CAHAYA BINTANG SURGA

CAHAYA BINTANG SURGA
PART 114


__ADS_3

Zalynda tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Ray sedikit gusar menutup pintu kamar untuk melihat siapa yang datang ke apartemen mereka


Perlahan Zalynda bangun. Kakinya masih terasa lemas untuk dibawa berjalan, sehingga gadis itu hanya terduduk bersandar di kepala ranjang sambil memulihkan tenaganya


Pipi Zalynda memanas saat bayangan kemesraan nya dengan Ray berputar di memorinya bagai slide film. Ray terlihat begitu bergairah seakan tidak bertemu lama dengan Zalynda.


Satu yang menjadi pikiran untuk Zalynda tentang perkataan Ray saat awal pagi tadi mereka bertemu.


"Apa Ray ada masalah di tempat kerjanya?" Bisik Zalynda perlahan


Beep..beep


Handphone Zalynda bergetar. Sebuah pesan dari nomor tidak dikenal mengirimkan beberapa foto. Zalynda menanti foto-foto itu terunduh sempurna


"Astaghfirullah.." pekik kecil Zalynda sambil menutup mulutnya saat foto itu terbuka


Dada Zalynda terasa sesak melihat foto dimana Ray tengah berada di sebuah ranjang besar dengan Alin memeluk tubuh Ray mesra


Terlihat sepertinya keduanya tidak berpakaian karena selimut yang menutup tubuh Ray hanya sebatas pinggang dimana menampilkan otot tubuh yang terpahat sempurna walaupun sedang berbaring


Sementara Alin hanya menutupi tubuhnya dengan selimut hingga menampakkan bahu serta punggungnya. Alin terlihat berbaring mesra di dada Ray


Ada juga foto saat Alin dan Ray terlihat seperti orang berciuman, foto saat Ray terlihat menciumi leher Alin dan wanita itu memasang wajah yang menurut Zalynda amat menjijikkan


"Astaghfirullah.. Astaghfirullah…"


Zalynda meremas selimut yang menutupi dadanya. Air mata Zalynda sudah mengalir deras seiring sakit hatinya yang kian besar


"...Apapun yang terjadi nanti, aku harap kau tetap percaya padaku dan tetap berada di sampingku. Jangan pernah tinggalkan aku, Za."


Kalimat yang Ray ucapkan tadi pagi tiba-tiba terlintas di kepala Zalynda. Terbayang kembali tatapan mata Ray yang seakan menghiba meminta pertolongan. Tidak pernah Ray menatap seperti itu pada Zalynda


Terbayang pula sikap-sikap Ray saat bertemu wanita lain yang bukan mahramnya. Ray sangat menjaga sikap dan adabnya. Tidak mungkin Ray melakukan zina seperti yang ditunjukkan di foto


"Astaghfirullah.." Zalynda mengulang-ulang istighfar untuk menenangkan hatinya. Gadis itu segera menghapus airmatanya dan kembali melihat foto-foto dari nomor yang tidak dikenalnya


Dengan menguatkan hatinya, Zalynda mencoba memandangi satu-satu foto yang dikirimkan oleh nomor yang tidak dikenal itu. Sakit rasanya melihat Alin merebahkan dirinya di tubuh Ray. Tubuh Ray hanya milik Zalynda seorang!


Mata Zalynda menyipit


Tunggu dulu!


Zalynda men zoom sebuah foto yang menampakkan Ray dan Alin tengah berciuman. Tangan Ray tidak memeluk tubuh Alin namun terkulai seperti orang tidur sementara Alin memegang pipi Ray dan mencium bibir pemuda itu


Di foto yang lain saat menampilkan Alin merebahkan tubuhnya di dada Ray, tangan Ray pun tidak memeluk Alin tetapi terkulai menjulur ke samping. Mata Ray juga terpejam tidak melihat kamera seperti hal nya Alin

__ADS_1


Menurut pengalaman Zalynda saat bersama Ray, Ray adalah pria romantis yang mana sentuhan dan pelukan menjadi satu kebiasaan yang tidak bisa dihilangkan sehingga aneh rasanya saat Ray tidak memeluk pasangannya saat berada pada pembuktian cinta tertinggi


"Ih amit-amit!" Kata Zalynda pelan saat sesaat dirinya berfikir mengapa Ray tidak memeluk Alin


Beberapa foto yang lainpun menampilkan kejanggalan-kejanggalan walau hati Zalynda perih melihat kedekatan Ray dengan wanita lain meskipun itu adalah rekayasa


Kriing..kriing


Zalynda tersentak handphonenya berdering saat meneliti foto-foto itu. Dari nomor tidak dikenal. Zalynda menghapus airmatanya lalu segera mengangkat panggilan itu


"Assalamu'alaykum.." Sapa Zalynda sewajar mungkin


"Sudah lihat foto-foto kami?" Tanya seorang perempuan di seberang sana tanpa menjawab salam Zalynda


"Alin? Darimana kamu tahu nomor telepon saya?"


