
Hanya satu minggu berselang setelah lamaran dadakan Daniel ke Farah, mereka melangsungkan pernikahan secara sederhana di rumah tuan Wijaya
Tadinya pernikahan akan dilaksanakan di rumah Daniel untuk menutupi fakta bahwa ingatan Farah sudah kembali. Namun tuan Wijaya memaksa untuk melangsungkan pernikahan itu di rumahnya.
Farah ditempatkan terpisah di dalam kamar saat ijab qobul berlangsung agar dengan begitu Farah tidak mendengar ijab qobul di ikrarkan untuk mencegah sesuatu terjadi pada ingatannya. Tidak ada yang tahu kalau ingatan Farah sebetulnya sudah kembali, kecuali Daniel
Walau diadakan secara sederhana, beberapa tamu undangan yang berasal dari klien TecnoTek dan rekan wartawan turut hadir di hari bahagia Daniel.
Zalynda tak berhenti tersenyum hingga selesai prosesi ijab qobul dan melihat Farah di tuntun untuk duduk bersanding dengan Daniel. Farah amat cantik dengan kebaya broken white dan rambut di sanggul sederhana, serasi dengan Daniel yang mengenakan jas broken white dengan sematan bunga mawar kecil di kantung dada
Keluarga Ardhi pun datang menghadiri pernikahan itu. Mereka pun duduk berbaur dengan para tamu dan berinteraksi biasa dengan Daniel juga Farah seolah tidak pernah terjadi apapun di masa lalu
Diam-diam Farah memperhatikan Daniel yang terlihat sumringah menyambut para tamu yang datang untuk memberikan selamat. Dalam hati Farah sangat bersyukur karena sejak dulu memang hanya Daniel yang terus berada di sisinya dan mendukungnya dengan ide gila yang Farah miliki, dan sekarang pria itu tetap berdiri di sampingnya sebagai suaminya
"Papa, selamat ya." Ucap Zalynda sambil memeluk erat Daniel. Daniel membalas pelukan Zalynda tak kalah erat. Farah sedikit terharu melihat pemandangan di depannya. Bibirnya menyunggingkan senyuman kecil
Zalynda beralih ke Farah sambil tersenyum manis
"Tante, selamat ya.." kata Zalynda hendak memeluk Farah namun Farah sedikit menahan tangan Zalynda membuat gadis itu mengurungkan niatnya memeluk Farah. Zalynda menatap Farah dengan sedikit bingung. Farah tersenyum
"Saya sudah jadi istri papamu, kenapa masih panggil saya tante?" Kata Farah berpura-pura cemberut. Wanita itu sedetik kemudian tersenyum sambil membelai kepala Zalynda
Keharuan membuncah di dada Zalynda. Gadis itu segera memeluk Farah erat
"Za panggil mama, boleh?" Bisik Zalynda
Satu kalimat dari bibir Zalynda mampu meruntuhkan airmata Farah. Farah pun mengangguk sambil balas memeluk Zalynda erat.
Daniel tersenyum melihat dua wanita kesayangannya yang menangis bahagia sambil berpelukan. Daniel membelai kepala Farah dengan lembut. Farah menatap Daniel dengan mata yang basah
"Thank you.." terlihat dari gerakan bibir Farah. Daniel tersenyum sambil mengangguk
***
Ray memperhatikan raut wajah Zalynda yang terlihat bahagia hari ini. Sengaja Ray sedikit menjauh dan tidak mengganggu kebersamaan Zalynda dengan kedua orangtuanya yang kini sudah berkumpul lengkap. Senyuman tersungging di bibir Ray melihat tawa lepas dan senyum lebar Zalynda.
"Kedip bang, nanti matanya iritasi." Kata Ardhi yang sudah berada di samping Ray. Ray menanggapi ucapan Ardhi dengan tertawa kecil
__ADS_1
"Nggak sia-sia ya kamu investigasi sana sini." Ucap Ardhi lagi sambil menepuk bahu Ray
"Hehehe, Alhamdulillah.. Abang cuma berusaha mengembalikan yang harusnya dimiliki Za sejak dulu. Apa tindakan abang berlebihan menurut ayah?" Tanya Ray sambil menatap Ardhi
Ardhi tersenyum sambil menggeleng
"Mungkin ayah juga akan begitu kalau di posisi kamu bang."
Ray tersenyum lebar. Keduanya masih memperhatikan interaksi bahagia Zalynda, tuan Wijaya dan orangtuanya saat sesi pemotretan keluarga. Tampak tuan Wijaya tak bisa menyembunyikan raut bahagianya.
"Bro.." seseorang menepuk bahu Ray. Agus nampak datang bersama Alin yang menggamit lengan Agus.
