CAHAYA BINTANG SURGA

CAHAYA BINTANG SURGA
PART 92


__ADS_3

Zalynda mematikan televisi yang berada di depannya. Berita hari ini kebanyakan memuat tentang video aksi penyerempetan Anggun dan Diva. Keduanya kini sudah masuk dalam daftar pencarian polisi karena Ardhi yang mengetahui hal itu langsung menuntut keduanya agar ditahan dan mempertanggungjawabkan perbuatan mereka. Ardhi tidak pernah main-main jika sesuatu urusan berkaitan langsung dengan Aya


Zalynda sedikit banyak mengetahui, sikap protektif Ardhi banyak menurun pada Ray. Saat kehidupan berlaku kejam pada Zalynda, Ray datang mengulurkan tangannya, memberikan bantuan, mencintai dan menyayanginya secara tulus serta menjadikannya wanita yang paling berbahagia versi Zalynda


Zalynda menatap handphonenya. Jam di handphonenya sudah menunjukkan jam delapan malam. Ray belum pulang sejak pemuda itu pergi. Hujan sudah lama berhenti sejak Maghrib, menyisakan dingin yang menyusup hingga ke tulang


"Apa aku telepon aja? Tapi ganggu nggak ya.." Zalynda bergumam pelan


Lama Zalynda menimbang, akhirnya gadis itu memutuskan untuk menelepon Ray. Baru saja Zalynda hendak mendial nomor Ray, pemuda itu pulang


"Assalamu'alaykum.." Salam Ray saat memasuki apartemen


"Wa'alaykumussalam.." Zalynda segera berdiri menyambut Ray.


Ray hanya menatap sekilas saat Zalynda mencium tangannya. Pemuda itu segera berjalan menuju kamarnya


"Ray.." panggil Zalynda, membuat Ray menghentikan langkahnya. Ray hanya menoleh sedikit ke belakang


"Ng..Kamu sudah makan?" Tanya Zalynda pelan.


"Sudah tadi sama Agus dan klien dari Semarang." Kata Ray datar. Pemuda itu berjalan memasuki kamarnya


Tadinya Zalynda ingin mengajak Ray bercakap-cakap sekaligus ingin meminta maaf secara benar. Namun sepertinya suasana hati Ray sedang buruk sehingga Zalynda hanya menggigit bibirnya, menahan keinginannya.


***


Di sebuah rumah kontrakan nun jauh dari pusat kota, nampak Anggun dan Diva tengah beristirahat setelah seharian mereka bermain kucing-kucingan dengan petugas polisi


Beruntung pemilik kontrakan ini tidak mengenali Diva dan Anggun. Entah karena letaknya jauh di perkampungan atau karena orang ini tidak memiliki televisi. Yang jelas, Anggun dan Diva sangat diuntungkan dengan situasi ini


"Kita harus sembunyi sementara waktu disini. Mama sudah menghubungi seseorang yang bisa membantu kita keluar dari Indonesia." Kata Anggun sambil mengutak-atik handphonenya


Diva tidak terlalu peduli dengan perkataan Anggun. Gadis itu sibuk mengibaskan tempat tidurnya yang hanya beralaskan kasur tipis. Airmata sedikit menggenangi mata Diva


"Ini semua gara-gara mama!" Kata Diva ketus


Anggun menghentikan aktivitas nya dan menatap tajam kearah Diva


"Apa kamu bilang?!" Tanya Anggun sedikit keras


"Ini semua karena mama! Coba aja kalau mama nggak punya ide gila buat pura-pura nabrak bu Aya, nggak bakalan ada video kita!" Kata Diva keras

__ADS_1


Anggun menggeram "Diam! Mama begitu juga untuk kamu! Harusnya kamu bantuin mama, bukan menyalahkan mama!"


"Diva nggak tahan! Udah sekarang kita tidur di kontrakan sempit, bau, kasurnya tipis, di cari po.."


Anggun langsung membekap mulut Diva sambil melotot. Anggun menekan suaranya tepat di hadapan Diva


"Jangan keras-keras! Kamu mau kita ketahuan!"


*Mama juga nggak mau kayak gini! Repot! Harus gonta-ganti nomor hp juga supaya tidak mudah terlacak! Kamu ngerti dong!!" Lanjut Anggun lagi


Diva melepaskan bekapan Anggun kasar. Gadis itu membanting tubuhnya di tempat tidur. Sedikit kesakitan karena Diva lupa kalau kasur yang ia tiduri tidak setebal kasur di rumah tuan Wijaya


Anggun menghela nafas melihat kelakuan putrinya. Kembali wanita itu memfokuskan diri pada percakapan di handphone nya


Dalam diam, air mata Diva mengalir


"Ini semua gara-gara Linda.." Rutuk Diva pelan penuh dendam


***


Suara dentingan alat makan cukup meramaikan suasana diantara Zalynda dan Ray saat sarapan. Keduanya nampak menikmati makanan mereka tanpa terlibat sebuah percakapan


Sungguh, Zalynda ingin sekali menarik handphone Ray untuk melihat dengan siapa pemuda itu bertukar pesan sampai harus senyum-senyum seperti itu. Namun Zalynda hanya diam sambil memperhatikan gerak-gerik Ray


"Ray.." akhirnya Zalynda memecahkan keheningan diantara mereka


"Hmm?"