"Dari Ray." Jawab Alin sambil tertawa


Zalynda mencoba mengatur nada suaranya


"Waw, ada ya pria yang ngasih nomor istrinya ke selingkuhannya. Biasanya Ray nggak pernah ngasih nomor saya ke orang lain saking over protective nya Ray pada saya." Kata Zalynda membalas perkataan Alin


"Heh, sebentar lagi kamu akan di tinggalin Ray. Ray sudah berlabuh di pelukanku. Kami sudah mengalami malam yang menyenangkan." Kata Alin sambil mendesah menjijikkan


Zalynda mengepalkan tangannya, menahan suaranya agar tidak terdengar sedang menangis


"Kuat Za. Dia sedang mencoba mempermainkan perasaanmu." Bathin Zalynda. Gadis itu menarik dan menghembuskan nafasnya


"Berlabuh dipelukan? Jangan halu ya mbak. Mana ada orang yang sedang bercinta seperti orang mati. Atau karena kau sering berkhayal dengan manekin sehingga tidak canggung melakukan hal serupa dengan manusia." Balas Zalynda


"Maksudnya?!" Alin mulai terpancing


"Well, di foto itu kamu seperti wanita j****g yang memegang-megang tubuh suami saya sementara suami saya tidak sadarkan diri."


"Jangan memanggilku wanita j****g!" Teriak Alin


"Lalu apa sebutan yang pantas untuk seseorang yang seakan haus belaian suami orang dimana dia melakukan hal keji untuk mencapai tujuannya. Tetapi sayang, fotomu kurang profesional karena saya hafal betul bagaimana gaya bercinta Ray!" Nada suara Zalynda masih berusaha datar


"Kamu hanya menghibur dirimu sendiri!" Alin tertawa, namun terdengar tawanya tidak sepercaya diri saat pertama


"Terserah. Kenyataannya saat Ray kembali dia seperti tidak bertemu setahun dengan saya. Tidak perlu di jabarkan apa yang kami lakukan bukan? Itu berarti Ray tidak pernah melakukan zina denganmu!"


"Dia tidur denganku!"


"Benarkah? Berarti dia tidak puas denganmu?"

__ADS_1


"Kamu!!" Teriak Alin emosi


"Kamu bohong, Alin. Kamu pikir dengan menunjukkan foto-foto seperti itu akan membuat saya pergi dari sisi Ray? Tidak, saya akan mempertahankan milik saya." Kata Zalynda dengan suara rendah seakan mengancam Alin


Suasana hening sejenak. Sepertinya Alin sedikit kaget mendengar ucapan-ucapan Zalynda


"Aku akan membuat Ray bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan padaku. Kau akan lihat, Ray akan menikahiku dan menceraikan dirimu. Saat itu kau akan menangis sejadi-jadinya."


"Bring it on, b***h.." Zalynda membalas ucapan Alin


Terdengar Alin mendengkus, kemudian mematikan sambungan teleponnya


Tangan Zalynda bergetar memegang handphonenya. Airmata mengalir di pipinya, bukan airmata kesedihan melainkan airmata kelegaan


Sudah lama Zalynda tidak merasa sepercaya diri seperti saat ini. Bahkan dirinya menyebutkan kata-kata yang biasa dilontarkan para gadis-gadis Fabulous Sorority saat hendak berkompetisi dengan lawannya


"Kini saatnya menghadapi Ray. Apa yang harus kukatakan padanya nanti.." Bathin Zalynda


Gadis itu bersandar di kepala ranjang. Tepat saat Ray masuk ke kamar. Wajah pemuda itu seketika pucat saat melihat foto yang sedang Zalynda lihat


"Za.."


***


"Sialan! Dia meremehkan gue!" Teriak Alin sambil membanting handphonenya


Diva melihat Alin uring-uringan pun tidak percaya kalau seorang Zalynda bisa membuat wanita secerdas Alin mati kutu


"Nggak ada cara lain. Pergi ke Jakarta, minta Ray bertanggungjawab." Kata Diva


Alin memicing melihat Diva


"Kau! Saran elo nggak ada yang guna! Bahkan Zalynda langsung tahu kalau foto itu rekayasa!"


"Zalynda mungkin mengatakan itu untuk menenangkan dirinya. Elo serang dari arah lain lah." Kata Diva santai


"Maksudnya?"


"Pergi ke rumah Ray. Tunjukkan foto-foto kalian pada orangtua Ray. Ayahnya sangat religius dan tidak akan mentolerir apapun. Dia pasti akan menikahkan kalian." Kata Diva sambil menyeringai


"Menurut lo begitu?" Tanya Alin berusaha meyakinkan dirinya kalau rencana kali ini akan berjalan lancar


Diva tersenyum licik "Gue akan nemenin elo ke Jakarta."


"Tidak! Kamu tidak boleh kemana-mana!"

__ADS_1


Diva dan Alin menoleh ke arah pintu...


__ADS_2