CAHAYA BINTANG SURGA

CAHAYA BINTANG SURGA
PART 35


__ADS_3

Zalynda menatap gerimis kecil yang mulai turun dari balik kaca mobil. Saat ini mereka sedang melaju menuju pulang ke apartemen. Zalynda tak henti-hentinya tersenyum. Sepertinya semua beban kehidupannya lepas terangkat.


"Za.." panggil Ray


Zalynda menoleh menatap Ray yang sedang menyetir "Ya, Ray?"


"Senyum-senyum aja dari tadi. Mikirin apa?"


Zalynda tersenyum sambil menggeleng pelan "Nggak, aku cuma mengingat-ingat kejadian hari ini."


Zalynda benar-benar tidak menyangka dengan respon keluarga Ray. Padahal Zalynda sudah mempersiapkan diri jikalau ayah dan bunda Ray menolaknya.


Berada diantara orang-orang yang menyayanginya setelah sekian lama berjuang sendirian, rasanya menyenangkan. Kalau ini mimpi, Zalynda tidak mau terbangun


Namun sebagian kecil hatinya masih terlalu takut untuk mengklaim kebahagiaan itu karena Zalynda takut semua itu akan kembali terlepas seperti yang sudah-sudah.


"Tuh bengong lagi." Suara Ray membuyarkan lamunannya. Zalynda menoleh sambil tertawa kecil ke arah Ray


"Terima kasih ya.."


"Untuk?" Tanya Ray dengan pandangan fokus ke depan


"Untuk hadir di kehidupanku bersama keluargamu." Zalynda menggenggam tangan Ray yang berada di persneling


Ray balas menggenggam tangan Zalynda dan memberikan kecupan kilat di punggung tangan Zalynda. Melihat Zalynda kembali tersenyum dan tertawa lepas, merupakan satu kebahagiaan tersendiri untuk Ray


Keduanya kembali terdiam dalam pikiran masing-masing sementara jemari mereka masih saling bertaut. Sesekali Ray melepaskan genggamannya untuk mengoper persneling


"Ngomong-ngomong, kamu nggak apa-apa Ray?" Tanya Zalynda tiba-tiba


Ray mengerutkan keningnya sambil menoleh sekilas ke arah Zalynda


"Memangnya aku kenapa?"


"Ng, tadi waktu dipukul pakai sandal sama bunda, pasti sakit banget ya. Kamu nggak apa-apa?"


Ray tertawa lebar mendengar kata-kata Zalynda. Ray maklum Aya pasti sangat jengkel pada dirinya karena impian seorang ibu salah satunya adalah melihat pernikahan anak-anaknya.


Sejujurnya pukulan-pukulan Aya tidak berpengaruh banyak pada tubuh Ray. Lagipula Aya tidak terlalu keras memukulinya, namun otak jail Ray seakan terpancing beraksi


"Iya, badanku ngilu-ngilu ini. Nanti tolong balurkan minyak urut sama di pijat sedikit bisa nggak Za?"


Zalynda menatap Ray dengan pandangan kasihan. Tangan Zalynda perlahan mengelus lembut pundak Ray yang tadi dipukuli oleh Aya. Gelenyar rasa itu muncul seiring dengan sentuhan Zalynda


"Duh, mana lagi nyetir." Rutuk Ray dalam hati. Pemuda itu hanya meringis untuk menahan sesuatu yang mulai muncul. Namun dalam benak Zalynda, Ray terlihat kesakitan akibat pukulan Aya. Zalynda segera melepaskan tangannya dari bahu Ray dan ikut meringis


"Sakit ya? Iya,nanti sampai apartemen aku balurin. Maaf ya.."

__ADS_1


Ray melirik sekilas ke arah Zalynda sambil tersenyum penuh arti


***


Apa yang Ray rencanakan berhasil. Dengan modus minta dipijat, Ray justru mendapat pelayanan plus plus dari Zalynda. Ray menamakannya operasi tipuan yang manis


Ray mengecup lembut puncak kepala Zalynda. Keduanya tengah tidur di ranjang sambil berpelukan di dalam selimut setelah operasi tipuan yang manis berjalan lancar


"Ray.." panggil Zalynda pelan


"Hmm.."


"Terima kasih banyak ya."


Ray terkekeh sambil memeluk erat tubuh polos Zalynda


"Berapa kali kamu bilang terima kasih hari ini, Za?" Kata Ray. Jemarinya lembut membelai rambut panjang Zalynda yang tergerai. Zalynda tertawa kecil,


"Itu karena aku sangat bersyukur, Ray. Kamu tau nggak? Aku tidak pernah sekalipun berani memimpikan hal ini."


"Kenapa?"


"Karena aku sadar posisi diriku tidak sebanding dengan dirimu, Ray.."


