
Ray menatap layar handphonenya yang gelap. Ingin sekali ia merutuki kecerobohannya tidak membawa charger. Ia tidak bisa menghubungi orang yang saat ini ia tunggu-tunggu
Ray menebar pandangannya ke sekeliling berharap menemukan orang yang sedari pagi membuat janji dengannya
"Sepertinya belum datang." Gumam Ray kemudian melangkah memasuki restoran elit yang ada di belahan kota Jakarta
"Reservasi atas nama Rayhan Putra Farobi." Kata Ray pada petugas pelayan. Pelayan itu mengangguk sopan dan mengantarkan Ray ke meja reservasinya
Ray bersyukur memiliki nama besar Al Farobi dan Frederick karena reservasi restoran ini biasanya dilakukan sebulan atau minimal tiga hari sebelumnya bisa ia dapatkan hanya dalam waktu beberapa jam saja.
Tidak berapa lama, oarang yang Ray tunggu datang. Ray tersenyum lebar pada seorang wanita berkerudung hijau pupus yang melangkah lebar menuju mejanya. Ray segera berdiri dan menarik kursi untuk wanita itu duduk.
Wanita itu tersenyum manis pada Ray sambil mengangguk tanda terima kasih. Ray segera kembali ke kursinya.
"Anda tampak cantik sekali malam ini." Puji Ray
Wanita itu terkekeh geli "I know what you want, Al Farobi junior."
Ray juga tersenyum kecil dan mulai memesan makanan untuk mereka berdua
***
Zalynda memutuskan untuk pulang setelah hujan reda, walau masih terlihat kilatan petir di kejauhan menandakan hujan masih bisa turun sewaktu-waktu. Sepertinya hari ini Zalynda tidak bisa ngebut karena jalanan licin setelah hujan
Benar saja, di tengah jalan hujan turun dengan derasnya. Zalynda tidak punya pilihan selain meneruskan perjalanannya yang sudah separuh jalan.
Hujan makin deras saat Zalynda sampai di basement apartemen Gading. Bergegas gadis itu menuju lift untuk naik ke unitnya. Beberapa tatapan Zalynda terima saat memasuki lift dari beberapa gadis.
Apartemen gading adalah salah satu apartemen mewah di Jakarta, tidak sembarang orang bisa tinggal di dalamnya. Melihat tampilan Zalynda yang hanya mengenakan celana jeans, kaos dan basah kuyup kehujanan membuat beberapa gadis di lift sedikit berbisik-bisik
Zalynda sedikit merasa tidak nyaman. Gadis itu segera memencet lantai unitnya. Bisik-bisik itu kembali terdengar, lebih ke arah tidak percaya kalau gadis seperti Zalynda memiliki unit di lantai 20 keatas yang termasuk lantai VIP di gedung itu
Zalynda berusaha tidak mempedulikannya. Segera di cek handphone nya. Tidak ada pesan dari Ray. Bahkan pesan yang dikirimkannya siang tadi masih berwarna abu-abu. Zalynda menggigit bibir bawahnya, merasa ada yang tidak beres dengan Ray.
Ting
__ADS_1
Lift sudah sampai di lantai 26. Zalynda segera menuju unitnya lalu menekan deretan angka kunci untuk membuka pintu
Apartemen Ray masih lengang. Ray sepertinya belum pulang. Zalynda menghela nafas. Saat gadis itu hendak melangkah, pandangannya tertumbuk di meja makan
Sarapan yang disiapkannya tadi pagi dibiarkan terbuka begitu saja. Sepertinya masih utuh, Ray tidak menyentuh sarapan buatannya
Mata Zalynda mengembun melihat sarapan buatannya tergolek begiti saja. Sedikit perih menggores hatinya. Kembali kelebat bayangan buruk melintas.
"Allah, apakah jatah bahagiaku sudah habis?" Bisik Zalynda pelan
***
Ray dan wanita berkerudung hijau pupus itu tengah berbincang hangat sembari menikmati dessert.
"Jadi begitu.." kata Ray sambil menyuapkan dessert ke mulutnya
"Ya, sebetulnya ini informasi dari orang dalam dan sangat susah mencarinya karena sudah lama sekali." Kata wanita itu. Ray mengangguk-angguk
"Jadi, apakah yang kuminta sudah dibawakan?" Tanya Ray
"Semoga ini tidak mengubah pandanganmu pada gadis itu, Ray. Dia tidak bersalah."
