
Ray masih terlihat lemas akibat tidak makan semalam, hal ini membuat Zalynda khawatir. Tubuh Ray pun sedikit demam. Namun pemuda itu memaksakan diri untuk tetap pergi ke kantor. Zalynda membantu Ray mengenakan dasinya.
"Nggak bisa di wakilkan Marvin gitu ya rapatnya? Kamu lagi sakit, Ray." Kata Zalynda sambil menatap Ray dengan tatapan cemas
Ray menggeleng lemah. "Marvin nggak terlalu faham proyek ini, cantik. Harus aku yang turun tangan."
"Ya udah, makan dulu yuk. Aku buatin bubur sama teh mint." Kata Zalynda sambil melingkarkan lengan Ray ke pundaknya, khawatir pemuda itu terjatuh karena pusing dan lemasnya
Ray tersenyum melihat perlakuan Zalynda. Teringat saat dirinya sakit akibat penusukan Diva beberapa bulan lalu, Zalynda pun jauh lebih perhatian padanya. Ray memilih untuk duduk di sofa karena lebih nyaman menurut Ray. Zalynda menuruti Ray. Dengan cekatan bubur dan teh hangat dipindahkan dari meja makan ke meja kecil didepan sofa
Zalynda dengan telaten menyuapkan bubur ayam ke mulut Ray. Zalynda bersyukur Ray makan banyak pagi ini.
"Minum dulu tehnya. Jangan dulu minum kopi."
Ray mengangguk sambil menyesap tehnya. Rasanya jauh lebih baik.
"Kamu dianter Asep ya. Aku sudah WA tadi. Dia masih on the way kesini. Kamu duduk aja dulu. Jangan makan sembarangan, nanti aku bawain bekal, trus nanti…"
Ray bersandar di sofa, memejamkan matanya sambil terus mendengarkan ucapan Zalynda. Istri cantiknya sangat perhatian dan cerewet sekali pagi ini.
Ray menyukainya
***
Toko kue Zalynda terlihat lumayan ramai. Dengan letak strategis di dekat kampus Universitas Gemilang menjadikan para mahasiswa sebagai target utama. Harganya pun pas di kantong mahasiswa, ditunjang dengan rasa yang enak menjadikan toko kue Zalynda selalu terlihat ramai
"Mau hot puff pastry nya sepuluh ya mbak."
Zalynda menoleh mendengar suara yang terdengar familiar di telinganya. Orang itupun melambaikan tangan saat pandangan mereka bertemu
"Sagara?"
Pemuda itu tersenyum. Sosok Sagara mencuri beberapa perhatian pelanggan di toko kue Zalynda
"Hai Za. Ketemu di sini. Kamu beli kue juga?" Tanya Sagara sambil mendekati Zalynda. Zalynda hanya tersenyum menanggapi ucapan Sagara
"Kuenya enak-enak. Kalau kamu mau sarapan bisa cobain coffee bun atau roll pastry with banana and chocolate. Kalau mau ganjel sebelum makan siang, bisa cobain yang pastry isi daging sapi atau ayam. Kalau iseng bisa makan chocolate eclaire atau hot puff pastry. " Kata Sagara memberikan saran.
"Kamu tahu beberapa menu-menu di toko ini?" Tanya Zalynda sambil menaikkan alisnya
"Tentu saja. Toko ini kan di review sama selebgram seminggu lalu. Aku hanya membuktikan tulisannya, ternyata selama seminggu aku jadi pelanggan tetap di toko ini." Kata Sagara tertawa
Zalynda berfikir sejenak. Pantas saja seminggu ini omzet tokonya meningkat. Dalam hati Zalynda sedikit kesal karena selebgram itu tidak memberitahu akan mereview kue-kue nya. Untung saja hasilnya tidak mengecewakan. Zalynda berfikir akan mencari tahu dan mengirimkan beberapa kue untuk ucapan terima kasih
__ADS_1
"Nah, kamu mau beli apa? Aku traktir. Sebentar lagi jam makan siang." Kata Sagara
Zalynda tertawa. Sagara sepertinya tidak tahu kalau dirinya adalah pemilik toko roti ini
"Aku sudah bawa ini." Kata Zalynda sambil mengangkat kotak berisi biskuit kelapa dan pizza puff pastry mini.
"Oh, mau kemana? Aku anterin?" Kata Sagara
Zalynda menggeleng. Dirinya berencana membawakan camilan untuk Ray. Zalynda bisa membayangkan marahnya Ray kalau tahu Zalynda diantar oleh Sagara
Belum sempat Zalynda bersuara, handphone nya berdering. Kening Zalynda berkerut melihat nama Marvin di situ
"Hallo Vin.."
