CAHAYA BINTANG SURGA

CAHAYA BINTANG SURGA
PART 131


__ADS_3

Usia kehamilan Zalynda sudah memasuki bulan ke enam. Perutnya terlihat lebih besar dibandingkan perut ibu hamil kebanyakan, karena Zalynda tengah mengandung anak kembar


Ray dan Zalynda mengetahui nya saat kunjungan USG bulan ke empat dimana rasa mual yang Ray rasakan sudah hilang sama sekali. Zalynda dan Ray cukup terkejut karena saat pemeriksaan pertama dokter hanya mendeteksi satu janin.


Dokter Wilda mengatakan wajar tidak terdeteksi karena saat USG pertama usia janin masih sangat muda. Setelah memasuki usia 12 minggu ke atas barulah bisa terdeteksi kalau ternyata ada dua nyawa yang sedang tumbuh di perut Zalynda


Ray pun makin over protective terhadap istrinya. Zalynda tidak boleh capek membuat adonan kue di tokonya. Cukup duduk dan mengawasi kinerja pegawai dan toko dari ruangan kerjanya. Untung saja Zalynda sempat merekrut seorang chef pastry dari tempat kursusnya dulu sehingga tugas Zalynda di dapur tidak terlalu berat


Memasuki usia enam bulan, Zalynda juga merasakan perasaannya jauh lebih sensitif dan selalu ingin bersama dengan Ray. Zalynda sedikit terhibur karena Daniel dan Farah selalu menyempatkan diri meneleponnya dengan video call bersama tuan Wijaya dan bu Reema


Saat ini tuan Wijaya dan bu Reema tinggal bersama Daniel dan Farah di Singapore karena Daniel naik jabatan dan dipindah tugaskan ke cabang TecnoTek di Singapura. Rumah bu Reema sudah dijual sedangkan rumah tuan Wijaya tetap diisi oleh mang Udin dan bi Ijah karena sesekali tuan Wijaya pulang ke Indonesia untuk bertemu dengan Zalynda


Saat ini Zalynda sedang menginap di rumah keluarga Al Farobi karena Ray sedang bertugas menilik proyek Frederick Groups Company di luar daerah. Ray terlalu khawatir meninggalkan Zalynda sendirian di apartemennya.


"Hayoo jangan bengong sendirian sore-sore begini." Ray tiba-tiba sudah datang dan memeluk Zalynda dari belakang


"Eh sudah datang? Kok nggak kedengeran salamnya?" Zalynda sedikit menoleh kebelakang. Ray dengan cepat mengecup pipi Zalynda yang terlihat lebih berisi


"Udah salam tadi. Kamu terlalu fokus lihat bunga-bunga di taman ini jadinya aku di cuekin padahal berhari-hari nggak ketemu." Kata Ray pura-pura marah


Zalynda tertawa sambil membelai rahang Ray. Zalynda sangat menyukai rahang Ray. Bentuknya tegas dengan bulu-bulu halus rapi yang menghiasinya dan menimbulkan sensasi tersendiri saat bergesekan dengan kulitnya


Pelukan hangat Ray saat ini membuat Zalynda ingin menghentikan waktu karena ingin selalu merasakan berada di dalam dekapan Ray. Entah karena hormon kehamilan ataupun keinginan dirinya


Zalynda faham Ray sedang dipersiapkan Ardhi untuk menggantikan posisinya sebagai CEO dari Frederick Groups Company di Indonesia. Karena itu tugas Ray akan sangat berat kedepannya dan Zalynda faham akan hal itu


Zalynda sebenarnya tidak ingin menjadi istri yang banyak menuntut, hanya saja saat-saat seperti sekarang, Zalynda sangat ingin selalu berada di dekat Ray


"Apa mereka anteng?" Tanya Ray sambil mengelus dan mencium perut Zalynda. Membuat hati Zalynda menghangat


"Anteng kok. Ya, biasa tendang sana sini. Sempit mungkin di dalam." Zalynda terkekeh sambil mengusap perutnya


"Sehat-sehat ya di dalam. Jangan terlalu merepotkan mama." Kata Ray kembali mengecup perut Zalynda


"Anak-anak ini akan tumbuh di lingkungan penuh kasih sayang. Banyak yang menyayangi mereka kelak. Aku sangat bersyukur.." Zalynda tiba-tiba tidak bisa membendung air matanya


"Eh kok nangis sih?" Tanya Ray yang langsung memeluk Zalynda

__ADS_1


"Nggak, aku inget waktu kecil dulu. Nggak punya siapa-siapa. Aku bersyukur anak-anak ku tidak mengalami apa yang pernah kurasakan.."


Ray mengeratkan pelukannya. Perasaan Zalynda memang halus, ditambah hormon kehamilan sehingga makin tinggi tingkat sensitifnya


"Mereka akan dilimpahi kasih sayang dari orang tua, kakek dan neneknya. Mama nya jangan sering nangis. Nanti anaknya cengeng lho." Kata Ray


Zalynda segera mengusap air matanya "Yang bener?"