"Terima kasih.."


Ray mengalihkan pandangannya ke arah Zalynda sambil menaikkan satu alisnya "Untuk?"


"Karena sudah menukar video Diva.."


Ray ber ooh sambil mengangguk. Pemuda itu kembali menekuni handphonenya. Zalynda menatap Ray sedikit kesal


"Jangan lihat handphone terus. Tahan sedikit untuk bertukar pesan dengan temanmu sampai kau menghabiskan sarapanmu." Kata Zalynda sedikit ketus. Gadis itu segera berdiri dan meletakkan piring kotornya di wastafel dan segera mencucinya


Ray menatap punggung Zalynda, tidak biasanya Zalynda berkata seketus itu padanya. Namun Ray sedang malas berfikir, pemuda itu hanya menaikkan bahunya dan kembali membaca pesan di handphonenya


"Hari ini aku dan Papa mau ketemu tante Farah di rumah bu Edah. Mungkin pulangnya agak sore." Kata Zalynda sambil mengeringkan tangannya

__ADS_1


"Iya, hati-hati." Jawab Ray singkat tanpa mengalihkan tatapan dari handphonenya


Zalynda menatap Ray sedih. Ray tidak seperti biasanya.


"Ray.."


"Hmm.."


"Maafkan aku kalau aku terkesan tidak memikirkan perasaanmu. Maafkan aku kalau aku terkesan mengabaikanmu dan tidak membutuhkanmu. Sedari kecil semua orang menolakku. Aku tumbuh dengan pikiran untuk tidak bergantung pada orang lain, untuk tidak merepotkan orang lain. Bukan karena aku tidak butuh mereka, namun karena aku takut ditolak. Rasanya sangat menyakitkan.." Zalynda menundukkan kepalanya tidak mau menatap ke arah Ray


"Aku terima kalau kamu marah sama aku dengan keputusanku kemarin yang tidak ingin melibatkan dirimu. Satu hal yang perlu kamu tahu Ray, aku hanya ingin melihatmu bahagia.." Zalynda mengangkat kepalanya melihat Ray terdiam tidak menatap dirinya


Biasanya Ray akan langsung menghampiri Zalynda dan merengkuh tubuh Zalynda ke dalam pelukan hangat nya. Namun kali ini berbeda. Zalynda menghela nafas pelan


"Aku tidak akan mengganggumu lagi. Silahkan teruskan bercakap-cakap dengan temanmu. Aku mau siap-siap dulu.."


Zalynda berbalik masuk ke dalam kamarnya


Saat Zalynda menutup pintu kamarnya Ray menghembuskan nafas panjang. Ray langsung menghubungi seseorang


"Halo bro.." Sapa seseorang di seberang


"Gus, gue nggak bisa." Kata Ray pelan


Terdengar decakan sebal dari Agus "Payah lo! Belum juga sehari udah nyerah. Katanya lo mau bikin Zalynda ngerasa bersalah dan lebih perhatian ke elo."


"Iya, tapi gue nggak tega lihat dia kayak mau nangis gitu." Ray menekan suaranya agar tidak terdengar oleh Zalynda


"Pokoknya lo kudu tahan. Seenggaknya tiga hari cuekin dia. Awas lo kalau bucin-bucinan lagi!" Kata Agus


"Nggak ada cara lain apa?" Tanya Ray


"Nggak ada! Awas kalo manggil Za sayang-sayang sebelum tiga hari!" Kata Agus


Ray sedikit gelagapan saat pintu kamar Zalynda terbuka. Ray berpura-pura menghadap membelakangi Zalynda


"Ok sayang, kita ketemu di kantor buat bahas yang tadi ya.." kata Ray sambil menutup teleponnya


Pemuda itu mengutuk dirinya sekaligus geli melontarkan kata-kata sayang ke Agus. Ini gara-gara Agus bilang sayang-sayang sebelumnya. Ray sedikit bergidik


Ray segera membalikkan badannya dan memasang wajah datar. Namun Ray sedikit terkejut saat melihat netra Zalynda yang menatap dirinya. Sorot mata gadis itu menyiratkan kesedihan dan kekecewaan

__ADS_1


__ADS_2