CAHAYA BINTANG SURGA

CAHAYA BINTANG SURGA
PART 85


__ADS_3

Udara sore hari begitu menyejukkan dengan angin sepoi-sepoi yang bertiup. Matahari masih memancar namun sinarnya sudah tidak sekuat siang hari. Sore yang indah untuk berjalan-jalan. Ray nampak mendorong kursi roda Zalynda setelah gadis itu menyelesaikan therapy geraknya hari ini


Terlihat Daniel berdiri di taman rumah sakit sambil menatap ke arah Ray dan Zalynda. Ray tersenyum melihat Daniel. Ray pun mengarahkan kursi roda Zalynda menuju taman


"Pak Daniel.." sapa Zalynda


"Sudah sehat, Za?" Tanya Daniel hangat. Zalynda mengangguk sambil tersenyum


"Za, aku mau ambil hasil pemeriksaan dulu ya. Nggak apa-apa aku tinggal sebentar disini?" Tanya Ray. Zalynda mengangguk. Ray segera beranjak setelah mendapat ijin dari Zalynda. Sebenarnya Ray memang ingin memberikan waktu agar Daniel bisa bercakap-cakap dengan Zalynda


"Bagaimana therapy tadi?" Tanya Daniel membuka percakapan


"Sudah lumayan. Tapi sedikit capek dan ngilu. Mungkin karena lama nggak bergerak."


"Sabar ya. Sebentar lagi Za akan bisa muterin mall seharian." Kata Daniel sambil mengusap kepala Zalynda yang tertutup kerudung kaos


Zalynda terkekeh mendengar ucapan Daniel. Biasanya Zalynda akan sedikit terkejut sambil memundurkan kepalanya, namun kali ini gadis itu membiarkan Daniel membelai kepalanya. Daniel pun ikut tertawa kecil.


"Za, sebenarnya saya ingin menyampaikan sesuatu.." kata Daniel sambil melihat ke arah Zalynda


Zalynda pun balas menatap lembut ke arah Daniel "Tentang apa pak?"


Daniel menarik nafasnya lalu mengeluarkan hasil tes DNA yang di bawanya dam menyerahkannya ke Zalynda


"Bacalah.."


Zalynda membuka hasil tes itu dan membacanya. Raut wajahnya sedikit berubah pada awalnya, namun Zalynda segera memperbaiki emosinya dan menampilkan wajah datar


"Ini tes DNA? Kapan bapak mengambil sample nya?" Tanya Zalynda


"Waktu Za di rawat saat peristiwa penculikan." Kata Daniel


Zalynda mengangguk "Berarti tes ini baru saja di dapatkan ya?" Tanya Zalynda


"Iya, sekitar dua puluh hari yang lalu sesaat sebelum kita bertemu di taman. Paginya saya diberitahu."


Zalynda menunduk sambil memainkan ujung kerudungnya "Kenapa bapak tidak langsung beritahu Za?"


"Saya menunggu waktu yang tepat dan memilih kata-kata yang tepat. Tadinya saya ingin mengundang Za makan di rumah bersama saya dan mama. Di situlah rencananya akan saya beritahukan. Ternyata memang manusia hanya bisa berencana."


Daniel menatap Zalynda yang terdiam. Sedikit ketakutan menyelimuti hati Daniel. Pria itu takut kalau Zalynda menolaknya. Daniel menghembuskan nafasnya

__ADS_1


"Sebelumnya saya tidak pernah tahu akan keberadaan dirimu. Saya hanya melihat Za sebagai wanita yang mirip dengan Farah karena kalian adalah saudara jauh, sampai Ray memberitahukan semuanya."


"Ray tahu?" Zalynda refleks menoleh ke arah Daniel. Daniel mengangguk


"Dia lelaki hebat. Dia melakukan segalanya untukmu. Setidaknya saya sangat bersyukur Za mendapatkan pria sebaik Ray dan bukan seperti saya, pria bodoh yang baru menyadari kalau dirinya telah menelantarkan anaknya selama bertahun-tahun."


Daniel sedikit berharap kalau Zalynda akan merespon ucapannya. Namun Zalynda hanya terdiam mendengarkan ucapan Daniel. Daniel menatap Zalynda sambil tersenyum


"Saya hanya ingin menyampaikan hal ini. Walau saya sangat berharap Za menerima saya, tetapi sayapun harus siap menerima kalau Za menolak keberadaan saya."


Zalynda menghela nafasnya "Sebetulnya Za dari dulu sangat penasaran seperti apa wajah ayah Za. Kalau melihat kedekatan teman-teman Za dengan ayahnya membuat Za sedikit iri."


"Maafkan saya.." kata Daniel sambil tersenyum kecut


"Za waktu kecil selalu membayangkan kalau wajah ayah Za sangat tampan sampai Za pernah membayangkan seorang artis papan atas sebagai ayah khayalan Za.."


Zalynda tertawa kecil sembari menunduk. Daniel tersenyum kecut


"Za kecewa ya karena saya jauh dari bayangan Za?"


Zalynda mengangguk sambil menatap Daniel. "Ya, anda sangat jauh.."


