CAHAYA BINTANG SURGA

CAHAYA BINTANG SURGA
PART 108


__ADS_3

Ray dan Zalynda sedang berjalan menyusuri jalan setapak. Zalynda menebar pandangan ke sekeliling. Semua pohon yang tumbuh seakan sama semua. Sementara Ray mencoba mengingat-ingat ke arah mana kemah mereka, namun Ray gagal mengingat arah belokan menuju kemah hingga kadang mereka berdua berhenti sambil melihat ke sekeliling


Cuaca mulai terlihat tidak bersahabat, awan mendung mulai bergelayut di langit. Udara dingin mulai bertiup. Ray mengeratkan pegangan tangannya pada tangan Zalynda.


Zalynda sendiri mulai merapatkan tubuhnya ke tubuh Ray tatkala angin dingin menusuk hingga ke tulang


"Ray, sepertinya kita salah belok tadi." Kata Zalynda sambil melihat ke belakang. Hanya terlihat pohon serupa di sepanjang jalan setapak yang mereka lalui


"In syaa Allah nggak salah, cantik. Aku pegang kompas kok." Kata Ray. Zalynda mengerutkan kening, sejak kapan Ray memegang kompas besar di tangannya


Mereka sampai di percabangan. Zalynda melihat setitik cahaya di sebelah kanan.


"Ray, sepertinya itu lentera perkemahan kita. Ayo ke sana." Kata Zalynda sambil menarik tangan Ray


Anehnya pemuda itu tidak bergerak. Zalynda menoleh ke arah Ray dan terkejut melihat Alin sudah bergelayut manja di bahu Ray


"Alin? Kenapa kamu bisa ada di sini?!" Tanya Zalynda dengan marah. Dadanya terasa sesak melihat lengan Ray melingkar di pinggang Alin


Alin menyunggingkan senyum liciknya. "Ray butuh pendamping yang sepantar dan sepadan. Kau tidak cukup kuat untuk berada di sampingnya. Kau hanya membuatnya susah dan tersasar, bodoh!"


Zalynda menutup mulutnya. Pegangan tangannya sedikit mengendur sehingga Alin perlahan menarik Ray ke dalam pelukannya, namun sedetik kemudian Zalynda tersadar. Dengan cepat gadis itu meraih lengan Ray dan menariknya kuat-kuat


"Ray, sadar! Ikut denganku. Di sana kemah kita." Teriak Zalynda. Ray tetap tak bergeming. Ada apa dengan Ray? Pikir Zalynda


"Lepaskan dia! Kau tidak pantas berada di sisi Ray!" Bentak Alin sambil menarik Ray lebih kuat sehingga tubuh Zalynda sedikit tertarik.


Awan hitam makin pekat, angin mulai bertiup kencang disertai petir yang bergemuruh


"Tidak. Aku tidak akan menyerahkan Ray padamu!" Teriak Zalynda. Namun suaranya hilang di tengah gemuruh petir. Tangannya makin kebas, namun Zalynda tidak menyerah. Gadis itu terus memegangi lengan Ray kuat-kuat


Hujan mulai turun membuat tangannya terasa licin memegangi lengan Ray. Zalynda menggeleng. Airmatanya sudah bercampur dengan air hujan yang turun dengan deras


"Zalynda.." Bisik Ray. Zalynda melihat mata Ray seakan memohon sesuatu.


"Ray.." kata Zalynda pelan


"Lepas!" Bentak Alin tiba-tiba sambil menyentak tangan Zalynda hingga pegangan Zalynda pada lengan Ray terlepas. Zalynda terdorong beberapa langkah


"Ray..jangan pergi!" Teriak Zalynda saat melihat Alin membawa Ray pergi. Zalynda ingin berlari menyusul Ray, namun kakinya terasa berat untuk melangkah. Terlihat Ray dan Alin makin menjauh


"Tidak.. jangan pergi! Jangan pergi! Ray! Ray!"

__ADS_1


***


"Ray!!" Zalynda sontak membuka matanya. Nafas Zalynda terdengar ngos-ngosan seperti habis berlari. Peluh membanjiri keningnya sementara airmatanya masih terasa mengalir


"Astaghfirullah.." Zalynda menutup wajahnya sambil terus beristighfar. Perlahan Zalynda bangun, berusaha tidak membangunkan Ray yang pulas terlelap di sampingnya.


Dengan pelan Zalynda meludah sebanyak tiga kali ke kiri dan membaca ta'awudz sebanyak tiga kali. Zalynda ingat, perkataan guru mengajinya saat di Tasikmalaya dulu apa yang harus dilakukan saat bermimpi buruk


Segera Zalynda pergi ke kamar mandi untuk berwudhu. Zalynda butuh penenang setelah bermimpi buruk


"Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari perbuatan setan dan buruknya mimpi.” Doa Zalynda saat selesai melaksanakan sholat sunnah dua raka'at nya


Zalynda menoleh ke arah jam. Masih pukul 00.30 dini hari. Zalynda memutuskan untuk kembali berbaring setelah sebelumnya membalikkan bantalnya dan menghadap ke arah Ray.


Wajah tampan yang terlelap itu nampak damai. Zalynda tersenyum kecil melihat Ray yang pulas. Zalynda perlahan menyentuh pipi dan rahang Ray seakan mengagumi makhluk ciptaan Tuhan yang indah ini.