Ray tersenyum "Aku seperti ini justru ingin mengumpulkan semua informasi tentang Zalynda, tante Ima. Agar kedepannya dia aman bersamaku."
Ima terkekeh. Sebagai sahabat Aya dari SMA dan pengacara keluarga Al Farobi, Ima sedikit banyak tahu tentang kasus yang diminta Ray.
"Ya, walaupun ibunya sempat salah jalan. Namun, Farah sudah menerima hukumannya. Anak itu berhak bahagia setelah bertahun-tahun menderita." Kata Ima
"Tante tahu nggak, setelah ngobrol dengan uncle Leo semalam aku dan Andre langsung menyambangi club XX."
Mata Ima membola
"Kamu dan Lean bisa digantung ayahmu kalau ketahuan ke club XX." Kata Ima memelankan suaranya
"Hehehe..kami hanya ngobrol sama boss Alvin. Intinya agar dia menceritakan apa yang membuat Zalynda bisa terdampar di sana dan itu sudah ku rekam. Sudah ku salin juga beberapa untuk jaga-jaga." Kata Ray
__ADS_1
Ima menggelengkan kepalanya. Di satu sisi, Ima salut dengan perjuangan Ray untuk mengukuhkan posisi Zalynda di sisinya, namun di sisi lain Ima yakin dua pemuda ini menggunakan cara tidak biasa saat berbicara dengan Alvin, boss club XX
Namun tidak ada salahnya. Orang seperti Alvin tidak bisa dilawan dengan kelembutan dan membawa Lean adalah langkah tepat yang diambil Ray, bathin Ima
"Lalu, om tirinya?" Tanya Ima
Ray mendengkus kesal saat Ima menyinggung tentang Yono. Orang itu sudah banyak mengambil hak Zalynda dan membuat Zalynda menderita. Namun Ray tidak boleh gegabah karena bisa merusak rencana yang disusunnya
"Dia akan menerima balasannya.." ujar Ray datar sambil melihat ke arah minumannya
Ray kembali menatap Ima
"Tugasku masih banyak, tante. Aku masih harus menemani Za untuk menyembuhkan psikisnya, menemukan ibu kandung Za, masih harus mengembalikan posisi Za dan menjelaskan ke ayah dan bunda tentang asal usul Zalynda..."
Ima mengangguk "Semoga Allah memudahkan semua perbuatan baikmu, Ray."
***
Zalynda sedang menonton sebuah film di televisi sembari menikmati coklat hangat yang dibuatnya. Nampaknya Zalynda salah memilih film.
Film itu menceritakan tentang kehidupan seorang gadis miskin yang jatuh cinta pada seorang bangsawan kaya sejak mereka bersekolah namun tidak pernah diperlihatkannya karena gadis itu sadar akan status dirinya
Gayung bersambut, bangsawan itupun menyatakan cintanya pada gadis miskin itu dan menikahi gadis itu
Ternyata, bangsawan itu tidak benar-benar mencintainya. Di malam pernikahan mereka, bangsawan itu mengakui kalau pernikahan itu hanyalah ajang taruhan para teman-teman bangsawan-bangsawan muda.
Mereka bertaruh, bangsawan itu harus membuat gadis miskin itu jatuh cinta dan menikah dengan gadis miskin itu selama satu tahun. Bangsawan itu menyuruh gadis itu untuk terlihat mencintainya di depan teman-temannya tanpa tahu gadis itu benar-benar jatuh cinta padanya
Zalynda terhanyut dan ikut menangis saat gadis miskin itu harus menahan perasaan sakit ketika diabaikan suaminya sendiri dan menahan cemburu saat suaminya membawa wanita lain untuk menghangatkan ranjangnya
"Apa Ray seperti itu juga? Menjadikan aku taruhan dengan teman-temannya?" Bisik Zalynda pelan
Teringat saat Ray begitu marah saat Zalynda memegang jaket Ray tadi pagi. Zalynda sempat mencium bau parfum lain di jaket Ray sebelum Ray merebut jaketnya
Zalynda mendesah sembari melihat ke arah jam. Sudah hampir jam 9 malam dan Ray belum pulang. Ray pun tidak mengabari Zalynda
__ADS_1
Zalynda meringkuk sambil memeluk bantal dan ikut menangis saat tokoh gadis miskin itu terlihat menangis di televisi karena melihat suaminya tengah memeluk wanita lain