CAHAYA BINTANG SURGA

CAHAYA BINTANG SURGA
PART 22


__ADS_3

Zalynda baru saja selesai menunaikan sholat shubuh saat teleponnya berdering


Nomor Ray. Hati Zalynda sedikit berbunga-bunga. Zalynda berdehem sebelum mengangkat telepon Ray


"Assalamu'alaykum.." Sapa Zalynda


"Wa'alaykumussalam, kamu udah bangun Za?" Terdengar suara lembut Ray menyapa di seberang sana. Sepertinya Ray sedang berjalan


Zalynda mengangguk, namun sedetik kemudian Zalynda sadar kalau Ray tidak akan melihat anggukannya


"Sudah Ray."


"Kamu ke bu Reema jam berapa? Aku WA Asep untuk jemput ya."


"Eh nggak usah. Bu Reema lagi keluar kota hari ini, jadi aku libur." Kata Zalynda cepat


"Oh ok. Nanti aku yang antar ke toko bu Edah. Kamu lagi bikin sarapan?"


"Nggak, nanti mau ngangetin nasi goreng aja yang semalam."


"Hmm.. jadi pengen nasi goreng."


"Pulang ke sini, nanti aku bikinin." Kata-kata itu hanya berputar di otak Zalynda. Gadis itu hanya mengulum senyumnya


Hening


"Mmm..ohya Za, masakan kemarin yang di bekelin itu namanya apa?" Tanya Ray memecah keheningan


"Masakan kemarin? Tumis oncom kemangi?"


"Ooh.. hahaha, kemarin Marvin tanya. Aku nggak tahu namanya. Aku jawab aja sauteed tofu with basil."


Zalynda tertawa geli "Masa kamu nggak tahu oncom sih Ray?"


Terdengar Ray berdecak


"Kan aku hanya sekedar makan. Nggak tahu masak."


Zalynda masih tertawa. Lucu rasanya Ray menyebut tumis oncom dalam bahasa Inggris.


"Aku senang dengar kamu tertawa, Za."


Zalynda perlahan meredakan tawanya, kemudian terdiam. Untung mereka berbicara via telepon. Ray tidak bisa melihat wajahnya yang merona. Zalynda bahagia, hanya dengan percakapan seperti ini sudah membuatnya senang


"Bang, mau makan nasi goreng?" Tiba-tiba terdengar suara wanita di dekat Ray


Deg.. Zalynda membeku. Itu seperti suara gadis yang datang ke toko untuk memesan kue pengantin. Istri Ray


"Boleh. Abang telepon dulu sebentar ya." Jawab Ray pada wanita itu. Suara Ray pun terdengar lembut


Zalynda menggigit bibirnya. Mungkin begini rasanya di lambungkan tinggi ke langit lalu dihempaskan ke bumi. Sakit!


"Halo Za?"

__ADS_1


"Ng.. Ray maaf, sepertinya aku harus ke kamar mandi. Assalamu'alaykum."


Zalynda segera mematikan sambungan handphone nya tanpa menunggu Ray membalas salamnya. Di genggamnya handphonenya erat-erat. Matanya terpejam


"Hai cemburu, pergilah…" Bisik Zalynda pelan


***


Sepagian ini Zalynda menyalurkan rasa cemburunya dengan membersihkan apartemen Ray. Semua dibersihkan. Kotak-kotak barang-barang Ray pun sebagian ada yang Zalynda keluarkan isinya


Beberapa sprei, taplak meja dan gordyn masih dalam kondisi bagus di dalam kotak ditemukan oleh Zalynda. Zalynda segera mengganti sprei, gordyn dan memasang taplak meja baru, sementara yang lama langsung di cuci nya


Apartemen Ray sedikit lebih rapi. Masih ada beberapa kotak di pojok ruang tamu yang Zalynda tidak tahu harus diapakan


"Huuff.. beres juga." Gumam Zalynda sambil melihat sekeliling.


Gadis itu duduk di sofa ruang tamu sambil melirik jam di dinding


"Masih lama, mungkin bisa istirahat sebentar."


Zalynda pun memasang air cooler yang berada di ruang tamu dan kembali merebahkan dirinya di sofa. Kembali Zalynda mengingat kejadian tadi pagi saat telepon dengan Ray


Zalynda menghela nafas. Lengannya menutupi mata


"Za, kamu harusnya faham, Ray sudah menikah. Kamu jangan jadi nggak tahu diri begini, Ray nikahin kamu karena nolongin aja. Jangan terlalu banyak main hati di hubungan ini.." Gumam Zalynda bermonolog


Udara yang sejuk dan kelelahan setelah beres-beres membuat mata Zalynda segera terpejam


***


Udara sejuk menerpa pori-pori kulit Ray. Tidak hanya itu, Ray melihat apartemennya terasa lebih rapi dan tertata. Yang lebih menarik perhatian Ray adalah sosok gadis yang sedang tertidur di sofa


Penampilan Zalynda cukup menggoda di mata Ray. Dengan tanktop pink dan hotpants yang menampilkan kaki jenjangnya membuat Ray hampir tidak bisa berfikir jernih


Pemuda itu menghampiri Zalynda dan duduk di sebelah gadis itu. Tubuh mulus Zalynda seakan mengundang tangan Ray untuk menjelajahinya. Tangan Ray terjulur hendak menyentuh paha Zalynda


Namun segera dikepalkan tangannya. Ray khawatir tindakannya mengagetkan Zalynda dan membuat gadis itu ketakutan


Ray menarik dan menghembuskan nafas untuk menurunkan hasratnya. Tangan Ray beralih menyentuh bahu Zalynda


"Za, bangun."


