CAHAYA BINTANG SURGA

CAHAYA BINTANG SURGA
PART 13


__ADS_3

Zalynda menebar pandangan di sekeliling ruangan. Apartemen Ray tergolong mewah dengan pintu panel otomatis dengan kunci sederetan sandi angka


Untuk seseorang yang sudah menikah, apartemen Ray masih sangat bernuansa maskulin. Hanya di dominasi cat abu-abu, hitam dan putih. Bahkan dapurnya pun bernuansa putih dengan rak kabinet hitam


"Mungkin istrinya punya selera yang sama dengan Ray, atau ini tempatnya menyendiri.." Pikir Zalynda


Zalynda masih berdiri di tempatnya saat Ray keluar dari kamarnya


"Kamu masih di situ?" Tanya Ray membuyarkan pikiran Zalynda. Ray sudah berganti baju menggunakan t-shirt biru pendek dan celana panjang. Penampilan casual Ray terlihat lebih fresh. Zalynda segera mengalihkan pandangannya.


"Ng..aku tidur di mana?" Zalynda memberanikan diri bertanya


"Di kamar."


Zalynda melihat ada dua pintu. Yang satu adalah kamar tempat tadi Ray keluar. Berarti kamar Zalynda adalah pintu sebelahnya


Zalynda segera menggeret kopernya menuju pintu di samping kamar Ray.


"Itu ruang penyimpanan barang-barang. Kamu yakin mau tidur di sana?" Suara Ray menghentikan tangan Zalynda yang hendak meraih kenop pintu. Refleks Zalynda menoleh ke arah Ray


"Jadi aku tidur di mana?"


Sejenak Ray menatap ke arah Zalynda lalu membuka pintu kamarnya lebar-lebar.


Mata Zalynda terbelalak "Jangan bilang kalau kita sekamar."


"Kenapa? Kita sudah menikah. Apa salahnya sekamar?" Tanya Ray datar sambil terus menatap ke arah Zalynda


Zalynda semakin salah tingkah. Wajahnya memerah. Tanpa sadar, Zalynda menggenggam pegangan kopernya kuat-kuat


Ray menghela nafas. Segera di raihnya koper dari tangan Zalynda. Tanpa banyak bicara, Ray segera menarik koper Zalynda ke kamar. Mau tak mau, Zalynda mengikuti langkah Ray


Kamar Ray juga didominasi warna abu muda dan krem. Wangi citrus menebar. Untuk kamar lelaki, Ray terlihat cukup rapi.


Ray membuka lemari tanam di dinding. Terlihat beberapa ruang kosong di sana


"Kamu bisa taruh baju-bajumu di sini Za. Aku keluar dulu, mau pesan makanan. Kamu mandi aja."


Ray segera keluar melewati Zalynda. Saat terdengar pintu di tutup, Zalynda menghembuskan nafasnya. Dalam cermin besar, Zalynda mematut dirinya. Wajahnya terlihat kusam dan letih


Zalynda memutuskan untuk segera membersihkan diri. Hari ini benar-benar menguras tenaganya


Zalynda memeriksa kamar mandi. Hanya ada sabun dan shampo pria. Pikiran Zalynda semakin yakin, apartemen ini tempat Ray untuk menyendiri. Untung Zalynda membawa peralatan mandinya sendiri yang segera di tata di dekat shower dan wastafel.

__ADS_1


Dalam guyuran shower, Zalynda kembali merenungi apa yang sudah terjadi. Rasanya masih belum percaya kalau dirinya sudah menikah dengan orang yang selama ini ia impikan, walaupun Zalynda tidak mengetahui kedepannya seperti apa.


Yang Zalynda tahu, Ray sudah menikah dan hanya menganggap dirinya sebatas teman, tidak lebih. Zalynda tidak berani bermimpi terlalu tinggi


Butuh waktu hampir 30 menit Zalynda di kamar mandi karena gadis itu terlebih dahulu mengeringkan rambutnya menggunakan hair dryer yang ada di kamar mandi dan melakukan ritual para gadis seperti memakai deodorant dan hand body


Zalynda segera keluar sambil sebelumnya melihat ke sekeliling untuk memeriksa Ray tidak ada di kamar. Zalynda bernafas lega, gadis itu keluar hanya menggunakan handuk yang melilit tubuhnya.


Sebetulnya di kamar mandi ada bath robe, hanya saja Zalynda lebih nyaman menggunakan handuknya


Dengan cepat Zalynda mengeluarkan pakaiannya dari koper. Pandangannya tertuju pada kotak gelang miliknya. Di raihnya kotak tersebut dan diciumnya perlahan


"Mamah.. Za kangen.." bisik Zalynda pelan. Matanya mulai mengembun.


