
"Boleh saya lihat gelang kamu?" Tanya Daniel
Zalynda melepaskan gelangnya dan memberikan ke Daniel. Daniel meneliti gelang Zalynda. Persis sama dengan yang ia hadiahkan untuk Farah dulu
Mata Daniel terpaku pada tulisan halus yang berada di dalam gelang tersebut
Farah Afriyani Wijaya
Daniel melihat sekali lagi untuk memastikan matanya tidak menipunya. Benar, nama Farah terukir di situ
"Ada apa Niel?" Tanya bu Reema
Daniel terhenyak "Ah, nggak ada apa-apa mama."
Daniel tersenyum sambil mengembalikan gelang Zalynda. Gadis itu langsung memakainya kembali
"Saya barusan lihat kamu pakai ini Za." Kata bu Reema
"Iya bu, di suruh suami saya. Dia bilang sambil cari warna yang pas untuk kalung dan cincin." Kata Zalynda sambil mengelus gelangnya
"Berarti dari dulu nggak pernah kamu pakai?" Tanya Daniel. Matanya masih melihat gelang Zalynda
"Nggak pak. Karena ini satu-satunya peninggalan mamah jadi Za simpan saja. Takut hilang." Kata Zalynda sambil menggeleng
"Ya sudah, ayo makan lagi. Jangan sampai kamu telat lho Niel." Kata bu Reema
Daniel masih mencuri pandang ke arah Zalynda yang berbincang hangat dengan bu Reema
"Jangan-jangan gadis ini tahu dimana Farah berada." Bisik hati Daniel
***
"Boss, gila aja elo kasih kerjaan ke gua!"
Ray mengangkat wajahnya melihat Marvin ngos-ngosan datang membawa tumpukan dokumen yang harus diperiksanya. Pemuda itu langsung mendudukkan b*kong nya di sofa
"Bersyukur Vin, segitu udah gue kerjain separuh. Kalau gue jahat, gue kasih aja draftnya." Kata Ray datar sambil kembali menekuni pekerjaannya
"Tapi nggak harus selesai hari ini kan Ray?" Marvin mulai memasang wajah memelas berharap Ray mengasihaninya
"Lagi elonya cuti kelamaan."
"Ck, gue kan cuti kawin brother. Gini nih yang rasanya terbang ke surga kemudian dihempas ke neraka." Kata Marvin berdecak kesal. Sedetik kemudian Marvin menyadari ucapannya
"Sorry..elo malah nggak cuti ya."
Ray terkekeh mendengar Marvin merasa bersalah "Santai aja napa Vin."
Ray melihat jam dinding yang terpasang di ruangannya. Sudah hampir jam sebelas. Biasanya Zalynda sudah bersiap pulang dari rumah bu Reema. Ray segera menghubungi Asep
"Hallo boss."
__ADS_1
"Asep, kamu sudah sampai dimana?"
"Asep sudah dibawah pohon dekat rumah temannya nyonya Zalynda, boss."
"Good. Tunggu sampai Za keluar terus ikuti dari belakang. Ingat, jangan sampai dia tahu ya.Kalau Za sudah sampai butik, kabari saya. Lalu kamu boleh kembali ke kantor."
"Ashiaap boss. Itu sepertinya nyonya Zalynda sudah keluar."
"Ya, buntuti dari belakang. Kalau ada yang mencurigakan segera bawa Za pergi."
Ray mematikan sambungan selularnya. Marvin tertawa melihat tingkah boss sekaligus sahabatnya ini
"Gila, nggak sangka ternyata elo over protective juga ya."
Ray memandang sahabatnya sambil tersenyum "Gue nggak mau omnya Za datang dan nyakitin dia lagi Vin."
"Itu om nya Za punya dendam apa sama Za? Ada ya jahat begitu." Kata Marvin
"Om tiri, Vin. Mungkin..karena dia nggak mau kalau Za kembali ke tempat seharusnya dia berada." Kata Ray
Kening Marvin berkerut. "Maksudnya?"
Ray menceritakan segala penemuannya pada Marvin mulai dari cerita Zalynda hingga benang merah antara Zalynda dan keluarga tuan Wijaya, membuat Marvin sedikit tercengang
"Jadi elo pikir Za itu cucunya Wijaya Group? Pewaris tunggal?" Tanya Marvin. Ray mengangguk
"Udah beberapa bukti yang gue kumpulin. Walau gue belum tahu motif kenapa Za dipisahkan sama ibunya. Pengennya gue ketemu sama bu Farah supaya bisa melakukan tes DNA biar yakin."
Ray kembali melihat ke arah jam. "Yang jelas bukan hari ini. Gue mau cabut dulu siang ini. Ada urusan penting."
