
Walaupun Zalynda meminta resepsi pernikahan sederhana yang dihadiri oleh keluarga dan teman-teman dekat saja, namun Ray menolaknya mengingat banyaknya klien Frederick Groups Company, TecnoTek dan Wijaya Group. Bisa timbul masalah apabila mereka tidak diundang sama sekali
Selain itu Ray sepertinya juga ingin mengenalkan pada seluruh penjuru negeri kalau wanita cantik bernama Zalynda Navulia ini adalah istrinya. Semua media sibuk memberitakan rencana resepsi pernikahan Ray dan Zalynda. Mereka menyebutnya Pernikahan Cinderella abad 21
Mereka berdua tiba di butik Aya untung fitting baju pengantin. Vera dan Nita tampak antusias memberikan berbagai pilihan gaun pada Zalynda membuat gadis itu tertawa bingung
"Ada yang kamu suka di sini, Za?" Tanya Ray sambil ikut melihat-lihat gaun yang akan dipakai Zalynda.
"Aku bingung. Semuanya bagus-bagus dan cantik-cantik." Kata Zalynda sembari melihat-lihat gaun yang tergantung di kapstok
"Apapun yang kamu pakai, akan terlihat cantik Za." Kata Ray. Pemuda itu mendekati telinga Zalynda dan berbisik
"Apalagi kalau nggak pakai baju.."
Mata Zalynda membulat. Wajahnya memerah sambil melihat sekeliling khawatir ada yang mendengar ucapan Ray
"Kamu ih, malu tau." Bisik Zalynda sambil mencubit lengan Ray. Ray terkekeh
Acara fitting gaun pengantin berlangsung cepat karena Zalynda sepertinya pandai memilih gaun yang membuatnya terlihat lebih cantik tanpa harus menonjolkan bagian tubuhnya
Ray melihat ke arah jam tangannya. Masih siang, Ray sepertinya tidak mau kembali ke kantor karena selain Ardhi sudah memberinya cuti setengah hari, Ray juga ingin berjalan-jalan lagi dengan Zalynda
"Dah beres, kamu mau balik ke kantor? Nanti aku pesan taksi online saja." Kata Zalynda
Ray memandang Zalynda sambil tersenyum. Gadis ini walaupun sudah lebih berani dan percaya diri ternyata masih sama, tidak mau merepotkan orang lain. Padahal bisa saja Zalynda meminta Ray mengantarkannya dulu
"Ray, ditanya diem aja." Ucapan Zalynda membuyarkan lamunan Ray
"Aku nggak balik kantor, Ayah sudah ngasih ijin. Kita ke taman bermain mau nggak?" Tanya Ray. Zalynda mengangguk cepat dengan mata berbinar membuat Ray tertawa ringan
Dengan cepat Ray menggandeng tangan Zalynda untuk segera pergi menuju destinasi selanjutnya, taman bermain
***
Ray benar-benar memanjakan Zalynda di taman bermain, mulai dari memilih wahana hingga makanan-makanan yang memanjakan lidah dan perut
"Sepertinya kamu pengen bikin aku gemuk ya Ray." Kata Zalynda cemberut saat Ray menawarkan satu cone es krim rasa vanilla strawberry
"Nggak mau?"
"Ih kan udah dibeli. Sayang lah kalau nggak di makan." Kata Zalynda sambil mengambil eskrim dari tangan Ray membuat Ray tekekeh
"Naik itu yuk Za." Tunjuk Ray
__ADS_1
"Bianglala?" Ucap Zalynda.
Ray mengangguk "Kamu nggak phobia ketinggian kan?"
"Nggak, aku mau naik bianglala." kata Zalynda cepat
"Baiklah, ayo."
Ray segera membeli tiket dan mengantri mendapatkan gerbong. Tidak berapa lama gerbong kosong berada di depan mereka. Ray segera menarik Zalynda masuk.
Zalynda tersenyum. Akhirnya mereka bisa duduk sambil menikmati eskrim dan melihat-lihat pemandangan kota dari atas. Gerbong yang dinaiki Zalynda dan Ray perlahan bergerak naik
"Aku baru kali ini naik bianglala." Kata Zalynda sambil memperhatikan pemandangan di luar
"Ini masih siang. Kalau malam pemandangannya bagus. Banyak lampu yang menerangi. Seperti bintang bertebaran." Kata Ray sambil melahap cone nya
"Kamu pernah lihat pemandangan malam dari bianglala?" Tanya Zalynda sambil menoleh menatap Ray
"Bukan. Tapi dari bukit di belakang pesantren di Bogor. Kapan-kapan kamu aku ajak ke sana, mau kan?"
Zalynda tersenyum sambil mengangguk. Sesaat Zalynda memperhatikan Ray. Sedari dulu pemuda itu tetap terlihat tampan di mata Zalynda. Setelah menikah Zalynda pun mengetahui ternyata Ray benar-benar mempertahankan dan melindungi dirinya. Zalynda benar-benar bahagia. Tanpa sadar Zalynda membersihkan ujung bibir Ray yang terlihat sisa es krim, membuat pemuda itu mengalihkan pandangannya ke Zalynda
"Makasih banyak Ray.."