"Eh Gus, Lin." Sapa Ray sambil memeluk Agus
"Om.." Sapa Agus pada Ardhi. Ardhi mengangguk
"Bang, ayah ke sana dulu ya." Pamit Ardhi sambil menunjuk ke arah Aya yang sedang bercakap-cakap dengan tuan Wijaya
"Gue mau salaman dulu sama pak Daniel dan Zalynda. Ikut Lin?" Tawar Agus. Alin menggeleng
"Cinta itu tidak mengenal batasan usia, strata bahkan status ya.." ucap Alin membuat Ray menoleh ke arah gadis itu. Alin menatap lurus ke arah pelaminan sambil tersenyum lalu menoleh ke arah Ray
"Tidak pandang teman, atasan atau bawahan, juga klien bisnis. Kalau panah cupid sudah terarah dan menembus hati, kita bisa apa?"
Ray menarik ujung bibirnya "Kau benar Lin.."
Hati Alin sedikit bersorak karena Ray menyetujui pendapatnya. Dalam pikiran Alin, sepertinya Ray juga sedikit ada hati pada gadis itu
Ray kembali menatap Zalynda yang sedang tertawa bersama Daniel dan Farah. Sesaat pandangan gadis itu mengarah ke arah Ray. Tawa Zalynda sedikit memudar melihat Ray duduk bersebelahan dengan Alin.
Namun Zalynda segera mengganti pudaran tawanya menjadi senyuman yang manis sambil melihat ke arah Ray. Ray tersenyum lebar melihat senyum Zalynda.
"Seperti aku mencintai Zalynda.." kata Ray yang langsung menohok hati Alin.
Baru saja gadis itu melambungkan harapan namun sudah dihadapkan oleh kenyataan. Alin memaksakan untuk tersenyum karena melihat Zalynda masih menatap Ray dan dirinya
Ray beranjak pergi bergabung dengan Zalynda untuk berfoto bersama pengantin. Meninggalkan Alin yang masih menatap Ray dan Zalynda.
__ADS_1
Alin teringat akan kata-kata Diva yang mengatakan kalau Zalynda adalah wanita lemah yang gampang ditindas. Zalynda yang pasif dan tidak bisa berbuat apapun untuk mempertahankan miliknya, begitu yang Alin dengar dari Diva
FLASHBACK
"Kenapa kau membenci Zalynda? Bukankah ia sepupumu?"
Diva mendelik mendengar perkataan Alin. Gadis itu menurunkan handphonenya dan memandang Alin sinis
"Kau menyelidiki tentang aku?"
"Tentu saja. Tadinya aku tidak peduli saat ayah membawa kau dan ibumu untuk tinggal bersama kami. Aku tidak peduli hubungan pertemanan ayahku dan ibumu, walau kalian ternyata buronan polisi."
Kata-kata Alin membuat Diva gemas. Gadis itu menatap Alin tajam. Sejak kedatangan Diva dan Anggun di rumah Alin, Diva tahu gadis itu tidak menyukai dirinya dan Anggun
Alin berjalan mengitari meja makan dan berhenti tepat di depan Diva
"Tapi aku jadi penasaran karena kau mengatakan mengenal Ray dengan baik, bahkan mengenal istrinya."
Diva mendecih "Zalynda hanya beruntung karena menjadi istri Ray."
Kedua gadis itu saling menatap
"Tetapi aku tidak yakin kalau Zalynda bisa mempertahankan Ray di sisinya. Dia terlalu lemah dan rapuh. Cukup dengan ancaman atau hujani dia dengan kata-kata berbisamu, maka dia akan menangis dan pergi meninggalkan Ray." Kata Diva lagi
Alin mengangkat alisnya "Semudah itu?"
Diva terkekeh "Coba saja."
"Apa untungnya kau mendukungku untuk merebut Ray dari Zalynda?" Tanya Alin sambil memicingkan matanya. Yang Alin tahu tidak ada seorangpun seperti Diva yang membantu orang lain tanpa mengharapkan satu pamrih
"Anggap saja kau membantuku membalaskan sakit hatiku atas perbuatan Zalynda dan keluarganya terhadap keluargaku." Kata Diva sambil menyeringai
FLASHBACK END
Alin menatap Zalynda dan Ray sambil menyesap minuman sodanya. Keduanya terlihat bahagia. Alin menarik ujung bibirnya. Zalynda memang terlihat lembut, bukan type gadis yang gemar kekerasan dan mencari ribut
"Akan kuputar roda keberuntunganku kali ini. Kita lihat apakah yang diucapkan Diva benar adanya..?" Desis Alin pelan
__ADS_1