CAHAYA BINTANG SURGA

CAHAYA BINTANG SURGA
PART 86


__ADS_3

...Terima kasih untuk semua yang sudah mengikuti kisah Za dan Ray sampai sejauh ini. Terima kasih juga untuk like dan komentarnya. Benar-benar bikin mood booster untuk up cerita ❤️❤️ Kalau berkenan, boleh banget lho klik gift, vote sama rate 5 stars nya ☺️☺️☺️...


Happy Reading ❤️


"Kamu benar adalah anak Farah, putri kakek. Yang artinya..kamu adalah cucu kakek."


"Kalau Linda cucu kakek, kenapa kakek tega membuang Linda?" Tanya Zalynda pelan.


Tuan Wijaya memejamkan matanya. Namun saat dirinya memejamkan mata, bayangan mimpi buruk itu kembali muncul saat tuan Wijaya berlaku sebagai lakon antagonis yang memisahkan seorang ibu dengan anaknya, membiarkan putrinya kehilangan ingatan dan membiarkan cucunya tumbuh tanpa kasih sayang. Itu semua hanya untuk menjaga nama baik perusahaan Wijaya Group


"Kakek memang bodoh, kakek berpikiran sempit waktu itu. Skandal Farah sebagai otak kejahatan pada Tsurayya sudah cukup membuat para investor menarik uang mereka, apalagi ditambah Farah hamil diluar nikah dan melahirkan di penjara. Perusahaan sedang tidak dalam kondisi baik-baik saja saat itu."


Tuan Wijaya menghela nafasnya sambil menyusut airmatanya


"Mungkin ini hukuman dari Allah untuk kakek. Saat membuangmu, justru kakek sendiri yang memasukkan ular berbisa ke perusahaan kakek dan menggerogotinya selama bertahun-tahun."


Tuan Wijaya menoleh ke arah Daniel yang duduk di sofa tunggal


"Untunglah Daniel bisa mengumpulkan bukti-bukti korupsi Yono sehingga para investor masih ada yang percaya dengan Wijaya Group. Walau kakek diharuskan mengganti beberapa kerugian dengan menjual beberapa lahan investasi kakek, namun setidaknya Wijaya Group tidak akan terlikuidasi."


Tuan Wijaya menyerahkan map coklat ke tangan Zalynda. Zalynda memandang heran ke arah tuan Wijaya saat melihat isi map itu


"Ini.."


"Itu adalah dokumen pemindahan kekuasaan. Kakek mencantumkan nama Linda sebagai direktur utama di Wijaya Group. Dengan kata lain, kakek memberikan perusahaan ini untukmu."


Gurat kesedihan tampak jelas di wajah tuan Wijaya saat melihat Zalynda tak bergeming dengan ucapannya.


"Kakek tidak berharap kau memaafkan kakek karena perbuatan kakek tidak termaafkan. Setidaknya, terimalah perusahaan kakek untuk.."


"Linda tidak mau." Ucap Zalynda tiba-tiba. Tuan Wijaya dan Ray sedikit terkejut mendengar ucapan Zalynda


"Linda nggak mau karena Linda tidak ahli mengurus perusahaan, kakek. Sebaiknya kakek yang kembali mengurusnya dengan dibantu Papa." Kata Zalynda sambil melihat ke arah Daniel


Tuan Wijaya tertunduk sedih "Berarti Linda tidak memaafkan kakek?"


Zalynda segera meraih tangan tuan Wijaya dan menggenggamnya erat


"Walaupun kakek pernah membuang Linda, tetapi kakek tidak pernah lalai mengirimkan nafkah untuk Linda lewat mamah Rina. Kakek juga yang menampung dan merawat Linda saat mamah meninggal. Kakek yang menyekolahkan dan menyayangi Linda hingga dewasa. Sangat durhaka kalau Linda membenci kakek.." jelas Zalynda panjang lebar


Tuan Wijaya menatap Zalynda lekat seolah tidak mempercayai pendengarannya. Kabut yang berarak dalam netra tuan Wijaya seketika cair. Tangannya mengusap ubun-ubun Zalynda yang tertutup kerudung.

__ADS_1


"Kenapa kau baik sekali nak?" Tanya tuan Wijaya dengan suara bergetar


"Karena Linda cucu kakek.." jawab Zalynda yang membuat Tuan Wijaya tertawa bahagia kemudian mendekap Zalynda erat. Keduanya saling bertangisan


"Heei, sudah sudah. Berhenti pada ngiris bawang di sini. Ayo Om, dari tadi om datang kan belum mencicipi masakan Aya." Kata Aya. Terlihat mata wanita itupun basah dan memerah


Tuan Wijaya merenggangkan pelukannya pada Zalynda sambil tertawa kecil


"Ah iya, sampai lupa om. Ayolah, antar om ke meja makan."