Ray segera membereskan beberapa berkas yang berserakan. Pemuda itu berdiri dan memakai jasnya, membuat Marvin sedikit melongo
"Eh, trus ini kerjaan berarti kudu beres hari ini? " Tanya Marvin sambil menunjuk tumpukan berkas. Ray dengan santai melangkah keluar ruangannya
"Udah gue bantu kerjain separuh. Separuh lagi gue kasih ke elo. Gue dateng udah beres ya. Thanks brother." Kata Ray sambil melambaikan tangannya sebelum menutup pintu
"Boss sadis. Untung temen gue." Kata Marvin kesal
***
Aryo mengerutkan kening sambil menggeleng melihat hasil foto Zalynda dan Sagara juga Diva dan Sagara
"Nggak dapet feel nya. Coba diulangi lagi. Pindah tempat, Za di kanan dan Diva di kiri Sagara."
"Ekspresinya coba jangan tegang, Za. Diva jangan terlalu m***m ke Sagara bisa?" Tanya Vera sambil ikut melihat hasil foto Aryo di layar
Zalynda terlihat gugup dan grogi untuk sesi foto perdananya. Dulu memang ia tergabung dalam barisan gadis cantik di Fabulous Sorority dan banyak menampilkan foto cantik dirinya namun Zalynda berfoto bersama para gadis ataupun sendirian, bukan dipasangkan dengan lelaki asing dan harus bergaya mesra begini
"Coba Diva sama Sagara dulu. Za minggir sini dulu." Kata Aryo
Zalynda segera melipir ke pinggir. Diva dan Sagara mulai beraksi. Sagara terlihat sangat profesional, terkadang mengarahkan Diva untuk bergaya. Aryo tidak banyak berkomentar, sepertinya pria itu cukup puas dengan akting foto Diva dan Sagara
__ADS_1
"Kak Vera."
Vera menoleh dan tersenyum saat mengetahui siapa yang memanggilnya
"Sini masuk Ray."
Ray masuk dan melihat proses pemotretan. Zalynda berada di depan, tidak menyadari ada Ray di belakang
"Lancar?" Tanya Ray
Vera menghela nafas pelan
"Ya gitu, masih pada malu-malu dan tegang. Ada juga yang malu-maluin." bisik Vera
Ray terkekeh. Pemuda itu menggerakkan mouse untuk melihat hasil foto di laptop
Ray mengerutkan keningnya melihat beberapa hasil foto Aryo tadi saat Zalynda, Sagara dan Diva difoto bersama. Beberapa pose Sagara dan Zalynda membuat Ray cemburu, walau terlihat wajah Zalynda kaku dan tegang
Ada saat Sagara melingkarkan tangannya di pinggang ramping Zalynda, saat mereka berdekatan atau saat Zalynda bersandar di bahu Sagara
"Ini bunda yang suruh foto begini kak?" Tanya Ray
Vera terkekeh pelan saat merasakan nada cemburu di kalimat Ray "Bukan, idenya mas Aryo. Kamu cemburu Ray? Sama yang mana?"
Ray mendengkus kesal. "Bunda mana?"
"Bu Aya sedang temu janji dengan klien di rumahnya klien dari pagi. Harusnya sudah ke butik lagi. Macet mungkin."
"Ok, sekarang gantian Zalynda." Kata Aryo sambil memeriksa hasil fotonya
Zalynda terlihat maju menggantikan posisi Diva. Diva tersenyum licik, saat Zalynda melintas di sebelahnya kaki Diva sengaja dijulurkan ke samping sehingga Zalynda terantuk jatuh
"Hap"
Sagara dengan cepat menangkap pinggang Zalynda sebelum benar-benar jatuh. Zalynda pun refleks berpegangan pada pundak Sagara
"Kamu nggak apa-apa?" Tanya Sagara sambil membantu Zalynda berdiri tegak dengan masih memeluk pinggang Zalynda
"Maaf, iya aku ng-nggak.." Zalynda tersadar saat melihat ke arah Sagara. Jarak dirinya dengan pria itu amat dekat. Sesaat Zalynda dan Sagara bertatapan. Sagara tersenyum dan membelai pipi Zalynda dengan jarinya. Refleks Zalynda mendorong tubuh Sagara
"Duuh Za, kenapa di dorong? Tadi udah bagus, baru mau di foto." Omel Aryo frustasi
"Maaf mas, Za.." Zalynda menghentikan ucapannya saat menyadari Ray tengah menatapnya tajam. Ray pasti melihat semuanya. Pemuda itu terlihat menahan amarahnya
"Mungkin kamu nggak bakat jadi model, Linda." Kata Diva sedikit pedas
"Break 5 menit!" Perintah Aryo
Zalynda menunduk sambil menautkan jemarinya. Sagara menghampiri Zalynda dan membelai kepala gadis itu, membuat gadis itu terkejut. Ekor matanya langsung melihat ke arah Ray
"Santai aja. Jangan tegang, okey?" Kata Sagara lembut
__ADS_1
Tangan Ray refleks terkepal saat melihat Sagara membelai kepala Zalynda. Untung Ray ingat mereka ada di butik Aya, kalau tidak Ray sudah meninju Sagara karena berani menyentuh wanitanya