
Yono terpekur lama di depan dua gundukan tanah yang tampak terawat itu. Tangannya mengelus batu nisan keduanya
"Ma.. Diva.." bisik Yono
"Maaf, Papa baru bisa datang. Maaf karena Papa tidak bisa memberikan apa yang kalian mau. Maafkan Papa yang tidak bisa melindungi kalian. Tapi Papa janji, Papa akan membalaskan dendam kalian."
Suara Yono terdengar seperti bisikan angin. Perlahan pria itu berdiri, kemudian berbalik meninggalkan taman pemakaman umum itu. Tadinya Yono hanya ingin membeli makan, namun entah mengapa hatinya ingin sekali mengunjungi tempat peristirahatan Anggun dan Diva. Suasana kini sudah menjelang senja.
"Gadis itu apa sudah bangun?" Tanya Yono pada dirinya sendiri.
Yono menghindari jalan besar karena yakin kemungkinan besar supir taksi tadi telah mengadukan dirinya. Untung Yono hafal seluk beluk jalan tikus sehingga sangat mudah baginya untuk meloloskan diri.
Hari sudah gelap saat mobil Yono memasuki pekarangan rumah yang dibelinya. Mata pria itu memandang rumah yang terlihat gelap
"Zalynda belum bangun rupanya. Apa gadis itu mati?" Bathin Yono
Dengan cepat pria itu turun dan masuk ke dalam rumahnya. Yono segera menyalakan saklar lampu. Tidak ada yang berubah. Pria itu bergegas menuju ke kamar tempat dirinya menyekap Zalynda. Mata Yono tertumbuk pada sebuah botol yang dibelinya di apotek. Pria itu dengan cepat mengambil botol itu lalu bergegas membuka pintu kamar yang terkunci
"Zalynda.." panggil Yono. Matanya mencoba membiasakan diri dengan kegelapan di dalam kamar. Tepat saat matanya menatap ke arah jendela, tepat matanya beradu dengan mata Zalynda yang sudah berada di luar jendela. Mata Yono membelalak, juga mata Zalynda
"B******k! Jangan lari kau!!" Teriak Yono
***
Ray mengumpat beberapa kali karena beberapa lampu merah dan macetnya jalanan menghambat jalannya. Sagara yang berada di sampingnya lebih banyak diam karena dirinya pun tidak bisa berbuat apa-apa. Kota Bogor memang banyak sekali lampu merah yang harus di lalui. Belum lagi jalanannya ada yang searah sehingga Ray harus berhati-hati kalau tidak dirinya akan memutar jauh dan akan tambah mengulur waktu
"S**t! Lampu merah lagi!" Rutuk Ray sambil memukul stir mobilnya
"God! Kukira kau salah satu pria langka yang sangat santun dalam berbicara, pak Rayhan." Ucap Sagara tidak tahan dengan segala rutukan dan umpatan Ray
"Jangan mengejekku, Sagara. Aku sedang dalam kondisi bisa makan orang." Kata Ray dingin.
Bertepatan dengan lampu yang berubah hijau, Ray segera memacu mobilnya membuat Sagara sedikit terdorong ke depan. Untung saja Sagara menggunakan seatbelt, kalau tidak kepalanya akan benjol terantuk dashboard
"Woow, chill Ray! Kau harus selamat karena kau harus menyelamatkan Zalynda. Bagaimana caranya kau menyelamatkan istrimu kalau kau kecelakaan lalu lintas." Ucap Sagara
__ADS_1
Ray hanya mendecih mendengar ucapan Sagara. Sagara pun terdiam sambil menatap lurus ke arah jalan Raya.
"Mobil polisi dan para bodyguard mu tertinggal di belakang." Kata Sagara memecahkan keheningan
"Aku tidak mau buang-buang waktu. Aku harus menyelamatkan Zalynda." Kata Ray sambil sesekali melihat ke arah aplikasi pelacak di handphonenya.
Mobil Ray berbelok menuju sebuah komplek perumahan baru. Sagara melihat ke sekelilingnya dengan kening berkerut. Komplek perumahan ini masih banyak yang kosong. Tidak banyak yang tinggal di sini
"Kau yakin ini tempatnya?" Tanya Sagara sambil terus melihat ke sekeliling
"Kau boleh turun kalau terus menggangguku." Ucap Ray sambil membelokkan mobilnya ke sebuah blok. Mata Ray memicing melihat sebuah taksi terparkir di halaman sebuah rumah. Ray memastikan, titik merah dari alat pelacaknya menunjukkan titik yang sama
Mobil Ray berhenti dengan jarak dua rumah dari rumah yang terparkir taksi di depannya. Bergegas Ray turun sambil melihat ke sekeliling. Sagara pun ikut turun. Keduanya saling berpandangan dan mengangguk. Keduanya mendekati rumah yang dituju. Samar terdengar suara
"Aaaagh.."