Zalynda menarik nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan ceritanya


Malam ini, gadis itu bertekad menceritakan semuanya. Malam ini, Zalynda mulai memberanikan bercerita tentang dirinya di hadapan Ray.


"Berapa lama di sana?" Tanya Ray


"Sampai usia 8 tahun aku disana. Mamah meninggal karena kecelakaan saat usiaku 8 tahun.."


Ray mengeratkan pelukannya pads Zalynda seolah memberikan kekuatan pada gadis itu. Zalynda makin membenamkan kepalanya di pundak Ray


"Amanat terakhir mamah adalah agar aku ke Jakarta mencari kakek Wijaya. Beliau adalah om nya mamah. Kakek mungkin kasihan melihatku hidup sebatang kara, lalu menyuruhku tinggal bersamanya. Aku berfikir, dengan tinggal bersama kakek aku bisa kembali bahagia dan melupakan kesedihanku ditinggal mamah. Ternyata aku salah.."


Suara Zalynda sedikit bergetar. Terasa telapak tangan gadis itu mengepal di dada Ray. Ray segera menyentuh lembut tangan Zalynda dan meremasnya. Terdengar helaan nafas dari Zalynda


"Di sana, hanya kakek, bik Ijah dan pak Udin yang baik padaku. Selebihnya mereka semua menindasku.."


"Mereka?"


"Keluarga om Yono."


"Siapa mereka?"


"Keponakan kakek. Orangtua om Yono dan kakek adalah saudara angkat."

__ADS_1


Zalynda menjeda ceritanya. Gadis itu menarik nafas beberapa kali. Ray dengan sabar menunggu gadis itu memulai kembali bercerita sambil membelai rambut Zalynda


"Mereka hanya baik padaku di hadapan kakek. Di belakang kakek mereka memperlakukan aku seperti pembantu. Mengataiku macam-macam, mulai dari anak kampung, anak sial, anak haram.."


Ray memejamkan matanya. Di usia kanak-kanak, ternyata Zalynda sudah merasakan berbagai macam pahitnya penghinaan yang menorehkan luka di hatinya.


"Aku memang datang ke Jakarta untuk tinggal bersama kakek, namun aku tidak pernah meminta kakek untuk membiayai kehidupan dan pendidikanku. Apa dengan begitu aku jadi berhutang, Ray?" Ucap Zalynda. Suaranya terdengar bergetar


"Tidak. Kakek Wijaya justru memiliki kewajiban menyantunimu. Kau adalah keluarganya. Apa kakek Wijaya menagih semua yang telah ia berikan padamu, Za?"


Zalynda menggeleng "Bukan kakek, tapi om Yono."


Ray memicingkan matanya. Sepertinya Ray sedikit menemukan benang merah dari peristiwa-peristiwa yang terjadi pada Zalynda


Zalynda melanjutkan ceritanya


"Om Yono bilang, aku hanya kerabat jauh yang tidak punya hak apapun di rumah itu. Semua yang diberikan kakek dihitung sebagai hutang dan harus aku kembalikan."


"Sebab itu kau ada di club XX?"


Zalynda mengangguk. Ray merasakan cairan hangat di dadanya. Ray tahu gadis di dalam pelukannya tengah menangis. Ray makin mempererat pelukannya


"Apa itu yang membuatmu takut waktu awal-awal aku hendak menyentuhmu?"


Zalynda terdiam sambil memejamkan matanya. Kejadian-kejadian yang dilakukan Yono berkelebat dalam memorinya.


"Aku..aku adalah korban pelecehan seksual, Ray.. sejak umurku 15 tahun, om Yono mulai melecehkanku.."


Refleks Ray membawa Zalynda kedalam pelukannya. Zalynda tersedu-sedu dalam dekapan Ray. Ray sedikit menyesal menanyakan hal yang memancing Zalynda untuk menceritakan trauma terbesarnya


"Jangan dilanjutkan Za. Kalau sekiranya hal itu menyakitkan untuk diingat, jangan dilanjutkan." Bisik Ray sambil mengeratkan pelukannya


"Tidak, aku tidak apa-apa. Malam ini aku memang berencana menceritakan semuanya padamu.."


Zalynda mengatur nafasnya untuk meredakan emosinya yang sempat mencuat


"Suatu hari om Yono berjanji akan berhenti melecehkanku kalau aku bisa menghancurkan Frederick Groups Company. Aku tanpa pikir panjang menyetujuinya karena aku ingin sekali lepas dari dirinya."


Zalynda menarik nafas panjang


"Dia memberikan waktu lima tahun untukku dan berjanji tidak melecehkanku selama lima tahun itu. Namun kalau aku gagal, dia akan menjadikanku pemuas hasrat dan atm berjalannya.."


Zalynda terisak


"Aku tidak punya pilihan Ray.."


Tiba-tiba Zalynda mengayunkan telapak tangannya..

__ADS_1


__ADS_2