"Maksudku makasih buat semuanya." Zalynda menggenggam tangan Ray. Gadis itu menghela nafas pelan
"Dari kecil saat tinggal dengan kakek, aku selalu mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan. Pernah suatu hari aku tidak memberikan contekan ke Diva saat ulangan, aku langsung di cubiti dan di pukuli tante Anggun. Lalu aku dikurung di kamar, nggak di kasih makan dan minum." Cerita Zalynda dengan pandangan menerawang
"Dikurung berapa jam?" Tanya Ray
"Cuma sampai malam, itupun karena kakek pulang lebih cepat dari pertemuan bisnisnya." Kata Zalynda.
Ray mengusap-usap punggung Zalynda lalu merengkuh gadis itu seolah ingin memberikan kekuatan pada Zalynda
"Dulu aku selalu berkhayal saat dikurung, suatu saat nanti akan ada pangeran berjubah putih dengan gagahnya menunggangi kuda untuk menyelamatkan aku." Zalynda terkekeh pelan.
"Apa kau menemukannya, Za?" Tanya Ray sambil mengambil dagu Zalynda dan memutarnya pelan hingga gadis itu menoleh ke arah Ray
"Iya, itu kamu Ray. Walaupun jauuh dari bayanganku." Kata Zalynda
Zalynda melihat perubahan di raut wajah Ray. Buru-buru Zalynda menangkup pipi Ray untuk memandangnya
"Kamu jauuh lebih baik daripada khayalan masa kecilku." Kata Zalynda tertawa sambil membelai rahang Ray yang ditumbuhi bulu-bulu halus tercukur rapi membuat Ray tersenyum senang
__ADS_1
Ray memeluk bahu Zalynda membuat gadis itu makin merapat ke arahnya. Bianglala itu berputar ke bawah kemudian naik lagi
"Peristiwa kemarin membuat aku sedikit banyak mengetahui kalau ternyata sainganku banyak." Kata Zalynda
Kening Ray berkerut sambil memandangi Zalynda "Saingan bagaimana?"
"Aku pernah bilang kalau kau dikelilingi wanita-wanita cantik dan berbakat. Dulu aku sempat minder melihatnya. Tapi sekarang, aku malah ingin memperbaiki diri sehingga hanya aku satu-satunya yang pantas berada di sampingmu, Ray. Aku ingin mempertahanmu terus, membangun keluarga kecil kita. Apa aku egois?" Tanya Zalynda
Ray menggeleng "Aku malah senang kok. Kamu pertahanin aku berarti kamu juga cinta sama aku. Seorang istri mempertahankan suaminya bukan egois tetapi justru menyatakan kalau sang istri sangat mencintai suaminya."
Ray menatap lurus ke arah bibir Zalynda. Saat ini gerbong bianglala yang dinaiki Ray dan Zalynda berhenti dan menyuguhkan pemandangan kota Metropolitan dari atas
Mereka hanya berdua di dalam sambil memandang satu sama lain. Entah siapa yang memulai, bibir kedua kembali bertemu
Zalynda mendorong tubuh Ray saat di rasakan wahana bianglala kembali bergerak. Kesempatan inipun digunakan Zalynda untuk menarik nafas panjang-panjang
"Ini tempat umum Ray." Bisik Zalynda tanpa bermaksud menggoda Ray
"Nggak ada yang lihat kok sayang." Rayu Ray. Sejujurnya dirinya belum puas merasakan bibir manis Zalynda dan mengeksplorasi mulut Zalynda
"Nggak mau, nanti banyak yang sangka kita pasangan mesum terus di grebek warga." Kata Zalynda terkekeh
Ray tertawa melihat ekspresi Zalynda. Kembali Ray mengecupi bibir Zalynda dengan gemas
"Kan kita nikahnya dulu juga di paksa sama warga karena lihat dandanan kita di kamar kost kamu." Kata Ray sambil mengenang masa itu. Zalynda ikut tertawa mengenang masa itu. Sejujurnya Zalynda maupun Ray tidak pernah menyesali penggrebekan itu.
"Yang jelas aku sangat bersyukur, Allah mempertemukan aku dengan dirimu Ray. Aku sangat bersyukur." kata Zalynda sembari menatap mata Ray
"Aku juga sangat bersyukur. Yakinlah, aku sangat mencintaimu, Za." Kata Ray dengan suara mulai berat sambil memburu bibir Zalynda dengan matanya
"Thank you.." Bisik Zalynda. Ray menyeringai
"Kamu bisa bilang terima kasih dan menunjukkan rasa terima kasih mu. Nanti tapi ya, pas di kamar." Kata Ray lagi sambil mengedipkan matanya kearah Zalynda. Wajah Zalynda memerah.
"Mesum ih." Kata Zalynda pelan menunduk.
Ray menarik dagu Zalynda dan mengecup bibi kemerahan itu ringan tanda dirinya menyudahi ciumannya pada Zalynda
"Kayaknya aku kecanduan bibir kamu, Za. Kita habis ini pulang yuk. Lanjutkan di kamar." Kata Ray lagi
Segera Zalynda menoleh mengedarkan pandangannya ke luar untuk menyembunyikan rona merah dan wajah bahagianya
Maafkan kalau agak nggak nyambung. Bikinnya sambil ngantuuk ini 🙏🙏
__ADS_1