
8 bulan kemudian…
Kriiiing..
Ray dengan sigap mematikan alarm yang berdering nyaring di nakas samping tempat tidurnya. Ray tidak ingin membangunkan seseorang yang terlelap di sampingnya.
Ray melihat ke sampingnya. Sosok cantik itu masih tertidur lelap. Sesekali bibirnya manyun-manyun membuat Ray gemas. Pipinya yang merona dan gembul juga terkadang membuat Ray ingin menggigitnya.
Ray tersenyum. Perlahan pemuda itu membelai rambut lebat sosok di sampingnya. Sosok seorang bayi perempuan mungil yang diselimuti selimut berwarna pink bertuliskan "Nuryn Azzura"
"Anak Papa sayang.." bisik Ray sambil mengecup pipi bayi mungil itu pelan
Ray perlahan beranjak turun dari ranjangnya menuju ke kamar mandi. Setelah membasuh wajahnya, Ray segera menunaikan kewajiban lima waktunya. Tepat saat salam, tepat bayi perempuan itu bangun dan menangis
Segera Ray menghampiri anaknya lalu menggendongnya
"Assalamu'alaykum Ryn, anak cantik Papa sudah bangun? Lapar apa haus?" Tanya Ray sambil tersenyum lembut menatap bayi perempuannya. Ryn langsung menghentikan tangisnya dan menatap Ray sambil tersenyum lebar. Hal ini membuat Ray ikut tersenyum lebar
Ray dengan sigap menggendong Ryn dan di letakkan di ruang tamu apartemennya yang sudah disulap sebagai tempat bermain. Tidak ada sofa yang memenuhi ruangan. Yang ada hanyalah hamparan karpet tebal yang lembut dan beberapa mainan seperti balok kayu, buku bantal, kursi kecil. Tidak lupa Ray memasang pagar pembatas di area bermainnya agar anaknya yang sedang senang-senangnya merayap, menyelinap ke dapur.
"Ryn di sini dulu ya. Papa mau angetin susu dulu." Kata Ray.
Seolah mengerti, Ryn langsung merayap menuju mainan baloknya dan mulai menggenggam mainannya sambil dipandanginya dengan takjub kemudian melemparkannya ke sembarang arah
Ray segera mengambil susu dan memanaskannya. Tidak lupa Ray memanaskan bubur untuk Ryn. Setelah beres Ray segera menghampiri Ryn yang sedang menggigiti buku bantalnya. Ray menggendong Ryn dan melepaskan buku bantal yang sedang digigitinya membuat Ryn sedikit protes
"Kenapa, gusinya gatal ya? Mau tumbuh lagi giginya?" Tanya Ray sambil menyodorkan dot susu ke arah Ryn yang langsung dilahap bayi berusia 8 bulan itu
Ray tersenyum melihat mata bening berwarna coklat milik Ryn yang memandang ke arah Ray. Mengingatkan Ray akan mata Zalynda. Ray kembali teringat dengan gadis kesayangannya itu.
"Ryn kangen sama mama?" Bisik Ray pelan sambil membelai rambut lebat Ryn. Bayi itu hanya memandangi Ray sambil menikmati dotnya
Ting tong..
Suara bel pintu membuyarkan lamunan Ray. Bergegas Ray membukakan pintu sambil menggendong Ryn
"Assalamu'alaykum.."
Ray tersenyum menyambut dua orang yang berdiri di depan pintu apartemennya
"Ayah, Papa. Masuklah." Kata Ray sambil melebarkan pintunya
"Haai cucu Opa cantiik. Lagi minum susu?" Sapa Daniel sambil memperlihatkan wajah lucu di hadapan Ryn. Bayi itu menyeringai tanpa melepaskan dotnya
"Ini Papa bawakan makanan. Kamu mungkin belum makan siang karena sibuk ngurusin Ryn ya." Kata Daniel lagi sambil meletakkan kantong yang berisikan makanan
"Alhamdulillah. Tahu aja Pa. Emang belum sempat order goput. Tumben pada mampir." Kata Ray senang. Ray segera menata makanan yang dibawakan Daniel
"Sekalian nengokin cucu kakek sama nungguin bunda dan mama di sini. Kamu kerepotan ngasuh, bang?" Tanya Ardhi yang langsung mengambil Ryn dari gendongan Ray setelah sebelumnya Ardhi mencuci tangannya
__ADS_1
"Nggak lah Yah. Ini kan hari minggu. Abang free." Kata Ray. Pemuda itu dengan cepat membuatkan minum untuk Ardhi dan Daniel. Terlihat susu dalam dot Ryn telah habis namun bayi perempuan itu masih mengemut jemarinya
Ardhi segera memberikan biskuit bayi untuk Ryn yang langsung di sambar Ryn sambil berceloteh seakan mengucapkan terima kasih ke Ardhi
"Iya, sama-sama cucu kakek yang cantik." Kata Ardhi tersenyum lalu memandang ke arah Ray
"Kamu hebat, Bang. Bisa ngurus anak seharian sendiri tanpa minta bantuan."
Ray terkekeh sambil menyeruput minuman dinginnya "Kan seminggu sekali, Yah. Nggak tiap hari juga."
"Haah, kalau Papa mungkin sudah bolak-balik menelepon mamamu jika jadi kamu Ray." Gurau Daniel
Ray tertawa kecil. Sebetulnya Ray juga ingin bolak-balik menelepon Zalynda. Tetapi keadaannya berbeda..