Daniel terdiam sedetik mencerna ucapan Zalynda. Kemudian pria itu tertawa sambil mengelus kepala Zalynda. Mata Daniel terlihat berkaca-kaca


"Boleh saya minta Za panggil saya Papa?" Tanya Daniel penuh harap


Mata Zalynda ikut berkaca-kaca. Kata itulah yang ingin sekali Zalynda ucapkan selama ini. Bibir gadis itu bergetar


"Papa.."


Daniel tak kuasa membendung airmatanya. Pria itu segera memeluk Zalynda erat. Zalynda pun balas memeluk Daniel


"Papa.. Papa.."


Dari kejauhan Ray melihat interaksi keduanya sambil tersenyum. Pemuda itu berbalik meninggalkan Zalynda dan Daniel


"Sepertinya sandwich di kafetaria cukup enak.." Gumam Ray


***


Kondisi Zalynda sudah jauh lebih baik dengan berbagai therapy gerak yang di sarankan dokter untuknya. Gadis itu sudah diperbolehkan pulang

__ADS_1


Aya dan bu Reema berebut untuk membawa Zalynda ke rumah mereka karena mereka khawatir tidak ada yang bisa menjaga Zalynda di apartemen saat Ray bekerja. Akhirnya diputuskan untuk membawa Zalynda ke rumah keluarga Al Farobi dengan pertimbangan jaraknya lebih dekat menuju rumah sakit


Ardhi menggelar pesta kecil-kecilan yang hanya dihadiri oleh keluarga Al Farobi dan keluarga Daniel untuk menyambut Zalynda.


Zalynda terharu melihat penyambutan untuk dirinya. Tidak pernah terlintas sebelumnya kalau dirinya bisa memiliki keluarga yang menyayangi dirinya. Tak henti Zalynda mengucap syukur


Bu Reema terharu melihat perhatian keluarga Al Farobi untuk Zalynda. Mereka sama sekali tidak mempermasalahkan kalau Zalynda merupakan putri Daniel, seseorang yang bermasalah dengan mereka di masa lalu


Mata Zalynda berkaca-kaca melihat Tuan Wijaya yang menghampirinya menggunakan kursi roda. Sudah lama sekali Zalynda tidak bertemu tuan Wijaya. Dalam ingatan Zalynda, tuan Wijaya walaupun sudah berumur tetapi postur tubuhnya gagah berwibawa. Beda dengan tuan Wijaya yang berada didepannya. Tampak ringkih, kurus dan terlihat tua


Tangan tuan Wijaya bergetar membelai kepala Zalynda yang tertutup kerudung. Seulas senyum terbit di bibirnya


"Syukurlah kau sudah sadar, nak. Kau tidak tahu betapa takutnya kakek kemarin-kemarin melihatmu koma.."


Airmata Zalynda mengalir deras. Segera gadis itu meraih tangan tuan Wijaya dan menciuminya "Maafin Linda, kakek. Linda pergi tanpa pamit ke kakek."


"Kamu tidak salah nak. Kakek yang salah karena tidak becus mencarimu.."


"Anda tidak bersalah pak. Anda sudah mengerahkan kemampuan terbaik anda. Sayangnya orang yang anda percayai justru berkhianat." Kata Ray yang ikut duduk di samping Zalynda


Kening tuan Wijaya sedikit berkerut "Yono? Jadi dia.."


"Betul. Dia tidak menggunakan uang yang anda berikan untuk menyewa detektif. Namun ia menggunakannya untuk berfoya-foya. Papa bisa menunjukkan bukti slip transaksinya." Kata Ray


"Ternyata selama ini kakek telah ditipu oleh Yono. Kakek memang baru mengetahui tabiat buruk Yono saat kakek terserang stroke tetapi kakek tidak menduga Yono sudah sejahat itu sejak dulu pada kakek.." kata Tuan Wijaya dengan geram


Ray mengatup bibirnya kuat-kuat. Sebelumnya Ray sudah berjanji pada Zalynda untuk tidak menceritakan semua keburukan Yono pada tuan Wijaya karena Zalynda khawatir tuan Wijaya akan sedih dan mempengaruhi kesehatan tubuhnya


Zalynda tersenyum sambil menggenggam tangan tuan Wijaya. "Yang penting Linda sudah ketemu lagi sama kakek."


Mata tuan Wijaya mengerjap perlahan "Linda..ada yang ingin kakek sampaikan padamu."


Tuan Wijaya tampak menarik nafas dalam-dalam "Sebenarnya, Rina bukanlah mama kamu.."


Tuan Wijaya menghentikan kalimatnya untuk melihat reaksi Zalynda. Terlihat wajah Zalynda tidak nampak terkejut


"Kamu..kamu benar adalah anak Farah, putri kakek. Yang artinya..kamu adalah cucu kakek." Kata tuan Wijaya lagi


Mata Zalynda mengerjap menghalau genangan yang berkumpul di matanya dan langsung mengalir di pipi Zalynda.


"Kalau Linda cucu kakek, kenapa kakek tega membuang Linda?"

__ADS_1


__ADS_2