Gadis itu menggeliat. Matanya mengerjap terbuka


"Ray, sudah pulang?" Suara Zalynda serak khas orang bangun tidur. Matanya melihat ke arah jam


"Kok jam segini pulang? Harusnya kamu masih di kantor kan." Zalynda mengerjap pelan sembari menatap Ray


Jemari Ray membelai pipi Zalynda perlahan sambil melihat reaksi gadis itu. Gadis itu hanya terdiam, tidak terkejut ataupun menghindar. Mungkin karena efek baru bangun tidur


"Kamu beres-beres ya?" Ray balik bertanya


Zalynda seperti teringat sesuatu, matanya membulat. Gadis itu terlihat panik, langsung terbangun dan duduk

__ADS_1


"Ah iya, maaf Ray. Aku nggak ada kerjaan tadi. Jadinya aku lancang beresin apartemen dan buka-buka beberapa kotak barang-barang kamu. Aku pi.."


Zalynda tidak meneruskan ucapannya saat telunjuk Ray menyentuh bibirnya. Ray tertawa melihat reaksi Zalynda


"Beberapa hari bersamamu, sering sekali aku dengar permintaan maaf darimu."


Zalynda menunduk sambil tersenyum kecil "Maaf.."


Ray menangkup wajah Zalynda dan mengangkat wajah gadis itu. Pandangan mereka bertemu


"Dimana Zalynda yang penuh percaya diri itu, Za? Apa yang terjadi di tahun-tahun belakangan ini?" Tanya Ray


Zalynda tersenyum sedih "Inilah Za yang sesungguhnya, Ray. Bertahun-tahun lalu aku bersembunyi di belakang topeng kepalsuan hanya untuk membalaskan dendam konyol demi menyelamatkan diriku sendiri.."


Zalynda tertegun, merasa sudah berbicara terlalu banyak. Gadis itu menundukkan wajahnya. Semua bayangan kesedihan itu muncul. Berawal dari meninggalnya Rina, perlakuan kasar Anggun dan Diva, pelecehan Yono, dikeluarkan dari Universitas Gemilang, terlunta-lunta di jalanan..


"Hiks.." Zalynda menangis. Airmatanya turun menderas tanpa bisa ditahannya


Ray dengan cepat membawa Zalynda kedalam pelukannya. Zalynda tidak menolak. Gadis itu meremas kemeja Ray dan menumpahkan tangisnya di dada bidang Ray


"Aku akan selalu ada untukmu, Za. Kalau kau sudah siap bercerita, aku akan mendengarkannya." Kata Ray lembut sambil membelai kepala Zalynda


Zalynda makin membenamkan kepalanya di dada Ray. Sebuah perasaan hangat menjalar di dadanya.


"Sebentar saja seperti ini..." Bathin Zalynda


***


Seharian di toko bu Edah, Zalynda tidak berhenti menebar senyum. Kue-kue yang dibuatnya pun terlihat lebih cantik. Pelukan Ray ternyata menjadi mood booster tersendiri untuk dirinya


Bu Edah pun puas dengan hasil kerja Zalynda. Hari ini Zalynda pun menerima sertifikat kelulusan dari tempat kursusnya.


"Apa yang akan kau lakukan selanjutnya, Za?" Tanya bu Edah


"Mungkin saya akan membuka kedai kue kecil-kecilan bu. Tapi sekarang ini sepertinya saya akan buka pesanan kue kecil-kecilan secara online sambil mengumpulkan uang bikin kedai." Kata Zalynda


Bu Edah tersenyum "Kalau saja saya bisa terima pegawai lagi, pasti saya akan merekrut dirimu. Tapi disini sudah cukup pegawainya sampai anak magangpun harus di seleksi secara ketat."


Zalynda mengangguk. Dirinya faham betul peraturan yang harus dijaga dan dipertahankan. Zalynda menghormati hal itu


"Keterima magang dan dapat ilmu langsung dari bu Edah aja Za sudah bersyukur banget bu. Terima kasih banyak atas ilmunya, bu Edah."


Bu Edah tersenyum sambil membelai kepala Za


"Minggu depan semua peserta magang akan mendapat sertifikat kelulusan dan nilai magang dari masing-masing tempat. Kamu jangan lupa datang."


"Baik bu." kata Zalynda sambil mengangguk


"Ya sudah, itu ada pelanggan. Coba kamu layani ya. Kita kekurangan orang di garis depan."


Zalynda tertawa kecil. Yang di maksud bu Edah dengan garis depan adalah pelayanan terhadap pelanggan. Zalynda segera melangkahkan kakinya menghampiri seorang pelanggan yang membelakanginya


"Permisi, bisa di ban..tu..?"

__ADS_1


Mata Zalynda terbelalak saat pelanggan wanita itu berbalik dan menatapnya


__ADS_2