekarang akupun tidak mau kehilanganmu." Kata Ray sambil menggenggam tangan Zalynda yang berada di pipinya


"Tidak ada yang bisa menebak takdir Allah. Kalau memang Allah mentakdirkan jodoh kita hanya sampai disini, aku ikhlas. Aku sudah sangat bersyukur memiliki dirimu sebagai imamku.. Aku mencintaimu, Rayhan Putra Farobi.."


Zalynda melepaskan tangannya dari genggaman Ray. Sejenak Ray terpaku, namun pemuda itu sadar saat melihat Zalynda mulai menjauh


"Zalynda, berhenti! Jangan pergi!"


***


Tepukan keras di pipi Ray menyadarkan pemuda itu. Terkejut, Ray langsung membuka matanya


"Bang, bangun.."


Mata Ray mengerjap untuk membiasakan penglihatannya. Terlihat Ian sedang duduk di sebelahnya sambil memandang cemas dirinya


"Abang mengigau.." kata Ian


"Astaghfirullaahal'adziim.." Ray segera mengusap wajahnya. Walau hanya mimpi, rasa sakit saat Zalynda meninggalkannya terasa nyata dan masih berbekas di hatinya


"Bang, ayo bangun. Kita ke atas." Ajak Ian sendu


Ray menoleh dan melihat keanehan pada ekspresi Ian. Seketika jantungnya berdetak dua kali lebih cepat


"Ada apa Yan?" Tanya Ray panik sambil menatap manik coklat Ian yang terlihat sedih

__ADS_1


"Kak Za…"


__ADS_2