CAHAYA BINTANG SURGA

CAHAYA BINTANG SURGA
PART 28


__ADS_3

Sehari sebelumnya


Tok..tok..


"Masuk." Ucap suara berat Ardhi Al Farobi. Arion tampak memasuki ruangan kerja Ardhi


"Pak, ini laporan divisi marketing yang bapak minta." Kata Arion sambil memberikan beberapa berkas dokumen


Ardhi mengangguk sambil menerima tumpukan berkas dari Arion


"Satu lagi pak, ada pak Beno di luar." Ucap Arion


Ardhi kembali mengangguk


"Ya, suruh masuk."


Arion menunduk hormat lalu segera keluar dari ruangan Ardhi. Tak lama Beno memasuki ruangan Ardhi


"Mas Ardhi panggil saya?" Tanya Beno


Sekilas Ardhi menatap ke arah Beno, lalu menekuni dokumen yang diperiksanya


"Duduk Ben." Ucap Ardhi. Beno segera duduk di hadapan Ardhi


Ardhi menutup beberapa berkas di hadapannya kemudian menatap ke arah Beno


"Kamu tahu kenapa saya memanggilmu, Ben?"


Beno menggeleng karena iapun tidak memiliki petunjuk mengapa Ardhi memanggilnya. Biasanya Ardhi memanggilnya untuk menyelidiki sesuatu. Beno memiliki banyak koneksi untuk penyelidikan bila dilihat dari latar belakangnya


"Mas mau saya menyelidiki siapa?" Tanya Beno


Ardhi terdiam. Keheningan tercipta. Beno benci keheningan, karena biasanya setelah itu akan ada hal mengejutkan


"Ben..apa yang kamu ketahui tentang rahasia Ray?"


"Benar kan!" Bathin Beno yang sedikit terkejut, namun pria itu berhasil menguasai dirinya


"Rahasia apa, mas?"


Ardhi menarik ujung bibirnya. Beno memang handal mencari informasi, namun Beno tidak handal berbohong


"Ben, saya tahu kamu mengetahui rahasia Ray. Coba katakan, jangan bikin saya su udzhon dengan anak sendiri."


Beno menghela nafas. Ardhi memang selalu bisa membaca pembawaan orang-orang. Tidak ada gunanya Beno berbohong. Ardhi bisa tahu dari siapapun dan Ardhi bisa sangat kecewa padanya


"Baiklah mas. Sepanjang yang saya tahu dan saya selidiki..Ray kemarin sedang mengikuti seorang wanita."


Ardhi memicingkan mata, wanita? Seperti bukan Ray


"Begitu?"


Beno mengangguk "Ray meminta saya untuk menyelidiki wanita yang belakangan ini dia temui. Dulu mas Ardhi juga pernah meminta saya menyelidikinya."


"Siapa?"

__ADS_1


"Zalynda Navulia. Ketua Fabulous Sorority di kampus Universitas Gemilang."


Ardhi mengangguk-angguk. Sudah lama sekali, sekitar empat tahun yang lalu. Ardhi sudah lupa-lupa ingat


"Ada apa dengan wanita itu?" Tanya Ardhi lagi


"Ng, kalau mas Ardhi ingat.. Zalynda Navulia adalah saudara jauh dari tuan Wijaya. Kasus di Universitas Gemilang saat pemilihan senat dulu, dia yang mengadu domba kelompok besar untuk naik ke kursi senat dan menguasai uang Universitas."


"Untuk apa?"


"Menghancurkan Frederick Groups Company.."


Ardhi tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Berani sekali gadis itu hendak bermain-main dengan perusahaan keluarganya. Uang dari Universitas tidak akan mungkin menghancurkan perusahaan raksasa seperti Frederick Groups Company


"Ray ingin mengetahui seseorang yang ingin menghancurkan bisnis keluarga?" Tanya Ardhi. Beno tampak ragu-ragu mengatakannya. Ardhi memicingkan matanya


"Katakan, Ben."


"Awalnya, Ray hanya meminta saya membawakan mukena dan baju seorang wanita di club XX.."


"Apa?!!"


Wajah Ardhi merah padam, rahangnya mengeras. Walau dirinya tidak pernah menginjakkan kaki ke club XX namun Ardhi tahu persis tempat apa club XX itu. Kenapa Ray bisa ada di sana?


Beno tertunduk tidak berani memandang Ardhi. Ardhi menghembuskan nafas, berusaha mengatur emosinya


"Lanjutkan.." kata Ardhi


"Lalu Ray meminta saya menyelidiki, wanita bernama Zalynda Navulia. Dari penelitian saya, gadis itu dijual oleh paman tirinya ke club XX untuk melunasi hutang-hutangnya."


Ardhi memejamkan matanya. Tindakan yang sangat kejam dan tidak bisa dibenarkan dari sisi manapun juga


"Zalynda Navulia, gadis itu sudah tidak bekerja lagi di club XX. Menurut informasi, ada yang menebusnya."