"Za, Ray masuk rumah sakit."
***
Kaki Zalynda berlari menuju ruang IGD. Degub jantungnya tidak beraturan. Di IGD Zalynda melihat Marvin sedang bersandar di dinding. Marvin segera melambaikan tangannya melihat Zalynda
"Vin, Ray mana?" Tanya Zalynda dengan nafas memburu
"Itu, lagi diinfus. Di kantor tadi katanya dia pusing, sempet muntah juga." Tunjuk Marvin
Zalynda mengucapkan terima kasih lalu segera menghampiri Ray yang terbaring lemas. Selang infus menancap di tangan kirinya
Ray membuka matanya. Pemuda itu tersenyum melihat Zalynda memandangnya dengan khawatir.
"Kamu kenapa? Apa yang kamu rasain sekarang?" Tanya Zalynda sambil membelai rambut Ray
"Aku udah nggak apa-apa Za. Mungkin aku terlalu stress akibat pekerjaan yang menumpuk." Kata Ray pelan
Zalynda menghela nafas. Gadis itu duduk di samping Ray sambil menggenggam tangan kanan Ray
"Aku udah bilang jangan ke kantor dulu. Kamunya keras kepala."
Ray terkekeh sambil balik menggenggam tangan Zalynda erat
"Kamu kok tahu aku disini? Dari Marvin ya?" Tanya Ray
"Iya, aku langsung cepet-cepet kesini pas tadi Marvin telepon."
"Kamu naik taksi online?" Tanya Ray lagi
__ADS_1
Zalynda terdiam. Karena tadi panik, Zalynda langsung meng iya kan tawaran Sagara untuk mengantarnya ke rumah sakit. Kalau Zalynda bilang jujur, Ray pasti akan marah. Tetapi kalau tidak bilangpun dan Ray tahu dikemudian hari, Ray akan lebih marah. Akhirnya Zalynda memutuskan untuk jujur
"Ng, tadi dianter Sagara ke sini." Kata Zalynda pelan
Benar saja. Raut wajah Ray berubah
"Kok bisa bareng Sagara?! Kamu ketemu dimana?!" Tanya Ray ketus
"Ih lagi sakit juga masih marah-marah aja." Bathin Zalynda
Untungnya saat ini kondisi Ray lemas sehingga suaranya tidak terlalu keras terdengar. Tetap saja ekspresi wajah nya menggambarkan Ray sedang marah
"Jangan marah dulu. Aku ketemu Sagara di toko. Dia lagi beli kue." Kata Zalynda sambil mengusap tangan Ray
"Dia tahu toko kamu? Kamu ngasih tahu dia?!"
"Nggak Ray. Dia malah nggak tahu toko itu punya aku. Tadi aku panik, langsung aja bilang iya pas Sagara nawarin nganter aku." Kata Zalynda lembut.
Ray mendengkus sambil membuang wajahnya
"Jangan marah dong. Ntar tambah sakit." Bujuk Zalynda. Dalam hati Zalynda cukup geli akan sikap Ray. Zalynda berusaha menahan agar tidak tertawa
Perdebatan mereka terpending saat dokter Husna datang memeriksa Ray.
"Sudah berapa hari begini bang?" Tanya dokter Husna
"Kemarin, dok. Hari ini lumayan parah." Kata Ray
"Kamu makan sesuatu hari ini?" Tanya dokter Husna
"Tadi pagi sarapan bubur dan teh. Pagi sih nggak apa-apa dok. Cuma begitu sampai kantor kayaknya hidungku sedang demonstrasi." Kata Ray lagi
"Ha?"
"Aku mual saat datang ke kantor mencium wewangian para staff, pengharum ruangan. Nggak biasanya begitu.." Kata Ray pelan
Mata dokter Husna memicing "Terus bau apa yang bikin kamu nggak mual?"
"Bau minyak kayu putih." Jawab Ray
"Sama wanginya Zalynda." Bathin Ray
Dokter Husna tersenyum "Sepertinya kamu baik-baik aja siy bang. Nunggu infus habis ya, nanti aku resepkan obatnya."
__ADS_1
Dokter Husna menatap Zalynda "Za, bisa ikut aku? Ada yang mau kubicarakan."
Zalynda memandang Ray dan dokter Husna bergantian. Ada apa dokter Husna mau berbicara dengan dirinya? Apa penyakit Ray serius?