Ardhi melihat raut wajah Ray sedikit berubah. Ardhi segera menepuk bahu putra sulungnya sambil tersenyum
"Sabar ya.."
Ray hanya mengangguk mengiyakan sambil mengambil Ryn dari gendongan Ardhi karena khawatir biskuit Ryn mengotori baju Ardhi. Ray berdiri sambil menimang Ryn yang masih sibuk mengemut biskuitnya
Tiba-tiba terdengar pintu depan terbuka. Suara para wanita terdengar saat pintu apartemen Ray terbuka.
"Well..well.. para bapak-bapak sudah menanti rupanya." Kata Aya sambil melangkah masuk ke apartemen Ray. Menyusul Farah yang langsung menghampiri Ryn dalam gendongan Ray
"Ryn rewel nggak Ray?" Tanya Farah sambil menggoda bayi perempuan itu
"Nggak ma. Baik banget malah." Kata Ray sambil melihat ke arah pintu.
***
"Kak Za.."
Jantung Ray berdegup kencang apalagi melihat wajah Ian yang seakan kelabu. Tanpa berpikir panjang, Ray segera berdiri
BRUUGH
"Bang Ray!" Teriak Ian saat melihat Ray ambruk. Dengan cepat Ian segera menghampiri Ray yang memegang kepalanya
"Abang baik-baik aja?" Tanya Ian lagi sambil melihat cemas ke arah Ray. Ray menggeleng. Kepalanya sakit, pandangannya seakan berputar. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya
"Abang mau ke atas. Tolong bantuin abang, Yan.." Kata Ray sambil mengangkat tangannya agar Ian dapat menariknya. Dengan cepat Ian merangkulkan tangan Ray ke pundaknya
"Bang, elo pucat banget.." kata Ian sambil menatap horor ke arah Ray yang berada di sampingnya
Ray tidak menyahut. Perutnya seakan bergolak. Kepalanya makin sakit dengan telinga berdenging
"Bang yakin kuat keatas..." Suara Ian terdengar jauh. Ray tidak mendengar apapun setelah semuanya menjadi gelap
***
__ADS_1
Ray memicingkan matanya saat ribuan cahaya serasa menusuk ke matanya.
"Nggh silau.." kata Ray pelan
"Alhamdulillah.. abang sudah sadar?"
Terdengar suara Aya di dekat Ray. Apa ini mimpi? Ray mengerjapkan matanya untuk membiasakan cahaya masuk ke dalam matanya. Hal pertama yang dilihatnya adalah wajah lembut Aya yang tersenyum ke arahnya
"Bunda.." bisik Ray.
Ray mencoba bangun tetapi badannya terasa lemas. Ray mengenyitkan kening saat merasakan kepalanya masih terasa berat dan tangannya terasa pegal
"Eh jangan banyak gerak. Abang pingsan sejak dua hari yang lalu.." Aya mencegah pergerakan Ray dan membuat putra sulungnya kembali merebahkan diri
Setelah merasakan pandangannya jelas, Ray memindai ruangan tempat dirinya berbaring. Bau khas rumah sakit dan infus yang terpasang di tangannya menandakan dirinya tidak baik-baik saja
"Abang kenapa, bunda?" Tanya Ray sambil melihat infus yang tergantung. Aya mendesah pelan
"Abang pingsan. Kata dokter kemungkinan nggak makan dan stress.." kata Aya sambil menyodorkan minuman ke Ray. Ray menggeleng pelan
Perlahan memori Ray kembali terkumpul. Mata Ray membesar sambil menatap Aya
"Zalynda..bunda, Zalynda!" Kata Ray. Pemuda itu berusaha keras untuk bangun
"Abang, tenang. Abang harus sembuh dulu." Kata Aya sambil menahan tubuh Ray
"Nggak, bunda.. abang mau lihat Zalynda. Gimana keadaannya? Apa.." Ray tercekat. Sudah dua hari dirinya pingsan. Selama itu dirinya tidak tahu keadaan Zalynda.
Ray segera menangkup wajahnya dengan kedua tangannya. Tubuhnya bergetar. Dua hari yang lalu dokter sudah mengatakan kemungkinan terburuk dan mungkin sudah terjadi. Parahnya Ray pingsan sehingga mungkin tidak bisa mengantarkan Zalynda ke tempat peristirahatannya
"Za.. I'm sorry.." Bisik Ray disela tangisnya
Aya pun ikut menitikkan air mata saat melihat Ray menangis. Perlahan tangannya membelai kepala Ray. Perlahan Ray menurunkan tangannya dan menatap ke arah Aya
"Bunda, siapa yang selamat saat operasi? Kata dokter Wilda kemungkinan terburuk hanya satu yang bisa diselamatkan.."
Aya mendesah pelan. Sebelum wanita itu berbicara, pintu kamar Ray terbuka..
FLASHBACK END
***
Present Day
"Ryn rewel nggak Ray?" Tanya Farah sambil menggoda bayi perempuan itu. Membuat Ryn terkekeh-kekeh
"Nggak ma. Baik banget malah." Kata Ray sambil melihat ke arah pintu.
Tak lama Zalynda muncul sambil menggendong seorang bayi lelaki berusia sekitar 8 bulan yang sedang tertidur dengan selimut biru bertuliskan "Nizzam Alvarezi".
__ADS_1
___________________________
Hehehe ternyata harus dibagi 2 bab untuk sampai ending 🥲🥲🥲