Dihembuskannya nafasnya kasar. "Sudah jangan cengeng Za!" Bathinnya menyemangati diri sendiri


Zalynda membuka handuknya dan membiarkan benda itu jatuh di bawah kakinya yang jenjang. Zalynda hendak memakai d*l*m*nnya, tepat saat pintu kamar terbuka


Sejenak pandangan mereka bertatapan


***


Petugas goput datang membawakan pesanan Ray. Bersyukur masih ada makanan yang buka malam ini. Segera Ray meletakkan makanannya di meja makan


Ray melihat ke arah jam di atas nakas. Keningnya berkerut


"Lama sekali gadis itu. Apa dia tidak lapar? Atau dia langsung tertidur?" Bathin Ray sambil mendekati kamar.


Di tempelkan telinganya di pintu. Tidak terdengar suara apapun. Ray segera membuka handle pintu dan mendorongnya perlahan. Matanya pun langsung tertuju ke dalam kamarnya


Pemandangan di dalam kamarnya sontak membuat Ray tercengang dengan tangan menggenggam handle pintu kuat-kuat. Darahnya langsung mengalir ke tempat yang jarang terlewati membangunkan syaraf-syaraf dan otot di sana


Ray seakan lupa berkedip melihat tubuh mulus Zalynda tanpa sehelai benangpun. Dilihat dari handuk yang jatuh di dekat kaki gadis itu dan pakaian kecil dalam genggaman Zalynda, Ray menduga gadis itu baru keluar dari kamar mandi dan hendak berpakaian


Zalynda pun terlihat sangat terkejut sehingga gadis itu menjatuhkan d*l*m*nnya.


"R-Ray.." desis Zalynda


Dengan cepat Zalynda memungut handuk di kakinya dan langsung menutupi tubuh depannya


"A-aku mau pakai baju.." Cicit Zalynda dengan wajah memerah


Ray melangkah perlahan mendekati Zalynda. Gadis itu mundur ke belakang sambil menutupi tubuh depannya dengan handuk

__ADS_1


Ray menarik ujung bibirnya. Serapat apapun Zalynda menutup tubuh bagian depannya, cermin besar di sana justru mematutkan tubuh belakang Zalynda yang terekspose. Zalynda tidak menyadari hal itu


Ray melangkah semakin dekat. Terlihat wajah Zalynda memerah. Wangi sabun Zalynda tercium menggelitik indra penciuman Ray. Wangi sekali..


Gadis itu menggigit bibir bawahnya membuat pemandangan yang menurut Ray sangat seksi.


"Aku suaminya, halal bukan kalau aku menyentuhnya malam ini?" Bisik logika Ray


"Yes, mulai malam ini aku resmi memiliki partner bertanding." Bisik suara hati Ray lagi


Ray menggeram


Ray menarik pinggang Zalynda hingga tubuh Zalynda merapat pada tubuhnya. Tangan Ray refleks membelai tubuh belakang Zalynda yang terbuka, menyadarkan gadis itu kalau tubuh belakangnya tidak tertutup apa-apa.


"Apa yang hendak ka..mmmpphh.."


Suara Zalynda teredam dalam mulut Ray yang langsung m*****t rakus bibirnya. Zalynda terbelalak dengan serangan tiba-tiba dari Ray. Tangannya refleks mendorong dada Ray untuk menjauh, namun yang terjadi justru handuknya yang terlepas dari genggaman meluncur ke bawah kakinya


"Sial!" Bathin Zalynda berteriak. Zalynda terlihat panik dan berusaha menutupi asetnya


Ray terlihat tersenyum menatap pandangan di depannya sementara bibirnya masih terus menciumi bibir Zalynda. Ray mulai menyetir tubuh Zalynda, mendorongnya hingga terlentang di ranjang


Kali ini Ray berterima kasih pada teman-temannya yang kadang mengajaknya menonton film dewasa. Setidaknya Ray belajar bagaimana caranya melakukan adegan malam ini


Namun Ray terlupa untuk bersikap lembut. Hal ini justru menakutkan untuk Zalynda


"Hmmph..Hhmmph.." Suara Zalynda teredam


Zalynda masih terus mencoba melepaskan diri dari Ray. Kelebat bayangan masa lalu saat Yono yang selalu melecehkan dirinya, peristiwa di parkiran, peristiwa di club XX terus membayanginya


Nafasnya terasa sesak, jemarinya mendingin. Tubuh Zalynda bergetar. Airmatanya deras mengalir tanpa tertahankan


Ray merasa ada yang aneh dengan Zalynda. Tangan gadis itu terasa dingin di dada Ray. Tubuhnya terasa bergetar. Pemuda itu segera melepaskan c*mbuannya dan menatap ke wajah Zalynda


Mata Ray membola. Gadis itu terlihat gemetar, seperti sulit menarik nafas.


"Za..hey, Za!" Ray menangkup pipi Zalynda mencoba menenangkannya. Tangisan Zalynda makin kencang


"J-jangan om..J-jangan.." desis Zalynda berkali-kali


"Om? Za! Kamu kenapa, Za! Za!" Teriak Ray frustasi melihat mata Zalynda mulai terpejam


Terlambat..

__ADS_1


Zalynda pingsan


__ADS_2