"Mimpi adalah bunga tidur. Aku tidak boleh percaya dengan mimpi. Namun tadi seakan nyata hingga sakitnya ditinggalkan masih terasa sampai sekarang." Bathin Zalynda sambil menelusuri pipi hingga dagu Ray


Teringat di mimpinya mata Ray yang seperti memohon pertolongan. Apa akan terjadi sesuatu pada Ray? Zalynda masih tak henti berfikir walau tubuhnya terasa letih, lama kelamaan mata Zalynda memberat


"Aku akan memantaskan diri untuk bisa selalu mendampingimu, Ray.." Bisik Zalynda.


Gadis itu segera merapat masuk ke dalam dada Ray, membuat pemuda itu terbangun karena merasakan pergerakan. Kemudian Ray tersenyum melihat Zalynda meringkuk di dadanya. Ray memeluk tubuh Zalynda dan kembali terlelap


***


"Mau tambah roti bakarnya, Ray?" Tanya Zalynda yang melihat piring Ray sudah kosong


"Nggak Za. Alhamdulillah kenyang. Makasih ya sayang." Kata Ray. Zalynda terlihat tersenyum kecil sambil mengangguk


"Nanti aku mau ke bu Edah. Bu Edah mau ketemu buat bahas kue untuk resepsi dan pembukaan cabang toko kue nya." Kata Zalynda sambil meneguk teh manisnya


"Hari ini? Nggak besok aja? Hari ini aku ada jadwal rapat nemenin ayah. Full sampe sore." Kata Ray sambil mengelap mulutnya


"Nggak apa-apa aku sendiri aja." Zalynda melirik ke arah Ray yang meletakkan piring kotornya di wastafel. Pemuda itu kembali duduk dan mengecek handphone nya


"Ng, Ray.." panggil Zalynda


"Hmm?"


"Hari ini kamu rapat sama klien mana?"

__ADS_1


Ray mengalihkan pandangannya dari handphone menatap ke arah Zalynda. Walau kening Ray berkenyit, senyum lebar menghiasi bibirnya


"Sama TecnoTek, terus lanjut PT Hong Liong di Menara Timur. Kenapa?"


"Nggak apa-apa. Cuma nanya aja."


Ray terkekeh. Pemuda itu menopang dagu dengan kedua tangannya sambil menatap intens ke arah Zalynda. Membuat Zalynda sedikit salah tingkah


"Apa sih ngeliatin kayak gitu." Tanya Zalynda sambil mengusap-usap ujung bibirnya, khawatir ada saos yang menempel sehingga Ray menatapnya seperti itu


"Kamu takut ya aku rapat sama Alin?" Tanya Ray menggoda Zalynda.


"Sembarangan ih. Nggak kok." Elak Zalynda cepat.


Gadis itu bergegas membereskan meja makan dan meletakkan piring serta peralatan makan yang baru saja di gunakan ke wastafel.


Zalynda sedikit malu karena Ray tahu dirinya sedang mengorek informasi apakah hari ini Ray bertemu Alin atau tidak. Zalynda kemudian menyibukkan diri mencuci piring-piring dan peralatan makan untuk menghindari kontak mata dengan Ray


Ray tersenyum lebar melihat Zalynda yang salah tingkah. Ray beranjak dan melingkarkan lengannya di pinggang Zalynda, sedikit membungkuk agar bisa meletakkan dagunya di bahu Zalynda


"Ray, aku lagi cuci piring." Kata Zalynda saat merasakan Ray mengecup pelan leher gadis itu. Ray tertawa kecil


"Kamu nggak usah khawatir, aku inget kok untuk jaga jarak dengan Alin dan wanita manapun. Aku bukan type jelalatan lihat perempuan cantik." Kata Ray


Zalynda tersenyum. Gadis itu mengeringkan tangannya dan berbalik menghadap ke arah Ray. Zalynda mengalungkan tangannya di leher Ray sambil menatap pemuda itu


Teringat kembali mimpinya semalam. Zalynda tidak mau menceritakan mimpinya pada Ray. Gadis itu mendesah pelan sambil menunduk. Kening Ray berkerut melihat tingkah laku Zalynda.


"Ada apa?" Tanya Ray lembut sembari mengangkat dagu gadis itu sehingga Zalynda kembali menatap lekat Ray. Keduanya terdiam sambil memandangi satu sama lain.


"Ray.."


"Hmm?"


"Jangan pernah tinggalkan aku, ya.." suara Zalynda sedikit bergetar.


Ray tersenyum mendengar ucapan Zalynda. Perlahan Ray mendekati wajahnya ke wajah Zalynda dan mengecup bibir Zalynda lembut


"In syaa Allah aku akan selalu bersamamu dan menjagamu, Za.." Ujar Ray yang sedikit menenangkan hati Zalynda. Gadis itu tersenyum senang


Tangan Ray menyusup ke rambut Zalynda dan menjalar ke tengkuk gadis itu guna menarik Zalynda agar Ray bisa kembali mencium bilah kenyal berwarna pink alami milik Zalynda yang menjadi favoritnya kini

__ADS_1


Sepertinya pagi ini Ray sudah tidak butuh yang manis-manis untuk pencuci mulut


__ADS_2