
"Benar, mama. Niel sudah pulang.."
Bu Reema menatap putranya, Daniel Pratama, dengan pandangan haru.
"Kamu nggak balik ke Jepang kan?" Tanya bu Reema sambil mengajak Daniel ke ruang makan. Terlebih dahulu Daniel mencuci tangannya di wastafel lalu duduk di meja makan
"Nggak, ma. Niel dapat posisi manager umum senior di cabang Jakarta. Paling Niel bolak-balik untuk laporan ke pusat beberapa bulan sekali. Selebihnya bisa via email."
Bu Reema tersenyum sambil menyorongkan teh manis hangat yang baru saja dibuatnya ke hadapan Daniel. Daniel mengucapkan terima kasih dan langsung menyesapnya
"Jadi, apa kegiatanmu hari ini?"
Daniel menggeleng "Di rumah aja, nemenin mama. Senin Niel baru pergi ke kantor untuk serah terima jabatan."
"Baguslah, tadi Za WA mama kalau besok dia ijin tidak datang. Kalau kamu dirumah mama ada temannya."
"Za?" Ulang Daniel
"Eh iya, Zalynda namanya. Dia gadis yang bantu-bantu mama disini."
Kening Daniel berkerut seakan pernah mendengar nama itu, tetapi dimana?
"Anaknya cekatan, baik.." Lanjut bu Reema lagi
Daniel refleks menarik ujung bibirnya "Pembantu? Mama udah punya dua orang plus tukang kebun masih butuh pembantu lagi?"
"Bukan, lebih mirip asisten pribadi mama. Dia itu pernah menyelamatkan mama waktu hampir di serempet mobil lho Niel. Mama pertama lihat dia udah seneng gitu bawaannyal."
"Terus mama tawarin kerja di sini?"
Bu Reema mengangguk. Daniel menggeleng-gelengkan kepalanya. Benar dugaannya kalau ibunya yang menarik gadis itu bekerja di rumahnya akibat balas budi
"Kasihan dia Niel. Jalan hidupnya kalau diceritakan sedih. Tapi mama bersyukur dia sekarang udah nikah. Suaminya kayaknya sayang banget sama dia.."
"Ooh dah nikah? Kirain mama mau jodohin sama Niel kayak sebelum-sebelumnya." Daniel terkekeh
Bu Reema melotot "Ah dia itu lebih pantes jadi anak kamu ketimbang jadi istri kamu. Lagian kamu sih hobi banget kawin cerai sampai dua kali."
Daniel tersenyum kecut mendengar omelan sayang dari bu Reema
Teringat pernikahan pertamanya dari perjodohan antara kedua orang tua. Tidak ada cinta diantara keduanya, mereka berpisah baik-baik.
Pernikahan keduanya bersama rekan bisnisnya di Jepang, atas pilihannya sendiri. Namun wanita itu ternyata hanya memanfaatkan posisi Daniel untuk mencuri informasi perusahaan.
Daniel merasa dikecewakan dan dikhianati, memutuskan untuk bercerai. Alasan kepindahannya ke Indonesia pun untuk menghindari wanita itu yang masih memohon untuk kembali pada Daniel
Pandangan Daniel menerawang. Dua pernikahannya memang gagal. Mungkin ini hukuman yang Tuhan berikan atas dosa-dosanya di masa lalu.
Selain itu,masih ada satu nama yang terus bertahan di hati Daniel. Nama seorang wanita yang selalu menempati posisi teratas hatinya
Walau wanita itu kini tidak mengenalinya, walau wanita itu kini hanya bermain dengan imajinasinya, Daniel tetap tidak bisa menghilangkan bayangan wanita itu dari pikiran
Masih segar di ingatan Daniel bagaimana wanita itu tersenyum, tertawa, bahkan begitu menggairahkan di ranjang. Tanpa sadar Daniel tersenyum
"Niel.."
__ADS_1
Suara bu Reema mengakhiri lamunan Daniel. Pria itu menatap mata tua bu Reema yang masih memancarkan keteduhan untuk Daniel
"Ya ma?"
Bu Reema tersenyum lembut sambil mengelus punggung tangan Daniel.
"Mama senang kamu pulang."
***
"Bunda, segini aja kan belanjanya?* Tanya Ian sambil mendorong troli menuju pintu keluar supermarket
"Cukup Yan, atau kamu mau beli sesuatu?"
Ian menggeleng sambil tersenyum. Mereka sudah keluar dari supermarket sambil mengobrol santai. Suasana di parkiran tidak seramai biasa, kemungkinan karena sudah lewat jam 8 malam
"Mas.." panggil seseorang membuat Ian menoleh ke belakang
"Ada apa?" Tanya Ian saat melihat seorang gadis yang menyodorkan secarik kertas
"Maaf, saya mahasiswi tingkat akhir yang lagi mengajukan skripsi. Saya sedang mengumpulkan kuisioner beberapa pelanggan di supermarket ini sebagai bahan skripsi saya. Mas bisa bantu isi?"
Ian menatap malas secarik kertas yang diberikan gadis didepannya
"Isi aja sebentar. Nggak ada salahnya bantu orang." Kata Aya sambil mengambil alih troli yang dibawa Ian.