Ray membeku mendengar suara jeritan wanita dari rumah itu
"Zalynda…" desis Ray
***
"B******k! Jangan lari kau!!" Teriak Yono
Dengan perutnya yang besar tidak memungkinkan Zalynda untuk lari lebih cepat dari Yono. Dengan cepat Yono menyambar tubuh Zalynda dan membelitnya dengan lengan kekarnya
"Aaaah lepaskan aku!" Zalynda memberontak.
Yono tidak peduli. Pria itu mengangkat tubuh Zalynda dan membawanya menuju ke dalam rumah. Sesampainya di dalam rumah, Yono dengan kasar menurunkan tubuh Zalynda sehingga gadis itu terjatuh di lantai
"Aah.." Zalynda meringis saat tubuhnya terhempas ke lantai. Rasa ngilu langsung mendera tulangnya. Refleks Zalynda memeluk perutnya
Nafas Yono terdengar ngos-ngosan. Pria itu berjongkok di samping Zalynda sambil mengamati wajah Zalynda yang terlihat ketakutan
"Kita sudah lama nggak ketemu, kamu nggak menyambut om Linda?" Tanya Yono sambil membelai pipi Zalynda. Sontak Zalynda memundurkan kepalanya untuk menghindari tangan Yono. Sikap Zalynda sedikit melukai harga diri Yono
__ADS_1
PLAAK
Yono menampar Zalynda dengan keras sehingga wajah Zalynda langsung tertoleh ke samping. Zalynda langsung memegangi pipinya sambil menggigit bibirnya untuk mencegah suara isakannya terdengar oleh Yono
Yono mendengkus. Diraihnya dagu Zalynda dan mencengkram pipi Zalynda dengan keras
"Uugh..sakit." rintih Zalynda sambil memegang lengan Yono, mencoba menarik tangan Yono untuk melepaskan cengkraman di pipinya. Namun tenaga Yono lebih kuat
"Kalau saja kamu tidak datang ke Jakarta waktu itu, om pasti masih bersama-sama dengan tante Anggun dan Diva." Kata Yono yang semakin keras mencengkram pipi Zalynda lalu menghempasnya membuat Zalynda terdorong ke belakang
Zalynda mencoba bangun sambil menatap ke arah Yono walau dirinya ketakutan setengah mati
"Itu bukan salah Za. Za nggak pernah berniat mengambil apapun dari om." Kata Zalynda sambil beringsut ke belakang menjauhi Yono
Yono menggeram dan langsung menarik kepala belakang Zalynda. Zalynda menjerit karena sebagian rambutnya ikut terjambak
"Tidak berniat? Kamu buta heh?! Lihat apa yang terjadi pada kami. Lihat!!" Teriak Yono di depan wajah Zalynda. Zalynda memejamkan mata sembari meringis. Perutnya mulai terasa tegang
"Kamu tidak pantas berbahagia sementara kau berhutang dua nyawa pada om. Dan kini om akan membuatmu membayar itu semua!!" Yono dengan keras menghempaskan tubuh Zalynda sehingga gadis itu terjerembab ke belakang.
"Aaaagh.." jerit Zalynda saat merasakan sakit pada perutnya akibat membentur lantai.
Yono berdiri dan mengambil sebuah botol kecil dari sakunya. Botol yang dibelinya dari apotek. Yono segera membuka botol itu dan mendekatkannya di hadapan Zalynda
"Kita lihat apakah obat penggugur kandungan ini bereaksi pada kandunganmu.. Saatnya membayar semuanya, Linda." Bisik Yono kejam
Zalynda membelalakkan matanya mendengar kata-kata Yono. Gadis itu beringsut mundur menjauhi Yono, namun pria itu dengan cepat menahan Zalynda agar tetap di tempatnya. Yono kembali mencengkram pipi Zalynda dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya mendekatkan botol kecil itu ke bibir Zalynda
"Minum!!" Bentak Yono
Zalynda menggeleng sambil merapatkan bibirnya dengan keras, menolak membuka mulut dan menahan teriakan ketakutannya
Yono mendorong tubuh Zalynda hingga terbaring di lantai dan Yono menahan agar badan Zalynda tetap berada di bawahnya. Air mata Zalynda sudah bercucuran. Tenaganya tidak cukup kuat untuk mendorong Yono
"Kau akan membayar semuanya, Zalynda.."
__ADS_1
_____________
Sebentar lagi Cahaya Bintang Surga sudah mendekati ending. Maafkan aku yang beberapa hari jarang upload.