Mata Ardhi memicing. Rasanya dia bisa menerka arah pembicaraan Beno


"Saya hanya menyimpulkan sendiri, mas. Sepertinya dahulu Ray dan Zalynda memiliki satu hubungan yang belum terselesaikan. Lalu, Ray menemui Zalynda di club XX dan menebusnya."


Ardhi teringat beberapa minggu ini Ray jarang bahkan hampir tidak pernah pulang ke rumah. Apa ini ada hubungannya dengan gadis itu?


"Untuk lebih jelasnya, mas Ardhi bisa tanyakan kepada Ray." Ucap Beno lagi


Ardhi mengangguk "Terima kasih, Ben. Kamu boleh pergi.."


Beno mengangguk hormat, lalu pergi meninggalkan ruangan Ardhi


"Rayhan Putra Farobi, kamu harus jelaskan semua ke ayah.." desis Ardhi pelan


***


"Ayah.."


Ray nampak terkejut dengan kedatangan Ardhi. Tidak biasanya Ardhi menyambangi apartemennya. Ardhi melihat ke arah Ray sambil tersenyum


"Assalamu'alaykum, bang. Ayah boleh masuk?"

__ADS_1


Ucapan Ardhi menyadarkan Ray. Segera pemuda itu membuka pintu lebar-lebar


"Ah iya, Wa'alaykumussalam. Masuk, Yah."


Ardhi melangkah masuk sambil melihat sekeliling apartemen Ray. Apartemen Ray terlihat lebih rapi dibandingkan saat terakhir Ardhi berkunjung ke sana


"Ayah ganggu?" Tanya Ardhi saat melihat Ray yang hanya berdiri mematung di pintu


"Eh,nggaklah. Duduk Yah."


Terlihat sekali kegugupan di wajah dan tingkah laku Ray. Ardhi sangat hafal gerak-gerik putra sulungnya itu


Ardhi duduk dengan tenang, sementara Ray terlihat melirik ke arah pintu kamar Zalynda


"Semoga Za sudah tidur.." Ray berdoa dalam hati


"Bang.."


"Ya Ayah?"


Ardhi terkekeh "Kamu kenapa bang? Kok kayaknya tegang banget sih ayah datang. Kayak kena sidak."


Ray menggaruk tengkuknya yang tidak gatal


"Ng..ayah ada apa kemari?"


Ardhi menatap Ray "Apa ayah tidak boleh kemari?"


Ray tertawa hambar "Bukan, maksud abang ayah nggak perlu repot-repot kesini. Ayah tinggal telepon abang, abang langsung menemui ayah."


"Ooh begitu.." Ardhi menyandarkan badannya ke sofa. Matanya melihat ke gelas kopi milik Ray


Ardhi segera beranjak menuju dapur Ray. Refleks Ray mengikuti Ardhi. Ardhi tahu Ray gugup, namun Ardhi pura-pura tidak tahu


Pria itu dengan santai membuat kopi di dapur Ray. Matanya melihat ke arah piring dan lap yang sudah dicuci dan tergantung rapi. Mata Ardhi memicing, Ray sepertinya sudah mulai rajin melakukan beres-beres


"Ayah buat kopi sendiri. Habisnya ayah nggak ditawarin minum sama kamu, bang." Kata Ardhi sambil menatap Ray yang mengikutinya di belakang


Ardhi kembali duduk di sofa dan menyesap kopi bikinannya. Lalu melihat ke sekeliling


"Rapi juga apartemenmu bang. Kamu sewa maid?" Tanya Ardhi


Ray hanya terdiam menatap Ardhi. Ray menduga Ardhi seperti ingin menginterogasinya. Ardhi tersenyum


"Ayah cuma kangen, jarang ngobrol sama kamu bang. Bunda protes, katanya ayah ngasih kerjaan banyak ke kamu sampe nggak bisa pulang ke rumah karena kerjaan nggak selesai-selesai."


Ray tertawa kecil. Semua tahu kalau Ray paling tepat waktu menyelesaikan pekerjaannya. Ray adalah duplikat Ardhi yang selalu on time dan profesional


Ardhi mencondongkan badannya ke arah Ray


"Ada yang ingin abang ceritakan ke ayah?"


Ray menatap Ardhi. Mungkin ini saatnya Ray menceritakan tentang Zalynda pada Ardhi.


Baru saja Ray hendak membuka mulut, pintu kamar Zalynda terbuka. Gadis itu keluar mengenakan lingerie merah yang ditutupi dengan jubah tipis pasangannya.

__ADS_1


Wajah gadis itu menunduk sehingga Zalynda tidak mengetahui kalau Ardhi sedang berada di ruang tamu


"Apa ini cukup membayar belanjaan tadi, Ray?"


__ADS_2