"Ok." Kata Ian singkat. Segera pemuda itu mengisi beberapa pertanyaan dari kuisioner yang diberikan
Aya mendorong trolinya melintasi parkiran supermarket, tanpa di sadari sebuah mobil melaju kencang ke arahnya
Tiba-tiba seorang gadis berlari kearah Aya dan menarik Aya ke pinggir. Mobil hitam itu hanya menyerempet troli Aya dan kembali melaju kencang
Ian terbelalak menyaksikan hal itu dan segera berlari menghampiri Aya yang terlihat kaget dan syok
"Bunda..bunda nggak apa-apa?" Tanya Ian khawatir sambil memeriksa Aya. Aya mengerjap beberapa kali untuk mengembalikan kesadarannya
"Nggak apa-apa, bunda nggak apa-apa kok Yan."
Gadis yang tadi menarik Aya mengajak wanita itu duduk sejenak di trotoar parkiran dan memberikan minum untuk Aya.
"Tante nggak apa-apa?" Tanya gadis itu dengan pandangan khawatir
Aya meneguk minuman yang diberikan gadis itu. Sesaat Aya seperti mengatur nafasnya
"Bunda, gimana?" Tanya Ian dengan nada khawatir melihat Aya menarik dan menghembuskan nafas
Aya tersenyum ke arah Ian sambil menggeleng untuk menenangkan putranya "Bunda nggak apa-apa, Yan. Cuma kaget aja."
Lalu pandangan Aya beralih ke arah gadis yang tadi menariknya
"Terima kasih banyak ya, nak. Siapa nama kamu?"
Gadis itu balas tersenyum manis ke arah Aya.
"Saya Diva, tante.."
__ADS_1
***
Ray meletakkan beberapa tas belanjaan di meja. Walaupun resepsi pernikahan Marvin dan Ghea berlangsung hingga jam 9 malam, Ray harus pulang lebih awal karena akan membawa (atau lebih tepatnya memaksa) Zalynda untuk berbelanja baju di salah satu butik.
Awalnya gadis itu menolak, namun Zalynda teringat Ray akan membawanya bertemu Ardhi dan Aya. Zalynda ingat, ia tidak memiliki pakaian yang pantas selain kaos, kemeja dan rok dan celana harian
Satu-satunya gaun yang dimiliki Zalynda adalah yang saat ini gadis itu kenakan. Karena itu Zalynda menyetujui ajakan Ray untuk membeli baju yang layak untuk bertemu orang tua Ray
Niat hati hanya ingin satu baju. Namun Ray memilihkan beberapa gaun, pakaian dalam juga lingerie untuk Zalynda yang membuat wajah gadis itu bak kepiting rebus, sementara para SPG nya hanya senyum-senyum penuh arti
"Ray.." panggil Zalynda saat melihat Ray merebahkan diri di sofa.
Ray membuka matanya dan menatap ke arah Zalynda yang membawakan kopi krimer di tangannya.
"Ya Za?" Ray langsung mengubah posisinya menjadi duduk
Zalynda tersenyum sambil menyerahkan kopi krimer di tangannya
"Minum dulu."
Ray tersenyum sembari mengangguk dan menerima kopi krimer dari tangan Zalynda
"Enak juga punya istri, lagi capek disodorin minum." Bathin Ray membuat pemuda itu mengulum senyumnya
"Ng.. Terima kasih juga untuk belanjanya tadi." Kata Zalynda lagi sambil menatap ke arah Ray yang sedang menyesap perlahan minumannya.
Ray mengangguk "Sama-sama."
Zalynda mengangguk pelan sembari tersenyum tipis, lalu membawa tas-tas belanja itu ke kamarnya.
"Hei.." panggilan Ray menghentikan langkah Zalynda. Gadis itu membalikkan badannya
"Bayarannya nggak cukup kalau kopi krimer ya." Ucap Ray lagi sambil mengedipkan sebelah matanya membuat Zalynda menjadi salah tingkah. Segera Zalynda melangkah cepat masuk kedalam kamarnya
Ray terkekeh mendengar bunyi 'klik' dari kamar Zalynda. Gadis itu masih saja mengunci pintu seolah takut Ray akan menerobos masuk. Padahal kemarin hampir saja mereka melakukan malam pertama
Malam pertama...
Bayangan semalam kembali terbayang di mata Ray seolah slide film yang kembali di putar dan menimbulkan aliran darahnya berkumpul pada satu titik
"Duuh..."
Ray menghela nafas berat. Perlahan tangannya memijat pelipisnya. Walau sebetulnya tempat denyutannya berada di bagian lain tubuhnya dan bukan di kepalanya, namun tak urung hal itu membuat kepalanya sedikit pening
Ray memutuskan mendekati kamar Zalynda. Mungkin kalau Ray meminta, Zalynda akan mengabulkannya. Toh Ray berhak sepenuhnya atas diri Zalynda
Ting tong...
Bunyi bel di pintu mengalihkan perhatian Ray. Kening Ray berkerut melihat jam.
"Siapa yang datang malam-malam begini?" Bisiknya perlahan
Dengan langkah lebar Ray bergerak ke arah pintu depan dan membukanya. Raut wajah Ray nampak terkejut melihat sosok pria yang menjulang di hadapannya
"Ayah.."
__ADS_1