Ray tertawa kecil. Mereka berdua kembali terdiam menikmati hembusan angin sore di taman samping milik Aya


"Bunga-bunga bunda bagus ya. Aku betah duduk lama-lama di sini." Kata Zalynda


"Bawa aja pulang beberapa pot." Kata Ray


"Ih kasihan bunga nya. Di apartemen nggak cukup cahaya matahari dan tanah." Ucap Zalynda


Ray terdiam. Bibirnya tersenyum


"Yuk masuk. Aku lapar, temenin aku makan." Kata Ray


Zalynda mengangguk sambil meraih tangan Ray. Mereka bergandengan masuk ke dalam rumah


Diva menghela nafas melihat baki makanannya. Hanya sayur dan sepotong tempe. Sangat jauh dari apa yang biasa dirinya makan dulu


Anggun menghampiri Diva yang duduk di pojokan untuk makan bersama.


"Nih, ambil punya mama kalau kamu masih pengen nambah lauk." Kata Anggun


Diva mendengkus keras "Kapan sih kita keluar dari sini ma? Diva udah nggak tahan lagi!"


"Ck, sabar aja Diva. Tiga tahun itu nggak lama." Kata Anggun mencoba menyabarkan putrinya


"Ah ini semua gara-gara mama yang punya ide mau bikin nyonya Aya celaka!" Kata Diva keras. Beberapa pasang mata tahanan yang sedang makan pun melihat ke arah mereka


"Enak saja! Coba kalau kamu nggak bantuin Alin buat ngerebut Rat dari Linda, nggak mungkin mereka tahu tempat persembunyian kita! Mana sok-sokan pakai drama menyandera segala!" Ucap Anggun tak kalah keras


"Oh, pelakor?" Tanya seorang tahanan bertubuh gemuk

__ADS_1


"Apa lo! Nggak usah ikut campur pembicaraan kita ya!" Kata Diva galak


Tahanan bertubuh gemuk itu tertawa mengejek "Emang elo nggak laku ya mbak sampai sok-sokan mau ngerebut suami orang?"


Anggun mencekal lengan Diva yang sudah berdiri menantang tahanan bertubuh gemuk itu. Namun Diva sudah dikuasai emosi menghempaskan tangan Anggun


"Denger ya, b**i! Emang elo pikir elo lebih baik dari gue? Urusan apa elo tiba-tiba ikutan nimbrung?!"


Tahanan bertubuh gemuk itu menggebrak meja


"Gue paling benci pelakor! Suami gue direbut sama pelakor macam elo!"


Diva terbahak "Ya jelas suami elo lebih milih cewek lain. Elo nggak lihat tampang dan tubuh elo?! Macam b**i hutan!"


Tahanan bertubuh gemuk itu tiba-tiba mendorong Diva hingga gadis itu terjungkal ke belakang. Belum hilang rasa terkejutnya, tahanan wanita itu menindihi perut Diva dan mulai memukuli Diva


PLAAK..PLAAK


Kehebohan terjadi di dalam penjara. Para tahanan berteriak-teriak. Bukan memisahkan malah saling menyoraki seolah mendapatkan tontonan gratis


"Hentikan! Anak saya bisa mati!" Teriak Anggun yang mencoba menahan tangan tahanan wanita itu. Namun tenaganya kalah besar


Wajah Diva sudah bengkak memerah. Sudut bibirnya berdarah. Tahanan wanita itu mencekik keras leher Diva hingga gadis itu megap-megap kehilangan pasokan oksigen


"Elo tahu kenapa gue masuk penjara? Karena gue ngebunuh suami dan pelakor itu! Gue capek kerja, mereka asyik-asyik menikmati duit gue. Gue nggak keberatan ngilangin satu nyawa pelakor lagi!" Kata tahanan wanita itu geram.


Diva merasa ada yang menusuk di lehernya. Pandangannya mulai mengabur, tenaganya makin melemah


Anggun melihat sebuah pisau tergeletak di meja. Secepat kilat Anggun mengambil pisau dan menusukkannya di punggung tahanan wanita itu. Jeritan beberapa tahanan terdengar saat Anggun beberapa kali menusukkan pisau itu.


"Lepaskan anakku! Mati saja kau!" Jerit Anggun kalap


DOR! DOR! DOR!


Gerakan Anggun terhenti saat dirinya merasakan sakit di dada kirinya. Rasanya panas bagaikan membakar jantungnya. Anggun sempat menatap tahanan wanita yang sudah tergeletak bersimbah darah akibat ditusuk beberapa kali oleh Anggun


Akhirnya Anggun roboh dengan luka tembakan di dada kirinya. Matanya terbuka seolah menyiratkan rasa sakit yang luar biasa.

__ADS_1


Dalam buram, Diva melihat betul bagaimana Anggun terjatuh dan pisau itu terlepas dari genggaman tangannya


"Ma..ma.." Desis Diva sebelum kegelapan menyergapnya


__ADS_2