Aya dengan sigap meraih pegangan pada kursi roda tuan Wijaya dan mendorong pria itu menuju meja makan


Rumah keluarga Al Farobi hari itu terlihat ramai dan penuh canda tawa


"Permisiii.." terdengar sebuah suara. Semua orang menoleh. Tampak bu Edah datang dengan membawa beberapa bungkusan kue


"Naah, ini yang dinanti. Ayo masuk bu Edah." Sambut Ray hangat.


Bu Edah tertawa, sejurus kemudian wanita itu melihat ke belakang seperti mencari sesuatu.


"Fa..ayo sini."


Sontak Aya dan Ardhi melihat ke arah pintu. Begitupun Daniel dan tuan Wijaya. Mata mereka menatap seorang wanita yang masuk dengan mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan


***


Wanita itu, Farah Afriyani Wijaya.


Walaupun sudah terlihat berumur, gurat kecantikan masih terlihat di wajahnya. Farah perlahan memasuki rumah Ardhi yang terlihat asing di matanya


"Fa, aku bilang mau ngajakin kamu ketemu Zalynda kan? Nah ini rumah mertuanya Zalynda.." jelas bu Edah sambil menggandeng Farah.


Farah tersenyum pada bu Edah kemudian mengikuti wanita itu yang menariknya ke dalam menemui tuan dan nyonya rumah


Aya sedikit meremas lengan Ardhi saat Farah semakin mendekat ke arah mereka


"Fa, ini bapak Ardhi Al Farobi dan ibu Aya. Mereka mertua Zalynda." Kata bu Edah lagi


Dari Ray, bu Edah tahu kasus 25 tahun yang lalu. Karena itu, wanita bertubuh subur itu tetap berjaga-jaga di samping Farah agar cepat mengantisipasi jikalau sesuatu terjadi


"Senang berjumpa dengan anda, pak, bu." Kata Farah tersenyum sambil mengulurkan tangannya

__ADS_1


"Ah iya, selamat datang di rumah kami bu..Farah." kata Aya sambil menyalami Farah sementara Ardhi menangkupkan kedua tangannya di dada


Farah mengangguk. Pandangannya beralih ke Daniel. Wanita itu tersenyum lebar dan segera menghampiri Daniel yang berdiri di samping tuan Wijaya


"Daniel, kamu jenguk Zalynda juga?" Tanya Farah antusias tanpa memperdulikan tuan Wijaya yang menatapnya tanpa berkedip


"Iya.." kata Daniel sambil melirik tuan Wijaya. Farahpun melihat ke arah tuan Wijaya.


"Kamu datang dengan ayahmu, Daniel?"


***


"Amnesia disosiatif. Begitulah penjelasan dokter yang menangani Farah selama therapy.." kata bu Edah sambil melihat ke arah Farah yang asyik berbincang-bincang dengan Daniel


"Katanya Amnesia disosiatif berkaitan dengan trauma psikologis atau stres berat, yang mungkin merupakan akibat dari sebuah peristiwa. Untuk lebih jelasnya bisa kembali ditanyakan pada dokter." Kata bu Edah lagi


"Berarti dia memang kehilangan ingatannya permanen?" Tanya Aya. Bu Edah menggeleng


"Kata dokter sebetulnya ingatannya masih ada dan tersimpan rapi di dalam memori otaknya. Hanya saja trauma itu mencegah ingatannya muncul ke permukaan."


Tuan Wijaya mendesah sambil menatap Farah. Wanita itu terlihat antusias menanggapi setiap cerita dan omongan Daniel. Terkadang mereka berdua tertawa. Tuan Wijaya tersenyum kecut. Seharusnya momen itu untuk dirinya setelah sekian tahun 'kehilangan' Farah


"Ini hukuman terberat untukku. Anakku sendiri tidak mengenaliku.." kata tuan Wijaya sendu. Zalynda mengusap bahu tuan Wijaya untuk menenangkannya.


"Ayo Za, coba bergabung dengan mereka." Kata Ray sambil mengajak Zalynda. Awalnya gadis itu sedikit ragu, namun Ray terus menguatkannya sehingga Zalynda mau berjalan mendekati Daniel dan Farah


"Oh, kemari Za." Kata Daniel saay melihat Zalynda mendekat


Farah pun langsung menoleh ke arah Zalynda. Zalynda duduk di hadapan Farah dan Daniel. Farah tersenyum lembut ke arah Zalynda


"Aku tidak sangka kau punya anak secantik ini, Niel." Kata Farah


"Hehe Tuhan memang sangat baik padaku, Fa."


"Tapi kau jahat tidak mau mengenalkan istrimu padaku." Ucap Farah


Zalynda menggigit bibirnya berusaha untuk tegar namun tak urung genangan hangat itu mencair membasahi pipinya. Farah yang menyadari Zalynda menangis segera beranjak mendekati Zalynda


"Kenapa? Apa masih ada yang sakit?" Tanya Farah


Sekuat apapun Zalynda menahannya namun kata itu tetaplah lolos dari bibirnya

__ADS_1


"Mama.."


__ADS_2